Minggu, 09 Oktober 2016

Novel Milea: Suara dari Dilan

Milea: Suara dari Dilan
Judul buku: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: pastel Books
Cetakan ke: II,  September 2016
Jumlah halaman: 357

Kamu mungkin sudah mendengar tentang Dilan & Milea? Namanya mendadak populer setelah Pidi Baiq menulis kisah percintaan mereka masa SMA tahun 1990-an. Novel Milea: Suara dari Dilan adalah buku ketiga yang baru naik cetak belum lama ini, melengkapi 2 kisah terdahulu berjudul Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Jika di kedua buku pendahulunya kisah Dilan-Milea diceritakan dari sudut pandang Milea, di buku ketiganya ini giliran Dilan yang bersuara.

Di awal-awal bab buku ini, Dilan bercerita memperkenalkan dirinya, latar belakang keluarganya, dan bagaimana ia tumbuh menjadi seorang remaja. Ditekankannya bahwa informasi ini penting mengingat karakternya di masa remaja yang agak "nyeleneh", anti mainstream. Seperti kita tahu, bagaimana seseorang tumbuh turut dipengaruhi oleh lingkungan, pola didik, & pengalaman. Dilan berkarakter unik. Sebagai remaja, ia dikenal oleh pandangan masyarakat umum sebagai "anak nakal". Ia merupakan anggota sekaligus Panglima Tempur geng motor, bukan siswa teladan di kelas (gak kesulitan belajar, tapi gak suka diam di kelas & lebih suka main & nongkrong di warung kopi), suka berantem, tapi juga romantis, senang bercanda & iseng, memiliki pendirian sendiri tentang menghargai perempuan, serta bersolidaritas tinggi dalam persahabatan.

Rabu, 05 Oktober 2016

Berbagi Rahasia Selfie Expert, Oppo F1s di Oppo Community Gathering

Oppo F1s, Selfie Expert
Apakah kamu suka selfie?
Kalau pertanyaan itu ditujukan kepadaku, jawabannya: "nggak terlalu". Nggak bisa bilang nggak juga soalnya, meski kenyataannya aku terbilang jarang selfie, setidaknya kalau dibandingkan dengan adik bungsuku yang unyu-unyu *lah apaan pake bawa-bawa dia segala :D. Begini saja, membandingkannya dengan teman-teman bloggerku saja ya, biar lebih kebayang. Kalau ngumpul pada suatu tempat (event), suka kuperhatikan, banyak yang senang ambil selfie sana-sini. Nah, kalau aku, dibanding selfie, biasanya aku lebih sibuk dengan jeprat-jepret ambil foto objek (benda & orang lain). Untuk urusan foto ngeksis, aku lebih senang minta difotoin *minta maaf kepada orang-orang yang sudah aku repotin, ehehe.

Seringkali aku kagum sama para ahli selfie. Mereka begitu mandiri dalam memenuhi kebutuhan "eksistensi diri" :D. Awal-awal booming orang unggah foto selfie di medsos, jujur saja aku gak begitu suka. Soalnya bosen lihat wajah doang, hehehe. Lebih menarik kalau selfienya ada latar belakang pemandangan yang menarik. Untuk medsos, aku lebih senang mengunggah foto banyakan/bareng-bareng. Makanya aku lebih suka wefie. Tapi, seiring waktu, tak dapat kupungkiri bahwa dewasa ini selfie bisa menjadi sebuah kebutuhan. Buatku pribadi, ini terutama berkaitan dengan aktivitas ngeblogku yang juga mempengaruhi aktivitas medsosku yang lain. Lagipula, perkembangan medsos saat ini benar-benar mengungkapkan bahwa ada secercah "jiwa narsis" dalam diri yang tak ingin diabaikan & mendapatkan jalan untuk muncul ke permukaan *duh, bahasanyaaa :D. Kesimpulan dari bahasa ribet itu adalah, intinya aku gak bisa bilang nggak suka selfie meski frekuensi selfie-nya masih terhitung rendah.

Selasa, 04 Oktober 2016

Cara Praktis Berkreasi & Menikmati Kopi Ala Cafe dengan Nescafe Dolce Gusto

Kreasi kopi Nescafe Dolce Gusto
Ngopi bagiku sudah seperti ritual mengawali hari. Terbilang jarang aku melewatkan ngopi pagi di rumah. Meski begitu, jangan tanyakan padaku tentang segala macam kopi berikut teknik-teknik meraciknya. Setidaknya sampai sekarang, aku belum belajar. Untuk saat ini, aku hanyalah tukang ngopi tiap pagi. Kadang-kadang suka juga ngopi siang. Dan ngopi malam terutama ketika perlu begadang dikejar deadline :D. Lalu, seringkah ngopi di cafe atau coffe shop? Tidak juga. Saat ini memang banyak tempat ngopi bermunculan di Kota Bandung, seiring perkembangan kopi menjadi bagian gaya hidup kaum urban. Ngopi sambil nulis, kerja, meeting, atau sekadar nongkrong cantik? *eh, apa kebalik ya :D. Buat penyuka kopi, itu gue banget! Tapi kalau ngopi di cafenya keseringan, bisa gawat juga. Khususnya buat anak kos kayak aku, hahaha :D. 

Asyiknya ngopi di cafe, bukan saja soal tempat. Utamanya soal rasa. Kalau tujuan utamanya buat ngopi (bukan sekadar cari tempat nongkrong), kita bisa mengeksplorasi aneka jenis minuman kopi racikan barista. Itu yang bagi sebagian orang tidak dapatkan dengan ngopi di rumah. Tapi, tahukah kamu, sekarang semua orang bisa lho mendapatkan pengalaman ngopi ala cofee shop dari rumah! Dan gak usah ngundang barista ke rumah juga. Cukup dengan adanya Nescafe Dolce Gusto, kita bisa meracik sendiri minuman kopi ala cafe, dalam hitungan menit. Aku sendiri sudah nyoba bikin cappuccino pake mesin Nescafe Dolce Gusto. Gampang banget! Padahal sudah kubilang, aku awam soal racik-meracik kopi. Dengan bantuan si robot barista kecil Nescafe Dolce Gusto, siapapun bisa berkreasi kopi, juga minuman coklat dan teh.

Senin, 03 Oktober 2016

"Fishlosophy" Kulineran Ikan ala Redsdipo

Redsdipo: You'll never eat alone :D
Redsdipo. Sabtu siang yang cerah, aku berkunjung ke tempat makan yang terletak di Jl. Dipati Ukur No.1 itu. Hari itu bertepatan ulang tahun Redsdipo yang ke-13. Wah, sudah lama juga ya Redsdipo ini eksis. Meski begitu, ini pertama kalinya aku makan di Redsdipo. Beuh, ketinggalan pisan yah! Di dalam ruangan bangunannya yang bernuansa merah itu, suasananya tampak meriah mengingat itu hari istimewa. Balon-balon merah di beberapa titik menghiasi ruangan. Suasana makin meriah karena hari itu Redsdipo mengundang "keluarga besar"nya, yakni teman-teman & pelanggan setia yang menemani perjalanan Redsdipo sejak awal-awal dirintis. Memaknai berharganya kehadiran mereka, tema "We are family" begitu terasa, hangat & kekeluargaan. Tulisan motto besar-besar di dinding mengatakan, "We'll never eat alone". Memang paling asyik makan bareng-bareng keluarga atau teman daripada sepi sendirian :)).

Minggu, 25 September 2016

Ethica: Revolusi Fashion di Era Digital

Ethica: Revolusi Fashion di Era Digital
Membincangkan soal fashion, perkembangannya di era kini sudah sangat pesat. Demikian halnya dengan fashion muslim dan hijab. Iklim fashion di Indonesia ini bagaikan musim semi. Aneka gaya dan desain bermunculan makin dinamis. Makin banyak pilihan gaya berbusana yang bisa kita pilih. Meski demikian, tidak semua orang rajin mengikuti dinamika tren fashion. Aku salah satunya :D. It's ok. Toh masing-masing orang punya gaya berbusana yang memang nyaman dan sesuai selera & karakter dirinya. 

Gaya berbusana dapat mencerminkan siapa diri kita. Bisa ditebak mana orang yang stylish, cuek, anggun, tomboy, dsb dilihat dari caranya berpakaian. Kalau bercermin, aku sih termasuk yang masih cuek, hehe. Kadang, eh sering, aku masih perlu minta pendapat orang lain untuk busana ke acara formal, sekiranya cara padu-padan busanaku terlalu kurang sesuai. Yah, meski agak cuek, tapi tetap saja aku gak mau sampe jadi "fashion terrorist" :D.

Jadi, aku ini fashion blogger bukan, fashionista juga bukan. Tiba-tiba ngobrolin fashion begini karena beberapa waktu lalu sempat mendapatkan secercah wawasan soal fashion di era digital.

Kamis, 15 September 2016

Gathering & Tur Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (eNHaii)


Iklim pariwisata di negeri kita saat ini bisa dibilang makin menghangat. Ketertarikan publik pada hal-hal yang berbau wisata kini makin menggejala, salah satunya terima kasih kepada kekuatan media sosial yang membuat informasi makin mudah menyebar. Entah itu kesukaan posting selfie ataupun fotografi di tempat-tempat wisata, budaya ini turut menjadi media yang potensial dalam mengangkat kepariwisataan Indonesia. Di sisi lain, tantangan dalam meningkatkan kualitas kepariwisataan Indonesia juga makin tinggi. Dibutuhkan para profesional yang memiliki kompetensi mumpuni. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (eNHaii) berkomitmen mencetak kader-kader profesional di bidang ini. Seperti apa gerangan pola pendidikannya? Kepoin yuk!

Akhir Agustus lalu aku sempat bertandang ke kampus yang terletak di Jl. Setiabudi itu. Itu adalah kunjungan ke duaku ke kampus eNHaii. Kunjungan pertama bertahun-tahun lalu hanya karena mengikuti sebuah event yang bertempat di kampus tersebut. Kunjungan kedua ini lebih istimewa. Karena memang tujuan datang ke sana untuk mengenal STPB, menghadiri undangan sillaturrahim dari pihak kampus dengan komunitas Blogger BDG. Siang itu setelah dijamu dengan aneka penampilan dari beberapa klub mahasiswa STPB dan diperkenalkan mengenai STPB dalam format seminar kecil, kami juga dipandu tur kampus dan melihat langsung beberapa kegiatan pendidikan yang tengah berlangsung. Wah, senang deh! Sekarang aku jadi ada gambaran lebih tentang STPB yang lebih akrab di kalangan umum disebut "eNHaii" itu. Dulu kalau dengar eNHaii, malah keingetannya kuliner "surabi eNHaii" yang terkenal itu. Hehe...

Sabtu, 10 September 2016

Makan-makan Porsi Kenyang di RM Legoh

Keju Aroma & Es Kelapa Alpukat di RM Legoh
Buat warga Bandung yang suka makan-makan di area sekitaran Dago, tentu tak asing dengan yang namanya RM Legoh. Rumah makan yang terletak di Jl. Sultan Agung No. 9 itu sudah eksis sejak tahun 2004. Nama Legoh sendiri diambil dari nama marga pemilik sekaligus chefnya, Leon Legoh. Bagi penggemar band indie Koil sih tentu sudah familiar dengan Om Leon yang merupakan drummernya. Menarik ya, perpaduan 2 bidang profesi yang ditekuninya ini: musik dan masak. Nah, beberapa waktu lalu aku singgah makan siang di RM Legoh dan sempat pula ngobrol-ngobrol dengan Om Leon seputar usaha yang ditekuninya ini. 

Yang khas dari RM Legoh ini adalah sentuhan masakan ala Manado yang jarang terdapat di rumah makan lainnya di Bandung. Ini mudah dipahami karena Om Leon sendiri adalah orang Manado. Menurut Om Leon, ia sendiri tidak sekolah khusus kuliner, sehingga ketika membuka RM Legoh, masakan yang disajikan khas Manado karena itulah yang dikuasai. Seiring waktu, menu-menu di RM Legoh mengalami banyak modifikasi, khususnya untuk beradaptasi dengan selera orang Sunda. Sekarang sih menu RM Legoh sudah lebih beragam, menu nusantaralah gitu.