Yuk Waspada Anemia Defisiensi Besi untuk Generasi Indonesia Sehat & Kuat


Kita mungkin familiar dengan yang namanya anemia. Kondisi anemia atau kurang darah cukup sering dijumpai di masyarakat. Jangan salah, anemia tidak boleh dianggap sepele begitu saja. Jika dibiarkan dan parah, akibatnya bisa serius, lho! Malah, anemia bisa menjadi masalah kesehatan lintas generasi. Kok bisa? Soalnya anemia bisa terjadi gak hanya pada orang dewasa aja, tetapi juga anak-anak balita dan remaja, serta umum terjadi pada masa kehamilan. 

Dulu sewaktu hamil, aku sempat khawatir akan bahaya anemia pada ibu hamil. Soalnya setiap kali dicek, tensi darah dan kadar Hb selalu rendah, meski gak sampai kurang juga, masih di kisaran normal namun berada di batas bawah. Pada kondisi biasa saat nggak hamil juga emang gitu sih tiap dicek. Tiap abis periksa, Bu Bidan pun selalu mewanti-wanti untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan suplemen penambah darah. Meski sudah kuupayakan, Hb-nya segitu aja dan hanya sedikit meningkatnya. Hingga semakin mendekati HPL, PR-ku ningkatin Hb gak kunjung usai dan bikin galau. Beruntungnya saat dekat HPL akhirnya aku bisa lega karena menemukan booster zat besi yang mampu ningkatin Hb signifikan hingga kadar aman. Bersyukur bisa menjalani persalinan normal tanpa masalah, dan bayi lahir sehat. 

Balik lagi ke soal anemia, salah satu jenis anemia yang umum terjadi yaitu Anemia Defisiensi Besi. Apaan tuh? Kenapa juga kita harus peduli dan waspada? Yuk kita bahas biar paham... 

Mengenal Anemia Defisiensi Besi (ADB), Gejala, dan Penyebabnya 

Apa itu ADB? 

Anemia merupakan kondisi rendahnya kadar Hb dibandingkan dengan kadar normal, yang menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersirkulasi. Anemia Defisiensi Besi adalah salah satu jenis anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi sehingga jumlah sel darah merah yang sehat berkurang. Zat besi diperlukan oleh tubuh untuk pembentukan hemoglobin (Hb), yaitu salah satu komponen sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dalam darah ke seluruh tubuh. Kurangnya hemoglobin dalam sel darah merah menyebabkan kurangnya pasokan oksigen yang cukup dalam tubuh. Makanya saat mengalami anemia, tubuh bisa terasa lemas, lelah, dan sesak napas. 

Gejala ADB 

Gejala-gejala yang terjadi pada anemia secara umum antara lain sakit kepala, kelopak mata pucat, kulit pucat, napas cepat/sesak napas, tekanan darah rendah, nadi cepat, kelemahan otot, serta dapat terjadi pembesaran limpa. Pada ibu hamil, gejala anemia yang biasa terjadi antara lain: wajah, terutama kelopak mata dan bibir tampak pucat, kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, sering pusing dan mata berkunang-kunang. Ibu hamil yang mengalami gejala-gejala tersebut kudu waspada nih terhadap bahaya anemia pada masa kehamilan. Baiknya segera periksa dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagaimana dengan gejala anemia pada anak-anak? Anemia pada anak dapat dikenali melalui gejala berikut: rewel, lemas, pusing, tidak nafsu makan, gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cenderung mengantuk, serta tidak aktif bergerak. Sebagai orang tua, gejala-gejala anemia pada anak tersebut harus diwaspadai supaya kita bisa gercep melakukan penanganan.

Penyebab ADB 

Apa sih penyebab ADB? Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti asupan makanan, sakit (infeksi atau penyakit kronis), maupun penyebab lainnya, misalnya pendarahan yang banyak karena kecelakaan, menstruasi berlebihan, serta resiko masa kehamilan. Adapun faktor-faktor asupan makanan yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi antara lain sebagai berikut: 

- Asupan zat besi yang rendah, terutama besi heme 

- Asupan vitamin C yang rendah 

- Konsumsi sumber fitat yang berlebihan 

- Konsumsi sumber tannin (kopi, teh) yang berlebihan 

- Menjalankan diet yang tidak seimbang 

Bagaimana dengan penyebab anemia defisiensi besi pada anak? Ini nih penyebab ADB pada anak yang perlu diketahui:  

  • Pemilih makanan (picky eater) 
  • Asupan makanan yang tidak bervariasi 
  • Kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan penyerapan 
  • Kondisi tertentu yang menyebabkan asupan besi rendah (alergi bahan makanan sumber besi heme)

Tunggu, tunggu. Ada yang belum ngeh  besi heme itu apaan? Apa hubungannya ADB sama kekurangan asupan Vitamin C, juga sama kelebihan sumber fitat dan tannin? Begini ceritanya… 

Bahan Makanan Sumber Zat besi dan Penyerapan Zat Besi dalam Tubuh


Bahan makanan sumber zat besi itu ada 2 jenis, yakni yang mengandung zat besi heme (heme iron) dan zat besi non-heme (non-heme iron). Zat besi heme merupakan zat besi yang mudah diserap oleh tubuh, sedangkan zat besi non-heme tidak dapat langsung diserap tubuh sehingga memerlukan zat lain yang dapat membantu meningkatkan penyerapannya. Makanan yang mengandung zat besi heme yaitu makanan sumber zat besi dari protein hewani, seperti daging sapi, daging ayam, hati ayam, hati sapi, ikan salmon, dsb. Adapun zat besi non-heme terdapat pada makanan sumber zat besi dari protein nabati, seperti bayam, brokoli, kedelai, kacang-kacangan, dsb. 

Dalam prosesnya, penyerapan zat besi non-heme dalam tubuh dipengaruhi oleh asupan zat lain yang dapat meningkatkan dan menghambat penyerapan zat besi. Zat makanan peningkat penyerapan zat besi antara lain asam askorbat (Vitamin C), asam sitrat, dan komponen-komponen makanan lainnya. Sedangkan zat-zat makanan penghambat penyerapan zat besi antara lain fitat, tannin, polifenol, kalsium, dan seng (zinc). 

Dengan demikian, agar dapat diserap dengan baik oleh tubuh, asupan zat besi non-heme perlu didukung dengan asupan makanan yang mengandung vitamin C peningkat penyerapan. Bahan makanan sumber vitamin C misalnya paprika merah, buah kiwi, jeruk, kelengkeng, stroberi, blewah, mangga, tomat, dsb. Sebaliknya, asupan zat besi non-heme sebaiknya tidak dibarengi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung penghambat penyerapan zat besi, seperti misalnya kopi dan teh. 

Oalah, ternyata gitu ya ceritanya. Pantesan sewaktu aku hamil dulu meski sudah mengonsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin penambah darah, kok kadar Hb gak naik-naik, ternyata bisa jadi karena masalah di penyerapannya. Meski tukang ngopi, sewaktu hamil aku memang berhenti minum kopi. Namun, minum teh jalan terus. Kebetulan di lingkungan tempat tinggalku budaya ngeteh itu sangat kental. Minimal  sehari 2x ngeteh, pagi dan sore. Belum kalau bertamu, mesti disuguhi teh pula. Keluarga juga menganggap boleh-boleh saja ngeteh seperti biasa. Beda dengan ngopi, pasti gak dibolehin. Yang menyarankan supaya kurangi ngetehnya cuma Bu Bidan. Oke, sekarang ngerti deh, lain kali kalau hamil lagi kurangi ngetehnya juga… 

Anemia Defisiensi Besi, Tantangan Kesehatan Lintas Generasi 

Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang menjadi tantangan tersendiri di Indonesia. Data Riskesdas menunjukkan jumlah penderita anemia pada ibu hamil pada 2013 mencapai 37,1%. Jumlah ini meningkat pada tahun 2018 menjadi 48,9%. Pada anak-anak, remaja dan usia produktif, angka penderita anemia berada di atas 15%. Mengapa kita perlu peduli pada permasalahan anemia ini?

Seperti disinggung di awal, anemia merupakan permasalahan kesehatan lintas generasi. Selain karena dapat terjadi di berbagai rentang usia, anemia defisiensi besi juga berkaitan erat dengan masalah gizi dan pertumbuhan, di mana permasalahannya saling berhubungan, serta dampaknya dapat berkelanjutan dan menjadi mata rantai (siklus) yang terus berulang jika dibiarkan. 

Pada ibu hamil, dampak anemia pada kehamilan antara lain terjadinya gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, pre eklamsia, infeksi penyakit,  peningkatan pendarahan pasca melahirkan, hingga gangguan fungsi jantung. Dengan demikian, kondisi anemia defisiensi besi yang banyak terjadi pada ibu hamil sangat beresiko mempengaruhi pertumbuhan janin/bayi, baik saat kehamilan maupun sesudahnya, bahkan beresiko pada kematian ibu dan anak. 

Aku belum lupa bagaimana terenyuh dan sedihnya ketika pada suatu hari terdengar kabar kematian seorang wanita, masih muda, umur 30an di lingkungan tempat tinggalku. Ternyata meninggalnya saat melahirkan, akibat terjadi pendarahan berlebihan. Aku tak mengenalnya, hanya mendengar dari obrolan ibu-ibu sekitar. Membayangkan bagaimana keluarganya kehilangannya di usia begitu muda, belum lagi bayi baru lahir yang harus tumbuh tanpa ibunya… Duh! Siapapun pasti tak mengharapkan hal seperti itu. Tentu kita semua berharap angka kematian pada ibu dan anak di Indonesia dapat terus diminimalisir. 

Kaitan Anemia Defisiensi Besi dengan masalah gizi dan pertumbuhan 

Anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan akibat permasalahan gizi di Indonesia, baik pada ibu hamil, remaja dan usia produktif, maupun bayi dan balita. Seperti yang umum diketahui, gizi yang seimbang diperlukan untuk pertumbuhan anak. Zat besi merupakan salah satu nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan selain juga protein, vitamin, mineral, kalsium, dan zat gizi lainnya. Karena itu, kekurangan zat besi berkaitan juga dengan masalah pertumbuhan.

Pada bayi dan balita, dampak permasalahan gizi yang serius antara lain masalah stunting. Pada 2013, angka stunting di Indonesia mencapai 37,2% dan pada 2018 mencapai 30,8%. 

Perlu diperhatikan bahwa siklus stunting dapat terus terjadi akibat lingkaran tak terputus yang saling berhubungan: mulai dari ibu hamil yang kurang gizi, yang kemudian dapat berpengaruh pada kelahiran bayi dengan berat badan di bawah rata-rata, lalu bayi tersebut beresiko tumbuh menjadi anak yang mengalami stunting, kemudian anak tersebut dapat tumbuh menjadi remaja yang kekurangan gizi. Saat gadis remaja kekurangan gizi, pada gilirannya akan menjadi ibu hamil yang kekurangan gizi, dan seterusnya menjadi sebuah siklus stunting yang tak terputus jika masalah gizi ini tidak ditangani. Hal ini tentu menjadi masalah yang sangat serius bagi generasi Indonesia ke depannya. 

Anemia defisiensi besi memiliki dampak jangka panjang yang cukup serius bagi kesehatan dan produktivitas generasi. Dampak jangka panjang anemia defisiensi besi antara lain peningkatan infeksi penyakit, penurunan daya tahan tubuh, penurunan kebugaran, penurunan prestasi, dan penurunan kinerja.

Cara dan Upaya Penanganan ADB 

Anemia defisiensi besi dapat ditangani dengan cara mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan suplemen zat besi, serta upaya-upaya untuk mengatasi kondisi penyebabnya. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi dan akses pada pelayanan kesehatan dan gizi. Upaya penanganan anemia pada ibu hamil, misalnya, memerlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, Dinkes/puskesmas, antenatal care, serta konsumsi makanan terfortifikasi. Upaya penanganan anemia pada remaja putri juga memerlukan sinergi antara orang tua, diknas, Dinkes, sekolah, serta organisasi tempatnya beraktivitas. Demikian pula penanganan anemia pada anak yang memerlukan sinergi antara orang tua, masyarakat, Dinkes, posyandu, serta pemberian fortifikasi makanan. Upaya penanganan ADB memang tak hanya dari segi asupan gizi, tetapi juga edukasi dan pelayanan kesehatan. 

Danone Indonesia, sebagai salah satu produsen makanan terbesar, juga turut memberikan dukungan untuk kesehatan masyarakat, khususnya pada perbaikan masalah gizi di Indonesia melalui berbagai program. "Bersama Cegah Stunting" adalah salah satunya. Yakni upaya pencegahan stunting dengan program untuk mendukung intervensi nutrisi spesifik dalam mengurangi stunting di Indonesia, bekerja sama dengan mitra dari pemerintah dan organisasi terkemuka.  Program lainnya antara lain "ISI PIRINGKU" (yang mempromosikan konsumsi gizi seimbang gaya hidup sehat untuk anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orang tua), gerakan AMIR (Ayo Minum Air, program kolaboratif untuk meningkatkan kebiasaan minum air 7-8 gelas sehari untuk anak sekolah), serta WAS (Warung Anak Sehat, program pemberdayaan ibu-ibu kantin sekolah untuk mengelola kantin sehat di sekolah dengan menyediakan makanan ringan dan minuman sehat bagi siswa).

Selain itu, Danone Indonesia juga berperan aktif dalam upaya mengedukasi masyarakat tentang kesehatan gizi dan kesehatan, misalnya lewat program GESID, Taman Pintar, dan Duta 1000 Pelangi. 


Yuk kita semua peduli pada permasalahan anemia defisiensi besi! Kita dapat mengupayakan pencegahan anemia mulai dari diri sendiri dan keluarga. Caranya: 

1. Pastikan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. 

2. Jika asupan didominasi sumber zat besi non-heme, pastikan mengonsumsinya bersama dengan asupan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi. 

3. Mengonsumsi makanan yang difortifikasi bila perlu.  Makanan terfortifikasi misalnya tepung terigu, beras, dan susu terfortifikasi. 

4. Mengonsumsi vitamin penambah darah jika diperlukan, terutama untuk ibu hamil. 


So, jangan sepelekan masalah anemia ya! Dengan menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang mulai dari diri dan keluarga, mari bersama-sama putuskan mata rantai anemia dan wujudkan generasi Indonesia yang sehat dan kuat. 

Stay healthy!


*Sumber referensi: 

Webinar “Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi” :

https://www.youtube.com/watch?v=fuYipQ_bdn8&t=2607s


Komentar

  1. Animea. untungnya aku belum pernah sih..

    BalasHapus
  2. kalauns udah keda, lemes dan mau apa saja gak semangat

    BalasHapus
  3. Anemia memang kesannya penyakit ringan, tapi kalau sudah kena aduh bahaya juga. Aku kebetulan lg hamil krn susah tdr kadang suka pusing. Gejala anemia ringan jd diresepkan vitamin penambah darah sama dokter, alhamdulilah ngak ada keluhan pusing lagi.

    BalasHapus
  4. Aku belakangan juga suka pusing. Apa aku kekurangan zat besi ya? Terimakasih mba Isri sharingnya aku jadi tau kalau untuk membantu penyerapan zat besi mesti mengonsumsi vitamin C. Mantap jiwa, thx 4 sharing, keep on blogging <3

    BalasHapus
  5. Serem juga ya kalau anemia ini. Kurang darah salah. Kelebihan darah juga salah. Oh ya. AKu pny pengalaman malah kelebihan zat besi. Jadi darahku agak merah kehitaman dan menggumpal. Pas donor darah cukup lama dalam transfusinya. Ama dokter dikasih tahu kalau aku kurang minum air putih. Abis itu aku selalu minumin deh biar normal. Salut utk edukasi dr tim Danone tentang anemia ini ya.

    BalasHapus
  6. Intinya segala sesuatu itu harus seimbang dan sesuai ya, Mbak. termasuk soal darah ini. Jangan kelebihan, jangan kekurangan. Makanya perlu kita sesuaikan pola hidup sehat dan seimbang. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

    BalasHapus
  7. Dulu awal-awal menstruasi, minum vitamin penambah darah, trus mulai mengubah pola makan biar gak anemia. Sekarang anemia bisa lintas generasi, apalagi efeknya bisa jangka panjang. Harus benar-benar perhatikan asupan gizi ya

    BalasHapus
  8. Aq nih kak yamg sering kena anemia, capek dikit aja tekanan darah udah menurun

    BalasHapus
  9. Sampai sekarang aku masih ngerasain sih gejala anemia, apalagi pas datang bulan huft. Sama seperti yang tertulis di atas, saya pun kerap memenuhi kebutuhan energi dengan mengonsumsi zat besi yang sesuai anjuran. Terima kasih mbak atas sharingnya 😉

    BalasHapus
  10. Kayak aku dulu dong pas hamil meski sudah mengonsumsi bahan makanan bernutrisi, kok kadar Hb gak naik-naik juga ya. Mungkin karena aku dulu suka ngeteh kayak mbak e. 😅 baru tahu nih

    BalasHapus
  11. Jadi kuncinya yaitu mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang ya, supaya anemia (dan gangguan kesehatan lainnya) tidal terjadi

    BalasHapus
  12. Biasanya yang seringkena anemia ini kaum wanita, karena mau donor darah aja pasti pada gak lolos karena anemia atau kekurangan darah

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah jadi nambah ilmu nih kak. Makasih yaa. Jadi makin ngerti dan lebih aware alagi nih terhadapt gejala anemia, penyebab nya dan pencegahannya. Terlebih saat hamil yaaa, jangan sampe kena ADB deh

    BalasHapus
  14. Kalau didiamkan saja tanpa penanganan lebih lanjut, efeknya serem juga ya. Bukan hanya orang dewasa saja, tapi juga anak-anak.

    Alhamdulillah, anak saya hampir doyan semua makanan, soalnya saya kenalkan secara perlahan, biar dia bisa merasakan makanan tersebut.

    Ternyata ada hubungannya juga antara picky eater dengan anemia.

    Terima kasih atas tips dan informasinya.

    BalasHapus
  15. Kemarin ini baca di media online, Nia Ramadhani bengong karena anemia. Engga tau bener atau salah beritanya. Tapi artinya kaan anemia engga boleh dianggap enteng yah...

    BalasHapus
  16. Sebagai orang yang sering kena anemia, aku cuma mau bilang, "anemia itu berat, biar aku aja, kalian jangan, wkwk." Gara-gara anemia aku harus ditransfusi darah 2 kantong saat lahiran anak pertama. Duh, sebagai orang yang takut jarum, rasanyaaa ...

    Eh, ternyata emak yang memiliki anemia berpengaruh juga pada janin dan bayinya. Terbukti dua anakku tiap memasuki usia 1 tahun pasti diterapi zat besi karena berat badannya stuck karena ADB. Bener-bener jadi PR untukku dalam memilih asupan gizi yang tepat agar nggak ada lagi yang kena ADB di rumah.

    BalasHapus
  17. ADB nggak bisa disepelekan ya
    Karena semakin acuh maka nasib bangsa ini pun akan semakin mengkhawatirkan

    BalasHapus
  18. Perlu waspada bener emang ya, apalagi buat anak perempuan nih harus dipantau baik dr anak sampai ketika pubertas, krn defisiensi besi bukan sekadar itu saja namun mempengaruhi bgmn gizi juga. Akuu pribadi jg lg berusaha ngurangi kopi nihh, bahaya juga kalau keseringan ya :))

    BalasHapus
  19. Aku tuh suka merasa anemia kalo lagi haid, seraya langsung ambil minuman yang bisa mengatasi hal tersebut. ENtah mengapa langsung perlahan membaik . entah sugeti apa memang begitu adanya :)

    BalasHapus
  20. Nah, ini harus diperhatikan juga ya pemakanannya, gizi harus seimbang. Nutrisi cukup dan menghindari makan makanan yang bisa memicu anemia. Kesehatan remaja emang lagi jadi concern ya kak. Soalnya kan remaja sekarang akan bersaing lebih ketat di masa yang akan datang.

    BalasHapus
  21. emang intinya sih harus mengontrol pemakanan seimbang ya kak. Nutrisi tercukupi, dan hindari juga makanan yang memicu anemia. saat ini kesehatan remaja emang sedang jadi concern ya.

    BalasHapus
  22. Harus terapkan pola makan gizi seimbang, biar kebutuhan nutrisi tubuh anak lebih optimal dan kelak tidak mengalami kekurangan apapun demi masa depan yang lebih baik

    BalasHapus
  23. Baru ngeuh setelah baca di sini kalau anemia juga bisa disebabkan oleh asupan makanan juga ya. Noted banget nih harus bergaya hidup sehat biar tak kena anemia

    BalasHapus
  24. wah ilmu baru buat wanita yg nanti bakal jadi ibu,,, penting emang mikirin asupan gizi kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Review Scarlett Bodycare, Rangkaian Perawatan Simpel untuk Kulit Tubuh Cerah Terawat

Berguru kepada Emak-emak KEB

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon