Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Dear Professor Einstein

Gambar
Dear Professor Einstein: Albert Einstein's Letters to and from Children by Evelyn Einstein My review rating: 4 of 5 stars Sudah bukan rahasia kalau Einstein memang seorang ilmuwan besar dan jenius. Sebagian besar orang yang pernah menyimak perjalanan karir Einstein barangkali juga telah tahu bahwa selain dalam bidang ilmu pengetahuan, Einstein juga menaruh perhatian besar terhadap masalah kemanusiaan dan perdamaian dunia. Nah, kalau sikap dan hubungannya dengan anak-anak, kira-kira seperti apa ya? Jika pada buku The World As I see It kita dapat menyimak koleksi esai, korespondensi, artikel dan pidato Einstein tentang pandangannya terhadapa masalah-masalah global dunia, maka pada buku ini kita dapat menemukan berbagai dokumentasi Einstein yang berhubungan dengan anak-anak. Lewat buku kecil ini kita sedikitnya dapat memperoleh gambaran sisi lain pribadi seorang Einstein berkenaan dengan hal tersebut. Ilmuwan nyentrik yang rendah hati dan bersahaja ini ternyata sangat mencinta

Gambar-gambar Cinta

Gambar
Pictures of Hollis Woods by Patricia Reilly Giff My review rating: 4 of 5 stars Pernah lihat info buku ini somewhere, and kebetulan nemu. Kupikir akan cocok sekali, kebetulan sedang mencari buku novel untuk remaja yang 'ada isinya', tapi tetep ringan =) Gambar-gambar Cinta, begitulah judul buku Patricia Reilly Giff ini, Pictures of Hollis Woods, versi terjemahan Indonesia terbitan Kaifa. Buku ini meraih penghargaan Newberry Honor Book, Penghargaan buku remaja terbaik Amerika. Ternyata buku ini punya keunikan tersendiri. Dibalik bahasanya yang ringan dan sederhana, Giff berutur tentang kehidupan seorang anak perempuan yatim piatu bernama Hollis Woods yang menyebut dirinya sendiri si Gunung Masalah. Hollis yang keras, Hollis yang selalu kabur dan tak pernah awet tinggal di satu tempat, serta tak pernah henti membuat pusing pegurusnya di yayasan. Hollis yang mengacaukan semuanya... Akan tetapi ada si Laki-laki Tua, Izzy, Steven, Josie Cahill dan kucingnya, Henry,

Periodic Table Song

Gambar
Menemukan lagu yang sangat bagus, hehe... lagu tabel periodik kimia. Sayang liriknya doang. Yak, anak-anak... Mari kita bernyanyi bersama.... Atu... dua... tiga....! There's antimony, arsenic, aluminum, selenium, And hydrogen and oxygen and nitrogen and rhenium, And nickel, neodymium, neptunium, germanium, And iron, americium, ruthenium, uranium, Europium, zirconium, lutetium, vanadium, And lanthanum and osmium and astatine and radium, And gold and protactinium and indium and gallium, And iodine and thorium and thulium and thallium. There's yttrium, ytterbium, actinium, rubidium, And boron, gadolinium, niobium, iridium, And strontium and silicon and silver and samarium, And bismuth, bromine, lithium, beryllium, and barium. There's holmium and helium and hafnium and erbium, And phosphorus and francium and fluorine and terbium, And manganese and mercury, molybdenum, magnesium, Dysprosium and scandium and cerium and cesium. And lead, pr

Begin with 3 words, even with 1 word

Tadi siang aku baru nongol lagi setelah lama off ikut kegiatan mentoring FLP. Meskipun yang dateng cuma 3 orang, tapi seru juga strategi menulis yang dicoba kali ini. Begin with 3 Words: Pertama, pilih 3 kata. Apa aja. Kata benda. So, aku pilih: Angin, Bintang, dan Buku. Then, buat 1 paragraf berdasarkan 3 kata tersebut. Harus nyambung lho ya. Waktunya cuma 10 menit. So, I write this: Malam itu langit bersih dari riak-riak awan. Bintang-bintang leluasa berkedip terang-terangan tanpa penghalang. Biasanya suasana seperti ini selalu menjadi magnet bagi penghuni rumah terpencil itu untuk keluar sekadar memandangi langit. Kadang setelah bosan berdiri menengadah itu, orang itu biasa membaca buku di kursi kayu, atau mencatat sesuatu di buku kecilnya. Tetapi, tidak. Kali ini tak ada yang keluar dan berdiri di beranda. Barangkali hembusan angin yang cukup kencang menjadi alasan yang masuk akal untuk memadamkan daya magnetis tersebut. Rumah itu sunyi. Tampak lebih sunyi daripada

Prasangka Makna

Gambar
Ada yang mengalir dari celah kata menetes jatuh ke petak sunyi hati, darah penghantar serpih- serpih emosi sampai ketika aku, kau, dia, mereka, tak mengerti Apa yang dimengerti dari kata yang kita ujarkan seperti igau remang-remang mimpi Apa yang diserap dari setetes rasa yang menitik sunyi dibalik kata basa-basi sendu yang rancu yang basahi sekerat luka atau bijakmu? Kau mencoba memetik makna juga aku, kau, dia dan mereka? Aku disini mengulum tawa Tidakkah ini bukan waktunya basa-basi dan diskusi sepi atas makna yang agak terlambat diberi arti? Tapi tetes rasa yang jatuh di sela kata meresapi sendiri perjalanan kita kadang, arti-makna baru membasah ditanah yang beda tanahku, tanahmu, tanahnya, tanah kita mungkin, --tak basah di masa yang sama

Sebuah Titian

Gambar
Akulah titian yang menjembatani tanah-tanahmu yang tandus, yang hijau yang kering, yang basah Aku titian yang melintasi musim-musimmu di kemaraumu, di penghujanmu atau di musimmu yang tak menentu Aku pijakan yang mengantarmu dari ujung ke ujung Setiap langkahmu, kuraba jejak-jejak untuk kutahu jawab tanyaku yang bisu; Apa yang ada diantaramu selain aku? Apa yang menjadikanku titian sunyi... Hingga harusku menyeberangkanmu slalu harusku renung sendiri tentang tanda dan tanya mengapa? Aku titianmu di setiap musimmu Titian yang menyeberangkanmu diantara tanah-tanahmu Apa yang kujembatani? Sungaikah, jurangkah? Ataukah hanya jarak semata... Sebuah jarak, entah berapa Aku titian, yang masih bertanya-tanya berapa jauh jarak yang memisahkanmu, seberapa panjang ukuranku, dan bagaimana... Jika ku rapuh... Aku titian yang masih bergelut dengan tanya sunyiku: Mengapa jarak tercipta diantaramu?