Masih Indonesiakah Kita? Pesan untuk Membumikan 4 Pilar MPR RI


Merajut sayap... Garuda yang hampir putus sayapnya.

Itulah apa yang digambarkan seorang anak SD pada sebuah lomba menggambar bertema pancasila. 
Mendengar cerita itu, ada rasa terenyuh, rasa yang entah, setengah menebak, realitaskah yang memantik imajinasi dibalik karya tersebut? Yah, akhir-akhir ini memang banyak isu dan kejadian membuat resah. Sebagai orang yang tak terlalu update dengan berita, dan tak menonton TV juga, kerap aku dibuat terkejut & bertanya-tanya setiap kali memantau media sosial. Media sosial yang biasa ramai dengan ledakan informasi, kerap kali ramai pula oleh ledakan emosi. Ledakan opini, dan, ah... Kau tahu sendiri. Tidak hanya itu saja sih, pada kejadian sehari-hari, kita mungkin merasa keadaan agak berbeda dengan dahulu. Aku membicarakan tentang nilai-nilai, moral & etika, yang sejatinya ada dalam identitas bangsa ini. Ada yang terkikis, dan memudar...

Kalau menyebut Indonesia, kita tahu bahwa bangsa kita terdiri atas keberagaman. Perbedaan-perbedaan itu niscaya, tapi kita sesungguhnya punya semboyan pemersatu, Bhineka Tunggal Ika. Namun, adakah itu tinggal semboyan semata? Dan ada pancasila sebagai dasar negara kita. Nilai-nilai pancasila itu yang perlu ditanamkan dan senantiasa dipupuk dalam keseharian. Membicarakan ini, mau tak mau kita berhadapan dengan ideal vs realitas. Sebagian orang mungkin saja berpikir, perbincangan macam ini tak ubahnya sebuah nostalgia pelajaran PPKN. Tapi, nilai-nilai moral adalah persoalan universal. Setiap kita perlu jadi bagian yang menggerakkan agar nilai-nilai itu kembali membumi dan tak hanya jadi wacana.


Perbincangan seputar inilah yang mengisi Ruang Voltaire di Hotel Novotel Bandung, Jl. Cihampelas, pada pagi jelang siang 20 Mei 2017 lalu. Di sana sejumlah netizen, blogger, dan awak media duduk membincangkan perihal sosialisasi 4 pilar MPR RI. Kesempatan tersebut dihadiri antara lain oleh Ibu Titi (Kepala Biro Humas MPR RI), Ibu Raras (Kepala Bagian Pemberitaan MPR RI), Kang Andri (Kepala Bagian Pengolahan Data & Sistem Informasi MPR RI), serta Pak Ma'ruf Cahyono (Sekretaris Jendral MPR RI). Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama komunitas Blogger Bdg dan MPR RI ini dihadiri pula oleh sejumlah blogger Jawa Barat dari luar Bandung.

Peran Netizen & Blogger dalam Mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI


Menurut Ibu Raras, meski pertama kali dilakukan di Bandung, ini bukan pertama kalinya MPR RI mengadakan gathering dengan blogger. Sebelumnya kegiatan semacam ini sudah lebih dulu dilakukan di beberapa kota, seperti Bogor dan Solo yang dihadiri oleh blogger dari beragam kota. Menurutnya, MPR RI ingin merangkul beragam blogger untuk turut serta mensosialisasikan 4 pilar MPR RI, mengangkat nilai-nilai moral dalam tulisan dan aktivitas media sosial. 

Pada masyarakat yang sudah tak terpisahkan dari dinamika media sosial, dunia virtual bisa memiliki pengaruh begitu besar dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana masyarakat merespon suatu isu adalah suatu hal. Di medsos & dunia maya, kemunculan berita/artikel viral adalah hal lain. Tak jarang, di antara yang viral itu ada informasi yang tidak jelas kebenarannya, hoax, dan yang parah mengandung unsur hasutan dan memancing perpecahan. Tak jarang, yang terakhir ini hanya memperkeruh suasana. Peran terkecil yang bisa dilakukan netizen yaitu setidaknya stop menyebarkan hoax. Intinya sih lebih bijak dalam bermedsos. Lagipula, etika adalah sesuatu yang perlu kita jaga, tak terkecuali di dunia maya. Ingat lho, netizen itu memiliki kekuatan untuk menghasilkan dampak massif.



Kepada blogger, MPR RI mengajak untuk turut serta mengangkat nilai-nilai moral pancasila dalam tulisan. Menurut Kang Andri, hal ini dapat dilakukan sesuai style masing-masing, tanpa harus berkesan "berat". Nilai-nilai ini bisa diangkat dalam jenis tulisan apa saja, misalnya traveling, kuliner, dsb, tinggal menggunakan kreativitas dalam mengemasnya. Senada dengan yang dipaparkan oleh Ibu Titi bahwa sosialisasi 4 pilar MPR RI bisa dilakukan melalui banyak cara, misalnya lewat jalur budaya semisal lewat wayang, tari-tarian, syair, pantun, gurindam, dsb. MPR RI juga terbuka menerima ide serta masukan untuk perbaikan tentang sosialisasi 4 pilar MPR RI ini.

Pak Ma'ruf Cahyono menegaskan bahwa sosialisasi 4 pilar MPR RI bukan hanya tugas MPR, melainkan soal kesadaran bersama, karena sudah menyangkut nilai kebangsaan. Medsos itu alternatif tinggi untuk sosialisasi. Peran blogger dapat menjadi agen perubahan, menjembatani informasi antara MPR RI dengan masyarakat. Pak Ma'ruf juga mengingatkan bahwa MPR itu isinya perwakilan rakyat, sehingga informasi yang disampaikan tidak boleh bias. Karenanya, penting untuk terlebih dahulu mengenal MPR RI. Diingatkannya pula bahwa 4 pilar MPR RI ini sesuatu yang substantif, sehingga tetap perlu keseriusan dalam membahasnya. PR pentingnya adalah pemahaman terhadap konteks.

Tentang 4 Pilar MPR RI, Etika, dan Pembelajaran yang Tak Pernah Usai

Dari tadi ngobrolin 4 pilar MPR RI, sudah ngeh apa saja itu? 4 pilar tersebut adalah:

1. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.
2. UUD 1945 sebagai konstitusi negara.
3. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara.
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Sejujurnya, ketika disodori buku UUD 1945, pikirku, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kubaca hal-hal "berbau PPKN". Apalagi melirik buku satunya lagi, tentang Tap MPR. Makanya pemaparan Pak Ma'ruf Cahyono seperti mengingatkan sekali lagi, ada banyak yang kulupakan dan tak kutahu seputar hal ini. Paparnya, Tap MPR itu penting karena merupakan lapis kedua setelah UUD 1945, dan di dalamnya dimuat pula masalah etika. 

Etika itu harus ada di keseluruhan aspek: ekonomi, hukum, lingkungan, sosial, bisnis, politik, dll. Persoalannya yaitu kesenjangan antara realitas vs ideal. Dari hal sesederhana budaya malu, misalnya, kesenjangan itu masih saja ada. Makanya etika adalah proses pembelajaran yang tak pernah selesai. Ngerinya sekarang ini kita berhadapan dengan krisis multidimensi, berawal dari krisis identitas/kepribadian. Etika itu sesuatu yang abstrak, mudah dimengerti siapapun, namun yang sulit itu implementasinya. 

Menurut Pak Ma'ruf, impelementasi di perilaku itu sulit kalau kesadaran belum terbentuk. Di sinilah mengapa  nilai-nilai moral itu tetap penting untuk dibahas, disosialisasikan, dipahami mendalam. Sebagaimana kalau menilik pendidikan karakter anak, ada aspek kognisi, afeksi, psikomotorik. Baru tertanam dalam perilaku setelah melalui tahapan tersebut. 

Nah, sudah kepanjangan tulisannya. Jadi intinya, sosialisasi 4 pilar MPR RI itu perlu dilakukan bersama, dan dapat melalui beragam cara. Kita tentu tidak ingin jati diri bangsa Indonesia kian terkikis dan luntur dalam kehidupan sehari-hari dan dalam dimensi apapun.


Sebagai penutup, kukutipkan puisi berjudul "Masih Indonesiakah Kita" yang dibacakan Pak Ma'ruf Cahyono di akhir perbincangan. 


Masih Indonesiakah kita?
Setelah sekian banyak jatuh bangun 
Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk
setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa

Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan, 
persatuan di atas perselisihan, 
musyawarah di atas amanah,
kejujuran di atas kepentingan.
Ataukah keIndonesiaan kita telah pudar tinggal slogan dan gambar?

Tidak!
Karena nilai-nilai itu kita lahirkan kembali, 
kita bumikan dan bunyikan dalam setiap jiwa dan raga manusia Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke, kita akan melihat lebih banyak lagi senyum lama dan tegur sapa, 
gotong royong dan tolong menolong. 
Kesantunan bukan anjuran, akan tetapi kebiasaan, dan kepedulian menjadi dorongan
Dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita akan melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, 
berkeringat karena semangat, bekerja keras karena ibadah
Ketaatan menjadi kesadaran, dan kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan.

Wajah mereka adalah wajah asli Indonesia yang sebenarnya. 
Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati.
Keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya”.

Komentar

  1. Aku lupa 4 Pilar MPR ini. Kudu belajar lagi deh. Makasih sudah diingatkan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Teh. Jadi teringatkan lagi nyimak diskusi ini :D.

      Hapus
  2. Nggak cuma berita2 hoax, kita juga harus menahan diri dan stop menebar ujaran kebencian di socmed. Ngeri bacanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali ya Teh. Sekarang di sosmed jg rawan perpecahan. Mengkhawatirkan :(.

      Hapus
  3. Bagus ya mpr ngadain acara ky gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, katanya banyak dapet masukan dr para ahli supaya sosialisasi via sosmed yg potensi berdampak massif.

      Hapus
  4. apalagi skrg ya, kebangsaan mulai luntur dalam dada anak bangsa , perlu lagi diajarkan di sekolah dan sejak dini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, penanaman nilai2 ini perlu dilakukan lewat banyak cara, salah satunya pendidikan.

      Hapus
  5. 4 pilar yang ternyata aku lupa hehehe nasionalis kita sdh terkikis seiring dengan toleransi yang semakin menipis

    BalasHapus
  6. Harus sering sering adain kegiatna seperti ini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas sosialisasi ini kudu konsisten baru akan efektif, kata Pak Sekjen.

      Hapus
  7. Peran sosmed kalau disalah gunakan bisa berakibat pada adu domba dan dampaknya perpecahan. Hati2lah dlm menggunakan sosmed

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Sosmed sebagaimana media lainnya sebuah alat/instrumen. Ia akan mengarah kemana bergantung penggunanya.

      Hapus
  8. Dukung terus NKRI, perkuat persatuan bangsa, usir penjajah dan PKI .

    BalasHapus
  9. Semoga bisa terus terjaga kedamaian dan keutuhan bangsa ini

    BalasHapus
  10. Aku salut sama MPR, masih tetap setia menjaga NKRI ini.

    BalasHapus
  11. Indonesia memang harus membutuhkan hal yang begini nie. Agar NKRI tetap terjaga, spirit.

    BalasHapus
  12. Wah ... salut buat MPR yg ngasaain acara seperti ini

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon