Novel Milea: Suara dari Dilan

Milea: Suara dari Dilan
Judul buku: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: pastel Books
Cetakan ke: II,  September 2016
Jumlah halaman: 357

Kamu mungkin sudah mendengar tentang Dilan & Milea? Namanya mendadak populer setelah Pidi Baiq menulis kisah percintaan mereka masa SMA tahun 1990-an. Novel Milea: Suara dari Dilan adalah buku ketiga yang baru naik cetak belum lama ini, melengkapi 2 kisah terdahulu berjudul Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Jika di kedua buku pendahulunya kisah Dilan-Milea diceritakan dari sudut pandang Milea, di buku ketiganya ini giliran Dilan yang bersuara.

Di awal-awal bab buku ini, Dilan bercerita memperkenalkan dirinya, latar belakang keluarganya, dan bagaimana ia tumbuh menjadi seorang remaja. Ditekankannya bahwa informasi ini penting mengingat karakternya di masa remaja yang agak "nyeleneh", anti mainstream. Seperti kita tahu, bagaimana seseorang tumbuh turut dipengaruhi oleh lingkungan, pola didik, & pengalaman. Dilan berkarakter unik. Sebagai remaja, ia dikenal oleh pandangan masyarakat umum sebagai "anak nakal". Ia merupakan anggota sekaligus Panglima Tempur geng motor, bukan siswa teladan di kelas (gak kesulitan belajar, tapi gak suka diam di kelas & lebih suka main & nongkrong di warung kopi), suka berantem, tapi juga romantis, senang bercanda & iseng, memiliki pendirian sendiri tentang menghargai perempuan, serta bersolidaritas tinggi dalam persahabatan.


Bagaimana karakter Dilan terbentuk tak lepas dari orang-orang di sekelilingnya yang mewarnai kehidupannya . Dilan memperkenalkan ayahnya, seorang anggota TNI-AD yang cukup galak, namun penyayang, romantis, & suka bercanda. Dari ayahnya ia belajar bergaul dengan berbagai jenis orang, termasuk preman, tanpa harus terbawa arus & menjudge, sebatas berteman dengan siapa saja. Dari ibunya, seorang kepala sekolah SMA, Selain mendapat limpahan kasih sayang, Dilan mendapat perhatian tanpa dikekang dalam pergaulan. Ibunya senantiasa memberikan kepercayaan penuh kepada Dilan, bahwa ia tahu batas, mana yang baik & buruk.

Di luar rumah, Dilan berteman dengan Anhar, Bowo, Piyan, Burhan, Akew, sesama anggota geng motor. Selain mereka, ada Remi (Remi Moore, biar mirip Demi Moore, aktris film Hollywood "Ghost" yang sedang populer pada masa itu), waria yang juga suka nongkrong di warung Kang Ewok seperti Dilan, dkk. Di sekolah, ada Susi yang suka sama Dilan, Nandan, salah satu cowok yang suka Milea, dll. Hingga suatu hari, ada cewek cantik pindahan dari Jakarta. Milea namanya. Milea Adnan Hussain.

Perkara bagaimana cerita pedekate Dilan ke Milea tidak diceritakan di buku ini. Alasannya gak jauh dari "karena sudah diceritakan di buku Dilan sebelumnya". Di buku ini, cerita melompat ke pokoknya singkat cerita, Dilan-Milea udah resmi pacaran. Sangat resmi, baik secara lisan maupun tulisan, bertanda tangan di atas materai. Ada-ada saja emang Si Dilan ini. Itu hanyalah satu dari perilaku eksentriknya Dilan. Kisah asmara Dilan-Milea mengalir apa adanya, bersahaja. Seperti Dilan yang lebih suka nongkrong di warung Kang Ewok atau Bi Eem, ke sanalah Milea suka diajaknya, alih-alih nongkrong di mall. Mereka sukanya jalan-jalan bermotor menyusuri jalanan Kota Bandung yang dulu masih lengang, sesekali singgah beli buku di kios buku & majalah di area Cikapundung. 

Bagaimana dengan hadiah & kejutan? Dilan pernah ngasih buku TTS yang udah diisi penuh ke Milea. "Sederhana, tapi perlu perjuangan untuk mengisinya", begitu kata Dilan. Ada banyak puisi yang ditulis Dilan buat Milea, dan surat-surat yang dikirim via pos ke rumahnya. Isinya tentu kata-kata yang bikin Milea tersenyum dan banyak tertawa. Menurut Dilan, mendekati perempuan itu baiknya dalam rangka membuat ia senang, bukannya demi membuat ia mau kepadamu.

Baca Milea sambil ngopi
Kisah cinta Dilan-Milea sangat manis, karakter keduanya cocok satu sama lain, dan masing-masing bahagia menghabiskan waktu bersama. Bahwa kemudian hubungan mereka tidak langgeng, ada alasan-alasan yang diperjelas dalam buku ini. Insiden yang menimpa Akew menjadi titik krusial ketika hubungan mereka merenggang, diperparah dengan beberapa kesalahpahaman yang tak menemukan ruang penjelasan. Berawal dari prasangka, bersilangan dengan emosi, ego, dan situasi yang menuntun pada pembiaran.

"Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu."
Begitulah, setelah kita pembaca dibuat ketawa atau minimal senyam-senyum baca kisah asmara Dilan-Milea, seiring konflik batin yang melanda tokohnya, Dilan membawa kita pada episode kisah patah hati. Meski demikian, sebagai cowok berjiwa "laki banget", Dilan tak membiarkan diri tenggelam dalam keputusasaan karena putus cinta, meski berat. Ia berusaha move on, meski sulit. Pelajaran tuh buat yang lagi labil & baper terus gara-gara virus merah jambu, hehe.

Hari Lia
Pagi untuk Lia.
Siang untuk Lia.
Malam untuk Lia.
Aku gak mau istirahat.
(Dilan 1991)  

Menariknya karakter Dilan, remaja 17 tahun itu, ia berjiwa merdeka, tapi juga bijaksana dalam beberapa hal. Dilan bergaul dengan siapa saja, termasuk berteman dengan orang yang punya kebiasaan negatif seperti mabuk-mabukan misalnya, namun ia tidak ikut-ikutan. Ia pantang menjudge orang lain karena seringkali menempatkan dirinya seandainya berada di posisi orang tersebut. Sebagai cowok yang ngakunya bertampang biasa, ia punya daya tarik dengan caranya menghargai & memperlakukan perempuan. Dan dia suka nulis puisi, dan suka baca buku (kayak aku! Naonnnn :D).

Ada beberapa contoh puisi Dilan yang berbau fisika. Ada yang emang ia tulis setelah baca diktat fisika & majalah yang bahas Einstein. Kenapa aku kutipkan di sini? Bonus aja, karena dulu waktu kuliah aku suka bikin puisi yang beraroma sains :D. 

Penelitian
Menurut hasil penelitianku sendiri
kecepatan rindu menjadi sangat tinggi
dari waktu ke waktu menjadi lebih kuat
menjadi lebih cepat dari kecepatan cahaya
untuk memasukkan sebagian besar dirimu
ke dalam kepalaku!
(Dilan, 1991)

Jarak dan Waktu
Teoriku tentang Gerak Lurus
Gerak lurus menjadi berubah tidak beraturan
apabila gerak lintasannya berupa menjadi garis tidak lurus
Itu seperti aku yang bergerak mencari kecepatan
Sekarang berapa jarak yang harus kutempuh
berapa waktu yang aku butuhkan
untuk bisa bertemu denganmu?
(Dilan, 1991)

Baca Milea sambil makan salad rasa rujak
Kalau kamu sudah baca kedua novel Dilan sebelumnya, menurutku kamu perlu baca buku ketiganya ini. Kamu akan dapat perspektif berbeda tentang cerita yang sudah kamu dapatkan sebelumnya, dan cerita tambahan tentang hal-hal yang hanya Dilan yang tahu & rasakan, sedangkan Milea tidak. Bagaimana jika belum pernah baca buku Dilan sebelumnya? Gak apa-apa juga. Aku pun begitu. Belum baca 2 buku sebelumnya, langsung lompat baca buku ketiganya ini.

Secara keseluruhan, novel ini merupakan bacaan ringan yang banyak dibumbui dialog humoris lucu tapi garing. Rasanya sudah lama aku gak baca teen-lit. Buat penyuka teen-lit, novel ini bisa jadi pilihan bacaan. Aku cukup mengapresiasi "terjunnya" Pidi Baiq menuliskan novel kisah cinta masa SMA ini, yang menawarkan sesuatu yang lain selain sekadar cerita remaja (setidaknya bagi remaja jaman sekarang). Ada banyak pelajaran yang bisa diambil, sekiranya kau mau mengambilnya. Sebagai novel remaja bersetting 1990-an, bisa dibilang ini novel lintas generasi. Buat kamu remaja jaman sekarang, kamu tetap bisa menikmati kisahnya karena jika pun ada hal-hal di jaman itu yang sekarang udah gak ada, Ayah Pidi Baiq berbaik hati membubuhkan penjelasan di buku ini. 

Buat Anda remaja jaman dulu (hehe), juga bisa banget menikmati novel ini, karena kisahnya bisa membuat kita (kita?) bernostalgia. Terlebih mereka yang menghabiskan masa remaja 90-an di Kota Bandung. Dijamin nostalgia banget dengan nuansa Kota Bandung yang tahun 1990-an yang masih lengang tanpa macet, beberapa tempat yang kini sudah tak ada atau berubah, dan dinginnya Bandung yang dulu masih berkabut di pagi & malam hari.

Beberapa hal yang hanya remaja jadul yang mengalami misalnya, masa ketika tiap 30 September wajib nonton film G30S PKI yang ada adegan kekerasan & sadisnya. Atau soal penataran P4 (Pedoman Penghayatan & Pengamalan Pancasila). Yaitu, kata Dilan, biar ketika kamu ketemu nenek-nenek mau nyeberang di jalan, kamu tergugah rasa moralnya, lalu ternyata nyadar bahwa itu nenek sihir! Itu salah satu humor satir yang ada di buku ini. 

Dari segi alur, cerita di buku ini terkesan melompat-lompat berdasarkan ingatan Dilan. Dalam bab pendahuluan di awal, Dilan selaku penutur cerita di buku ini menyinggung perihal bagaimana ia sudah membaca kedua buku Dilan yang dituturkan oleh Milea. Ia mengaku didatangi oleh Pidi Baiq yang memintanya "bersuara" dari sudut pandang dirinya. Ia bilang tidak akan mengulang apa yang sudah diceritakan Milea. Dan memang demikianlah, ia hanya menceritakan apa yang belum terceritakan di buku sebelumnya. Sehingga, buat yang sudah baca 2 buku Dilan sebelumnya, gak perlu khawatir bosan karena pengulangan cerita. Novel ini sifatnya lebih ke melengkapi (& ada beberapa klarifikasi) kisah sebelumnya. 

Buat yang belum  baca 2 buku sebelumnya, ini agak gak enak. Kita jadi seperti baca kisahnya setengah-setengah. Karena tiap kali ketemu bagian yang sudah diceritakan di buku sebelumnya, kita hanya akan disuguhi kalimat semacam "begitulah, seperti yang sudah diceritakan Milea di Buku Dilan"... Yah, tapi bisa dimaklum sih, itu emang cara cerdas menarik pembaca untuk baca 2 buku Dilannya juga. Semacam preview yang bikin penasaran gitu.

Di akhir-akhir buku, dikasih bocoran tentang Cika, pacar Dilan setelah move on dari Milea. Pertanyaannya, apakah akan ada kisah selanjutnya yang bahas Cika? Tar tanya Pidi Baiq deh. Soalnya menarik juga, Dilan bikin puisi tentang Cika yang bodor: Cika. Cikawao... Cikadut... Cikapundung... (dll, nyebutin nama-nama daerah berawalan Cika) :D. Tapi endingnya... "Cika ada di mana-mana. Cika juga di dalam kepalaku. Cika juga ada di dalam semua perasaan riangku." Duh, Dilan!  

Wah, ternyata ini tulisan sudah panjang. Cukup sekian ceritaku tentang buku ini. Kalau kamu penasaran dengan ceritanya, buku ini bisa dibeli di mizanstore.com untuk versi cetaknya. Kalau mau versi ebooknya, bisa cari di playstore.

Komentar

  1. Puisinya bisa gtu bunyinya hehe
    Mengingatkanu pd beberapa tmn yg kuliah teknik :))
    Btw buku ini sbnrnya cocok apa tdk ya mbak buat dibaca emak2? Sepertinya bisa bikin bernostalgia masa SMA gtu ya?
    :)
    TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, Dilan emang orangnya bisa aja, baik dalam berpuisi maupun becanda. Banyak konyolnya juga.

      Terlepas dari cocok atau tidak, novel ini cukup buat dinikmati sebagai bacaan ringan aja, Mak. Seperti yang kubilang, remaja jadul pun bisa menikmatinya sambil nostalgia :).

      Hapus
  2. Cinta masa SMA.... (senyum-senyum dalam hati).. Nggak bisa dilupakan.Eeeaaa

    Baca novel itu punya keasyikan tersendiri ya Mba. Bisa membawa kita kembali ke masa lalu dan embawa kita berfikir tentang masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Itulah kenapa aku suka baca novel ^_^.
      Yah, nggak itu aja sih, alasannya banyak :D.

      Hapus
  3. Aku remaja 90 an yg kurang gaul. Belum baca novel ini. Udah cetakan ke 2 berarti laris ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe gak apa-apa, soalnya novel ini justru lebih booming di kalangan remaja masa kini :D.

      Iya, buku2 Pidi Baiq selalu laris. Fansnya banyak.

      Hapus
  4. Meskipun bukan penyuka novel teenlit, tapi ada beberapa yang tetap aku baca untuk selingan bacaan, Mbak. Salah tiganya Dilan 1990 & 1991, serta Milea. Entah kenapa dua seri sebelumnya sudah mebuatku penasaran untuk mencaritahu cerita detailnya, meskipun endingnya sudah jelas (Dilan & Milea berpisah).

    Catatan pentingnya, Dilan itu termasuk laki-laki keren (versiku, sih.hehe) karena suka baca dan nulis puisi. Minusnya, ya itu, dia anggota geng motor bahkan jadi panglima tempurnya.

    Ups, komentarnya kepanjangan. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga gak begitu sering baca teenlit *iyalah, udah bukan ABG lagi :D. Buat lucu2an aja baca beginian. Tapi emang sih, jadi penasaran sama cerita buku Dilan lainnya.

      Yah, emang Dilan itu unik. Meski kata "orang baik & soleh" dia itu "anak nakal", tapi punya prinsip. Gak bandel gitu aja. Dia punya banyak sisi menarik, termasuk suka berpuisi & senang baca :)).

      Hapus
    2. Yaps, Dilan itu unik, menarik dan bisa juga dibilang kocak, Mbak, seperti ngasih hadiah yang bikin ngakak "TTS yg sudah diisi semua", dan caranya itu lho "ngirim surat ke ke alamat tetangga" haha

      Hapus
    3. hihi... ada2 aja Dilan ini yah. Konyol kadang2, tapi seru juga orangnya bikin hepi :D.

      Hapus
  5. Meskipun bukan penyuka novel teenlit, tapi ada beberapa yang tetap aku baca untuk selingan bacaan, Mbak. Salah tiganya Dilan 1990 & 1991, serta Milea. Entah kenapa dua seri sebelumnya sudah mebuatku penasaran untuk mencaritahu cerita detailnya, meskipun endingnya sudah jelas (Dilan & Milea berpisah).

    Catatan pentingnya, Dilan itu termasuk laki-laki keren (versiku, sih.hehe) karena suka baca dan nulis puisi. Minusnya, ya itu, dia anggota geng motor bahkan jadi panglima tempurnya.

    Ups, komentarnya kepanjangan. Hihi

    BalasHapus
  6. Haduuuh aku belom baca. Belom sempet ke toko buku. Makin rameeeee dan penasaran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayu baca, Teh. Biar awet muda, hehe...

      Hapus
  7. Suka banget sama Dilan, suka banget sama Milea. Mereka seperti tokoh nyata. Kadang cemburu sama Dilan punya Bunda yang menyenangkan. Dilan itu pecinta yang ga manja, remaja yang jadi diri sendiri dan tau maunya apa. Keren pokonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Teh Ima salah satu fansnya Dilan toh. Iya sih kalau liat cerita keluarganya kayaknya orang tuanya asyik2 ya :).

      Hapus
  8. Keren emang nih ide nya Surayah, triloginya kece badai, syukaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teteh udah baca ketiga bukunya? Aku jadi mau baca jg Dilan 1 & 2nya...

      Hapus
  9. Terima kasih reviewnya. Saya teruskan ke Surayah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kang. Aih, asyiik... Salam sekalian. Kapan yah ada kesempatan minta ditandatanganin gitu bukunya, hehe

      Hapus
  10. Wah berarti kalo nggak baca buku pertama & kedua juga sah-sah saja ya teh? Aku belom baca soalnya.. Penasaran pisan pengen baca kisah cinta remaja yang romantis tapi ada sisi bodornya kayanya.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gpp sih, tapi ya itu ada gak enaknya jg, kayak kepotong ceritanya.

      Kalau bisa mulai dari yg pertama ya ikutin aja sesuai urutan. Ini aku punya Dilan 2, tapi Dilan 1 gak punya. Makanya loncat aja ke Milea :D.

      Hapus
  11. Jadi pengen baca, tapi waktu itu di toko buku masih diplastikin semua hahaha *anaknya irit*. Buku kedua aja aku bacanya di toko buku gara-gara plastiknya udah kebuka hahaha. Mungkin aku bisa pinjem ke temen, mungkin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah bisa aja minjem, ke temen atau perpus & Taman baca. Tapi jangan lupa dibalikin ke yg punya :D.

      Hapus
  12. Udah baca tiga-tiganya. Dari ketiga bukunya, saya tetap paling suka sama buku Dilan yg pertama. Ngajarin kita untuk jadi cowo yg "cowo banget" hehehe...
    Terima kasih atas reviewnya, lengkap dan detail banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, udah baca semuanya ya. Tampaknya penyuka Dilan nih :D.

      Sipp...

      Hapus
  13. Jadi penasaaran sama ketiga bukunya. Ngintip mizanstore dulu ah.. ^^

    BalasHapus
  14. denger-denger sih, katanya ga bakal ada buku ttg cika. gitu katanya sih hehee... mungkin buku selanjutnya tentang bunda-hara :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, udah ada bocorannya toh *kudet.
      bunda-hara naon *tak mudeng :D.

      Hapus
  15. Seru review nya, teh. Semoga bisa berkesempatan review buku yang lainnya ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitukah? Ini tuh udah lama pisan gak review buku. Tiap abis baca buku sekarang tuh pemalesan bikin review *semoga ini jadi pembngkit semangat review buku lagi.
      Semoga! :)

      Hapus
  16. Saya tertarik ingin membaca secara langsung karena novel ini cerita remaja bersetting tahun '90-an :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, sambil nostalgia ya Pak :0.

      Hapus
  17. Gilang Maulani19 Oktober 2016 06.59

    Ngahaha, aku baru mampir ke sini. Puisi berbau fisikanya keren itu :D , tapi puisi tentang Cika bikin nyesek deh. Aku baru baca yang pertama aja teh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pengen baca yang pertamanya, belum euy. Jadi penasaran. Aku punyanya Dilan 2 & Milea ini aja :(.

      Hapus
  18. He he he, betul... sambil nostalgia kala tahun '90-an saat SLTA dan mulai masuk kuliah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sih 90-an masih pra-sekolah - SD, hehe.

      Hapus
  19. Aaakk pengen bacaa yang ketiga ini.. Tapi maunya minjem ajaah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah... Pinjem atuh ke perpus atau taman bacaan :D.

      Hapus
  20. Hp lg ku yg kayak difoto udah rusak

    BalasHapus
  21. Dilan fenomenal banget ya, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengaruh Pidi Baiq juga kayaknya :D.

      Hapus
  22. Semua milikmu untuk siapa, Nona?
    Untuk dia yang bisa membuat kamu senang
    Karena dia yang aku maksud adalah aku
    Jadi mari kita kerja sama
    untuk sebuah rencana asmara.

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  24. Sesungguhnya, kalau bertemu dengan orang berkepribadian seperi Dilan itu akan membuat lieur.
    Betul sih, seperti komentar Kok Keven, Buku Dilan-Pidi baiq ini semacam panduan untuk menaklukan perempuan. Tapi, karena kita juga baca, yaaa kita bisa mengira-ngira cara menangkalnya agar tidak terperangkap pada puisi dan jurus lainnya.
    Sekian dari pembaca Dilan#1-#3 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah... jadi udah siap-siap sama jurus penangkal yah :D.

      Hapus
  25. Siap-siap berburu buku ini, sepertinya menarik banget

    BalasHapus
  26. setelah baca2 komen di artikel ini,saya malah jadi penasaran sama isi bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyik... Sukses bikin orang penasaran :D

      Hapus
  27. Sajian postingannya apik, keren dah pokoknya. Udah pernah baca2 Milea dan isinya menggelitik. Makasi ya mantep blognya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga... Sudah mampir baca tulisanku & meninggalkan jejak :))

      Hapus
  28. beberapa bulan lalu saya udah khatam buku ketiga dari trilogi dilan ini, masih ngambang aja kenapa dilan sama milea engga nikah, padahal mereka masih sama-sama sayang. Aaah bikin baper baca novel ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tahu kenapa: mereka gak jodoh! Hehe...

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Ms. Jutek vs Mr. Reseh