Serba-serbi Cerita Mudik Lebaran di Kampung Halaman

Bandung - Kuningan mungkin tak begitu jauh. Normalnya butuh setengah hari perjalanan dengan transportasi umum atau sekitar 4 - 5 jam berkendara pribadi. Meski demikian, aku termasuk jarang mudik ke kampung halaman. Tapi kalau momen Lebaran Idul Fitri, mudik itu wajib hukumnya. Seperti lebaran kemarin, aku mudik pada H-1. Itu adalah mudik yang entah ke berapa kalinya lebaran, karena aku sudah merantau sejak masa SMP. Setiap lebaran punya kisah sendiri-sendiri yang sayangnya belum pernah aku tulis. Kali ini aku coba sempatkan share cerita lebaran kemarin di kampung halamanku yang berada di sebuah desa di ujung Kuningan yang berbatasan dengan Brebes, Jawa Tengah.

Perjalanan Mudik...

In frame: pemudik di bus Damri & pemandangan dari jendela bus di area Tol Cipali
Mudik di H-1 lebaran, aku sudah membayangkan akan harus rebutan bus Damri Bandung-Kuningan di Terminal Cicaheum seperti yang pernah kualami di tahun-tahun sebelumnya. Ternyata bayanganku meleset. Kali ini Damri sudah lebih siap dengan menyiapkan armada tambahan. Syukurlah, itu kabar baiknya.
Kabar buruknya, bus armada tambahan itu berupa bus kota. Alhasil, kurang nyaman untuk ukuran perjalanan jauh lintas kota. Dan ongkosnya sekarang udah mahal sekali, Rp. 75000. Nggak worthy dibandingkan dengan kenyamanan yang seharusnya didapatkan. Yang jelas, gak bisa tidur nyaman deh. Beberapa penumpang sempat terlihat mempertanyakan juga. Tapi ya sudahlah, dinikmati saja perjalanannya. Yang penting selamat sampai tujuan.

Aku cukup beruntung karena puncak kemacetan justru terjadi di hari sebelumnya. Hanya terkena macet yang lumayan di area Tanjung Sari dan di Kota Kuningannya sendiri. Selebihnya perjalanan lancar. Itu pertama kalinya aku mencoba lewat jalur baru Tol Cipali. Sampai di Terminal Kertawangunan, lanjut dengan jemputan. Sebelum pulang, sempat putar balik dulu ke Cilimus demi beli oleh-oleh khas Kuningan, yaitu Jeniper alias Jeruk Nipis Peras. Sengaja beli di awal karena biasanya perjalanan balik ke Bandung justru suka riweuh dan gak sempat. Oleh-oleh khas lainnya yaitu tape ketan sih sempat dibelinya pas mau balik ke Bandung.

Tradisi Lebaran...

Kumpul keluarga besar

Di keluargaku tidak ada tradisi sungkem yang formal. Hanya salam-salaman itu mah pasti ya. Dari keluarga pihak bapak, dari tahun ke tahun tradisinya adalah berkumpul di rumah nenek-kakek. Dari 8 bersaudara saja keluarga ini sudah "membengkak" anggota keluarganya sampai ke cucu-cicit. Sewaktu nenek-kakek masih hidup, rumah ini ramai banget di hari lebaran. Tumplek semua di sana. Nanti dari sana semua "ngabring" alias pergi rame-rame ke pemakaman untuk ziarah. Lebaran kali ini masih ramai juga, hanya waktu kunjungannnya jadi ada yang beda sehingga gak kelihatan seramai dulu.

Sayangnya gak ada tradisi berfoto-foto keluarga, euy. Kalau lihat timeline FB di hari lebaran, banyak yang posting foto keluarga. Aku jadi gregetan. Ya sudahlah, berfoto bertiga saudari aja lah ya... Hehe. 
Maaf lahir batin yah... :)
Tapi sebelum balik ke Bandung, di suatu sore sempat juga seseruan foto-foto bareng nenek ^_^.
We love you, Nek :))
Ziarah ke pemakaman

Selain sillaturrahim ke saudara dan tetangga, tradisi yang ada tiap lebaran di kampungku adalah ziarah ke pemakaman. Di hari lebaran, pemakaman ramai sekali. Jalannya bisa sampai macet. Kalau aku, ziarah bisa sampai 2x. Pertama, bareng keluarga besar pihak bapak. Usai berdoa berjamaah dengan keluarga besar, biasanya bapak memimpinku dan adik-adik memisahkan diri, melanjutkan berdoa di makam ibuku. Ah, sudah 14 tahun. Sudah 14x lebaran berlalu tanpa ibu. Lama juga ternyata. 

Siang atau jelang sorenya, aku biasa ikut lagi ziarah dengan kelompok lebih kecil bareng nenek dan keluarga lainnya dari ibu. Tapi lebaran kemarin sih cuma sekali saja.
Ziarah ke pemakaman desa
Kalau dipikir lagi, dari tahun ke tahun sudah bertambah keluarga yang tiada. Namun lebih banyak lagi anggota keluarga baru. Melihat kenyataan ini, aku sering tersadar tentang waktu. Dan hal-hal banyak yang berubah tanpa disadari. 

Serba-serbi liburan di rumah nenek

Banyak orang yang kalau lebaran itu suka berpelesir atau piknik keluarga. Sayangnya, hal ini belum berlaku di keluargaku, heuheu. Walhasil, biasanya liburan lebaran di siang harinya ya aku habiskan aja di "rumah" nenek. Lebih tepat kalau dibilang tempat tinggal kali ya. Jadi ini bukan seperti judul klasik karangan pelajaran Bahasa Indonesia "Liburan di Rumah Nenek" yah, hehe. Lah wong dari kecil aku sudah tinggal bareng nenek :D. Baru beberapa tahun ke belakang aja cuma main ke nenek di siang harinya doang. 

Ketemu the krucils

The Krucils
Mudik kemarin ketemu ponakan baru, baru 8 bulanan usianya. Jadi ya sekalian ngasuh. Sempat menyaksikan drama "friendship & betrayal" ala anak kecil pula :D. Itu tuh, 2 ponakan yang akrab, tapi begitu ada teman "pihak ketiga", hubungan mulai retak. Gak diajakin mainlah, nangislah, terus baikan lagi, gitu deh, giliran. Ada-ada aja :D.

Ketemu makanan nostalgia
Selama liburan di kampung itu aku banyak makannn... Hihi. Maklum anak kos *padahal bilang aja tukang makan :D. Selain memang momennya lebaran itu identik dengan banyak suplai makanan, juga aku banyak jajan. Aku tak menyiakan kesempatan untuk mengobati kerinduan pada makanan khas di kampungku, yaitu rujak kangkung. Slurrppp... Pedas, sambalnya bau terasi, tapi enyaakkk.
Ketupat & opor ayam, makanan kebangsaan hari H Lebaran
Bonusnya, di suatu pagi saat ke pasar, aku menemukan tukang jualan tutut! Bagiku, tutut adalah makanan nostalgia yang mulai jarang dijumpai. Di Bandung juga ada yang jualan tutut, tapi menurutku rasanya gak bisa disandingkan dengan masakan tutut khas kampungku. Dengar-dengar ada cafe di Bandung yang nyediain tutut. Tapi belum coba.
Tutut & rujak kangkung, makanan nostalgia
Sewaktu lewat lapangan, menemukan jemuran kerupuk dorokdok. Eh, pas main sama the krucils, ketemu tetangga yang suka bikin kerupuk dorokdok itu, terus dibekelin deh. Makasiih... Hehe.  
Jemuran kerupuk dorokdok
Berburu buah kersem

Di luar makan, aku menemukan hobi yang cuma bisa kulakukan saat mudik begini. Yaitu berburu buah kersem (di kampungku namanya itu, gak tahu di tempat lain). Pohon yang buahnya kecil-kecil ini cukup sering dijumpai di berbagai tempat. Bedanya, kalau pohonnya di halaman rumah gini, aku bebas metikin. Sebetulnya ngapain juga capek-capek ya? Berbekal galah, nyari buah matang nun di atas sana mengandalkan pandangan mata, bikin pegel leher karena harus selalu menengadah. Udah gitu kalaupun di makan buahnya gak akan bikin kenyang. Cuma bisa nyicip manisnya aja sedikit. Orang juga jarang memakannya. Biasanya keberadaan pohon ini hanya sebagai peneduh. Buahnya seringkali diabaikan, yang matang dibiarkan berjatuhan begitu saja.

Tapi aku menikmati prosesnya. Mungkin karena fokus melakukan itu jadi gak memikirkan hal lain-lain. Itung-itung pelepas stres :D. Yang aku suka dari pohon ini, kontinyu berbuah matangnya. Hari ini buah merah-merah dipanen, esoknya udah ada lagi yang matang-matang.

Buah kersem hasil perburuan :D.

*
Masih banyak cerita yang bisa ditulis sebetulnya. Stok foto-foto mudik juga masih banyak. Tapi ini sudah kepanjangan. Segini dulu ceritanya ya...

***


BTW, udah tahu belum, 7-8 Agustus 2016 nanti ada event Hari Hijaber Nasional lho. Tempatnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakpus. Yuk yang dekat nanti merapat. Ini infonya:


Komentar

  1. tutut itu apaan mbak? kuperhatikan fotonya, kok blm bisa nyimpulin ya, haha..seneng euy, makanan nostalgianya aneh2 ya namanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha, serius, gak tahu tutut? Sayang, gak difoto yang versi zoomnya :D. Itu sejenis keong kecil yang ada di sawah. Makannya agak ribet, harus disedot sehingga harus manyun2. Tapi itu seninya, hehe. Di kampungku tutut disebutnya "karaca".

      Hapus
  2. kerupyk dorodok tu yg gmn ya mbk,,penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Next time pulkam aku foto yg zoomnya deh. Itu yg diposting pas lagi di jemurnya. Bentuknya potongan panjang2 gitu. Kalau udah disangrai jadi mengembang.

      Hapus
  3. Asik ya bisa lebaran bareng keluarga, makan tutut pula :D

    BalasHapus
  4. Hahaha krucils.. Sebutan antimainstream buat bocah bocah ya mba :D btw baru tau bus damri kok dalem nya kayak busway ya.. Setahu ku dalam nya seperti bus biasa yang nyaman banget kok .. Dulu aku pernah ke bandara naik damri soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yg suka nyebut bocah krucil sih 😀.

      Iya, aslinya bus damri nyaman. Cuma ini yg aku tumpangi sebenarnya bus kota, tambahan armada itu. Jadilah sepanjang perjalanan kebagian tempat duduk yg menyamping 😀.
      Bangun tidur pegel banget, heuheu...

      Hapus
  5. Neng euis bade kamana? hehe, eh baru tau deh ada yang namanya buah kersem, di Bogor gak ada soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudiklah, Mbak Ev 😁.

      Mungkin di sana namanya beda kali. Setahuku pohon ini cukup mainstream *lah 😀.

      Hapus
  6. seru yaa bisa kumpul sama keluarga besar.

    BalasHapus
  7. 2x tinggal dirumah yg ada pohon kerennya. Seneng deh, tiap hari ada aja anak kecil yg bergelantungan ngambilin kersen. Entah anak siapa heheheee. Kadang ada juga mas2, nah ini yg mungkin pengin kembali ke masa kecil :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik ya jadi ramee...

      Awalnya ini tempatnya pohon mangga. Sekarang jadi ganti kersen.
      Yah, mungkin diam2 diriku merindukan masa kecil juga :D.

      Hapus
  8. Serunya lebarannyaaaa. Efek nggak punya kampung halaman nih jadinya ngerasain mudik dari cerita orang-orang aja. Hihi. Sukses ya blog competitionnyaaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, meski gak mudik, tentu ada saja cerita menarik lebaran di kota. Sensasi tanpa macet tuh :D.
      Makasih yaaa....

      Hapus
  9. Wah sama mba saya jg org kuningan, dulu kuliah di bandung klo mau mudik dari cicaheum jg pulangnya. Kalo high season ngantriiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaan yah... Iya, biasanya bisnya rebutan. Tapi syukurnya mudik kemarin nggak.

      Hapus
  10. Euleu euleuh ti Kuningan? Palih mana? Abdimah ti Ciwaru da.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih, sami ti Kuningan nya. Cibingbin abdi mah :D.

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis