23 April 2015: Bandung, KAA, & Literasi

~*Flashback 23 April 2015*~

Bandung, 23 April 2015, bertepatan dengan World Book Day. Tak ada yang istimewa dengan progres bacaku. Hanya sempat share quote dan meme terkait buku di jejaring sosmed. Jelang siang itu aku berangkat menuju kantor YPBB yang mengagendakan acara penempelan label buku koleksi perpustakaannya bersama relawan, mengambil momen di Hari Buku Sedunia itu. Agenda hari itu sebetulnya bentrok dengan kumpul relawan SMKAA divisiku. Kuputuskan untuk berpartisipasi di agenda penempelan label buku hingga zuhur, baru kemudian sesudahnya berangkat ke agenda relawan SMKAA. Saat itu Bandung masih sedang gegap-gempita oleh event peringatan KAA ke-60. Di Stadion Siliwangi, hari itu berlangsung event Angklung for The World (aksi penampilan 20 ribu performer angklung yang mencatat rekor terbanyak, ketika Bandung menjadi lautan angklung).


Maka selepas kegiatan nempel label buku & makan-makan bersama, dari Jl. Pahlawan aku berangkat menuju Jl. Perintis Kemerdekaan. Di perjalanan melewati jalan sekitar Stadion Siliwangi, kulihat para pelajar menenteng angklung setelah usai berpartisipasi dalam Angklung for The World. Sepanjang jalan yang kulewati ramai oleh aneka pernak-pernik bendera, baligo, dan poster bernuansa peringatan KAA. Sudah pukul 14.00 saat aku tiba di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), tempat kumpul relawan SMKAA yang ditentukan. Sederet jadwal event peringatan KAA yang digelar di GIM menyapa di depan gedung. Wah... Sungguh banyakkkk sekali event serentak di berbagai tempat selama periode peringatan 60th KAA ini. GIM hanyalah salah satunya. Di dalam, sedang berlangsung event diskusi buku bertajuk "Pesan dari Bandung".


Diskusi buku "Pesan dari Bandung" di Gedung Indonesia Menggugat (23/4/2015)

Menengok sana-sini, tak kutemukan kawan-kawan relawan lain. Aku malah disuruh masuk ke ruangan tempat diskusi buku berlangsung. Tadinya aku enggan. Selang beberapa lama akhirnya aku masuk juga, setelah kupastikan kawan-kawan lain ternyata juga ada di dalam. Oh, jadi ternyata agenda kumpul yang dijadwalkan sejak pukul 10 pagi itu berupa kita turut mengikuti event SMKAA lain yang tengah berlangsung. Turut meramaikan, mungkin. Aku tak tahu ada acara apa sejak pukul 10. Dan event diskusi buku yang akhirnya aku ikuti itu entah dari jam berapa mulainya, sudah setengah jalan. Perlu beberapa menit beradaptasi hingga konsen menyimak gerangan apa yang sedang dibincangkan oleh pembicara. Tentu yang dibincangkan berupa buku bertema sejarah terkait KAA. Cukup berat untuk otakku yang tiba-tiba nyimak di tengah-tengah perbincangan, sementara badan masih terasa lelah sehabis berpanas ria ngangkot dan jalan kaki di tengah hari.

Ternyata... Perbincangannya menarik! Banyak sekali wawasan sejarah seputar KAA yang digulirkan dengan fasih oleh pembicara. Meski sudah ngeh ini menarik, saat itu aku masih menahan diri untuk tak mencatat apapun. Dan aku menyesal. Lama-lama akhirnya aku mulai mengetikkan sesuatu di memo hp. Tapi itu sudah lumayan terlambat. Fakta-fakta, nama tokoh dan tempat bersejarah menarik yang tak sempat kucatat tadi sudah keburu menguap dari ingatanku. Padahal, kalau saja aku sedari awal sigap mencatat, ingin sekali membagikannya lagi via tulisan di blog :(. Dan lagi-lagi jadi nyesel karena tak menyimak sedari awal acara :(. Agh, sedih. Padahal sempat kulihat info diskusi ini sebelumnya di sosmed. Tapi tadinya karena bingung terlalu banyak event, aku tak begitu menaruh perhatian pada event ini.

Seperti biasa, diskusi buku AARC selalu diramaikan oleh musikalisasi puisi Adew & rekans
Jadi, bertepatan tanggal 23 April, diskusi buku bertema "Pesan dari Bandung" yang digelar oleh Asian-African Reading Club (AARC) ini selain meramaikan peringatan KAA, sekaligus World Book Day. Perbincangan menjadi menarik ketika peristiwa KAA berikut Dasasila Bandung diulas dari segi literasi. Ketika biasanya pembahasan tokoh KAA ramai disorot dari kalangan politisi, disini yang diulas adalah dari kalangan jurnalis dan intelektual. Tahun 1955 memang merupakan salah satu puncak diplomasi dan jurnalisme, serta melahirkan banyak tokoh intelektual. Sederet judul buku diperbincangkan dalam diskusi ini, antara lain:
- The Bandung Connection, karya Roeslan Abdoelgani
- Dasasila Bandung: Dulu dan Kini, karya Ahda Imran & Tim
- Bandung 18 April, karya Arthur Conte
- Bandung Generation, karya Dwight T. Lee
- Color Curtains, karya Richard White
Selain kelima buku tersebut, ada satu buku lagi yang disebut-sebut oleh Pak Taufik Rahzen kala mengulas tentang sosok Ali Sastroamidjojo, tokoh penting dibalik kesuksesan diplomasi penyelenggaraan KAA 1955 di Bandung (di masa itu Bandung bukanlah kota yang ideal sebagai venue). Menurut Pak Taufik, jika ingin memahami sosok & perjuangan Ali Sastroamidjojo yang berpribadi rendah hati ini, bacalah bukunya yang berjudul Tonggak-tonggak Perjalananku. Menyimak ini sukses membuatku tambah penasaran dengan profil Ali Sostroamidjojo dan bukunya itu. Dalam diskusi ini disinggung betapa kiprah beliau sesungguhnya membuatnya layak untuk diangkat sebagai pahlawan nasional.

Setiap perbincangan sejarah lazim dan perlu untuk ditarik konteksnya pada ranah kekinian. Demikian halnya dengan KAA & Dasasila Bandung yang diperbincangkan pada diskusi buku ini. Dasasila Bandung merupakan pesan moral, bukan ikatan diplomasi, sehingga solidaritasnya dibangun di atas "ikatan yang rapuh". Sebelum konteks pesan moral dalam Dasasila Bandung ditarik ke wilayah politik internasional, terlebih dahulu perlu diaplikasikan ke wilayah sosial kontemporer keseharian. Di wilayah sosial yang dekat di keseharian saja, betulkah Dasasila Bandung itu sudah benar-benar diterapkan? Nyatanya, di mana-mana masih banyak terjadi kasus seperti pelanggaran HAM, dan seterusnya. Di kancah internasional, KAA & Dasasila Bandung merupakan pendekatan politik normatif (berdasarkan prinsip), bukan politik realis (berdasarkan hal fisik). Karenanya KAA & Dasasila Bandung adalah perjalanan peradaban, bukan sekadar politik.

Di akhir perbincangan, sebuah pertanyaan klasik terkait literasi diontarkan oleh salah seorang audiens, yang merupakan seorang guru. Bagaimana cara agar anak-anak generasi sekarang memiliki kecintaan akan membaca buku? Jawabannya ada pada "mulai dari yang terdekat". Mulai dari rumah, dimana orang tua berperan tak hanya mendorong dan memfasilitasi, melainkan sebagai teladan. Pun di sekolah, para guru juga harus berperan sebagai teladan. Bagaimana anak-anak kita akan suka membaca, jika orang tua/gurunya sendiri tidak suka membaca. Intinya kita perlu membangun komunitas literasi yang kondusif sejak dari dalam rumah.

Sekarang ini kita hidup dalam paradoks budaya. Budaya sekarang cenderung budaya visual, dengan budaya literasi lemah, sementara bertemu dengan gempuran ledakan media. Akibatnya, mudah percaya hoax. Dalam budaya literasi, kita berteman dengan aktivitas membaca, mengkaji, meneliti di keseharian. Budaya literasi lebih mendalam dari sekadar baca-baca media yang permukaan. Literasi itu iqra'. Jika berkaca pada tokoh-tokoh nasional penggerak sejarah bangsa kita sendiri, mereka adalah intelektual yang berbudaya literasi.

Sepatutnya kita menghidupkan budaya literasi yang menerangi.      

Komentar

  1. iya, anak2 masa kini ada yg udah malas utk tahu sejarah ya, Mbak. Pdahal menggairahkan yg namanya sejarah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sejarah itu perlu karena mengandung banyak pelajaran untuk masa kini & merencanakan masa depan :D

      Hapus
  2. Anak-anak sekarang memang susah banget Mbak buat dapetin interest mereka di dunia literasi. Daripada baca, mending nonton kata mereka. Jangankan buat generasi yang sekarang masih duduk di SD-SMA, teman-teman kuliah saya aja bejibun yang gak suka baca sastra.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti emang betul ya yg dibilang bahwa budaya kini cenderung visual & minim literasi itu. Kalau begini PR-nya lumayan berat nih.

      Hapus
  3. mmmmm kalo saya sukanya buku komik mak :p suami penggemar novel berat, mudah2an anaknya nanti suka baca hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Aku juga suka Conan & novel2. Tapi kepenasaranku banyak sih, gak cuma itu :D. Mumpung masih dini bisa dibangun ketertarikannya pada pengetahuan, Mak :)

      Hapus
  4. ahh asiknya bisa ikutan jadi relawan mba...pengen banget bisa lihat event KAA kemarin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak asyiknya jadi gak bisa ikutan event2 seru yg dikecengin, Mbak :)). Ayuk main ke Bandung, jejak2nya masih bisa dinapaktilasi :)

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh