Memupuk Kesuburan Industri Kreatif via Media Sosial

Salah satu produk industri kreatif lokal (Festival Braga 2012, dok. pribadi)
Memupuk Kesuburan Industri Kreatif via Media Sosial
Industri kreatif kini tengah menjadi primadona yang geliatnya begitu terasa di keramaian sektor industri di tanah air. Seiring dengan trend kepariwisataan, yang kini mulai gencar menggaungkan dukungan akan pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Sebutlah industri fashion yang kini kian menjamur. Aneka produk dari berbagai brand fashion busana muslim semarak bermunculan, demikian pula fashion yang mengusung warisan budaya seperti batik, serta produk fashion secara umum. Begitu pula halnya berbagai jenis industri crafting. Semaraknya berbagai jenis produk hand-made rumahan turut memperkaya potensi perkembangan industri kreatif Indonesia. Belum menyebut sektor media seperti industri film, pertelevisian, musik, dan penerbitan buku, serta sub sektor industri kreatif lainnya. Geliat industri kreatif lokal ini perlu ditunjang oleh dukungan teknologi informatika dan telekomunikasi yang mumpuni, agar di era kini yang serba digital ini pertumbuhannya tidak tertinggal dan kalah cepat oleh tuntutan jaman yang terus berubah.

Screen capture karya industri kreatif di showcase web indonesiakreatif.net
Orang menyebutnya Revolusi Digital. Ketika peralihan jaman bergerak dari era teknologi mekanik dan elektronik analog ke digital. Era keterbukaan informasi dimulai sejak tahun 80-an, dan pada tahun 90-an mengalami perubahan besar-besaran dengan penggunaan internet yang terus berkembang. Revolusi digital menandai perubahan yang signifikan dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali di ranah bisnis, termasuk industri kreatif. Informatika dan telekomunikasi mengambil peranan disini. Dan itu tak sekadar karena tuntutan perkembangan jaman yang meminta inovasi teknologi dari segi teknis desain maupun efisiensi pengerjaan produksi & bisnis secara umum. Melainkan juga tersebab revolusi digital mengubah perilaku konsumen, yang ujung-ujungnya sangat berpengaruh terhadap strategi bisnis yang perlu terus diupgrade oleh pelaku industri kreatif.

Meski terbilang terlambat dibanding negara-negara maju di Eropa & Amerika, perkembangan bisnis online di Indonesia kini sudah kian menggejala. Adanya perubahan perilaku konsumen membuat pelaku bisnis menolehkan muka ke potensi pasar internet yang lebih terbuka. Kini, hampir semua pelaku bisnis "memasang tenda" di dunia maya. Bisnis industri kreatif pun, mulai dari yang rumahan hingga skala raksasa, senantiasa punya basis di dunia online. E-commerce kian mewacana, karena selain menawarkan kemudahan transaksi bagi pelanggan, juga membuka peluang penetrasi pemasaran yang menjangkau di luar keterbatasan marketing offline. 
Data penggunaan internet di Indonesia per Jan 2015 (data: wearesocial.sg, via techinasia.com)
Internet membuka peluang percepatan transfer informasi yang dapat diakses oleh pengguna di seluruh dunia. Jika ini diterjemahkan ke dalam potensi pasar industri kreatif, disanalah informatika dan telekomunikasi memainkan peran krusial. Industri kreatif memerlukan sumberdaya di bidang teknologi ini agar tak kehilangan potensi pasar yang luas itu. Inovasi dari segi informatika dan telekomunikasi berperan penting dalam meraih target market dan berkontribusi menyuburkan lahan bisnis.

Bicara internet tak bisa dilepaskan dari fenomena perkembangan media sosial. Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah melebur di keseharian penggunanya. Menurut data yang dihimpun oleh wearesocial.sg, penggunaan media sosial di Indonesia hingga Januari 2015 adalah sebagai berikut.
Penggunaan media sosial di Indonesia (data: wearesocial.sg, via techinasia.com)
Waktu rata-rata harian yang dihabiskan pengguna mengakses media (data: wearesocial.sg, via techinasia.com)
Dengan pengguna aktif mencapai 72 juta dan rata-rata waktu penggunaan harian 2 jam 52 menit, media sosial dengan sendirinya tersorot sebagai lahan market yang potensial. Industri kreatif jelas punya tempat untuk ambil bagian membangun jaringan customer di sosmed ini. Jika ilmu socmed marketing dijalankan dengan baik, media sosial dapat menjadi aset digital yang turut menyuburkan industri kreatif. Dan karena sosmed itu merupakan produk dari teknologi informasi & telekomunikasi, sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang tersebut kini semakin dibutuhkan untuk menopang bisnis industri kreatif. Siapa pun memang bisa menjalankan bisnis via sosmed. Namun, jika bicara pada skala bisnis yang besar (atau setidaknya bervisi demikian), media sosial perusahaan tentunya perlu dikelola secara profesional dan melibatkan tim yang berkeahlian di bidang ICT. Bersama keahlian lain seperti marketing, komunikasi, analis data, serta desain grafis/visual, dan sebagainya, manajemen media sosial perusahaan dapat dijalankan secara optimal dan efisien.

Kekuatan dan potensi media sosial dalam menyokong bisnis bukan main-main. Kini kita mengenal profesi bernama Social Media Officer dan sejenisnya. Di balik namanya yang sekilas sepele, sesungguhnya profesi ini menuntut berbagai keahlian spesifik dan kreativitas tinggi. Ia juga menjadi ujung tombak yang mempertemukan konsumen di sosmed dengan brand perusahaan. Tugasnya sangat penting dalam membangun company branding di sosmed. Sedemikian pentingnya peran media sosial dalam membantu kelangsungan bisnis industri kreatif. Tak cukup Socmed Officer, kini beragam istilah turut bermunculan, yang semakin menegaskan posisi media sosial di kancah bisnis maupun gaya hidup. Sebutlah Social Media Buzzer, Blogger Buzzer, Social Media Enthusiast, Social Media Addict, apapun namanya.



Media sosial adalah media yang dekat dengan keseharian. Lewat media ini orang-orang berinteraksi, membangun pertemanan, relasi, berbagi, serta dipertemukan dengan (atau membangun) komunitas di dunia maya. Jika dipergunakan dengan bijak dan dimanfaatkan secara optimal, sosmed dapat menjadi sumber jejaring yang potensial tempat industri kreatif tumbuh dan berkembang. Uniknya, branding lewat sosmed tidak sama dengan sekadar memajang etalase produk layaknya di toko online. Atau posting produk sambil nge-tag banyak orang tanpa ijin. Branding di sosmed memerlukan kreativitas dan mensyaratkan nilai kebermanfaatan yang lebih dari sekadar promosi produk langsung. Branding di sosmed adalah upaya membangun jaringan, konten bermanfaat yang relevan, dan komunikasi terbuka (percakapan) dengan customer atau calon customer. Industri kreatif perlu membangun branding via sosmed agar geliatnya menumbuhkan ekonomi kreatif yang sehat.
 

*Tulisan ini disertakan dalam:
www.st3telkom.ac.id

Bacaan:
http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Digital
http://mediabisnisonline.com/memahami-revolusi-digital-dan-perilaku-konsumen/
https://www.techinasia.com/indonesia-web-mobile-data-start-2015/
http://twinkle-euisry.blogspot.com/2015/02/membincang-personal-branding-via-sosmed.html

Komentar

  1. Setuju mak. Dan harus dilakukan secara merata.
    Sukses ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kira memang para pelaku industri kreatif (terutama yg masih skala kecil) perlu pula mulai menerapkan branding via sosmed secara lbh profesional, agar tak ketinggalan dg para pesaing raksasa. Dan tentu harus mengenal dulu ilmunya (tahu etika bisnis di sosmed).
      Amiin, terima kasih ya :)

      Hapus
  2. keren!
    smoga sukses lombanya ;)

    BalasHapus
  3. Lengkap banget.ulasannya mba, sgt bermanfaat..Semoga sukses ya lombanya.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat ya... Amiin, terima kasih banyak ya :)

      Hapus
  4. bentar lagi, data statistik itu akan melonjak mbak, pasalnya di Indonesia kan pengguna internetnya tumbuh cepat..

    oh ini, kontes ya,, selamat, semoga menang lombanya. Kok saya ngga tau kontes ini ya? padahal saya sering searching lomba kontes lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, tampaknya begitu. Ini data hanya sampai Jan 2015 kemarin.
      Amiin... Terima kasih. Ada kok infonya di blog info2 lomba :)

      Hapus
  5. penggunaan sosmed termasuk salah satu bentuk promosi dan pemasaran yang sangat baik, apalagi jika di kelola dengan baik dan profesional, hanya saja salah satu kelemahan cara ini adalah lambatnya koneksi internet di tanah air untuk di beberapa daerah seperti daerah saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ya. Di daerah2 tertentu koneksi internetnya belum memadai. Ini juga PR yang mesti dibenahi dari segi telekomunikasi :)

      Hapus
  6. Ulasanya cukup lengkap, semoga sukses dengan lombannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin... Terima kasih. Semoga sukses juga :)

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon