Membincang Personal Branding Via Sosmed

Sebelumnya aku sudah bercerita mengenai kunjunganku ke kantor Mizan di acara Gathering Pegiat Media Sosial, 6 Februari 2015 lalu. Melengkapi agenda sharing tentang buku dan keliling menyaksikan proses pembuatan buku, sesi ketiga yang berupa sharing tentang sosmed menjadi highlight di acara ini. Mengundang Kang Nukman Luthfie, seorang yang pakar di bidang media sosial, para pegiat sosmed yang hadir sangat antusias menyimak perbincangan seputar Personal Branding via media sosial ini. Ilmu yang dibagikan oleh Kang Nukman sangat bermanfaat membuka wawasan bagi siapapun pengguna sosmed yang menginginkan nilai tambah bagi aktivitasnya di media sosial.

Di era serba digital seperti sekarang ini, media sosial sudah melebur dengan keseharian penggunanya. Baik remaja ABG maupun orang dewasa, sosmed sudah menjadi media interaktif yang boleh dikata "wajib" punya. Sama-sama berstatus sebagai pengguna sosmed, namun tentunya nilai aktivitas para pengguna sosmed itu tak akan sama, entah bagi diri sendiri maupun di mata orang lain. Apa sih hal mendasar yang membedakannya? Yuk mengulik poin-poin yang disharing oleh Kang Nukman.
Tapi sebelum itu, ada baiknya kita kenalan sedikit profil Kang Nukman Luthfie. Nukman Luthfie dikenal sebagai pakar media sosial, meski beliau mengaku lebih suka dikenal sebagai enterpreneur. Beliau adalah CEO harmonia.co.id dan musikkamu.com, Online Strategist & CEO Virtual Consulting. Aslinya Kang Nukman lulusan Teknik Fisika Nuklir UGM, namun menceburkan diri di belantara jurnalistik. Pengalamannya berkarir di bidang jurnalistik, bisnis, PR, internet service, & e-marketing mengantarkannya pada posisinya yang sekarang.

Kang Nukman Luthfie & MC
Di awal perbincangan, Kang Nukman mengetes audiens dengan pertanyaan jumlah follower twitter. Hanya satu orang yang followernya sudah mencapai 8000. Yang lain ada yang 2000, sisanya di bawah itu (aku? Masih fakir follower, hiks). Seorang yang followernya terbanyak itu ditanyai lebih lanjut, yang ternyata memiliki bisnis sepatu. Dan sebuah pertanyaan penting kembali terlontar. Apa tujuanmu bermedia sosial?

Segala sesuatu yang kita lakukan tentu ada tujuannya. So, mari kita jawab masing-masing pertanyaan ini. Buat apa kita bikin akun medsos? Apakah biar eksis, ingin terkenal, memperbanyak teman, atau apa? Tidak ada jawaban yang salah atau benar dalam hal ini, it's up to you. Umumnya, tujuan orang bersosmed itu gak jauh-jauh dari opsi berikut ini:
- Biar eksis. Sekadar supaya eksis di sosmed adalah tujuan bersosmed yang paling basic.
- Ada keinginan terpendam, yakni entah itu ingin tenar, punya follower banyak, teman banyak, atau karyanya ingin dikenal.
- Sebagai aset digital. Namanya aset, sosmed disini menjadi sesuatu yang bernilai investasi. Semakin banyak jumlah teman & follower, semakin bernilai. Karena dengan demikian mempengaruhi potensi sebaran tweet, status fb, postingan path, maupun like di instagram.
Kalau orang sudah mempunyai tujuan yang jelas dalam bersosmed, dijamin isinya gak akan geje alias gak jelas, hehe. Tujuan yang berbeda juga menentukan output yang berbeda dari aktivitas nyosmed. Akan berbeda antara orang yang cuma sekadar numpang nyetatus atau eksis di sosmed dibandingkan dengan yang punya tujuan menjadikannya aset digital. Jelas beda. Sudah kelihatan dari contoh tadi, yang punya follower terbanyak pemilik bisnis sepatu. Dengan aset sosmed yang ia punya, setiap harinya rata-rata ratusan sepatu berhasil terjual. Sekarang sosmed memang sudah menjadi aset tersendiri di lingkup profesional.
Para pegiat sosmed yang asyik menyimak
Personal Branding Via Sosmed

Kalau sudah menetapkan tujuan bersosmed yang jelas, hal yang selanjutnya perlu diperhatikan adalah membangun Personal Branding. Tetapi apakah Personal Branding via sosmed itu cuma buat mereka yang sudah punya bisnis? Tidak. Personal Branding via sosmed itu cakupannya luas. Semua pengguna sosmed dapat bebenah membangun Personal Brandingnya sendiri. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, apa Personal Brandingmu?

Personal Branding dapat dicek melalui audit digital yang menyatakan persepsi publik terhadap diri kita di dunia maya. Seberapa penting sih, Personal Branding via sosmed? Penting banget! Di era serba digital seperti sekarang, sosmed kita bisa menjadi referensi dalam ranah profesional. Tak hanya buat orang yang sudah bekerja atau berbisnis saja, bahkan mahasiswa atau siswa pun penting membangun citra Personal Branding di sosmed, terutama untuk keperluan formal. Tak jarang perusahaan yang buka rekrutmen mengecek sosmed pelamar kerjanya. Bayangkan kalau sosmednya isinya status/twit/konten berisi kata-kata kasar, sumpah serapah, atau hal-hal yang negatif. So, saatnya bebenah sosmed. You are what you write. you are what you share. Aktivitas kita di sosmed mencerminkan siapa diri kita di dunia nyata.
Sharing konten yang menunjukkan minat pada sains fisika
Personal Branding itu persepsi publik terhadap diri yang kita bangun. Namanya persepsi publik, orang melihat kita seperti apa, tidak bisa direkayasa. Persepsi itu terbentuk sebagai hasil dari upaya kita membranding diri. Hal ini penting dalam menambah nilai kita di mata profesional. Misalnya di linkedin, yang notabene sosmed khusus profesional, testimoni skills yang orang lain tambahkan pada profil kita menjadi aset referensi keahlian profesional yang diakui oleh orang lain. Demikian pula di klout, dimana selain testimoni, aktivitas sosmed kita terukur score-nya.
Pakar sosmed di Mata Najwa
Sebagai contoh, Personal Brandingnya Nukman Luthfie ialah seorang pakar sosmed. Begitulah publik menilainya, meskipun beliau tidak memproklamirkan diri. Selain itu, PB-nya Nukman ialah penyuka kopi, terlihat jelas kesukaannya itu via sosmednya. 
Personal Branding coffee lover, tercermin di cover pic sosmednya
Personal Branding #Shoefie
Selain kopi, juga senang #shoefie. Unik juga, lewat foto sepatu ini ada cerita yang disampaikan (misalnya lagi dimana, momen apa). Oh iya, salah satu nasihat yang patut dicatat di generasi narcissus ini adalah kurangi selfie. Selfie sewajarnya saja, karena kalau berlebihan, mudharat/bahayanya lebih banyak. PB Nukman yang lain yaitu commuter liners, tapi PB ini tak sekuat Kopi & #Shoefie. Btw, kalau #bookfie ada gak yah? Hehe...

Personal Branding memberikan efek bonus. Misalnya diundang jadi pembicara, diundang interview di TV, difollow oleh public figur, dapat produk gratisan, dll. Seperti Kang Nukman yang sering jadi speaker & diinterview sebagai pakar sosmed, followernya ratusan ribu (difollow tokoh selebritas juga), serta suka dapat sepatu gratis karena #shoefie-nya yang bernilai aset digital itu. Tetapi semua pencapaian PB itu tentu bukan hal yang instan, melainkan sesuatu yang dihasilkan setelah kerja keras membangun Personal Branding dari waktu ke waktu.

Aktif Ngeblog Sesuai Branding
Blog Sudut Pandang Nukman Luthfie
Ini pernyataan yang membesarkan hati para blogger, bahwa blogger itu menempati kasta tertinggi di jagad sosmed. Sebab kasta tertinggi di sosmed adalah creator (pencipta konten). Termasuk di dalamnya yaitu blogger, video creator di youtube, & fotografer di Instagram. Kasta yang lebih rendah adalah pengguna sosmed yang hanya posting status atau menjalin percakapan di sosmed. Ngomong-ngomong ngeblog sesuai branding, daku masih gado-gado nih, meski sudah ada kecenderungan banyak ngobrolin bukunya, dan senang berpuisi juga :D.

Proses Membangun Personal Branding
Membangun PB pada prinsipnya membangun percakapan di media sosial. Ingat saja 3C di sosmed: Community, Content, & Conversation.
- Membangun jaringan (community). Tipsnya, follow akun-akun bermanfaat dan nambah ilmu di twitter & instagram, tambahkan teman yang bermanfaat di linkedin, fb, dan G+. Tidak usah ngotot mereka harus follback kita. Lebih baik kalau orang follow kita dengan ikhlas, misalnya karena memang konten kita juga bermanfaat buat mereka.
- Membangun konten (content). Isi sosmed dengan konten sesuai brand yang dibangun. Boleh saja cerewet di sosmed, tapi tetap harus bijak ya. Boleh pula selfie, tapi jangan overdosis. Pastikan setidaknya 30% berisi konten sesuai brand.
- Membangun percakapan (conversation). Jangan sungkan meretweet/share konten bermanfaat dari akun bermanfaat, serta menjalin komunikasi di sosmed. Bangun posisi sebagai tempat bertanya, tentunya sesuai keahlian/personal branding kita. Ingat potensi multiplikasi penyampaian pesan yang memungkinkan menyebar hingga menjangkau di luar follower kita.

Last but not least, kita harus hati-hati & bijak menggunakan media sosial. Bermedsos tak berarti bebas berekspresi seenaknya tanpa bertanggung jawab. Jangan sampai terjebak UU ITE. Hindari menjudge sesuatu/seseorang yang tak jelas ada buktinya. Kade bisi pitnah (mencemarkan nama baik). Hindari pula bersosmed kala marah.

Kalau Personal Branding sudah dijalani, hal penting berikutnya ialah evaluasi branding. Misalnya pakai socmed analytic. Agar terpantau, sebab tadi sudah disinggung bahwa PB itu proses yang kontinyu. Akhirnya, setelah menyimak ini, aku termasuk yang ngaku banyak PR bebenah sosmed. Yuk, yang akunnya gak jelas, diperjelas sesuai Personal Branding masing-masing. Yang sudah jelas tujuannya, diistiqomahin Personal Brandingnya :D. Dan aku berdoa sepenuh hati semoga pengguna akun alay diberikan hidayah untuk kembali ke jalan yang benar. *Eh :D.

*Baca juga posting terkait sebelumnya: Ngobrol Buku & Tur Buku di Gathering Pegiat Sosmed Mizan

Komentar

  1. Isi blogku juga masih gadi gado mak. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. 11-12. Yah, pokonamah blog personal yah. Yang interestnya juga masih macem2. Tapi tentu ada yg paling khas di antara itu semua :)

      Hapus
  2. Asyik ya mak, bisa ikut acara sekeren ini.


    Kunjungi www.bintangpamungkas.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Banyaknyooooo ternyato yg harus daku benahi mak....
    Tapi
    Semangaaatttt
    Tfs ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Mak... Nyicil aja, dibenahi pelan2.
      Sama2 :)

      Hapus
  4. Terima kasih. Tulisan yang bermanfaat sekali ini. Salam kenal.

    Silahkan superarmz.blogspot.com

    BalasHapus
  5. Yah.. blogku masih gado-gado juga. Tapi aku memang ersonal branding yg pingin aku bangun tentang menyikapi segala sesuatu secara positif dan menyukai mencoba hal-hal baru. Bisa gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog personal juga ya... Yah, bisa juga, tapi sepertinya itu terlalu umum. Tentu saja aku juga niat menulis yg positif, Insya Allah. Mungkin perlu dispesifikkan saja, Mbak :)

      Hapus
  6. Aku belajar personal branding langsung sama orang2 terkenal kayak Amrazing, Barry Kusuma, Puput Utami, tau banget dari mereka kalau nge-brand diri sendiri itu penting. Sayang, sampe sekarang masih bingung mau ngebrand diri sendiri, pengen dikenal sebagai apa. Jadi, random aja dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mantap, Mbak Sofia. Tinggal diaplikasikan saja ya. Barangkali utk sementara bisa membranding diri sbg mahasiswa sesuai jurusan dulu, plus blogger (kan dirimu udh byk prestasi ngeblognya) :)

      Hapus
  7. semangat update postingan blog dulu saya mak hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Mak Titis. Pelan2 saja sambil belajar :)

      Hapus
  8. duh, saya punya sosmed cmn buat dapet info2... hrs dioptimalin nih biar bs jd aset...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama juga, Teh. Awalnya cuma buat dapat info. Tapi kemudian bisa jadi aset jg buat nyebarin tulisan kita di blog, hehe... Buat penulis, sosmed bisa jadi aset meraih pembaca :)

      Hapus
  9. Aih keren bingit ulasannya, Mak. Saya suka :))


    Personal Branding dapat dicek melalui audit digital yang menyatakan persepsi publik terhadap diri kita di dunia maya ---> macam apa itu ya audit digital? Tapi yang jelas, persepsi publik ttg kita di dunia maya ya?

    Sip, gpp masih gado2, kita sealiran hihihi. Yang penting, kita bangun karakter masig2. Meski sama2 gado2, karakter saya dan Mak Euisry berbeda kan ya :)

    Makasih sharingnya ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya, Mak Niar :).
      iya, audit digital contoh gampangnya kayak apa yg muncul di mesin pencari. Kang Nukman, misalnya, kalau di google cari namanya, yang muncul adalah judul besar berbau "pakar sosmed", bahkan ada judul yg nyebut "bapak sosmed Indonesia", dan itu orang lain yg mempersepsikan dia seperti itu :).

      Iya, Mak. Tiap orang punya kekhasan sendiri, termasuk dari tulisannya ya.

      Sama2 ya :)

      Hapus
  10. waahh trimakasih liputannya mak euis.. bermanfaat dan jadi tahu tentang personal branding socmed *_*

    BalasHapus
  11. Sama-sama, Mak. Syukurlah kalau bermanfaat :)

    BalasHapus
  12. makasih Mbak, infonya sangat bermanfaat Mbak :)

    BalasHapus
  13. waduh.. twitter cuma buat kuis atau lomba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Mulai sekarang bisa ditambah fungsinya :D

      Hapus
  14. Artikel bermanfaat, semoga terus menginspirasi banyak orang (termasuk kami). Salam buat Kang Nukman Luther, Salam personal branding.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, meneruskan cipratan ilmu dari Kang Nukman. Hehe, aku nerusin titipan salam? Err... Aku cuma follower twitternya, hehe :D. Salam.

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Happy Yummy Journey, Perjalanan Traveler Perempuan Korea Pecinta Durian Mencari Tempat-tempat Membahagiakan

Novel Milea: Suara dari Dilan