Jalan-jalan Minggu ke Taman Lansia, Nyangkut di Gedung Sate

Kata Pak Ridwan Kamil, piknik itu gak perlu hanya yang jauh-jauh. Yang penting bisa enjoy jalan-jalan ke berbagai ruang publik yang kini banyak tersedia (di Kota Bandung). Banyak pula ruang terbuka hijau yang bisa disinggahi bersama teman atau keluarga. Makanya kalau weekend teman kadang suka ngajak main. Maunya tuh menjelajah berbagai spot di kota Bandung yang wajah-wajah barunya sering nangkring & berseliweran di sosmed. Banyak tempat (terutama) taman-taman yang ingin disambangi. Alun-alun Kota Bandung yang kini foto-fotonya ramai pengunjung duduk-duduk & foto-foto di rerumputannya itu pun belum sempat kutengok lagi semenjak kunjungan jalan-jalan terakhir, semasih belum dibenahi. Bus Bandros yang udah dari jaman launchingnya udah kukecengi saja belum pula sempat kutumpangi. Demikian pula Taman Lansia yang dekat dan foto wajah barunya dengan kolam retensinya yang baru diresmikan belum lama.
Kolam retensi di Taman Lansia yang juga menjadi ruang publik
Maka dari itu, di suatu hari minggu Januari yang cerah, aku dan teman bersekongkol untuk nyicil silaturrahim ke tempat-tempat yang lagi ingin disinggahi. Sebenarnya ada beberapa spot yang masuk list ingin dikunjungi di hari itu. Rencananya mau ke Taman Lansia yang paling dekat dahulu, terus ingin main ke Selasar Sunaryo di Dago Pakar, terusnya nyari makan di daerah dekat Alun-Alun Bandung, biar sekalian tersinggahi pula. Ternyata, ekspektasi awal tersebut melenceng dari kenyataannya.

Sudah agak siang sewaktu akhirnya tiba di Taman Lansia. Karena itu hari minggu, jelas taman itu lebih ramai pengunjung dibanding hari biasanya. Belum menghitung perpanjangan area para pedagang yang mendulang nafkah dari Pasar Minggu Gasibu yang senantiasa ramai hingga Jl. Cisangkuy & Cilaki. Aku tak heran mendapati sekeliling area taman bersuasana demikian, karena dulu pun aku cukup sering jalan sampai sini di hari minggu. Akan tetapi, aku tetap excited ingin melongok suasana Taman Lansia di wajah barunya yang sekarang, & penasaran banget ingin lihat kolam retensinya. Ternyata, aku agak sedikit kecewa...

Sekilas pandangan, perbedaan suasana yang kentara pada Taman Lansia yang kulihat adalah pengunjungnya lebih ramai dibanding dulu, lengkap dengan aura niat piknik yang kentara. Kalau dulu kesannya taman ini hanya persinggahan selepas belanja di Gasibu, kini ada aura yang terlihat bahwa pengunjung sengaja datang untuk rekreasi bersama keluarga. Banyak pengunjung yang sedang asyik selfie & foto-foto bersama keluarganya. Hanya saja, ada hal yang mengusik benak: di dalam taman, banyak yang buka lapak juga (sama seperti dulu). Tak hanya yang jual makanan seperti biasa, tetapi kok banyak lapak semacam pijat/bekam ya. Bukan apa-apa, itu agak mengganggu pemandangan karena lapaknya terbuka, customer-nya tengkurap beralaskan tikar tanpa ada penghalang dari pandangan pejalan yang lalu-lalang. Terus, jelas ada spanduk peringatan dilarang buka lapak di dalam taman. Euh, tah eta pisan...

Agak kecewa juga ketika mendapati kok kolamnya terkesan kurang bersih, dan sempat kurang nyaman saat duduk-duduk tercium bau nggak enak (mungkinkah dari kolamnya?). Apalagi pas lewat sana lagi sewaktu pulangnya setelah hujan besar, terlihat sampah turut terhanyutkan. Baru juga diresmikan belum lama, kolam retensi yang berfungsi sebagai salah satu upaya mengendalikan banjir itu harapannya bisa terus terjaga keindahan dan kebersihannya. Karena disini kurang asyik (mau foto-foto juga kebanyakan orang), kita pindah lokasi aja deh...

Karena Taman Lansia tetanggaan dengan Taman Kandaga Puspa (Pustaka Bunga), saat lewat sempat melirik juga, tapi gak asyik, karena gak sedang musim bunga bermekaran. Seandainya aku tahu kapan masanya bunga-bunga di Taman Kandaga Puspa bermekaran... Dulu sempat main kesini juga kebetulan gak lagi banyak yang berbunga :(. Itu tuh, foto profilku di G+ ini aku ambil pas main ke taman ini :D. 
Taman Pustaka Bunga
Tetanggaan dengan Taman Lansia, adalah juga Gedung Sate. Awalnya tak ada niat untuk main kesini, eh tiba-tiba temanku penasaran ingin masuk ke areanya. Aku dulu sudah pernah main kesini, bahkan sempat ikutan sholat di musholanya yang di lantai atas. Waktu itu nganterin tante yang suaminya kerja disini. Eh ternyata... Temanku terpukau oleh suasana asri tamannya dan klasiknya gedung bersejarah ini. Walhasil, malah asyik puas-puasin berfoto di belakang Gedung Sate, dan puas banget. Sebab weekend, gak ada orang lalu-lalang, jadinya background foto yang megah serasa milik sendiri, hihi...

Kalau menjelajah area luar Gedung Sate kan sudah biasa ya. Aku ingin sekali kapan-kapan menjelajah dalamnya. Terlihat ada banyak ruangan bawah tanah peninggalan jaman dulu yang sepertinya seram banget kalau malam. Terlebih ingin juga tur menjelajah hingga ke puncak Gedung Satenya, disertai pemandu yang menjelaskan seluk-beluk bangunan ini dan sejarahnya.

Gedung Sate dan 2 turis Cina di depan beranda masjid
Karena keasyikan itu, tak terasa mendung semakin menggantung di langit. Daripada melanjutkan perjalanan atau pulang yang sepertinya bakalan keburu kehujanan, mending shalat di masjidnya sambil ikutan berteduh. Rasanya ini baru pertama kalinya aku memasuki masjid Gedung Sate. Di berandanya, lagi-lagi asyik jepret foto sana-sini. Aku suka banget view Gedung Sate kala mendung yang tertangkap dari arah beranda masjid ini. Saat itu, ada dua orang turis Cina yang bisa berbahasa Indonesia bertanya tentang tempat apa ini. Dijelaskan bahwa ini masjid. Lalu mereka bertanya lagi, "kalau yang itu gedung apa ya?" sembari menunjuk Gedung Sate. Mereka bertanya pula apa fungsi gedung tersebut. Oalah, aku kira Gedung Sate itu sudah terkenal banget, ternyata mereka tampaknya belum tahu bahwa ini gedung kantor pemprov Jabar. Mereka tampak beberapa kali menggambil gambar. Mereka sudah mau pulang setelah bertanya tentang angkot yang tepat rutenya. Namun ternyata merea balik lagi. Hujan terlanjur menahan mereka, juga kami.  
Masjid Gedung Sate
Dan hujan pun kian menderas. Beberapa orang menunggu hujan reda di beranda masjid. Memandang Gedung Sate diguyur hujan hingga kuyup... Aih, suasana yang puitis. Sekalian shalat zuhur di masjid ini. Nyaman banget masjidnya... Namanya area gedung gubernur, toiletnya juga terjaga bersih sekali, meski di beberapa bagian tampak sedang ada renovasi. Karena sepanjang tangga menuju toilet dialasi keset merah, berasa berjalan mau ke panggung dialasi karpet merah, hehe... Beberapa kali dalam hati kok jadi membandingkan dengan perawatan yang di Pusdai Jabar ya... :(. Memasuki interior masjid yang saat itu gelap dan didominasi warna coklat kayu, beserta lantai, tiang, & dindingnya yang terasa halus licin dan bersih, memberikan kesan seperti tempat baru yang kinclong & belum pernah dipakai. Ih, jadi pengen sering-sering kesini deh. Jadi kepikiran, suasana ramadhan disini bagaimana ya...?

Hujan tak juga reda, sehingga ketika tinggal gerimis, segera saja ditembus untuk pulang. Gak jadi deh rencana jalan ke lebih banyak tempat lagi. Mungkin disambung lagi nanti lain kali jalan-jalan ke tempat lainnya. Karena perut sudah keroncongan, pulangnya mampir dulu nge-Nasgor Mafia di Dipati Ukur yang selalu ramai itu. Menu nasgor dengan beragam bumbu rempah serta berlevel pedas yang ditawarkan dengan nama-nama ala geng mafia itu cocok untuk memadamkan kelaparan. Porsinya dijamin kenyang banget. 
*Menantikan jalan-jalan berikutnya...

Komentar

  1. Asik ya kayaknya para lansia disana... Di sediain taman! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah... Kenyataannya taman ini tak hanya untuk lansia kok :D

      Hapus
  2. pembangunan di bandung itu emang kece-kece ya semenjak ada ridwan kamil.
    apalagi taman-tamannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, maklumlah Kang Emil emang arsitek :)

      Hapus
  3. Perkembangan Bandung semakin ketjeeee banyak taman ^^

    BalasHapus
  4. ngiri euy sama orang bandung. banyak tempat yang bisa didatengin tiap weekend :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Sepertinya teorinya Kang Emil tentang indeks kebahagiaan warga kota itu emang ada buktinya :)

      Hapus
  5. Ih aku belum ke taman lansia. Keren banget ya, Euis. ngomong-ngomong soal masjid Gedung Sate, aku prnah numpang salat di sana. Udah lama sih tahun 98an (hehehe jangan tanya umur, ya) pas lagi jaman demo reformasi itu, lho. Masjidnya emang asik, adem dan enakeun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, tapi kata akumah lebih enakeun Taman Balai Kota dibanding Taman Lansia. Kebetulan tadi hbs ber-minggu disana ^_^.
      Ya ampun... 98, reformasi... *menahan diri utk tak tanya umur :D. Begitu ya, kalau dirawatmah da pastinya nyaman, apalaagi buat ibadah :).

      Hapus
  6. tempatnya keren banget sih mbak, gedung satenya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gedung bersejarah yang arsitekturnya juga menarik untuk dikaji :)

      Hapus
  7. bandung makin kece yaaaa... terakhir menyambangi gedung sate tahun 2009 lalu makan di nasi bakar 15 yang enaakk.. *soalnya nasi bakar di jogja gak ada yang seenak itu* liputannya keren mak euis.. salam kenal ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha... Sudah lama ya Mak... Masih keingetan aja itu nasi bakarnya... Sejuara itu yah...
      Makasih sudah membaca, salam kenal kembali :)

      Hapus
  8. sekarang di Bandung banyak taman-taman cantik, ya. Asik banget :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]