Ally: Komentar 2 Bab Pertama

Bagaimana perasaanmu seandainya di suatu hari yang biasa-biasa, tiba-tiba kau mendapati kehadiran seseorang dalam hidupmu, padahal selama ini orang itu tak pernah ada dalam kamus hidupmu? Ketika kau katakan tak tahu dan tak kenal siapa dia, orang-orang terdekatmu malah memandangmu ganjil, seraya menganggapmu bercanda? Atau, situasinya dibalik. Di suatu hari yang biasa-biasa, tiba-tiba kau mendapati seseorang yang dekat dalam hidupmu ternyata sudah tiada, padahal kau yakin sekali bahwa semua baik-baik saja, tak ada kejadian istimewa mengenainya? Ketika kau membicarakan orang itu sebagaimana biasanya, orang-orang di sekitarmu malah menangis atau marah, menganggapmu keterlaluan membuat lelucon kejam? Kalau kau membaca 2 bab pertama buku Ally: All These Lives, kau akan segera dibawa pada situasi ganjil itu yang menimpa tokoh utamanya, Ally.

"Aku baru berusia sepuluh tahun ketika hal itu terjadi untuk pertama kalinya."
Demikian kalimat pertama pembuka yang segera saja menyiratkan suatu kejadian yang membuat penasaran pembaca. Tidak butuh banyak paragraf dan basa-basi bagi pembaca untuk segera masuk pada adegan pertama kalinya "hal itu" terjadi pada Ally. Ally, bocah sepuluh tahun, mengalami kejadian singkat misterius yang tak bisa dipahaminya dan mengubah seluruh hidupnya.

Bersetting di ruang dapur, ada mama sedang mengeluarkan seloyang kue kering coklat dari oven. Tiba-tiba Ally merasakan sebuah sensasi menggelitik dan seperti kesemutan, dan segala yang dilihatnya menghilang begitu saja. Perabotan, mama, kue, juga aroma kue, semua menghilang. Tak ada kegelapan, tapi juga tak ada yang bisa dilihat. Beberapa jenak kemudian, warna-warna memburam tampak hingga menyata, lalu semua kembali seperti biasa. Hanya saja, ada yang berubah. Bahwa mama sedang masak sup, bukannya kue. Dan ada seseorang lain di dapur itu. Seorang anak kecil lucu berusia 5 tahun yang katanya adalah adik Ally bernama Albert. Ally tak pernah mengingat apapun tentang kelahiran Albert, juga 5 tahun kehidupan akrab bersamanya. Yang ia tahu selama ini ia anak tunggal, namun album foto kenangan menunjukkan cerita yang berbeda.

Psikiater, dokter saraf, scan otak dan berbagai tes tak dapat memberikan penjelasan. Ally yakin tak hilang ingatan. Tapi apa daya? Hal ini terlalu rumit untuk bocah seusianya. Jadi, life must go on. Ally berdamai & menerima keadaan, melanjutkan hidupnya seperti biasa. Hari-hari berlalu. Ally tumbuh bersama Albert yang selalu meramaikan suasana rumah. Hingga ketika SMA, di suatu hari yang biasa-biasa "hal itu" terjadi lagi untuk kedua kalinya. Kali ini, sensasi "ketakberadaan" singkat itu mengubah hidup Ally dengan kehilangan. Albert sudah pergi.

Bagaimana kisah hidup Ally selanjutnya? Aku tak tahu. Aku juga penasaran dan bertanya-tanya. Aku hanya berkesempatan membaca 2 bab pertama kisah ini. Jadi tak sabar menanti kesempatan membaca lanjutannya. Dari 2 bab yang kubaca itu saja, aku sudah mendapatkan feeling bahwa ini bakal jadi novel yang menarik. Kekuatan buku ini sudah mengemuka sejak kalimat pertama yang menggoda benak pembaca itu. Dalam format ebook pdf yang kubaca, 2 bab itu seluruhnya hanya 17 halaman. Belum dikurangi halaman judul, info buku, dan halaman persembahan. Total kisah Ally dalam 2 bab itu hanya 10 halaman saja. Wow, aku acungi jempol untuk penulisnya, Arleen A, yang sanggup menghadirkan pesona kisah Ally dan menyedot perhatian pembaca dalam 10 halaman saja. Menurutku, kisah ini memiliki kelebihan berupa daya magnet dalam kalimat-kalimatnya sejak awal. Secara to the point, pembaca langsung dibawa terhanyut dalam kisah Ally dengan pengalaman "ketakberadaan"nya yang misterius itu. Tanpa banyak cincong, tanpa basa-basi.

Kelebihan lainnya terletak pada gaya tutur cerita yang mengalir. Sekilas tampak seperti kisah terjemahan luar negeri. Settingnya memang begitu. Disebutkan bahwa rumah Ally berada di Mountain View. Rasa novel luar negeri itu juga tercermin pada nama & sosok Albert dengan kebiasaannya sebagai pelajar remaja, juga menu masakan mama yang sempat disebutkan. Semuanya dikisahkan secara natural tanpa ada kesan maksa. Kalaupun ada yang terasa kurang, aku cuma merasa agak kurang sreg dengan judul kecil buku ini (All These Lives). Itu juga belum kesan final ya, mengingat aku baru baca hanya sampai 2 bab saja. Kalau secara keseluruhan kisah entah juga, siapa tahu mungkin subjudul itu memang sesuai dengan ceritanya. Hanya saja, kalau mau jujur, kesan pertamaku melihat subjudul itu memang kurang nendang. Sebelumnya aku tak mengira bahwa ini kisah yang istimewa saat melihat sekilas subjudul yang tertera di covernya. Menurutku, covernya kurang menarik perhatian. Itu saja pandangan subjektifku tentang buku ini.

Anyway, secara keseluruhan aku memandang kisah Ally  dalam 2 bab pertamanya ini sungguh charming. Membuatku tak sabar menunggu mendapatkan bukunya dan melanjutkan baca. Ketika sampai di akhir kalimat bab 1 dan selanjutnya, aku kerap merasa deg-degan sendiri, takut segera sampai ke penghujung bab 2 sehingga habis jatah bacanya... :). 

Teman yang penasaran dan ingin baca kisah Ally: All These Lives, bukunya sudah diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama pada 22 Januari 2015.

Komentar

  1. Jadi prnasaran aku mbk hehe..mkasih reviwnya^^

    BalasHapus
  2. Waw..kayak misteri-misteri gitu yah? Saya suka cerita genre begini^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kejadian yg dialami Aly memang misterius. Tapi aku belum tahu genrenya apa ini ya? Maklum, aku suka bingung sama klasifikasi genre buku :D

      Hapus
  3. Awalnya Ally mengalami kejadian misterius yang tiba-tiba dia mendapati sebuah adik, dan ketika beberapa tahun Ally sudah bisa menerima keadaan, tapi waktu dia mulai menerima malah kejadian misterius terulang, dan adiknya hilang. Kira-kira gitu ya ?

    Menarik juga masalah oada novel ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, seperti itu. Bukan hilang, tepatnya sudah tiada. *Dan ralat, "seorang" adik, bukan sebuah :D.
      Iya, menarik & bikin penasaran...

      Hapus
  4. Wah, sepertinya menarik sekali bukunya. Bikin penasaran, hihihi. Harus baca sepertinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, menarik. Aku juga ingin punya bukunya :)

      Hapus
  5. Kalo dilihat dari penggambarannya kayak punya kepribadian ganda gitu lho..
    Ketika menghadapi sesuatu yang traumatis, dia mem-block memori nya sendiri karena gak kuat menahan beban, trus sang alter yang mengambil alih...

    jadi dia kehilangan sebongkah ingatan gitu...

    Itu analisis asal2an berdasarkan drama Korea Kill Me Heal Me yang lagi aku tonton siiih...bhuahaha...tokohnya punya kepribadian ganda dan ciri2nya kayak gitu...

    *ujung2nya ngebahas Dram korea*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahah... Ujung2nya analisisnya ala drakor mulu nih ye :D. Untuk membuktikan analisisnya betul atu ngasal, perlu baca bukunya, hehe... *Kan aku jg jadi ikutan penasaran sama dramanya Ji Sung ituh, byk banget yg ngomongin :D

      Hapus
  6. Di 2 blog aku membaca review buku Ally: All These Lives ini dan aku jd makin penasaran. Selain itu, aku juga belum pernah membaca karya Arleen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jg belum pernah baca karyanya Mbak Arleen. Pas lihat di Goodreads ternyata bukunya sudah banyak, mayoritas buku anak sih... :)

      Hapus
  7. kalau saya, malah suka sama sub judulnya :D

    BalasHapus
  8. Kalau hilang ingatan, bab - bab berikut pasti flashback gitu :D *sok teu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihi... Mungkin. Tapi kayaknya ini bukan hilang ingatan deh :D

      Hapus
  9. novel yang bikin penasaran ini mah.
    Ally ini punya penyakit atau malah pribadi ganda, ya?
    dijual dimana bukunya kelak, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tahu, Mak... Kan belum baca terusannya... Hehe...
      Karena terbitan GPU, mestinya tersedia di Gramedia...

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung