Kado Terindah dari Masa Depan & Masa Lalu

Kado Terindah dari Masa Depan & Masa Lalu (pic source: coreyotten.com)
Bagaimana rasanya jika kau mendapatkan sebuah hadiah yang berupa sesuatu yang kauidamkan? Happy, tentunya, dan excited... Akupun sempat mengalami hal itu. Senangnya bukan kepalang... Padahal sesuatu yang diidamkan tersebut bukan sesuatu yang besar ataupun mahal. Memang benar apa yang sering dibilang orang: bahagia itu sederhana. Kita bisa menabung kebahagiaan dengan hal-hal kecil namun bermakna. Suatu hal yang mungkin sepele untuk seseorang, belum tentu disepelekan oleh orang lainnya. Pemaknaan masing-masing yang membedakannya.

Sebuah pemberian kecil bisa berarti besar asalkan pemberian itu dapat menyentuh hati orang yang kita beri. Banyak alasan mengapa sebuah kado kecil bisa begitu berkesan buat si penerima. Mengenai ini, mengenang kado-kado apa saja yang pernah kuterima dari orang lain, tentunya banyak dan beragam ya. Bukan karena aku biasa merayakan banyak momen seperti ulang tahun & lain-lain. Justru kalau itu itungannya, aku malah jarang-jarang menerima kado seperti itu, meski Insya Allah kalau kado berupa ucapan & doa mah banyak :D. Dari sekian pemberian yang pernah kuterima, aku ingin berbagi cerita pengalamanku mendapatkan 2 diantara kado terindah yang berkesan buatku. Satunya kado dari seseorang di masa lalu, satunya lagi dari seseorang di masa depan...

***
Biar kuceritakan kado dari masa depan terlebih dulu. Kado ini kuterima belum lama ini (salah satu dari kejutan manis di awal tahun ^^). Kenapa dari masa depan? Karena aku mendapatkannya berkat cucuku dari masa depan :D. Doohh... Kok tiba-tiba ada cucu dari masa depan segala, lha punya momongan aja belum, nikah juga belum, kok udah jadi nenek aja :p. Tapi ini serius lho! Meski judulnya aneh, tapi hadiahnya bukan sesuatu yang langka kok... Bahkan sebenarnya, aku pun sanggup membelinya sendiri, jikapun tak ada yang menghadiahiku ini (hampir dapat dipastikan aku memang akan membelinya sendiri seandainya tak kudapatkan sebagai kado, sebab aku sangat menginginkannya). Mengenai keinginanku ini, aku juga sempat mempostingnya di blog.
Dunia Anna: Sebuah Novel Filsafat Semesta
Masih ingat tentang postinganku, "Penasaran Dunia Anna"... Di situ aku bercerita tentang buku yang sedang sangat aku idamkan itu, berikut alasannya. Aku begitu menginginkan buku Dunia Anna sebab itu adalah karya penulis favoritku, Jostein Gaarder. Plus tema yang kali ini diangkatnya, yaitu tentang isu lingkungan, membuatku tambah penasaran. Gaarder punya sesuatu dalam tulisannya yang membuatku merasa bahagia (dan beruntung) ketika membaca buku-bukunya. Ah, jadi ternyata kado terindahnya ya sesederhana itu. Sebenarnya memperoleh hadiah buku sudah bukan hal baru lagi buatku. Akan tetapi ada yang menarik dari prosesku memperoleh hadiah buku ini, yang sampai melibatkan cucu dari masa depan. Dan sebagai wujud rasa syukurku, aku tergerak untuk menceritakannya :D.

Ceritanya aku menulis sebuah surat untuk cucuku di masa depan, kira-kira 70 tahun yang akan datang. Surat ini kutulis terkait isu pemanasan global, yang sekarang saja sudah begini mengkhawatirkan, entah bagaimana dengan cucu kita berpuluh tahun ke depan... Ini mirip seperti yang dilakukan oleh Nova, nenek dari karakter Anna dalam buku Dunia Anna. Maka berpuluh surat pun terkumpul buat para cucu di masa depan. Dan suratku terpilih untuk memenangkan hadiah buku Dunia Anna, hehe... :D.

Pesan untuk cucuku di masa depan
Aku sudah membayangkan di awal tahun ini bakal kedatangan paket pengiriman dari masa depan, eh maksudnya kiriman buku-buku. Sebabnya selain Dunia Anna, aku juga sedang menunggu pengiriman hadiah kuis berupa buku Max Havelaar & buku-buku lain. Kan aku juga menang voucher buku dari Mizan seharga 150 ribu ^^. Ehh... Ternyata... Bayanganku meleset. Macam-macam deh kendalanya. Stok buku Dunia Anna di toko-toko online pada kosong... Yahhh... Best seller gitu? Akhirnya kuputuskan untuk tak mengganti hadiahnya dengan buku lain, melainkan dicairkan saja, biar nanti aku bisa beli sendiri di pameran buku, mungkin :D. Tapi meski begitu, tetap kusebut ini kado terindah, hehe :D. Banyak cerita di dalamnya.
***

Adapun kado terindah dari masa lalu, aku agak kebingungan pula sebenarnya mengorek memori yang sudah lewat. Ini erat kaitannya dengan orang tua. Ini bukan tentang kado masa kecil yang diberikan oleh mereka, bukan pula tentang doa-doa mereka yang tentunya sudah pasti menjadi kado terindah buat setiap anak. Samar, namun terpatri, adalah memori kado terindah dari almarhumah ibuku di masa lalu. Bisa dibilang, dari dulu aku agak haus akan impian jalan-jalan liburan bersama keluarga. Sibuknya ibuku berdagang di pasar membuatku sewaktu kecil lebih sering "dititipkan" ikut piknik atau liburan bersama keluarga sepupu.

Walhasil, aku tak begitu punya banyak kenangan tentang liburan bersama ibuku, terutama. Hal ini berlanjut ketika aku beranjak SMP & SMA, mesantren di tempat jauh dari rumah. Periode ini sih masa-masanya ketika kedatangan kunjungan ibuku ke asrama menjadi sesuatu yang diharapkan dan membuat hati senang. Langkanya kesempatan itu membuat satu-dua kenangan dikunjungi oleh ibu menjadi sebuah kado terindah yang begitu berkesan. Sampai suatu ketika aku sampai pada momen semasa SMA, ketika aku merasa sedih & jealous atas kedatangan orang tua teman. Saat itu aku mendapatkan kehormatan untuk mewakili  Kota Tasikmalaya dalam kompetisi Musabaqoh Fahmil Qur'an se-Jawa Barat, yang kebetulan diselenggarakan di pesantrenku. Itu event yang lumayan langka. Sebagai tuan rumah, lingkungan pesantren mendadak menjadi lebih meriah dibanding biasanya. Tak ingin melewatkan momen itu, seorang sepupuku dikunjungi oleh orang tuanya. Wah, itu mungkin pertama kalinya aku bisa demikian iri, jealous, menyesal mengapa ibuku (tak juga yang lain) tak turut serta mengunjungiku. *Padahal waktu itu aku sedang menjadi 'orang penting' dalam event tersebut, demikian kira-kira batinku berkata.

Maka ketika di kali lain tiba-tiba (entah ada angin apa) ibuku mengunjungiku di asrama sewaktu SMA, alangkah senang rasanya. Kunjungan yang singkat, aku cuma ingat ada momen ibuku makan bakso (makanan kesukaannya) di pinggir jalan tempat biasanya para santri jajan makanan. Dan, ehm... Rupanya itu terakhir kalinya dapat kunjungan idaman seperti itu. Rasanya tak berlebihan kalau kuanggap itu salah satu kado terindah yang kuterima. Sebuah kado kunjungan di masa lalu yang berkesan dalam buah ingatan.
***

*Tulisan ini disertakan dalam:
http://www.pungkyprayitno.com/2015/01/giveaway-kado-terindah.html

Komentar

  1. Aakkkk....mau bukunya, Mak. Lempar siniii :)

    Salam kenal, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Euh, aku juga mau... :D
      Salam kembali :)

      Hapus
  2. Salam kenal... happy blogwalking ajah..dan moga GA nya berhasil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kembali... Terima kasih, amiin...

      Hapus
  3. I loveeee Jostein Gaarder...favoritku Sophie's World :)...semoga sukses GAnya ya maaak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe... Sama yaaa... Amiin, nuhun, Mak Indah :))

      Hapus
  4. sukses GA nya mbak, kalo ada pengiriman buku ..aku mau juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun... Hehe... *masih galau milih judul2 bukunya yg mana

      Hapus
  5. Kado terindah bukan dinilai dari nominalnya ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Bahkan kadang kado itu bukan berupa materi :)

      Hapus
    2. Setuju...kado terindah gak melulu bersifat materi ya :)

      Hapus
    3. Iyaa... ini sesuatu yg sangat personal, tergantung pemaknaan masing-masing :)

      Hapus
  6. Surat untuk cucu masa depan. aah, kayak di film yah. yang murid-mudirnya disuruh menulis sebuah harapan di secarik kertas, lalu dikubur di depan sekolah selama bertahun2. dan kemudian diberikan kembali pada murid angkatan lain secara acak. wah, senangnya, banyak hadiah yang diterima, tinggal nunggu kedatangannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan film apakah itu? Aku jadi pengen nonton... :D. Kemarin sih baru nonton lagi film drama romantis Korea lama yang mengubur kapsul waktu berisi surat untuk dibaca satu sama lain 2 tahun ke depan... (My Sassy Girl)

      Hapus
  7. kalau nggak keliru Knowing, mbak :D. pemainnya Nicolas Cage. lah, saya gak nonton itu, haha. jadi penasaran juga deh, huaha. itu juga ngubur kapsul juga, mbak. ada satu anak yang agak pendiam, namanya lek gak keliru Lucinda. dia malah nulis angka acak, kayak tanpa sadar nulisnya. nah, ternyata apa yang dia tulis seperti prediksi masa depan. detail sekali, dari tanggal, bulan, tahun, korban dsb. semua kejadian2 buruk atau musibah. kalau di sana gak dua tahun, berpuluh2 tahun, lupa tepatnya berapa tahu :D. seru pokoknya, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ohhh... Knowing! Aku tahu, aku pernah nonton filmnya... Tentang semacam prediksi doomsday gitu, kan... Anaknya indigo (atau spesial terpilih) kalau gak salah. Eh tapi kok aku lupa ada detail ngubur surat gitunya... *Tadinya kirain film tentang sekolah atau pendidikan, hehe :D

      Hapus
  8. Benar, Mbak, sekecil apa pun sebuah kado, jika memang itu yang sedang dibutuhkan si penerima, maka akan akan menjadi hadiah yang sangat berkesan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi kalau "butuh". "Ingin" pun begitu...

      Hapus
  9. Wah, pernah nyantri... Sama dong!
    Aku bisa merasakan kegembiraanya waktu itu, seneng banget kalo orang tua tiba-tiba datang menjenguk. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iya... Yang pernah ngalamin, tentunya tahu rasanya... Seperti mendapatkan hadiah yang plus-plus :))

      Hapus
  10. asiiiik dapet buku gratiiiis! :)))
    jadi penasaran nih sama bukunya. Dunia Anna ya. Noted.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Penasaran banget, Mak... :)

      Hapus
  11. Mak Euis pasti gak jauh dari buku, itu bukunya berat aja, filsafat semesta, tapi kayanya bagus ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe... Terlalu banyak buku yg ingin kubaca, maklum. Sepertinya gak berat kok, Mak Ev, meski mungkin cukup mendalam juga. Aku udah suka sama buku2nya Jostein Gaarder, jadi Insya Allah bagus *subjektif mode on

      Hapus
  12. keidean bikin surat buat cucu masa datang he he, kayaknya seru pas mereka baca nantinya he he.. salam kenal ya teh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Iya, sepertinya seru yah... Kayak di novel2 :D
      Salam kenal kembali :)

      Hapus
  13. Hai hai…

    Makasih banget yaa sudah ikutan Giveaway Kado Terindah. Semoga menang! :D

    Salam,
    Pungky

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mbak... Amiin. Thanks ya :))

      Hapus
  14. Ah, saya jadi ingin menulis surat juga! Tapi, bukan untuk cucu di masa depan. Melainkan untuk calon suami masa depan *eh :) *sodorin kopi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah... Boleh... boleh tuh. Nanti dibacain pas wedding anniversary, misalnya. *Nyeruput kopi :D

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon