Pesta Hujan & Bualan

Hujan demikian deras, tapi kita tak punya payung tempat bernaung. Segala basah adalah milik kita, orang-orang yang terlanjur. Kau bilang hujan ialah pesta, tempat kita menabur air mata. Kita berpesta dalam suasana yang paling niscaya: musik yang ritmik dalam rintik-rintik, tarian dansa dedaunan bersama angin, dan kemewahan lighting serat-serat cahaya yang berkilat-kilat. Tak ada pesta yang lebih jujur dari hujan, katamu. Kita bisa foya-foya air mata sepuasnya. Di bawah siraman hujan kecengengan takkan mengemuka, sebab air mata kita bersatu dengan air mata langit. Bukankah itu hebat sekali? Katamu. Jadi kita bisa menangis sekarang. Orang-orang takkan tahu ini air mata siapa, ucapmu yakin.

Aku tak tahu mengapa kau begitu jaim tentang kecengengan dan lain-lain. Aku mengira entah hujan atau terik tiada bedanya. Kita bukanlah orang-orang yang perlu berdandan dan mencemaskan pencitraan. Orang-orang takkan peduli soal kecengengan maupun ketegaran yang kau banggakan. Kala terik orang-orang macam kita tak dapat dibedakan: sama-sama legam oleh matahari, sama-sama basah oleh peluh, sama-sama kenyang dengan caci-maki. Dan kala hujan? Orang-orang takkan tahu kita ada. Orang-orang sibuk berlindung dari basah dan menutup pintu. Katamu, justru itulah pesona pesta hujan buat kita. Pesta ini pesta ekslusif. Tak sembarang orang mencicipi. Bualanmu itu kawan, sanggupkah menghibur tubuh yang kedinginan? Kau menjawabku dengan pegangan tangan. Ayo menangis, katamu. Genggaman tangan, air mata, dan hati yang perih adalah bara yang memberi kita kehangatan.


***

Akhir-akhir ini kemarau tiada lagi. Puisi hujan tak lagi milik bulan juni. Cuaca begini tak menentu, apa yang membuatmu tercenung dalam mendung? Kangen hujan, katamu. Aku tak mengerti, ketakhadiran hujan baru beberapa hari, kenapa sudah merinduinya lagi? Tidakkah kita masih mau bermandi matahari, berpesta kehangatan lebih lama? Panas, lagipula katamu itu bukan pesta. Meski dingin juga membekukan kita dalam pesta hujan yang kau agungkan itu? Aku mengenalmu. Matamu bercerita, kau sedang ingin menyembunyikan air mata.

Ayo menangis, ini bukan kali pertama kita memeram beban luka. Sampai kapan kita harus menahan perih dalam-dalam, bergantian bertukar peran sebagai keranjang tempat orang melempar prasangka dan cacian? Mari berpasrah pada ketakberdayaan, dan menyerah saja pada kuasa jaman. Ayo menangis, kataku. Biar saja matahari tahu. Orang-orang macam kita tak perlulah menyimpan rahasia. Kita sudah rapuh sejak awalnya. Luka ini ditoreh pisau takdir, lebam ini pukulan kecuekan jaman. Tak ada penyembuhan. Tak ada pesta buat kita, itulah kenyataan sebenarnya. Jadi ayo menangis saja, dan tak usah membual lagi. 

Tapi kau tak mau. Masih ada pesta buat kita, katamu keras kepala. Katamu kita memang rapuh pada awalnya, namun selanjutnya kita adalah pertanyaan, keherenanan, dan mungkin ketakjuban. Lagi-lagi kau membual:
Pesta kita adalah pesta hujan, tempat tetabuhan magis mengumandangkan pertanyaan-pertanyaan. Sudah kubilang ini pesta eksklusif, di mana kita menjadi tamu kerhomatan. Kita merayakan keheningan dan kesepian kala terperangkap dalam tetes-tetesnya yang mengisolir. Kita jadi menjenguk ke dalam diri sendiri, dan menumpahkan kejujuran tersembunyi yang biasa tertutup-tutupi. Kita begitu dekat dengan hujan seperti kawan lama. Saat orang berlari menghindari, kita justru terbiasa bertahan dalam kuyup dan dinginnya. Menjadi begitu terbiasa tak berarti kita jadi merasa biasa-biasa. Sebaliknya, tidakkah hujan itu senantiasa istimewa? Dapatkah kau mengerti geletar kekosongan yang tiba-tiba dihadirkannya? Tidak? Baiklah, kau tak mengerti. Kita memang cuma bisa merasainya sendiri-sendiri.

Saat orang bilang berhujan-hujan membikin sakit, makin lama kita malah makin kebal dari sakit. Dan aku suka terheran-heran sendiri, mengapa di atas semua kesulitan ini, kita tak lantas jatuh lebih dalam lagi? Itu menakjubkan. Maka jika kau bilang kita menyerah saja setelah semua ini, apa kita akan rela melepas diri kita tanpa makna begitu saja? Luka-luka kita memang kadang terasa tak tertanggungkan. Aku juga kadang merasa terpuruk dan benar-benar kalah. Tapi tiap kali menangis di bawah hujan aku selalu merasa ada yang merangkulku dan mendengarkan. Seperti ada yang menopangku meski semua ini terasa sendirian. Hujan melahirkan perasaan kedekatan yang ganjil antara bumiku berpijak dan langit yang menaungi. Aku jadi merasa baik-baik saja untuk menangis, karena bahu tempatku bersandar adalah keyakinan pada Yang Maha Lapang. Aku akan kuat lagi karena tak merasa lagi sendirian. Aku tak tahu, hujan tampak seperti butiran-butiran tasbih. Gemuruh guntur, bukankah mencekam kita dengan rasa takut? Entahlah, dalam hujan aku kerap tergoda untuk berdoa. Rasanya kita takkan sanggup bertahan tanpa sebuah keyakinan yang cukup agung, bukan begitu? Kita ini memang kecil, tapi kenyataan bahwa Yang Maha Besar membiarkan kita hadir membuatku yakin ini bukan karena alasan yang kecil. Barangkali seperti bintang, kelihatan kecil padahal hakikatnya besar dan benderang. Membayangkannya aku jadi ingin tersenyum lagi... Apa kau masih mendengarkan?

Tentu saja aku masih. Kau memang pintar membual. Baiklah, kau ada benarnya. Baguslah, melihatmu tersenyum lagi aku jadi tertular semangat lagi. Teruslah membual sesukamu kalau begitu, aku akan mendengarkan. Dan tidakkah kita perlu juga membuat pesta lain, pesta sinar matahari? Biar kita tetap bisa berpesta meski hujan tiada. Bau keringat, katamu? Lucu. Hm, giliranku yang membual kali ini? Itu... Kau tahu aku tak pandai membual sepertimu. Kau harus mengajariku. Yah, kau harus mengajariku membuat bualan yang bagus kapan-kapan.

*Bandung, 7 Desember 2013


-Aku tak tahu ini tulisan apa. Sudah satu tahun mendekam di lalptopku, ternyata.

Komentar

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon