Merapat ke Ciwidey: Situ Lembang

Awal Mei 2014

Siang itu pertama kalinya aku menjejak tanah Ciwidey. Lama sudah kumendengar tentang berbagai spot wisatanya yang terkenal itu. Bertahun-tahun tinggal di Bandung, belum pernah aku main ke sana. Baru kesampaian kesana malah setelah pindah ke Bekasi. Judulnya bertandang ke sana untuk rapat. Eh, tapi kok mau rapat aja jauh-jauh amat ya... Hehe... Modus. 
Suatu pagi di perkampungan Rancabali, Ciwidey
Sepanjang perjalanan menuju tempat menginap, melewati desa wisata kebun stroberi yang terkenal sebagai ikon khasnya ciwidey. Tetumbuhan stroberi & bawang daun mendominasi pemandangan kanan-kiri jalan sepanjang jalan Soreang-Ciwidey-Rancabali. Banyak terlihat petak-petak pekarangan kecil pun di depan, samping, atau belakang rumah tak luput dimanfaatkan sebagai kebun. Menanjak lebih jauh, kanan-kiri jalan mulai tertutupi pepohonan hutan pegunungan.

Penginapan yang dituju letaknya dekat area Pemandian Air Panas Cimanggu. Tak jauh dari sana, terdapat area wisata terkenal Kawah Putih, penangkaran Rusa Ranca Upas, dan Situ Patenggang. Demikian pula Perkebunan Teh Walini beserta area pemandian air panasnya, juga Situ Lembang.


Pertama kali menjejak lantai penginapan, cesss... Terasa dinginnya... Kontras sekali dengan cuaca panas selama perjalanan. Belum lagi air kamar mandinya... Bagaikan air dari kulkas. Itu sebabnya tersedia pemanas, kebayang horornya kalau tiap mandi harus pakai air sedingin itu... Kasur di kamar tidur saja dingin oleh lembap. Lebih surprise lagi di pagi harinya. Semua serba basah berembun. Tak hanya dedaunan & bunga di luar, tetapi juga jendela & tembok kamar, apalagi kamar mandi. Jejak-jejak rembesan air begitu kentara. Bahkan sepatu ikutan basah. Dinginnya pagi di pegunungan... Jika pagi-pagi berjalan-jalan ke area sekitar, wah... indahnya suasana alami, perpaduan dingin, embun, dedaunan, bunga, kicau burung, dan cahaya matahari yang malu-malu memberi kehangatan... ^_^

Gunung Sepuh terlihat dari pekarangan penginapan
Gunung Sepuh menjulang di sebelah kanan. Demikian namanya menurut nenek yang tinggal tak berapa jauh dari penginapan. Agaknya mitos mengenai gunung ini demikian melekat kuat. Tak hanya itu, tradisi semacam mandi kembang pun masih biasa. Katanya banyak pendatang dari jauh datang melakukan itu demi berbagai keperluan. Entahlah. Bincang-bincang berlangsung dalam bahasa sunda yang sangat "eksotis", membuat teman-teman dari Bekasi pada roaming :D. Translator wanted!

3 hari 2 malam saja me'rapat' di Ciwidey. Selama di sana, sempat main-main ke Situ Lembang, Kawah Putih, perkebunan teh, dan salah satu kebun stroberi petik sendiri.
***

Situ Lembang...

Situ Lembang belum seterkenal Situ Patenggang. Justru karena itu, meski musim liburan, saat kesana suasananya sepi. Enak buat foto-foto. Eh, tapi entah juga, mungkin karena saat itu waktu sudah sore sekira jam setengah limaan, ketika orang-orang justru sudah pulang. Malahan sebenarnya tempatnya sudah tutup, hehe... Namun situ ini dikelola keluarga yang tinggal di sana, jadi melalui pembicaraan kekeluargaan, akhirnya diijinkan masuk juga. Kan lumayan ber-2 mobil. Tak seperti area-area wisata lain yang lebih terkenal, pintu masuk ke situ ini juga tak begitu terlihat jelas, sempat kelewatan malah. Dari jalan utama yang diapit oleh perkebunan teh, jalur gang masuk yang dilewati mobil tak berapa luas, medannya pun tak begitu smooth. Kawasan situ ini memang masih terlihat alami, tampaknya belum banyak tersentuh pembangunan infrastruktur. Ada cerita menyentuh dibalik ini.

Air terjun kecil di Situ Lembang
Pertama-tama, pemandangan air terjun kecil namun deras melatari jembatan bambu menyapa di kejauhan, dihiasi tumbuh-tumbuhan berbunga ungu cantik. Di bawahnya, ada danau kecil dengan perahu-perahu bebek. Sayangnya, saat itu danau kecil ini tengah surut airnya. Ada saung-saung (gubuk) bambu di pinggir menghadap ke danau tersebut. 


Ada anak-anak tangga mendaki untuk menuju jembatan bambu berair terjun. Teruskan mendaki lebih ke atas lagi, ternyata masih ada sesuatu dibalik  puncaknya. Jalan mendaki tersebut mengantarkan pada situ yang lebih besar daripada yang di bawah tadi. Di pinggir situ tersebut ada area terbuka yang biasanya dapat dipakai untuk perkemahan, serta warung kecil dan gazebo. Situ di sore hari jelang senja tersebut tampak tenang. Suasananya sangat nyaman untuk makan bersama, bakar-bakar ikan atau ayam.

Sesorean tadi tak puas-puasnya jeprat-jepret mangambil gambar, tahu-tahu senja datang dan hari mulai gelap. Udara beranjak lebih dingin menggigilkan. Perut pun keroncongan. Ikan bakar pesanan (mancing dadakan) tak kunjung tiba. Syukurlah ada minuman wajib tatar sunda yang sanggup memadamkan kedinginan, yakni bandrek dan bajigur. Mantap! Sebagai pemadam kelaparan, sebagian ikan digoreng saja biar cepat saji. Walhasil, malam itu perut kenyang oleh ikan-ikan. Itu pun sebagian dibawa pulang. Hingga esok dan esoknya ikan-ikan itu tak habis-habis menemani makan.


Begitulah kemudian cerita awal-mula situ ini bergulir. Kata bapak yang mengelola, situ ini dulunya (sekira 200 tahun lalu) dibangun dari perjuangan leluhur keluarganya, menggali sendiri demi memperoleh sumber air & untuk pengairan. Tanah situ ini diwariskan turun-temurun sebagai milik keluarga tersebut. Dalam perkembangannya ternyata potensi wisata situ ini bukannya tak mengundang lirikan investor. Namun sebagai aset keluarga bersejarah tak ternilai, pinangan investor tersebut ditolak. Keluarga ini lebih memilih mempertahankannya.

Komentar

  1. Kemarin lihat foto-foto ini di Facebook. Ternyata ceritanya menarik juga ya, Mbak. Salut buat bapak pengelola yang bisa mempertahankan aset berharga milik keluarganya dari pinangan investor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, di antara sekian tempat yang dikunjungi, aku memutuskan menceritakan bagian Situ Lembangnya dulu. Yang lainnya tak banyak yg bisa diceritakan (selain sibuk foto-foto pemandangan atau narsis) :D

      Hapus
  2. Pas ke Tahura, ini terlewat. Krn udah sore ajah. Terus, saya juga batal naok prahu di �� situ patenggang, Mba. Mungkin hrus kesini lagi, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan berkunjung lagi, Mbak :). Aku malah gak sempat ke Situ Patenggangnya...

      Hapus
  3. asyiiik nih tempatnyaaa...moga2 nanti sempat main et mampir ke mari :)..TFS yaaah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, Mak... Semoga nanti bisa mampir ya :)

      Hapus
  4. Aliran air terjun mininya indah sekali, mbak. baca dan lihat panoramanya sudah tergambar jelas dinginnya. hhehe. sejuk, jauh dari polusi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, Mas. Dinginnya tak terlupakan memang :D

      Hapus
  5. wawwww...
    pemandangannya amazing..
    sukaaaaa :D

    BalasHapus
  6. Di kira ciwiday itu cuman ada kawah putih ternyata ada situ juga yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada atuh, kan ada Situ Patenggang juga yang terkenal. Eh ternyata situ yang ini namanya sama dengan Situ Lembang yang di Lembang :D.

      Hapus
  7. wah.. keren banget.. kalo boleh tau ini dekat mana, mbak? di ciwidey mbak nginep di penginapan apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nginepnya di sekitar pemukiman penduduk di Rancabali. Kayaknya gak ada namanya deh, penginapan milik salah satu penduduk sana. Yang jelas dekat dari Pemandian Air Panas Cimanggu.

      Hapus
  8. datang berkunjung sambil menyimak, o iya minal aidin walfaidin ya, ditunggu kunbalnya

    BalasHapus
  9. berkunjung, minal aidin walfaidin mohon maaf lahir batin, jangan lupa kunbalnya ya ^_^

    BalasHapus
  10. Saya mengucapkan minal aidin walfaidin mohon maaf lahir dan batin, salam

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung