Tuberkulosis: Kenali Pasien TB, Sembuhkan TB

Source: WHO Global Health Observatory, map gallery
Penyakit Tuberkulosis (TB) sering berseliweran disebut-sebut sebagai salah satu penyakit menular yang sebarannya cukup mengerikan. Penyakit epidemik ini sering terjadi terutama di negara-negara berkembang. Indonesia sendiri salah satu negara dengan beban kasus penyakit TB tinggi di dunia. Sewaktu jaman sekolah dulu, pertama kali mendengar namanya dari pelajaran Penjaskes. Ketika kuliah dulu, sewaktu mengambil kuliah Biokimia Medis, aku ingat pernah diberi tugas per kelompok untuk presentasi mengenai topik penyakit-penyakit epidemik utama yang menjadi perhatian dunia. TB adalah salah salah satu yang termasuk top list. Pada awal tahun 1990-an, WHO menyatakan penyakit ini sebagai global emergency. Sekarang aku menulis topik ini, menjadi nostalgia, berasa sedang mengerjakan tugas kuliah. Tapi tentu saja bukan, kali ini aku mencoba ikut berpartisipasi berbagi informasi sederhana dalam rangka kampanye global #SembuhkanTB. Tanggal 24 Maret lalu adalah momen Hari TB Sedunia yang diperingati setiap tahunnya. Untuk mendukung gerakan global ini, kita perlu mengetahui apa itu penyakit TB. Agar penanganan penyakit TB berjalan efektif, mengidentifikasi pasien TB menjadi langkah awal yang sangat penting. Kalau sudah mengenali, kita bisa berkontribusi dalam upaya menyembuhkan TB di lingkungan sekitar kita.


Mengenal Apa Itu Penyakit TB

Penyakit TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Infeksinya dapat menyerang paru (Tuberkulosis Paru) maupun organ selain paru (Tuberkulosis ekstra plumonal), seperti otak, ginjal, dan tulang belakang. Penyakit TB menyebar melalui udara. Ketika seorang penderita TB batuk, bersin, bicara, menyanyi, atau meludah, cairan pernafasan yang dikeluarkannya (tetesan aerosol berdiameter 0.5-5 mikrometer) membawa kuman ke udara. Orang yang menghirup udara yang terinfeksi ini dapat terinfeksi TB. Namun, tak semua orang yang terinfeksi kuman TB serta-merta menunjukkan gejala penyakit TB. Keadaan ini disebut "infeksi TB Laten", dan tak dapat menularkan kuman TB. Jika kuman TB dalam tubuh orang yang terinfeksi itu aktif, barulah orang tersebut menderita penyakit TB. 1 dari 10 infeksi TB laten berkembang menjadi penyakit aktif. Jika dibiarkan tanpa penanganan, bahayanya serius dan dapat menyebabkan kematian.
Penularan penyakit TB (credit: CDC)
Ketika terinfeksi TB, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dan menghentikan penyebaran kuman TB. Jika tubuh mampu membentuk jaringan luka (fibrosis) di sekitar kuman TB, maka keadaan infeksi menjadi tidak aktif. Sebaliknya, jika kekebalan tubuh lemah, kuman TB dapat lolos dan menjadi aktif.  Kuman TB yang aktif dalam tubuh menyebabkan kerusakan jaringan dan kematian sel abnormal (necrosis). Di paru-paru, jaringan yang terserang menjadi luka & membentuk lubang-lubang berisi material hasil necrosis tersebut. Sebagian lubang-lubang tersebut dapat tergabung ke dalam jalan udara, sehingga material yang mengandung bakteri aktif di dalamnya dapat terbatukkan dan menyebarkan infeksi. Jika bakteri TB dari jaringan yang rusak masuk ke aliran darah, akibatnya lebih parah, infeksinya dapat menyebar ke seluruh tubuh. Bentuk penyakit TB yang lebih parah ini disebut Miliary Tuberculosis, umumnya terjadi pada anak-anak & penderita HIV. Bahkan dengan penanganan medis, angka kematian penderita TB jenis ini tinggi (sekitar 30%).
X-Ray dada penderita TB lanjut. Tanda panah putih menunjukkan infeksi di kedua paru. Pembentukan lubang ditunjukkan tanda hitam (credit: CDC, source: wikipedia)

Gejala-gejala Penyakit TB

Gejala penyakit TB dapat dikenali secara umum antara lain sebagai berikut:
-batuk berdahak yang berkepanjangan bahkan hingga mengeluarkan darah
-berat badan yang menurun drastis
-demam
-kedinginan
-sakit pada bagian dada
-kehilangan nafsu makan
-kelelahan
-berkeringat berlebihan saat tidur malam hari

Faktor-faktor Resiko Penyakit TB

Secara umum, orang yang beresiko tinggi menderita TB adalah orang yang terinfeksi bakteri TB atau orang yang memiliki kondisi imunitas tubuh lemah. Faktor-faktor resiko TB antara lain:
-Penderita HIV
-Pengguna obat-obatan terlarang
-Kebiasaan merokok (2x resiko non-perokok)
-Pecandu alkohol
-Penderita diabetes mellitus
-Resiko-resiko yang berhubungan dengan kemiskinan (kepadatan penduduk berlebihan & malnutrisi)
-Pengobatan medis tertentu yang melemahkan kondisi imunitas tubuh
-pencemaran udara (polusi)
-Penularan oleh suspek TB (interaksi sehari-hari dengan pasien TB)

Karena penularannya lewat udara, dapat dipahami jika orang yang sering berinteraksi dengan penderita TB beresiko tinggi untuk terinfeksi. Kemungkinan penularan penyakit TB dari satu orang ke orang lain dipengaruhi beberapa faktor, seperti:
-jumlah butiran cairan pernafasan yang dikeluarkan penderita TB
-efektivitas ventilasi udara
-lamanya paparan dengan udara terinfeksi
-virulensi jenis bakterinya
-tingkat ketahanan tubuh (imunitas) orang yang belum terinfeksi TB, dll.

Oleh karena itu, penyakit TB yang menular ini tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa penanganan. Penderita TB bisa disembuhkan melalui penanganan medis yang tepat. Namun, jika dibiarkan atau hanya menjalani pengobatan setengah jalan, akibatnya berbahaya. Itulah sebabnya mengapa mengenali pasien TB menjadi penting. Jika ada di antara orang-orang terdekat atau sekitar kita yang menderita TB atau menunjukkan gejala-gejalanya, kita perlu segera melakukan tindakan efektif. Tidak saja pasien tersebut perlu segera ditangani atau diperiksakan secara medis, kita juga perlu menghubungi pusat layanan kesehatan untuk dicek apakah perlu menjalani tes infeksi TB atau tidak.

Tes Infeksi TB

Bagaimana cara mendeteksi infeksi TB? Ada dua jenis tes yang dapat dilakukan, yakni TB skin test dan TB blood test.
-TB skin test (The Mantoux tuberculin skin test)
Tes ini lebih sering digunakan. Caranya dengan menyuntikkan material pengujian yang disebut tuberculin ke bawah kulit di bagian bawah lengan. Dalam waktu 2-3 hari, dicek kembali oleh petugas kesehatan apakah ada reaksi terhadap tes tersebut.
-TB blood test (interferon-gamma release assays atau IGRAs)
Tes darah ini mengukur bagaimana reaksi sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap kuman penyebab TB.

Jika hasil tes infeksi TB positif, artinya orang tersebut terinfeksi TB. Namun, kedua tes tersebut hanya menunjukkan sebatas apakah seseorang terinfeksi TB atau tidak. Dari kedua tes tersebut tidak dapat diketahui apakah seseorang mengalami infeksi TB laten ataukah terjangkit penyakit TB. Lebih lanjut, untuk mengetahui apakah seseorang menderita penyakit TB, diperlukan uji-uji lain, seperti tes X-ray dada dan tes sampel sputum (dahak).
photomicograph sampel sputum yang mengandung bakteri TB (warna merah). Credit: CDC, source: wikipedia
Penanganan Pasien TB

Pasien TB dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin yang tepat. Biasanya perlu waktu pengobatan rutin sekitar 6 bulan sampai 1 tahun untuk membunuh kuman TB secara tuntas. Hal yang penting untuk ditekankan adalah, pasien harus patuh pada instruksi pengobatan dari dokter. Jika pengobatan dihentikan setengah jalan, misalnya karena tubuh sudah terasa lebih baik sebelum waktu pengobatan tuntas, akibatnya malah berbahaya. Kuman TB dalam tubuh malah menjadi kebal terhadap obat, istilahnya Multi Drug Resistance TB (MDR TB). Untuk menyembuhkan MDR TB, tingkat pengobatannya lebih tinggi, dengan obat yang lebih banyak, waktu penyembuhan yang lebih lama, efek samping lebih kuat, dan tentu saja biaya lebih mahal.

Adapun penanganan untuk infeksi TB laten, pengobatan mungkin diperlukan untuk mencegah penyakit TB lebih lanjut. Lagi-lagi perlu ditekankan pengobatan yang dijalani harus mengikuti tepat petunjuk dokter. Kunci penyembuhan TB adalah pengobatan yang tuntas dan tepat sesuai prosedur medis. Salah satu upaya agar pengobatan TB berjalan tuntas antara lain dengan strategi yang disebut DOTS (Directly Observed Treatment Short-course).

Aksi Global Melawan TB

Sekitar sepertiga dari populasi dunia sudah tertular TB. Sebagian besar pasien TB tersebut berusia produktif (15-55 tahun). Setiap tahun, beban sosial ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit TB cukup besar. Seseorang yang terdiagnosa TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam) positif menularkan sedikitnya 10-15 orang setiap tahunnya. Berdasarkan data WHO tentang situasi TB di dunia pada tahun 2012, tercatat 8.6 juta kasus TB baru. Sejumlah 0.9 juta orang meninggal karena TB, dan 0.32 juta orang yang positif HIV meninggal karena TB. Tercatat 5.7 juta terdiagnosa TB baru.
Catatan data angka kematian kasus TB th. 2012 oleh WHO (klik untuk memperbesar). Keterangan lebih lanjut: (link sumber)
Indonesia termasuk negara dengan kategori beban TB tinggi, beban HIV tinggi, dan beban MDR-TB tinggi. Profil beban TB di Indonesia pada tahun 2012 yang tercatat oleh data WHO antara lain sejumlah 460000 kasus kejadian TB, 7500 di antaranya kasus kejadian HIV+TB. Angka kematian akibat TB (tanpa HIV+TB) sejumlah 67000, sedangkan angka kematian akibat HIV+TB saja sejumlah 2100. Adapun total kasus baru & kambuh tercatat sejumlah 328824. Sebagai contoh kasus, menurut berita depkes th. 2012, data RS Persahabatan, Jakarta, mencatat sedikitnya 1500 pasien TB per tahun. 10% pasien TB di RSUP Persahabatan adalah pasien rujukan. Sedangkan jumlah pasien TB-MDR yang menjalani pengobatan di RSUP Persahabatan pada waktu itu berjumlah sekitar 480 pasien. 338 pasien di antaranya masih menjalani pengobatan, sedangkan sisanya menolak diobati, dan meninggal dunia sebelum atau sesudah pengobatan.
Potongan profil TB Indonesia th.2012, data WHO (keterangan lebih lanjut: link sumber)
Berbagai strategi untuk mengurangi beban secara global diupayakan. WHO menargetkan pencapaian Millennium Development Goal (MDG) untuk laju kejadian TB harus menurun pada 2015. Selama beberapa tahun terakhir, kejadian TB menurun secara global, turun sekitar 2% antara tahun 2011 & 2012. Antara jangka tahun 1990-2012, laju kematian TB menurun sebanyak 45%. Pencapaian target pengendalian TB nasional di Indonesia sendiri dinilai cukup menggembirakan. Pada peringatan Hari TB sedunia tahun lalu, Indonesia mendapatkan penghargaan Champion Award for Exeptional Work in the Fight Againts TB dari USAID Global Health atas prestasi dalam penanggulangan TB.

Menurut Menkes RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, Indonesia telah membuat kemajuan luar biasa dalam pengelolaan program pengendalian TB yang efektif sejak strategi DOTS diperkenalkan lebih dari 1 dekade lalu. Indonesia memberikan kontribusi signifikan dalam mencapai target global dengan pencapaian tingkat keberhasilan pengobatan TB lebih dari 90% dan tingkat deteksi kasus TB baru di atas 70%. Dengan adanya teknologi diagnostik baru, GeneXpert, perkembangan ini membuat perbaikan signifikan bagi pasien untuk mendapat akses diagnosis TB Multi-Drug Resistant (TB-MDR). Indonesia juga merupakan salah satu negara di dunia yang mempelopori agar target universal access untuk TB-MDR masuk ke dalam kebijakan nasional.

Program TB nasional diperkuat dengan menjalin kemitraan dengan masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah (LSM), serta penyedia layanan swasta dengan pelaksanaan International Standards of Care. Meskipun kejadian TB per tahunnya memang mengerikan, namun TB sebenarnya dapat dieliminasi melalui penguatan di bidang penelitian dan deteksi dini, kemitraan, akses pengobatan yang lebih baik, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat. Demikian menurut pandangan Menkes RI. Kita sebagai bagian dari masyarakat, diajak berkontribusi mewujudkan komunitas dunia yang bebas TB melalui ranah penguatan identifikasi kasus awal dan pengobatan kasus baru. Demikian pentingnya mengenali pasien TB agar deteksi dini kasus TB dapat dilakukan dan dapat segera ditangani untuk penyembuhan.

Kenali, Temukan, Sembuhkan TB

Apa yang dapat kita lakukan terkait identifikasi penyakit TB? Bagaimana jika menemukan orang-orang terdekat atau sekitar kita menderita TB? Tak perlu panik, karena seperti sudah disinggung sebelumnya, pasien yang sakit TB dapat disembuhkan. Orang yang telanjur berinteraksi intens dengan pasien TB pun dapat segera melakukan tindakan dini. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit. Selanjutnya, kita perlu melakukan tindakan penanganan sebagaimana arahan dokter, sesuai hasi pemeriksaan. Untuk diagnosa awal pengobatan diberikan gratis, dan bagi pasien TB yang masuk dalam program semua pengobatan ditanggung pemerintah.

TB bukanlah penyakit kutukan atau keturunan, melainkan dapat diobati. Tidak tepat jika kita memperlakukan penderita TB dengan pengucilan dari pergaulan. Pasien suspek TB & MDR TB sangat memerlukan dukungan sosial dan psikososial agar termotivasi untuk sembuh dari sakitnya. Asalkan disiplin dalam pengobatan, pasien TB dapat disembuhkan. Kita perlu memahami bahwa penyakit ini menular lewat udara. TB tidak menular melalui jabatan tangan, berbagi makanan atau minuman, menyentuh tempat tidur atau dudukan kloset, dan persentuhan yang sifatnya permukaan.
Temukan & Sembuhkan Pasien TB. Karena penyakit TB bisa disembuhkan...
***

Penyakit TB ini masih menjadi tantangan global dan menuntut kepedulian kita bersama. Adanya bentuk MDR TB yang lebih kompleks untuk ditangani membuat tantangan dari sektor penelitian dan teknologi terkait terus diupayakan pengembangannya. Aku teringat sewaktu kuliah tingkat akhir, ada senior di kampus yang satu lab menggarap penelitian mengenai bakteri MDR TB ini. Baru kutahu gambaran seberapa kompleksnya MDR TB ini... 


Komentar

  1. semoga semakin masyarakat kita semakin peduli dengan adanya TB ini, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Semoga tambah melek dan peduli, informasinya menjangkau seluruh lapisan masyarakat... :)

      Hapus
  2. Mendetail sekali penjelasannya, Mbak. Tapi banyak istilah-istilah kedokteran yg enggak saya paham.

    *Semoga sukses dalam kompetisi ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, apa iya? Padahal saya berusaha menghindari itu. Makanya istilah-istilah itu cuma saya singgung dalam kurung. Aku berusaha menjelaskannya dengan sederhana. Tampaknya kurang berhasil ya... Terburu2 deadline sih nulisnya :D.

      Amiin, terima kasih :)

      Hapus
    2. Mungkin harus dibaca berulang-ulang, agar paham betul.

      Hapus
    3. hehe, aku jg hrs banyak berlatih lagi. Dari dulu ingin bisa menulis ilmiah populer, belum berhasil juga :D. *Dulu pernah kena kritik sama dosen kuliah karya ilmiah populer :D

      Hapus
  3. penyakit ini ngeri ya, mak. apalagi perawatannya butuh waktu yang lama dengan jumlah obat yang banyak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Angka kematian akibat penyakit ini juga ngeri. Kalau gak ditangani bahayanya tak cuma buat pasien sendiri, melainkan kpd org2 di sekitarnya juga yang rentan terluar...

      Hapus
    2. eh, kok "terluar"... Salah ketik, maksudnya tertular... :)

      Hapus
  4. Hi,
    Mau CD Original One Direction? Atau pulsa cuma-cuma? Yuk ikuti giveaway perdana saya di http://gebrokenruit.blogspot.com/2014/04/giveaway-take-me-home.html
    Ajak teman-temanmu sebanyaknya dan menangkan hadiahnya! Jangan sampai kelewatan ya.... #GATakeMeHome

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Sebagai pengetahuan aja, Mbak. Seberapa parah kasus TB ini di Indonesia & seluruh dunia, sampai2 WHO menyatakan ini sbg global emergency. Segitu itu udh ada penurunan (data th.2012) dibanding dekade sebelumnya, sebelum strategi2 penanggulangan efektif dilancarkan secara global :)

      Hapus
  6. Cara penyebarannya ngeri sekali, mbak. mudah menyebar. kalau sudah diketahui gejala harus benar-benar ditangani, biar gak merembet ke sekitarnya. makin ngerti sekarang saya, penjelasan dari mbak lengkap sekali. semoga masyarakan semakin cerdas untuk mengantisipasi dan melakukan penanganan kepada penderita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ngeri nih. Makanya kalau ada org bersin, meludah, batuk, dll itu secara sembarangan sangat tidak manusiawi :). Meski gak ada penyakit pun ya tetep aja... Pernah baca somewhere bhw bersin tuh bisa memuncratkan cairan tsb sampe bermeter2 (lupa tepatnya), heu. Maka kebayang kalau itu cairan ada bakterinya ya nularnya bisa ke banyak orang. Influenza jg menyebar seperti ini.
      Baca berita yg nyebutin byk org yg menolak diobati atau menghentikan pengobatan setengah jalan jd miris. Semoga ke depannya semakin bisa dipahami pentingnya penanganan yg tepat & efektif ini...

      Hapus
  7. Wow... lengkap bener ini pembahasannya...
    Keren nih Mak...
    Semoga menang yaa... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, belum selengkap itu kok, Mak...
      Amiin... Terima kasih ya... :)

      Hapus
  8. TB bisa disembuhkan dengan pengobatan yang benar, ya, mbak
    Tulisannya lengkap sekali, keren. Semoga berhasil, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak...
      Hehe, amiin... Terima kasih banyak ya... :)

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ada Surga di Rumahmu

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]