Indonesia Hebat: Kenali Potensi & Jati Diri

Beberapa waktu ke belakang aku bercerita tentang bedah buku Api Sejarah di Museum KAA. Di bedah buku tersebut, penulisnya, Prof. A. Mansur menyinggung tentang seberapa luasnya wilayah Indonesia, sembari menggambarkan peta dunia. Kalau dibandingkan, luas Indonesia setara dengan negeri-negeri Eropa plus Timur Tengah. Kini, aku sedang mulai membaca sendiri buku tersebut, baru bab awal, sih. Ternyata ketemu sama bahasan tentang luas wilayah nusantara Indonesia ini di bukunya, halaman 17-19. Daratannya saja hampir 2 juta kilometer persegi, lautannya sekitar 3.2 juta kilometer persegi, total luasnya menjadi sekitar 5.2 juta kilometer persegi. Saking luasnya sampai-sampai Indonesia mengalami 3 perbedaan waktu: WIB, WITA, dan WIT. Membincangkan ini menjadi nostalgia sama pelajaran geografi. Awalnya aku heran mengapa sebuah bedah buku sejarah kok diawali perbincangan geografi begini. Setelah menyimaknya lebih lanjut, aku kini paham mengapa...
Beragam potensi kekayaan Indonesia. (Sumber gambar: indonesiahebat & wikipedia)
Dari wilayah yang luas banget itu, isinya gak kalah dahsyat. Kita tentu tahu bahwa Indonesia itu kaya akan sumber daya alam. Kalau mau diabsen bakal panjang daftar kekayaannya. Mulai dari kekayaan laut, hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati, hasil-hasil bumi, sampai keanekaragaman seni budaya, bahasa, kekayaan kearifan lokal, makanan tradisional, dan lain-lain. Pertanyaannya adalah mengapa kok kekayaan melimpah ini tidak bisa dinikmati oleh bangsanya... Kenapa Indonesia hebat ini tidak terasa kehebatannya, bahkan sebagian bangsanya masih minder dan lebih bangga dengan tidak menjadi diri sendiri?

Itu pertanyaan sederhana. Sementara untuk menjawabnya, kukira perlu ada bacaan, kajian, pemikiran mendalam mengenai ini untuk memahaminya. Mengetahui bahwa Indonesia punya kekayaan alam yang hebat adalah perlu, karena ini menunjukkan sebuah potensi dahsyat. Potensi dahsyat artinya kita memiliki peluang yang sangat besar pula untuk menjadi sebuah bangsa yang hebat, bahkan lebih dari negara-negara lain yang tak memiliki potensi kekayaan ini. Jika toh kemudian kekayaan ini menghilang dan cuma bisa dinikmati segelintir orang, maka ini menjadi pertanyaan besar. Kenyataan pahit ini menjadikan bangsa kita perlahan-lahan menjadi termiskinkan. Lebih parah, jika krisis ini sampai membuat kepercayaan diri bangsa ini termiskinkan pula. Jangan sampai, kehebatan Indonesia yang dahsyat tertutup oleh noda-noda negatif yang tak kalah dahsyatnya mencemari. Kritis itu sangat perlu, namun hendaknya tidak malah jadi pesimis. Optimisme harus terus dipelihara, karena ia akan melahirkan kemauan mewujudkan harapan, dan menjadi energi untuk bertindak. Hanya, untuk menemukan jalan menuju sana, memang butuh perjuangan yang mungkin panjang.

Indonesia, sejatinya memang betulan hebat. Untuk memahaminya, kita perlu menengok sejarah kita sendiri. Dwitunggal proklamator kita, Bung Karno & Bung Hatta, adalah orang-orang hebat. Para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia juga orang-orang besar. Memang mereka-mereka ini juga manusia yang tak luput dari kekurangan & kelebihan. Manusia-manusia Indonesia ini juga berasal dari berbagai latar belakang dan haluan politik. Namun ketika mereka bersatu dalam semangat jiwa nasionalisme, ketika semangat keIndonesiaan melunturkan sekat-sekat kesukuan, golongan, agama, dan seterusnya, hasilnya adalah Indonesia merdeka, sebuah negara berdaulat yang punya jati diri sendiri. Yang tak kalah hebat adalah produk pemikiran mereka: pancasila, lambang negara, konstitusi negara, yang semuanya mencerminkan jati diri bangsa Indonesia dan bervisi jauh ke depan. Ketika semua itu dirumuskan, semuanya melibatkan filosofi kebangsaan yang mendalam. Ketika Indonesia dilahirkan, atribut-atribut kenegaraan itu tak cuma sekadar kemasan.

Beberapa waktu lalu di Museum KAA ada pameran sejarah lambang negara. Apa yang terbaca dari catatan-catatan singkat tentang perumusan lambang negara itu adalah: benar-benar mencerminkan jati diri sekaligus cita-cita keIndonesiaan. Salah satu contoh, ketika ada ide-ide lambang yang dinilai terlalu berbau mitologi, idenya ditolak. Sebab Indonesia adalah negara yang berketuhanan YME. Sekarang, mengenang segala yang diajarkan di PPKN di sekolah dulu itu, kok yang terasa hanya hafalan. Ruh keIndonesiaan yang hebat itu seperti belum tersampaikan...

Ini jadi nyambung ke sebuah perbincangan tentang imperialisme di museum yang sama pada rabu malam lalu. Sebenarnya ini masih rangkaian acara tadarus buku karya Bung Hatta: Indonesia Merdeka. Hanya pengulasnya kali itu lebih cenderung mengupas apa yang tak tertangkap oleh pemikiran Bung Hatta dalam karyanya ini, dibandingkan dengan karya Bung Karno: Indonesia Menggugat. Ini perbincangan yang benar-benar serius, aku sampai kerepotan menyimaknya. Intinya, Bung Karno adalah orang yang mampu menangkap pemahaman tentang akar imperialisme: bahwa jiwa imperialisme adalah "hasrat berkuasa". Karena "hasrat" adalah ruhnya, bentuknya bisa apa saja, tak melulu menjelma sebagai negara, pemerintah, orang, atau organisasi apa pun. Kita tentu sering dengar bahwa penjajahan, sebagai wujud imperialisme, pada hakikatnya adalah metode baku kapitalis. Yang berubah dari gaya imperialisme masa lalu dengan masa kini hanyalah cara dan sarananya saja.

Karena ini ruh, kapitalisme global menjadi "menegara". Ia mewujud dalam sistem negara, media, pendidikan, ekonomi, beragam rupa. Bisa kita lihat sekarang kecenderungannya yang lebih mengarah "ke luar" daripada "ke dalam", secara perlahan ruh nasionalisme yang diembuskan bapak-bapak bangsa kita dahulu jadi menghilang. Menurut pengulasnya, Pak Hendrajit dari Global Future Institute, Bung Karno dalam Indonesia Menggugat mampu menawarkan kontra skema imperialisme dan menyadarkan jati diri bangsa Indonesia. Ah, ya. Dan barusan aku baca sebuah postingan tentang Bung Karno, dan jadi nyambung (lagi). Judulnya Bagaimana Cara Soekarno Membangkitkan Nasionalisme? Postingan di sana sangat-sangat nyambung dengan apa yang kubincangkan ini. Sebelum masuk ke rumus Bung Karno, ada kutipan dari Pak Habibie berikut tentang kapitalisme global jaman sekarang (VOC gaya baru):
"Bahkan mantan Presiden RI, BJ Habibie, pernah menyinggung istilah VOC berbaju baru. Ya, baju baru kolonialisme sekarang adalah Neoliberalisme."

Postingan tersebut menyebutkan, perkara mebangkitkan nasionalisme jaman penjajahan dulu juga bukan perkara gampang. Namun, Bung Karno mampu menyadarkan jati diri bangsa. Rumusnya katanya ada 3:
Pertama, menunjukkan kepada rakyat tentang masa lampau yang gemilang.
Kedua, menyadarkan rakyat tentang keadaan sekarang ini (penjajahan) sebagai jaman kegelapan.
Ketiga, memperlihatkan masa depan yang berseri-seri dan gemilang.

Bung Karno juga mengingatkan, perjuangannya lebih mudah karena menghadapi bangsa lain, sementara perjuangan kita untuk jaman sekarang lebih sulit, karena berhadapan dengan bangsa sendiri. Itu pernyataan yang jitu sekali. Melihat rumus pertama Bung Karno itu, punya artian bahwa memahami sejarah sangat penting. Bukan untuk mengenang romantisme masa lalu, melainkan untuk belajar, banyak yang bisa kita pelajari dari sejarah. Bahwa kita pernah sehebat itu, artinya kita punya potensi yang sama, bahkan bisa lebih. Bahwa kita sekarang tak sehebat itu, pasti ada sejarahnya mengapa, bagaimana itu terjadi. Bahwa kita bisa bangkit lagi, bagaimana caranya juga bisa kita pelajari dari sejarah masa lalu.

Kata Pak Hendrajit, Bung Karno adalah orang yang tak sekadar tahu sejarah. Lebih penting, punya imajinasi sejarah. Dari memahami sejarah, Bung Karno juga tahu mau dibawa kemana sejarah kita ke depannya. Itu salah satu ciri pemimpin besar. Kalau banyak cerita pemikiran orang-orang besar terdahulu kok seperti bisa meramalkan masa depan (terbukti), itu bisa dibilang kemampuan pembacaan & imajinasi sejarah yang mumpuni. Oh, iya. Menyinggung pandangan Pak Hendrajit tentang konsep ekonomi kerakyatan yang digagas Bung Hatta dalam bentuk koperasi. Ada pertanyaan yang menggigit: Konsep ekonomi demikian itu brilian, gagasan itu mencerminkan kemandirian yang bervisi ke depan. Lalu mengapa kok koperasi di Indonesia kini tidak sesubur role modelnya, Swedia? Lagi-lagi masalah ruh. Konsep tinggallah konsep, jika sementara ruhnya, "gotong royong", tidak membudaya dalam masyarakatnya. Hm, "gotong royong" juga adalah salah satu konsep "PPKN" yang ada dalam kamus pemikiran Bung Karno. Lagi-lagi, betul juga, apa yang seharusnya jadi jati diri bangsa, kini tak membudaya.
Kutipan Bung Karno tentang sejarah
Jadi panjang begini. Kalau melihat 3 rumus Bung Karno itu, poin pertama adalah melihat masa lalu (sejarah), poin ke-2 melihat masa kini, poin ke-3 melihat masa depan. Ya, seperti yang pernah kusinggung di postingan yang lain, sejarah adalah kesatuan masa lalu, masa kini, masa depan. Ketiga elemen waktu yang tak terpisahkan.

Balik lagi ke Indonesia hebat. Kekayaan alamnya hebat. Hanya belum diberdayakan optimal. Namun soal SDM, Indonesia kini juga punya bejibun SDM hebat dari berbagai bidang kok. Tak jarang yang prestasinya mendunia. Namun, bagaimana membangkitkan Indonesia dengan segala sumber dayanya jadi hebat kembali? Kurasa, kita perlu belajar mengenali diri kita sendiri, jati diri bangsa kita sendiri. Jika saja ruh-ruh keIndonesiaan itu bisa dibangkitkan lagi, diwujudkan ke dalam berbagai bidang, barangkali kita bisa sembuh sepenuhnya dari sakit keterpurukan, keterjajahan ini. Dahulu semangat itu mampu mengusir penjajahan, memerdekakan bangsa ini. Bukannya tak mungkin jika semangat yang sama ini diperbaharui lagi ke dalam konteks kekinian, lalu kita bisa lagi berdiri sebagai bangsa yang hebat, yang tak hilang jati diri.
***
http://uniqpost.com/76086/bagaimana-cara-soekarno-membangkitkan-nasionalisme/

Sumber gambar:
http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia
http://www.indonesiahebat.org/news/2014/01/10-rekor-kekayaan-alam-indonesia
http://www.indonesiahebat.org/news/2014/03/eksotisme-panorama-laut-raja-ampat-yang-membius-dunia

Komentar

  1. Indonesia kita emang sudah hebat dari dulu mak,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak... Jangan sampai sekarang kehebatan itu jd meluntur...

      Hapus
  2. indonesia memiliki semua potensi yang bisa menjadi modal kekuatan untuk menjadi negara hebat....namun mental bangsa ini yg suka minder yg harus dibenahi,,,,selamat berlomba semoga menjadi yg terbaik...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak. PR besar bersama nih. Aslinya kalau kita gak meninggalkan jati diri yang sebenarnya, cita-cita mandiri itu bakalan bisa terwujud, bukannya jadi melemah karena tunduk pada kepentingan2 tertentu.
      Amiin... Terima kasih. Salam dari Bandung :)

      Hapus
  3. "…Saking luasnya sampai-sampai Indonesia mengalami 3 perbedaan waktu: WIB, WITA, dan WIT…"

    Saya selalu tertarik dengan pembahasan mengenai perbedaan zona waktu. *seperti yg kita obrolkan tadi malam :D* Apa pembagian waktu tersebut ada kaitannya dengan luas suatu daerah? Mengingat zaman dulu, Indonesia pernah mempunyai 6 (enam) zona waktu dan sudah berkali-kali diubah hingga terakhir tahun 1988 menjadi tiga (sampai sekarang). Bahkan tahun 2011 lalu ada rencana supaya zona waktu di Indonesia disatukan. Hmmm…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Begitu ya... Wah, kalau saya malah kurang tahu tentang sejarah pembagian waktu Indonesia tsb. Hanya dalam hal ini, saking luasnya Indonesia, matahari sampai terbit 3X (perbedaan waktu 1 jam). Kalau daerahnya kecil kan gak akan sampai ada perbedaan itu. Kalau pembagian zona waktunya sih mungkin masih bisa berubah begitu ya, bahkan disatukan. Nah, jadi penasaran, apa yang mendasari konsep pembagian zona waktu tsb. Yang jelas, kalau secara internasional sih masih ngikutin patokan Greenwich.

      Hapus
    2. Ya, idealnya setiap 15 derajat bujur berbeda satu jam. Tapi di Rusia kok zona waktunya sampai 9 (sembilan). Apa berarti luas daerahnya tiga kali lipat dari Indonesia?!

      *enggak begitu paham geografi

      Hapus
    3. Rusia kan emang paling luas negaranya. Cek aja googling atau wiki.
      Saya belum tahu dasar pembagian zona waktu, belum baca2 ttg itu...

      Hapus
  4. jadi ingat kata-kata Bung Karno : "Jasmerah" = Jangan sekali-kali melupakan sejarah
    Indonesia memang hebat
    Sukses ya, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya Mbak... Kan kusebutkan pula kutipan tersebut dalam gambar.
      Jadi penasaran mengorek jati diri keIndonesiaan itu, sejarahnya bagaimana, pelan2 dibaca kembali :D
      Amiin... Terima kasih ya Mbak :)

      Hapus
  5. Indonesia memang sejatinya hebat. Cuma oknum2 aja yg bikin Indonesia jadi kurang terlihat hebat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak... Lagi2 oknum ya... Parahnya kalau oknum2 itu yang jadi penguasa...

      Hapus
  6. Indonesia itu hebat mak, dalam sumber daya alamnya dan begitu banyaknya makanan" yg enak " hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tak sekadar itu saja hebatnya ya, Mak... Namun lebih :)

      Hapus
    2. Haha.. iya, betul, makanan enak. Kita baru akan merasakan itu jika kita tinggal di negara orang. Teman-teman saya sering minta kiriman terasi, kerupuk, ragi, teh dll.

      Hapus
    3. Makanannya saja hebat ya :D

      Hapus
  7. Indonesia memang hebat dari sononya Mak, cuma kitanya aja yang belum hebat mengembangkannya..... gud lak Mak kontesnya.
    dan Salam Indonesia Hebat! *sok gaya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kehebatan yang harus dibangunkan, ya Mbak Sofi...
      Sama2, gudlak juga... heheh... Salam :)

      Hapus
  8. Dengan segala limpahan SDAnya, Indonesia memang hebat, mbak. apalagi tokoh terdahulu, seperti yang mbak sebutkan di atas, memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat pula. permasalahan sekarang berada pada SDMnya, buruknya lagi sudah mementingkan kekayaan pribadi, korupsi yang dilakukan oknum pejabat nakal. makin memperburuk kondisi masyarakat yang tak lagi sepenuhnya bisa menikmati kekayaan negaranya. miris yah, mbak. nyesek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah pointnya. Kesadaran akan jati diri yang hebat itu masih harus ditemukan kembali, dibangun kembali. Sebab yg egois & korup itu bukan bagian dari jati diri kita, melainkan tanda orang sudah kehilangan jati dirinya :D. Jadi curhat ya...

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon