Marah & Cara Meredakannya

Jum'at, rajanya hari. Ini hari jum'at, jadwalnya aku ngisi blog dengan tulisan #1Hari1Ayat. Tapi apa yang terjadi? Hari ini hampir saja aku mau absen, tak bisa menuliskan tema itu. Sebabnya? Suasana hati sedang buruk. Semalam mimpi buruk, buruk sekali... Ini bukan lagi nyanyi, tapi serius. Mimpinya mirip lagi jadi pemain film horor dramatis (bukan aku jadi hantu lho, aku jadi protagonis yang menderita :p). Sudah gitu, paginya kesal-kesal gara-gara harus menunggu untuk waktu yang tak pasti. Apalagi gak bisa sambil ngapa-ngapain, gak bawa apa-apa, buku untuk baca-baca misalnya, hp pun tidak. Helpless, gak tenang, kebayang-bayang mau ngopi, kopinya keburu dingin, lapar juga... :(. Fyuh, untunglah tak nyampe 2 jam. Salah satu obat manjur untuk kesal bisa dengan menenggelamkan diri dalam bacaan atau menulis, atau hobi lain. Jadi sesudahnya aku berniat browsing, & menemukan bacaan-bacaan yang menarik. Eh, tapi kesabaranku masih belum pulih ternyata. Justru koneksi internetnya ngadat terus. Duhhh... Kebakaran lagi deh :'(.
image source: link
Tapi kalau aku menyerah nulis #1Hari1Ayat gara-gara itu kan jadi lebih rugi lagi ya. Meski marah itu sesuatu yang manusiawi, namun banyak dampak negatif jika kita dikuasai marah. Sebaliknya, marah itu sesuatu yang perlu kita taklukkan. So, kali ini aku sharing tentang marah bukan berarti aku sudah ahli mengendalikan emosi. Sebaliknya, aku malah browsing tips-tips meredakan marah. Di internet banyak yang posting tentang ini. Jadi aku pilih di antaranya secara random & berniat membagikannya di postingan #1Hari1Ayat kali ini. Namun aku suka tak puas kalau cuma copas postingan orang, jadi aku tambahin sama cerita curhatku & comot sana-sini, ingin menuliskannya kembali hehe :D. Biasanya sesuatu yang kita baca, jika kita tuliskan kembali maka lebih mantap nempel di otak, bukan begitu?

Aku selalu ingat sama sebuah kutipan yang pernah kucatat dari Aristoteles, kalau gak salah dari buku Emotional Intelligence-nya Daniel Goleman: "Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, & dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah." (Aristoteles, The Nicomachean Ethics). Ada pula kutipan dari Benjamin Franklin, "Amarah itu tak pernah tanpa alasan, tetapi jarang yang alasannya benar". Hehe, marah memang mudah. Sedangkan mengendalikannya perlu jurus-jurus jitu yang harus dipelajari & sering dilatih :D. Aku ingat juga sama cerita silat Kho Ping Hoo yang suka mengingatkan, pendekar yang dikuasai marah memang bisa melancarkan serangan-serangan berbahaya & penuh motivasi berapi-api memenangkan pertarungan. Sekilas seperti kekuatan, padahal kemarahan adalah juga kelemahan. Pendekar yang marah begitu justru mudah ditaklukkan karena pikirannya tak jernih & cenderung teledor. Serangannya yang gencar itu lebih mengarah ke membabi-buta, bukannya penuh perhitungan & dilandasi kebijaksanaan. *Eh, kok jadi ngomongin silat... :D

image source: link

Tadi baca-baca sekilas, marah itu memang manusiawi. Marah ada manfaatnya dalam kondisi kita terancam bahaya, biasanya kita jadi cenderung mengambil resiko tanpa takut untuk keluar dari bahaya itu. Di samping itu, di dunia ini tentu akan selalu ada hal-hal yang membikin marah, yang berupa ujian untuk kesabaran. Penyebab marah tak hanya hal-hal sepele, melainkan juga bisa berupa hal-hal besar. Misalnya tingkah para koruptor, orang atau pihak yang sewenang-wenang, dsb. Para sahabat & nabi pun suka dibuat marah oleh kaum yang mendustakan risalah kenabian. Di Al-Qur'an misalnya diceritakan kemarahan Nabi Musa AS sekembalinya kepada kaumnya yang ternyata menyeleweng selama beliau tak ada. Atau cerita Nabi Yunus AS yang karena marah, jadi khilaf meninggalkan kaumnya, lalu bertaubat.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap [*]: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al-Anbiyaa': 87)
[*]. Yang dimaksud dengan "keadaan yang sangat gelap" ialah didalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari."

Meski marah itu manusiawi, menahan amarah itu lebih utama. Apalagi dampak negatif marah bisa memicu hal-hal tak mengenakkan & perpecahan. Dalam Al-Qur'an disebutkan menahan amarah itu bagian dari karakteristik orang bertakwa, erat hubungannya dengan sifat pemaaf & bertaubat. Tak heran jika kita marah, sering diingatkan untuk beristigfar.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 133-134)

Nabi Muhammad SAW pun diuji dengan tingkah kaum yang mendustakan risalahnya. Namun bersabar adalah pilihan beliau. Allah SWT berfirman,
"Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." (Al-Qalam: 48)

Jika terhadap kemarahan yang berupa hal-hal besar saja dianjurkan untuk bersabar, apalagi untuk hal-hal sepele ya. Jadi malu deh. Padahal yang sepele-sepele belum tentu sesuatu yang sepantasnya untuk bikin marah. Duh, I'm in trouble... Aku masih termasuk orang yang susah mengendalikan marah. Tips-tips untuk meredakan marah banyak. Misalnya yang tadi saya baca bisa dibaca di sini. Namun, yang ingin saya tuliskan kembali di sini adalah jurus jitu meredakan marah yang to the point, bersumber dari hadis Rasulullah SAW, teladan yang sudah lulus ujian itu sendiri. Apa jurus-jurusnya? Ini dia:
  • Berlindung kepada Allah dengan membaca ta'awudz
Sulaiman bin Shurad ra. Berkata : aku duduk bersama Nabi saw saat ada dua orang saling mencaci  dan salah seorang memerah mukanya dan mengembang urat-urat lehernya. Maka Rasulullah bersabda : sungguh aku tahu satu kalimat yang sekiranya dibaca seseorang maka akan hilang apa yng dijumpainya. Sekiranya membaca اعوذ بالله من الشيطان الرجيم maka hilanglah apa yang dijumpainya. Maka mereka berkata kepadanya : sesungguhnya Nabi saw bersabda : berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk (HR. Bukhari)
  • Berwudhu'. Oh iya, postinganku jum'at 2 minggu lalu tentang wudhu', yang adalah sepaket dengan taubat.
Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya marah adalah dari syaitan, syaitan diciptakan dari api, dan api padam dengan air. Maka jika satu di antaramu marah hendaklah berwudlu. (HR. Abu Dawud)
  • Diam & menahan diri. Ini diam yang termasuk emas ya, sebab kalau gak diam malah suka kata-kata negatif yang keluar. Termasuk kategori "mengalah tak berarti kalah" ya.
Rasulullah saw bersabda : ajarlah, permudahlah dan jangan mempersulit (diucapkan 3 X). apabila engkau marah maka diamlah (HR. Dawud)
  • Duduk atau berbaring. Mencari posisi untuk menenangkan diri.
Rasul bersabda : bila satu di antaramu marah saat berdiri maka duduklah maka lenyaplah marahnya. Dan jika tidak lenyap maka berbaringlah. (HR. Bukhari)

Tips tersebut saya ambil sumbernya dari sini. Klik saja untuk membaca redaksi hadis berbahasa Arabnya & do'a panjang atau pendek untuk mengusir marahnya. Lebih banyak hadis tentang marah bisa dibaca di sini. Tips tambahan yang simpel bisa juga dibaca di sini. Tambahan tips yang sering kuingat dari Aa Gym, kalau marah ngaca saja: dijamin jelek, menyeramkan kayak monster, hehe... Aku juga sering merasa berbahaya kalau lagi marah tak terkendali. Biar pun suka ada orang gombal bilang, "kamu cantik kalau lagi marah" :p, tetap saja orang marah-marah itu bisa kayak monster menyeramkan. Kalau gak mukanya ya kelakuannya :P. Ada tips kreatif tambahan meredakan marah? Tambahin di komentar yaa... ;D.

“A man said to the Prophet: “Advise me.” He said: “Do not become angry.” The man repeated his request several times, and each time the Prophet said to him: “Do not become angry.”
[narrated by Abu Hurairah, -Fath al-Bari': 10/456]

Bacaan:
http://dakwah-2012.blogspot.com/2011/11/tips-jitu-dan-cara-meredakan-marah.html
http://ardiz.blogspot.com/2009/11/8-tips-meredakan-kemarahan.html
http://inuyashaku.wordpress.com/2010/09/10/tips-meredakan-marah/
http://islamgreatreligion.wordpress.com/2009/12/05/anger-10ten-ways-to-defeat-it/

Komentar

  1. Diperlukan kecerdasan emosional yang tidak sedikit untuk mereda kemarahan

    BalasHapus
  2. Memang jurus paling jitu Mak :)

    BalasHapus
  3. Iya, Mbak Wening. Ciat... Ciaattt :D

    BalasHapus
  4. marah kata sederhana. Namun efeknya begitu mematikan. Hiiii harus berhati-hati dan tips yang ok mbak

    BalasHapus
  5. Keliatannya sepele namun ternyata efeknya tidak sepele ya Mas Sandi...

    BalasHapus
  6. wah kalau saya agak sulit kak untuk meredakan marah hehehe :D
    btw bisa dicoba nih tips nya :)

    BalasHapus
  7. lebih sering diam pada saat marah ^^

    BalasHapus
  8. @Wahyu: Sama. Hehe... Tapi meski sulit kita ya belajar utk menaklukannya... Selamat mencoba :)

    @lone: Itu juga bagus. Daripada sekiranya berkata2 tak terkontrol :)

    BalasHapus
  9. kunjungan perdana ni..
    salam kenal dan sukses selalu ya..
    follback ya zon-go.blogspot.com

    BalasHapus
  10. Terimakasih Mak buat tulisannya. Selama ini memang sulit buat mengendalikan emosi dan meredakan amarah. Malah terkadang marah tidak pada tempatnya. Padahal Islam telah mengajarkan bagaimana kita memenejemen emosi dan marah.

    BalasHapus
  11. @Yoni: Terima kasih kunjungannya. Amiin, salam kembali

    @Sofia: Sama-sama Mbak. Ini sekalian lagi ngajarin diri sendiri :)

    BalasHapus
  12. saya sendiri juga gitu gan kalo lagi bad mud.. malah lebih parah ane tinggal tidur kalo gk bisa update blog karena internet ngadat :D

    BalasHapus
  13. butuh kesabaran tingkat dewa deh bisa menjelma sebagai sosok yang sabar karena godaan seperti itu gan.. hehe ditinggal liyat film aja deh klo ane :)

    BalasHapus
  14. @kiki: Wahahah... Kok mirip kayak aku? Aku jg suka senewen berat kalo internet ngadat. *Tepok jidat

    @rachmat: hm, iya... tingkat dewa yah. Kadang aku jg suka beralih nonton komedi yg lucu. Atau ditinggal nangis *yaelah! :p

    BalasHapus
  15. Selama ini berusaha meredam dengan diam mbak, jika sudah merasa ingin marah, memilihnya diam, dan berfikiran positif saja. Meski tak mudah, tapi berusaha berlaku gitu. Saya juga belajar tidak mudah sensi mbak, hal sepele kadang mudah membuat seseorang marah, saya berusaha menjaga sikap saya agar bisa menahan amarah yang mungkin bisa saja muncul. Selebihnya bisa dicoba caranya yang mbak sampaikan :)

    BalasHapus
  16. Bagus dong Mas Richo. Memilih diam juga bagian dari cara yang diajarkan Rasulullas SAW. *Katakanlah yg baik, kalau tidak, lebih baik diamlah saja.
    Diam memang masih sebentuk mencari ketenangan ya... Sebab kalau bicara terus kan berisik... hehe, apalagi kalau kata2nya pedas & panas. Kayak api memang, semakin gerah jadinya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh