Api Sejarah & Sang Pendobrak Sejarah [Wishful Wednesday #3]

"Bila Sejarawan Mulai Membisu, Hilanglah Kebesaran Masa Depan Generasi Bangsa." -Prof. Ahmad Mansur Suryanegara

Sudah rabu lagi. Saatnya Wishful Wednesday. Buku yang kuidamkan saat ini adalah Api Sejarah 1 & 2. Aku memang suka ketinggalan, bukan tipikal first readers. Alasannya karena penasaran sesudah menyimak bedah bukunya. Di sini aku ceritain panjang banget, gak apa-apa deh. Selain itu, juga dikasih bocoran akan terbit buku Sang Pendobrak Sejarah, karya Prof. Mansur berikutnya. Masih proses naik cetak, tapi aku udah penasaran duluan :D.
***
Senin, 17 Februari 2014, akhirnya kesampaian juga aku menyimak bedah buku bertajuk Sang Pendobrak Sejarah bersama Prof. A. Mansur Suryanegara, penulis buku Api Sejarah 1 & 2. Acara ini bertempat di ruang Audiovisual Museum KAA, sebagai salah satu dari serangkaian acara yang digelar dalam rangka Pekan Literasi. Semula bedah buku ini dijadwalkan hari ahad sebelumnya. Aku yang memang niat banget menyimak, sejak ahad sudah datang ke MKAA yang kemudian malah berakhir jadi jalan-jalan ke seputaran Asia-Afrika. Hari ini pun, kondisi kesehatan Prof. Mansur masih terlihat belum begitu baik. Meski talkshow berjalan lancar & mengalir hangat, suara beliau serak & beberapa kali terganggu tenggorokannya. Aku sungguh menaruh hormat & berterima kasih atas kesediaan beliau hadir meski kesehatannya agak kurang baik. 

Kenapa aku menantikan bedah buku ini, alasannya karena aku sudah lama mendengar booming buku Api Sejarah karya beliau, namun belum sempat membacanya & belum punya bukunya. Aku mendengar hal-hal menarik dari buku ini. Konon, ada banyak fakta sejarah yang dikuak yang jauh berbeda dengan versi buku-buku sejarah sekolahan, dst. Yang membuatku greget juga adalah, dulu sempat ada bedah buku ini sewaktu masih hangat baru terbit, bertempat di Masjid Salman ITB, yang notabene dekat dengan tempatku. Namun sayang sekali aku melewatkannya. Syukurlah, aku sempat menyimak kali ini.

Memang benar. Contohnya Daendels, yang kita kenal sebagai tokoh kejam yang bertanggung jawab atas kerja rodi membangun jalan Anyer-Panarukan. Berdasarkan riset Prof. Mansur, Daendels justru cenderung pro rakyat, katanya. Memang saat itu Belanda cenderung benci pada Perancis, tempat Daendels mengabdi. Iseng cek di wikipedia memang menarik (blah, malah lari ke wiki kan :p). Menurut versi Indonesia, memang ada kontroversi mengenai ini. Sementara di versi Inggris, gak lengkap, cenderung sama dengan yang kita kenal di pelajaran sejarah. Ini kutipan kedua versi wiki itu:

(klik gambar untuk memperbesar)
Menyimak perbincangan sejarah di sini, di sebuah ruangan bersejarah tempat Konferensi Asia Afrika digelar, sungguh membuatku bersemangat sekaligus membuatku merasa tolol sendiri. Aku seperti orang yang buta sejarah. Betapa tidak, yang berbincang adalah seorang ahli sejarah, juga audiensnya didominasi oleh lulusan & mahasiswa sejarah. Ah, bayangkan saja suasananya bagaimana. Aku jadi malu sendiri. Banyak hal menarik yang diperbincangkan. Ingin rasanya aku merangkum semua yang diperbincangkan, tapi tampaknya hanya sedikit sekali yang bisa kucatat. Sebagai pembukaan, Prof mengingatkan kebesaran Indonesia. Dari segi luas wilayah yang setara Eropa + Timur Tengah, hingga segala macam kekayaan alam maupun budayanya. Tapi kita yang besar ini senantiasa merasa kecil saja, apalagi jika dihadapkan pada bangsa Eropa yang negara-negaranya kecil, tak seluas Indonesia. Padahal para pahlawan kita dahulu yang memperjuangkan kemerdekaan, mereka adalah orang-orang besar, terlepas dari segala perbedaan pandangan dan haluan politiknya. Jika kita tak tahu sejarah kita sendiri, maka akan hilanglah identitas kita. Oh iya, BTW aku jadi tahu makna Irian yang berarti embun pagi. Indah. Tapi mengapa lebih senang disebut Papua? Padahal maknanya kurang bagus. Lebih bagus Irian.
suasana bedah buku

Karena ini di Bandung (di MKAA lagi!), Prof tak lupa menyinggung sekilas sejarah pengkotak-kotakkan kota Bandung oleh Belanda dahulu. Jika dicermati memang dulunya Belanda membagi Bandung menjadi wilayah-wilayah kelompok masyarakat agama tertentu. Bisa dilihat dari bangunan-bangunan rumah ibadah bersejarah yang terkotak-kotakkan, tak membaur satu sama lain. Tak lupa beliau mengkritik pemerintah kota dari masa ke masa yang seperti tidak menghargai sejarah itu sendiri. Sebut saja bangunan-bangunan bersejarah yang malah dijual untuk kepentingan bisnis, juga ketiadaan patung-patung pahlawan di kota ini (Contoh jelasnya Jl. Ir.H.Juanda, yang ada hanya huruf DAGO yang besar-besar itu). Monumen Bandung Lautan Api saja tempatnya masuk-masuk ke dalam, tidak di pinggir jalan raya. Entah dengan walikota yang sekarang, yang notabene seorang arsitek ahli. Tentunya tahu pentingnya sejarah beserta monumen-monumennya? Kita lihat saja nanti, usai beres pembangunan taman-taman & urusan lainnya :D.
menggambar peta dunia
Secara lebih luas, negara kita sendiri kerap menjual aset-aset milik bangsa kita kepada pihak asing. Kadang pengerukan kekayaan alam kita yang merusak ekologi juga atas nama devisa. Lambat laun, kita menjadi bangsa yang tak merdeka lagi. Kita hanya merdeka secara politik. Pemerintah yang demikian bisa dicurigai tak ngerti sejarah. Tak ada penjiwaan terhadap nafas sejarah, ketika segalanya hanya diukur oleh uang. Disinggung pula teknologi pesawat karya Pak Habibie yang tak ternilai, justru disia-siakan pada masanya. Spirit kemandirian bangsa yang bahkan diidamkan oleh Pak Harto pun tenggelam oleh urusan bisnis. Ada sindiran kepada presiden yang pernah mengatakan bahwa kita harus fokus terhadap masa depan, barangkali karena sejarah dianggap sekadar cerita masa lalu. Padahal masa depan adalah saat yang belum terjadi, sementara yang terjadi adalah masa kini. Esoknya, hari ini akan menjadi hari kemarin, dst, sesungguhnya saat ini pun kita sedang menjadi pelaku sejarah itu sendiri. Bukankah hidup ini adalah sekumpulan sejarah yang terus bergulir? Jika kita tak belajar dari sejarah (baca: pengalaman), kita bisa terjebak pada kesalahan-kesalahan yang sama, berulang-ulang. Ada seloroh (atau bukan?) menarik tentang presiden-presiden kita. Katanya pola kepemimpinan mereka bisa dilihat dari tanda tangannya (sayangnya Prof belum melihat tanda tangan SBY :D). Konon awal tanda tangan itu maknanya cita-cita kepemimpinan, tengahnya proses yang dijalani, akhirnya kesudahannya. Jadi tanda-tangan aja gak sembarangan, waspada ekornya jangan sampai mengarah ke bawah :D. Dilihat dari namanya juga bisa.

Sebenarnya ada banyak hal menarik yang diperbincangkan. Sayangnya, aku kurang pandai merekam & merangkumnya. Lebih lanjut, buku Api Sejarah kan katanya banyak bercerita tentang peran pejuang muslim bagi kemerdekaan kita yang banyak disembunyikan. Sejarah Indonesia yang beredar cenderung berbau deislamisasi. Di sini diperbincangkan para pahlawan muslim dari tanah Padang & Jawa, bagaimana pola pendidikan memengaruhi pola pikir & ideologi mereka. Ah, pokoknya seru... Banyak cerita tentang  PKI, Masyumi, tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Buya Hamka, M. Hatta, Syahrir, Soekarno, A. Yani, Soeharto, dll. Begitu pula tokoh-tokoh kyai yang sesungguhnya dahulu punya wibawa tinggi di mata penjajah. Penjajah malah takut sama kyai, apalagi yang ilmunya tinggi (sakti). Islam di Indonesia dahulu sangat dijiwai, bahkan dimasukkan nilai-nilainya ke dalam teks UUD 1945 & pancasila. Ingat bagaimana penjajah sulit menembus pertahanan daerah-daerah nusantara. Mereka hanya berhasil melalui persekongkolan dengan pribumi yang berkhianat & politik pecah belah itu. Apalagi Aceh, dulu Belanda sampai mengutus intel (Snouck Hugronje) buat menyamar menjadi muslim guna menyelidiki & mempelajari sistem & ajaran Islam yang kuat itu. Ehm, kalau mau dibandingkan dengan jaman sekarang jauh ya... Bahkan ustaz juga ada yang tak bisa jadi teladan dalam bersikap (tahu kan? :D).
sumber: wikipedia
Aku pernah sekilas mendengar tentang nilai-nilai Islam yang para pemimpin kita masukkan dalam bentuk simbol garuda pancasila. Di sini juga dibahas, bagaimana lambang garuda & bhineka tunggal ika itu malah serba di-Majapahit-kan. Lambang burung, dalam Al-Qur'an sesungguhnya disebutkan bahwa tentara Nabi Sulaiman AS terdiri juga atas burung. Lambang-lambang pancasila sesungguhnya juga Islami, hanya kemudian dijadikan lambang-lambang partai. Padahal bukan itu makna asalnya. Pohon beringin misalnya, ada makna filosofisnya. Banteng juga dari Sarikat Islam. Bintang di tengah melambangkan ka'bah. Yang lainnya berputar mengelilingi sebagai thawaf. Bahkan bendera merah putih juga terinspirasi dari Rasulullah SAW. Sekarang partai-partai Islam banyak memakai warna hijau, padahal hijau itu warna yang dipakai setelah kematian (merujuk surga, atau kain keranda). Euh, banyak fakta menarik. Jadi aku sungguh penasaran sama buku Api Sejarah, karena semua dibahas di dalamnya.

Ada pula cerita tentang para pahlawan wanita kita yang hebat. Ketika laki-laki sudah tak bisa berbuat apa-apa, kekuatan wanita bisa sangat mengejutkan. Tengok saja Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dll. Sesungguhnya dalam diri wanita ada sebuah simbol kekuatan besar yang tak dimiliki lelaki: rahim. Allah Sang Pencipta memiliki nama Ar-Rahiim. Ada keterikatan misterius antara perasaan wanita dengan-Nya. Ketika wanita dizalimi, lelaki yang menzolimi biasanya akan runtuh kesuksesannya. Ehm, jadi sebenarnya poligami itu tujuannya untuk melindungi wanita (pembatasan, bukan pelonggaran), bukan sebaliknya menjadi pembenaran buat lelaki kawin seenaknya. Sebab, dahulu wanita malah dianggap rendah derajatnya (semasa jahiliyah), lelaki kawin berpuluh kali juga bebas semaunya, tak ada aturannya. Padahal akad nikah itu adalah Mitsaqon Gholidzo (perjanjian yang berat), perjanjian atas nama Allah yang mensyaratkan mas kawin, saksi, & wali, bukan sesuatu yang main-main. Tanggung jawabnya berat sekali. Kok jadi nyambung ke sini? Serius, ini juga dibahas kok sama Prof. Mansur, hehe... Rasulullah SAW tidak berpoligami kecuali setelah isteri pertamanya wafat. Intinya, coba deh berkaca lagi sama biografi Rasulullah SAW. Prof. Mansur malah berseloroh, seandainya Soekarno dulu tak berpoligami... :D.

Jadi, memahami sejarah itu sangat penting. Jika toh sejarah banyak dipelintir & disembunyikan kebenarannya, adalah tugas bagi saksi & ahli yang memahami untuk menyuarakan kebenarannya, sama seperti fakta yang sedang terjadi saat ini. Dan setiap kita anak bangsa sangat perlu untuk memahami sejarah kita sendiri. Sejarah dalam bahasa Arab berasal dari kata Syajaroh, artinya pohon. Pohon yang punya akar, lalu bertumbuh untuk berbuah. Kalau akarnya lemah, kita mudah goyah, gampang tumbang. Ini berlaku pula bagi manusia sebagai makhluk. Rumi menegaskan, siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. So, jati  diri itu penting. Jika berkaca pada sejarah pejuang muslim terdahulu, umat muslim sekarang akan malu. Dalam sejarahnya, kekuatan Islam juga tercermin dari segi ekonomi, di mana pasar-pasar tradisional menjadi kekuatan ekonomi rakyat. Sebutlah ada Pasar Senen, Rebo, Jum'at, Minggu... VOC datang menghancurkan pasar Islam itu. Sekarang, pasar tradisional kalah pamor & tergeser oleh mall, supermarket & minimarket.

Jadi panjang begini. Padahal apa yang saya catat disini belum seberapanya dari bedah buku yang berdurasi skitar 2.5 jam itu. Inti dari kepentingan pemahaman sejarah itu adalah ruhnya, banyak pelajaran terkandung dalam sejarah. Bagaimana perjuangan para pendahulu kita dimaknai, sehingga kita benar-benar memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya, tak sekadar merdeka secara politik saja. Agar kita tak melupakan, betapa kejamnya penjajahan, apapun bentuknya. Itu sebabnya negara kita juga aktif dalam konferensi-konferensi internasional untuk kemerdekaan bangsa-bangsa, misalnya KAA. Teks proklamasi yang dirancang oleh pemimpin kita dahulu, singkat namun padat & dalam maknanya, menonjolkan pernyataan kemerdekaan bangsa.

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
-Pembukaan UUD 1945

Komentar

  1. Waaaahhhh...jadi pengen punya bukunya, kak. Pasti ber'ha' setiap kali mendapatkan kenyataan yg tidak seperti kt pelajari di sekolah ya, kak... :)

    BalasHapus
  2. Saya juga penasaran banget pengen baca bukunya, Mbak Sofia. Iya, sepertinya bakal banyak fakta yang mencengangkan :)

    BalasHapus
  3. Baru tahu ada buku ini. Jadi pengen baca juga. Segera masukin ke wishlist :D

    Semoga terkabul ya ^_^

    BalasHapus
  4. Oho, ternyata ada book lover yang belum tahu toh. Terbitnya udah lama kok nih buku. Asyik2... ada yg terprovokasi... hehe

    Iya, amiin... semoga bisa segera baca bukunya :)

    BalasHapus
  5. jadi intinya adalah banyak fakta2 sejarah yang di putar balikkan untuk kepentingan pihak2 tertentu. *sok tau* :p

    saya emang agak payah soal sejarah.. Susah ngingatnya :)

    BalasHapus
  6. Iya, memang begitu nyatanya. Buku ini bisa menjadi referensi tandingan melihat sejarah bangsa kita yang ternyata lain dari versi yang beredar.

    Saya juga gagap sejarah :(. Tapi jika ada buku sejarah bermutu seperti ini tentu saya ingin membacanya. Sedikit-sedikit belajar sejarah lagi, biar tdk kehilangan identitas :D

    BalasHapus
  7. waaa...keren, ada bedah bukunya segala :) semoga terkabul juga wishnya ya...

    BalasHapus
  8. Aku juga suka sejarah. Tapi ketidakpastiaannya kadang bikin frustasi, sebab, ya, sejarah ditulis oleh banyak pihak, dan yang mencuat atau dimuat seringnya sejarah dari mata sang pemenang.

    Namun satu hal yang tidak aku suka dari buku sejarah adalah, biasanya ditulis secara membosankan, heheh. Semoga buku ini tidak ya :p

    Well, semoga segera terkabul ya :D

    BalasHapus
  9. @Januar: Sama-sama.

    @Astrid: Iya, sekalian cerita bedah bukunya. Pikir2 lg, kok saya suka berpanjang2 sendiri cerita wishful wednesday-nya... Hehe

    @Jun: Itu salah satu sisi sejarah yg bikin frustasi ya. Dimana2 politik suka menyusup ya.
    Yah, kita harus buktikan dengan membacanya, apakah buku ini ditulis secara membosankan atau tidaknya...

    Amiin, semoga cepet dapat bukunya.

    Salam baca :)

    BalasHapus
  10. Waaaw, panjang banget ulasan WW-nya. Jadi penasaran deh sama bukunya.

    BalasHapus
  11. Wah, wishlistnya berat-berat ;)
    Udah lama juga pingin Api Sejarah. Harganya lumayan, ya.

    BalasHapus
  12. bukunya tebel bgt kayanya yah?
    tp jd pgn jg :)

    BalasHapus
  13. @Yvano: iya nih... Kok saya suka berpanjang2 sendiri yah jadi agak malu :D.

    @Rien: Beratkah? Sebenarnya wishlistku campur2 kok... Byk jg buku anak2, hehe. Cuma blm diceritain aja. Harganya lmyn, msh dkt2 100rb, tp coba aja ntar di pameran buku yg ada diskonan :D.

    @Nathalia: Lumayan tebal, tapi byk buku yg lebih tebal dr ini ko. Mknya dibikin 2 buku, biar gak ketebelan :D.

    Yeay... Jd byk yg penasaran :D

    BalasHapus
  14. ehmmm ... suka buku buku sejarah ya? atau juga hal hal yang berbau sejarah ya? klo gitu sama dong dengan saya hehehe...

    salam

    BalasHapus
  15. Hm, sebenarnya interestku banyak. Sejarah hanya salah satunya. Tapi itu tak berarti aku udh byk baca buku sejarah. Sebaliknya, pengetahuan sejarahku masih cetek. Tapi tak bisa kupungkiri jg, sejarah memang menarik :D. Ke depannya pengen baca2 sejarah juga...

    Salam kembali :)

    BalasHapus
  16. sang pendobrak sejarah tahu dari IBF si Senayan, Api Sejarah tahu dari buku GARA_GARA INDONESIA historivator Indonesia, q beli di IBF, tp buku2 ini blm ketemu. aku paling suka sama sejarah seperti cerita apalagi ini nyata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, kemarin di IBF gak ada? Aku malah akhirnya jadi juga beli bukunya, kemaren di Pesta Buku Bandung awal maret :). Tinggal dibaca, yeay :D

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

Happy Yummy Journey, Perjalanan Traveler Perempuan Korea Pecinta Durian Mencari Tempat-tempat Membahagiakan