Ujian Oh Ujian



“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu [435] supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (QS Al-Maidah: 96)

[435]. Allah menguji kaum muslimin yang sedang mengerjakan ihram dengan melepaskan binatang-binatang buruan, hingga mudah ditangkap.

Ujian itu ada yang sulit, ada yang mudah. Jika seorang siswa ditanya, “Bagaimana ujiannya?” Jawabannya pada umumnya tersirat di wajahnya saat menjawab. Jawaban “Susaaahhh” biasanya tereksperesikan dengan muka masam, getir, cemberut, manyun, dan sejenisnya. Jawaban “Gampang banget kok!” biasanya disertai ekspersi sumringah, ringan, santai. Susah dan mudah adalah kata sifat yang bertentangan yang pengekspresiannya juga bertolak belakang. Namun, susah atau mudah dalam ujian tetap saja namanya ujian: sama-sama bertujuan menguji. Pun demikian halnya ujian dalam kehidupan.

Dalam kehidupan ada orang-orang yang diuji dengan kesusahan, ada yang diuji dengan kemudahan. Bedanya, kata ujian sudah cenderung identik duluan melekat dengan kata sifat susah. Adapun yang mudah, biarpun itu ujian, takkan terlalu terasa sebagai ujian. Sesuai sifatnya, susah identik dengan berat, sehingga lebih menekan, lebih terasakan. Sebaliknya, mudah identik dengan ringan sehingga cenderung tak terlalu terasakan. Namun jangan salah, ujian yang terlihat mudah belum tentu lebih mudah dilalui daripada yang susah. Masing-masing punya tantangannya sendiri. Soal ujian yang terlihat mudah, misalnya, bisa saja sebenarnya berpotensi menggelincirkan jawaban seorang siswa ke arah yang salah jika mudahnya itu malah membuatnya menyepelekan, ceroboh dan kurang teliti. 

Kata siapa ujian kemiskinan itu lebih berat daripada ujian kekayaan? Kata siapa ujian sakit itu lebih berat daripada ujian nikmat sehat? Semuanya berpulang pada masing-masing pribadi. Ada yang barangkali dalam kemiskinan ia malah giat berusaha & tak lupa tawakkal pada Sang Pencipta. Ada yang mungkin dalam kelimpahan hartanya ia malah jadi terlena & lupa kepada Dia yang memberi rizki. Ada yang diuji sakit malah itu menjadi jalan buat ia lebih mendekatkan diri kepada-Nya & menjadikannya orang yang sabar. Ada yang diberi sehat malah lupa itu sebuah nikmat & lupa mensyukurinya. Ada macam-macam. Paradoks senang main-main di dalamnya.


Ada banyak skenario unik yang Tuhan ciptakan di kehidupan ini buat menguji kita. Ada hal-hal yang dilarang-Nya tapi malah dibuat dibuat menarik, mudah, dan nikmat. Ada hal-hal yang perintahkan-Nya tapi dibuat berat, susah, dan tak enak. Ayat yang dikutip di atas dapat menjadi salah satu contohnya. Ketika melaksanakan ihram, diharamkan membunuh binatang buruan. Ayat tadi malah mengabarkan dihadirkannya ujian dengan kemudahan mendapatkan binatang buruan. Banyak pula ayat-ayat yang lain menghadirkan contoh-contoh ujian. Ada ujian dengan sesuatu yang semacam kelaparan, ada juga ujian dengan harta, perempuan, bahkan anak-anak. Banyak yang mungkin tak kita sadari, hal-hal di sekitar mengandung ujian buat kita di dalamnya.

*Tiba-tiba jadi ingat seorang teman perempuan. Ia pernah berkata kepada saya yang berjilbab bahwa dia benci orang berjilbab (tapi kita berteman, maksud dia secara general). Saat itu ia punya pacar yang berlainan keyakinan. Suatu hari ia bercerita, “Aku udah nyobain makanan di cafe anu lho, ada daging babinya. Aku  nyobain, enak lhoooo...” Dan dia seorang muslim. Gubrak deh! :’(


Komentar

  1. semoga kita lulus ujian yang tampak susah, lulus pula ujian yang tampak menyenangkan.

    BalasHapus
  2. Amiin... semoga senantiasa dibimbing agar lulus ujian...

    BalasHapus
  3. Ujian itu tanda kalo DIA melihat keberadaan kita, dan yakin kita bisa melewatinya..
    amin
    :D

    BalasHapus
  4. Amiin... Semoga jadi pengingat terus buat kita, apapun keadaannya. Salam :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis