The Best



“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al-Kahfi: 7)


Yang terbaik. The best. Dalam tata bahasa, kata sifat baik itu bertahta di piramida tertinggi tingkatan perbandingan. Tak cuma baik, lebih baik, apalagi kurang baik. Tak heran kita sering dengar kalimat motivasi, “do your best!”, lakukan yang terbaik yang kau bisa. Sementara kata “better”, lebih baik, seringnya teriring dalam do’a atau harapan, seperti: “I hope you’ll be better”, “semoga bisa lebih baik ya...”. Meski ada juga kalimat perintah atau himbauan, “make it better”, buatlah yang lebih baik. Tapi kok kalimat itu sugestinya ke arah perkataan bos, pimpinan, guru atau dosen yang nyuruh tugas yang kita kerjakan untuk direvisi ya... hehe.

Saya kira, kata “best”, “terbaik”, lebih cocok untuk motivasi & dijadikan prinsip melakukan segala sesuatu, selama lingkupnya kebaikan. Terlepas dari kapasitas dan kondisi seseorang yang berbeda-beda beserta berbagai faktor yang melingkupinya, melakukan yang terbaik sebisanya mengandung kekuatan menggerakkan. Kalaupun posisi orang itu sedang di bawah, melakukan yang terbaik (sebaik-baiknya) mengandung energi yang menggerakkan roda kehidupan itu. Konsekuensinya, meski hasilnya mungkin saja tidak sempurna, satu yang jelas adalah pergerakan ke arah lebih baik. Sesuai dengan harapan to be better itu. Jika prinsip “do your best” sudah mendarah daging di diri seseorang, adalah hal niscaya secara bertahap dia akan terus lebih baik lagi & lagi, seiring waktu bergerak menuju “the best”. Ini berlaku dalam segala sesuatu yang dikerjakan, baik itu pekerjaan, pembelajaran, maupun kualitas ibadah spiritual.

Namun banyak orang masih belum menghayatinya. Biasanya terjebak sebatas rutinitas, tanpa memperhatikan kualitas. Bekerja, belajar, ibadah bisa saja sudah jadi rutinitas, namun tidak beranjak dari status “baik saja” menjadi “sebaik-baiknya”. Anyone can do that, but not everyone can do the best. Siapa saja bisa melakukannya, tapi tak setiap orang bisa melakukan yang terbaik. Ambil contoh di kelas. Semua bisa ikut belajar, tapi tak semua siswa melakukan yang terbaik dalam belajarnya. Atau berbisnis. Siapa saja bisa berbisnis, tapi tak semua yang berbisnis melakukan yang terbaik melayani pelanggannya. Atau beribadah. Siapapun bisa beribadah, tapi tak semua orang bisa khusyu’ menghayati ibadahnya.

Ada contoh lagi yang menggelitik. Pengamen atau seniman jalanan, tampaknya profesi ini siapa saja bisa melakukannya, termasuk yang suaranya jelek & tak ahli memainkan instrumen musik. Tapi kan mereka yang asal-asalan mengamen itu gimana mau disebut berseni ya? Bukannya menghibur, kadang suaranya bikin sakit kepala. Yang begini jangan-jangan cuma excuse biar gak disebut mengemis. Lihat bedanya dengan pengamen yang sungguhan seniman jalanan. Suaranya bagus, punya skill memainkan instrumen atau seni lain, & menghibur. Tambahkan sopan santun. Kalau yang dilakukan bisa terbaik begini wajar jika terjaring audisi bakat misalnya. Atau jadi aset pariwisata daerah yang menghibur, bukan cuma dapat receh & nyeseki jalan. Seperti usaha Walikota Bandung, Kang Emil yang merekomendasikan kepada para pengusaha hotel & restoran agar menampilkan talenta pengamen jalanan Kota Bandung. 

Potensi manusia jauh lebih besar dari yang mungkin kita pikirkan. Kalau tak melakukan yang terbaik, nyaman berbiasa-biasa saja rasanya mubazir. Lebih parah kalau asal-asalan. Ibaratnya seperti mengamen ngasal asalkan tak disebut ngemis. Luar biasa kan tak harus berada di puncak status keduniawian. Orang biasa-biasa jadi luar biasa kalau selalu melakukan yang terbaik dari dirinya.


lagu yang mengingatkan bahwa Dia memberi kita yang terbaik. Itulah motivasi terbesar kita untuk melakukan yang terbaik.

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis