Ilmu yang Kabur





“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah [1184]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Luqman: 27)

[1184] Yang dimaksud dengan "Kalimat Allah" ialah: Ilmu-Nya dan Hikmat-Nya.

Hari jum’at siang kemarin ada kicauan yang cukup menggelitik dari akun Trinity -The Naked Traveler di twitter: “I’m wondering berapa % khotbah yang kita dengerin di masjid/gereja?” Yah, setiap orang tentu punya jawaban sendiri, berapa ya? Ada yang jawabannya 0 persen. Hm, apa itu mengejutkan? Rasanya tidak juga, mengingat sering juga dengar pengakuan senada dari teman-teman lelaki tentang khotbah jum’atan. Malah suka ada yang waktu khotbah jum’atan muncul status fb atau kicaunya di twitter yang mengeluhkan, “Duuhh... ngantuuukkk...” :p 

Yaahh, meski demikian, saya masih berpikiran positif bahwa masih banyak juga yang mau dengerin khotbah dengan tingkat lebih dari 50%. Biasanya sih para pendengar setia ini memang pada dasarnya haus akan ilmu (agama) atau nasehat penyejuk kalbu. Yang persennya masih sedikit, sering alasannya karena bosan sehingga fokusnya teralihkan atau malah jadi ngantuk. Wah, kalau begini, perlu pengkhotbah super-ulung dong biar khotbahnya tak membosankan? Ada juga yang bilang khotbahnya itu-itu saja. Baiklah, tampaknya ini jadi PR baik buat pengkhotbah maupun buat jama’ahnya.

Entah kenapa tiba-tiba saya jadi teringat akan nasihat Ali bin Abi Thalib yang sudah demikian populer, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Sungguh benar bahwa ilmu bisa kabur kalau kita tak mengikatnya. Ini membuat saya bernostalgia dengan kenangan masa-masa mengaji di pesantren dulu. Dahulu sewaktu masih unyu-unyu saya sempat “keren banget” dalam urusan ikat-mengikat ini. Kini saya terheran sendiri dengan fenomena betapa rajinnya saya dulu mencatat penjelasan guru kala mengaji. Padahal tak ada yang benar-benar menyuruh saya melakukan itu selain nasihat Ali tersebut. Begitu detailnya perkataan guru saya catat, sampai-sampai pernah suatu kali saat pengajian kitab Irsyadul Ibad, di dalamnya ada sebuah cerita hikayat. Guess what? Saya bahkan menuliskan pula kisah yang lumayan panjang banget itu di buku catatan! Wow, dan tentu saja sampai pengajian keburu bubar, saya masih berkutat serius dengan catatan kisah itu :D. 

Saya ingat suka kesal kalau ada yang terlewat saya catatkan, atau kalau sayanya sendiri melewatkan karena ngantuk: tahu-tahu buku catatannya terhias corat-coret tak indah :p. Bukti otentiknya ada sampai sekarang, buku-buku penuh catatan yang sayangnya hanya mendekam di kardus usang berdebu. Yang mengerikan adalah kekhawatiran rusak dimakan rayap :(. Bandingkan dengan saya versi jaman kuliah: catatan banyak gak lengkap, malah termasuk golongan para langganan fotokopi catatan teman menjelang ujian, weks :P. 

Saya pikir, harus ada upaya dari para langganan ngantuk saat khotbah atau pengajian agar nasihat atau ilmu tak kabur sia-sia. Mungkin perlu variasi tempat jum’atannya? Atau, coba lebih memotivasi diri untuk mengamalkan nasehat-nasehat itu? Atau setidaknya, motivasi untuk menuliskan ilmu yang didapat dari sana, agar kelak tak lupa? Dengan demikian jadi tertantang untuk mencatatnya dalam hati, lalu pulang ke rumah dituliskan, lebih baik lagi ilmunya dibagikan.

Sekarang saya menyesal banyak yang saya lupakan dari apa yang didapat di pesantren :(. Namun selupa-lupanya, masih beruntung jika ada catatan masih bisa dibaca lagi. Saya jadi kepingin bikin blog baru, yang khusus mencatatkan pengetahuan yang didapat dari ngaji. Alangkah baiknya juga jika saya masih berkesempatan menyelamatkan catatan-catatan lama dari serbuan rayap. Sepertinya ide menarik :).

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis