Beatrice & Virgil

Beatrice and VirgilBeatrice and Virgil by Yann Martel

My rating: 3 of 5 stars


Ini buku yang mengejutkan. Agak ganjil dan kreatif. Unik. Awalnya narasinya cukup menarik. Dibuka dengan kisah seorang penulis novel terkenal bernama Henry & ide karya keduanya yang ternyata dicampakkan pihak penerbit. Cerita berkembang menjadi agak aneh, terutama ketika cerita monyet peraung bernama Virgil dan keledai sahabatnya yang bernama Beatrice mulai muncul. Kisah Beatrice dan Virgil ini ditulis sebagai kisah sandiwara yang masih sedang digarap oleh seorang taksidermis (pengrajin kulit binatang) yang meminta bantuan Henry. Meski aneh, awalnya kisah ini cukup menyenangkan juga, dan menimbulkan berbagai tanda tanya: adegan Virgil & Beatrice yang sedang membicarakan tentang buah pir. Bagaimana rupa, bau, tekstur, dan rasanya dibahas demikian detail. Deskripsi tentang buah pir ini membuatku tersadar bahwa sebelumnya aku tak pernah berpikir buah pir itu sebegitu menarik ketika dijelaskan dengan kata-kata. Baiklah, ini fun, tapi lalu cerita mau dibawa kemana? Pertanyaan itu juga yang menghinggapi benak Henry yang tak bisa mengerti jalan pikiran si taksidermis tua yang misterius dan tertutup.

Meski sebenarnya sejak awal sudah terbayang bahwa buku ini tentang Holocaust, seperti yang terkutip dari beberapa endorsment untuk buku ini, namun alurnya sulit ditebak bagaimana tepatnya tema Holocaust itu sedang diangkat oleh cerita binatang ini. Lalu simbol-simbol mulai merujuk pada maksud yang ingin diangkat si taksidermis, namun sejauh itu kisah Beatrice dan Virgil masih datar-datar saja, masih tak bisa ditebak kira-kira bagaimana endingnya. Lalu secara mengejutkan, kisah dialog Beatrice & Virgil yang selama ini asyik-asyik saja tiba-tiba berubah mencekam, hingga akhir. Dan kita pembaca disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang sangat serius tentang kengerian yang diangkat buku ini. Agh, aku jadi agak terguncang. Tadinya aku menikmati buku ini, tapi lalu aku tak pernah bisa menikmati cerita kesadisan. Tapi yah, mau bagaimana lagi, Holocaust kan memang sadis, tak terhindarkan.

Bagaimanapun, ini memang cara yang kreatif  dan beda untuk mengangkat tema Holocaust. Si taksidermis tua meminjam peristiwa holocaust untuk menyampaikan aspirasinya tentang kepunahan spesies-spesies binatang (apa kebalik ya? Aku tak terlalu ngerti yang mana tujuan pikiran si taksidermis gila ini). Membaca buku ini juga membuka sedikit wawasan mengenai taksidermi, perihal pernak-pernik pengawetan binatang, dideskripsikan dengan cukup mendetail. Selain itu, membaca buku ini menyadarkanku perihal sebuah tantangan penting dalam menulis: membuat narasi deskriptif. Seperti deskripsi buah pir itu misalnya, yang ternyata bisa jadi menarik dan memakan berlembar-lembar dialog. Atau seperti yang dilakukan Henry ketika menuliskan deskripsi suara raungan Virgil, juga ketika menggambarkan sosok Virgil dan Beatrice. Ada banyak detail mengagumkan yang ternyata bisa ditulis tentang sebuah benda biasa yang sederhana sekalipun. Dan karena realitas kadang tak terjangkau kata-kata, menggambarkan sebuah benda yang sederhana ke dalam sebuah narasi ternyata tak mudah juga. Mungkin karena ada banyak kesan yang kutangkap kala membaca buku ini, saya menyukainya.



View all my reviews
*Entah kenapa meski agak ga nyambung dengan ceritanya, tapi aku suka deskripsi tentang buah pir itu, jadi iseng-iseng aku kutip, hehe... penting ya :p. Yang jelas, aku lebih suka cerita buah pir daripada horor holocaust.

B: Jelaskan pir untukku. Seperti apa buah itu?
V: Bisa kucoba. Nah... Pertama-tama, pir mempunyai bentuk yang tidak biasa. Buah itu bulat dan gemuk di bagian bawah, tapi meruncing di bagian atas.
B: Seperti labu botol.
V: Labu botol? Kau tahu labu botol tetapi tidak tahu pir? Aneh sekali hal-hal yang kita ketahui dan yang tidak. Bagaimanapun, tidak, pir lebih kecil daripada rata-rata labu botol, & bentuk pir lebih enak dilihat. Pir meruncing secara simetris, bagian atasnya bertumpu tegak di tengah bagian bawahnya. Kau bisa membayangkan maksudku?
B: Kurasa bisa.
V: Mari kita mulai dengan bagian bawahnya. Kau bisa membayangkan buah yang bulat dan gemuk?
B: Seperti apel?
V: Tidak persis begitu. Jika kaubayangkan sebuah apel, akan kau lihat bahwa ukuran keliling apel itu paling besar entah di tengah buah atau di sepertiga bagian atas, bukan?
B: Kau benar. Pir tidak seperti itu?
V: Tidak. Kau harus membayangkan apel yang ukurannya paling besar di sepertiga bagian bawah.
B: Aku bisa membayangkannya.
V: Tapi kita tidak boleh terlalu jauh memaksakan pembandingan ini. Bagian bawah pir tidak serupa dengan bagian bawah apel.
B: Tidak?
V: Tidak. Sebagian besar apel duduk, ibaratnya, di atas bokong mereka, di atas tonjolan-tonjolan yang tersusun melingkar atau di atas 4 atau 5 titik yang menjaga apel itu agar tidak terguling. Setelah bokong itu, sedikit ke atas, terdapat sesuatu yang akan jadi lubang dubur seandainya buah itu adalah binatang.
B: Aku paham sekali maksudmu.
V: Nah, pir tidak seperti itu. Pir tidak punya bokong. Bokongnya bulat.
B: Jadi, bagaimana dia bisa tetap tegak?
V: Memang tidak bisa. Sebuah pir entah tergantung di pohon atau tergolek ke sisi.
B: Canggung seperti telur.
V: Ada masalah lain lagi tentang bagian bawah pir: sebagian besar pir tidak mempunyai lekuk-lekuk vertikal seperti apel. Kebanyakan pir mempunyai bagian bawah yang halus, bulat, dan rata.
B: Menawan sekali.
V: Memang benar. Sekarang mari kita bergerak ke atas melewati garis ekuator perbuahan kita.
B: Aku masih mendengarkanmu.
V: Sekarang masalah meruncing yang tadi kukatakan kepadamu.
B: Aku belum terlalu bisa membayangkan hal itu. Apakah pir berujung lancip? Apakah bentuknya seperti kerucut?
V: Tidak. Bayangkan ujung buah pisang.
B: Ujung yang mana?
V: Ujung bawah, yang kaupegang bila kau makan pisang.

.... ambil ujung bawah pisang biasa & letakkan di atas sebuah apel, sambil mengingat juga perbedaan antara apel & pir yang baru saja kuuraikan.
B: Pencangkokan yang menarik.
V: Sekarang haluskan, lembutkan garis-garisnya. Biarkan pisang itu melebar dengan santun saat bergabung dengan apel. Bisa kaubayangkan?
B: Rasanya bisa.
V: Satu detail terakhir. Di puncak paduan apel-pisang ini, tambahkan tangkai yang alot, tangkai yang benar-benar seperti batang pohon. Nah, kaudapatkan sesuatu yang mendekati pir.
B: Kedengarannya pir buah yang indah.
V: Memang benar. Warnanya, biasanya, kuning dengan bintik-bintik hitam.
B: Lagi-lagi seperti pisang.
V: Tidak, sama sekali tidak. Kuning pir bukan warna yang mencolok, sebam, ataupun pekat. Kuningnya lebih pucat & semi transparan, mengarah ke cokelat pasir, tetapi tidak kental, lebih cair, mendekati tekstur visual sapuan cat air. Dan bintik-bintiknya kadang berwarna cokelat.
B: Bagaimana penyebaran bintik-bintik itu?
V: Tidak seperti tutul-tutul pada macan tutul. Ini lebih menyerupai area-area gelap daripada bintik yang sebenarnya, bergantung pada derajat masaknya pir itu. ...
Sekarang kulitnya. Khas sekali, kulit pir ini, sukar digambarkan. Tadi kita membicarakan apel dan pisang.
B: Ya.
V: Kulit mereka halus dan licin.
B: benar.
V: Kulit pir tidak sehalus & selicin itu.
B: Sungguh?
V: Memang begitu. Kulit pir lebih kasar.
B: Seperti kulit alpukat?
V: Tidak. Tetapi, karena kau menyebut alpukat, bentuk pir agak menyerupai alpukat meskipun bagian bawah pir biasanya lebih montok.
B: Menakjubkan.
V: Dan mengecilnya pir di bagian atas lebih tegas daripada alpukat. Bagaimanapun, kedua buah itu kurang lebih sama bentuknya.
B: Aku bisa membayangkan bentuknya dengan jelas.
V: Tetapi kau jangan membandingkan kulit keduanya! Kulit alpukat berbintil-bintil seperti kulit kodok. Alpukat kelihatan seperti sayuran yang kena kusta. Pir ditandai dengan kekasaran yang tipis, halus, & menarik bila disentuh. Jika kauperbesar 100 kali, kau akan tahu seperti apa kedengarannya, bunyi ujung jari menelusuri kulit pir yang kering?
B: Seperti apa?
V: Kedengarannya akan seperti jarum pemutar piringan hitam memasuki salah satu larik. Retihan lincah yang sama, seperti terbakarnya ranting-ranting kayu yang paling kering & ringan.
B: Pir benar-benar buah yang paling indah di dunia!
V: Betul, betul! Begitulah kulit pir untukmu.
B: Apakah kulit itu bisa dimakan?
V: Tentu saja. Kita bukan sedang membicarakan kulit jeruk yang berlapis lilin dan alot. Kulit pir lembut & mudah digigit bila sudah masak.
B: Dan seperti apa rasa pir?
V: Tunggu. Kau harus membauinya dulu. Pir yang masak meruapkan keharuman yg encer & halus, kekuatannya terletak pada ringannya kesan yang ditinggalkan pada indra pembau. Bisa kaubayangkan aroma pala atau kayu manis?
B: Ya.
V: Aroma pir yang masak menimbulkan efek yg sama pada otak seperti rempah-rempah aromatik ini. Otak seperti tertawan, tersihir, & seribu satu kenangan & asosiasi dihamburkan ketika otak menggali dalam-dalam untuk memahami pikatan aroma melenakan ini--yang, omong-omong, tidak akan pernah ia mengerti.
B: Tetapi, seperti apa rasanya? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
V: Pir masak sarat dengan air yang manis.
B: Oh, kedengarannya enak.
V: Iris sebuah pir & kau akan melihat bahwa dagingnya putih berpendar. Berbinar dengan cahaya dari dalam. Mereka yang membawa sebilah pisau & sebutir pir tidak pernah takut kegelapan.
B: Aku harus memiliki pir.
V: Tekstur pir, kepadatannya, adalah masalah lain yg sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebagian pir agak renyah.
B: Seperti apel?
V: Tidak, sama sekali tidak seperti apel. Apel menolak dimakan, dia ditaklukkan. Kerenyahan pir jauh lebih menawan. Penurut & rapuh. Menyantap pir mirip sekali dengan... mencium.
B: Bukan main. Kedengarannya lezat sekali.
V: Daging pir mungkin agak berpasir. Tetapi ia seperti meleleh di dalam mulut.
B: Mungkinkah ada hal semacam itu?
V: Di setiap buah pir. Dan itu baru rupa, rabaan, bau, tekstur. Aku masih belum menceritakan cita rasanya.
B: Astaga!
V: Rasa sebuah pir yg bagus adalah sedemikian rupa sehingga bila kau memakannya, saat geligimu membenam dalam karunia yang dimilikinya, kegiatan itu menjadi sungguh-sungguh membelenggu. Kau tidak menginginkan apa pun juga selain menyantap pirmu. Kau lebih memilih duduk daripada berdiri. Kau lebih memilih sendirian daripada ditemani. Kau lebih memilih kehilangan daripada musik. Seluruh indramu, kecuali indra pengecap, menjadi tidak aktif. Kau tidak melihat apa-apa, tdk merasakan apa-apa-- atau hanya yang bisa membantumu menghargai keagungan cita rasa buah pirmu.
B: Tapi sebenarnya seperti apa rasanya?
V: Rasa buah pir seperti, seperti... >_<". Entahlah. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Rasa buah pir seperti pir itu sendiri.
B: Seandainya kau punya sebuah pir :(.
V: Dan seandainya aku punya, akan kuberikan padamu.
(Hening).

-Beatrice and Virgil, hal. 66-73

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]