di balik jendela

Garis-garis awan
membingkai langit di jendela. Sekelumit biru menyisa. Pada lembaran malam tempatku mengeja
tanda-tanda yang masih jua tiada.
Bintang-bintang sembunyi dari bingkai jendelaku. Hingga rindu yang paling rahasia
tak pernah tersingkap tabirnya.
Kuhela nafasku yang dalam. Biar udara yang paling malam
terisap ke dalam paru-paruku. Bersama segala keheningan yang jauh
dan misteri sepi yang entah, biar terlarut dalam darahku.
Biar saja aku begitu. Agar malam-malam tak lagi menghujaniku
dengan tetesan tanya yang merinai di udara
dari saputan awan yang terus terbingkai di jendela itu. Biar saja aku begitu.
Agar aku juga setitik entah
dari misteri malam yang membuncah. Lalu sebab aku entah, maka aku juga tanya. Jika pun aku tak pernah jawaban, siapa kan peduli lagi. Begitulah rinduku, dan tanyaku, dan diriku turut kubingkai di balik jendela. Lalu awan, langit, dan bintang (jika ada) adalah diriku juga.
Biar saja aku begitu. Melarut dalam uap tanya yang memusar. Dengan begitu segala tanya meleburkan sudut-sudutnya, dan melingkar manjadi satu. Menjadi aku.

*Januari 2013

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung