titik embun


Ada yang tak kumengerti
pada titik embun di pucuk-pucuk daun
tentang pagi yang rekah oleh matahari
terus terlahir kembali seperti bayi
waktu ke waktu, dari rahim kegelapan di perut malam
yang dicumbui dingin dan hujan
 

Ada yang tak kumengerti
pada bulir-bulir embun yang pecah
dan hilang
lalu pagi merangkak memanjati anak tangga waktu
lekas menua lalu mati
untuk dibangunkan lagi esok hari

Ada yang lebih tak kumengerti
pada bayi pagi dan si tua waktu
dan bulir embun yang diberi ruang
kenang-kenangan hujan semalam
Hari-hari yang kudiami begitu segar sehabis mandi
hujan dan matahari
sedang di suatu titik pada lingkar inkarnasi ini
aku membusuk sendiri.

*Taman Cilaki, 8 Desember 2012

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung