Botchan

Botchan: Si Anak BengalBotchan: Si Anak Bengal by Natsume Sōseki

My rating: 4 of 5 stars


Blak-blakan. Jujur. Polos. Menohok.
Covernya agak nggak matching sama isi bukunya. Ini buku bukan untuk konsumsi anak-anak (covernya menipu). Memang, diceritakan sedikit tentang masa kecil si Botchan yang nakal banget. Tapi seterusnya adalah cerita si Botchan yang sudah tumbuh menjadi seorang guru yang berkepribadian jujur, skeptis, tetap polos, simple-minded, cuek, dan masih tersisa pula sifat pemarah & arogannya. Dituturkan dengan gaya narasi sederhana (tanpa banyak gaya bahasa), mengingatkanku pada buku Jepang lainnya yang beru-baru ini dibaca, Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga), gaya tuturnya seperti bercerita dengan celetukan-celetukan sinis dari sudut pandang si Botchan. Menarik ketika guru baru lulus dengan kepribadian seperti ini ditempatkan untuk mengajar di sebuah daerah terpencil dengan murid-murid yang nakalnya juga kelewatan & menyebalkan. Ditambah dengan para guru lain yang masing-masing punya kepribadian khas: ada yang norak dan penjilat, yang sarjana ramah tapi ternyata serigala berbulu domba, yang jujur dan pemberani (agak mirip Botchan), ada juga yang pendiam dan terlalu baik dan tak melakukan apa-apa meski diperlakukan tidak adil, dst... Juga kepala sekolah yang pandai berpidato tentang pendidikan, tapi kata-katanya gak ada isinya :p. Tak ketinggalan pula tokoh menarik nun jauh di kampung halaman Botchan, Kiyo, pelayan setia Botchan yang berpikiran kuno dan melawan mainstream kebanyakan juga.

Si Botchan yang berkarakter berandalan ini juga menarik. Menyimak kisahnya membuat kita melihat banyak perbenturan, bagaimana yang keliatannya sangar malah berhati lurus, yang keliatannya ramah dan "berpendidikan" malah hatinya seperti tak berpendidikan. Dan bagaimana si Botchan menghadapi murid-muridnya yang bersekongkol dalam kekurangajaran? Meski awalnya cuek, ada satu titik dimana Botchan tak bisa mengendalikan kemarahannya, yaitu ketika para murid tersebut telah berbuat kurangajar, tapi tidak mengakui perbuatannya. Botchan menyebut mereka manusia-manusia pengecut:
"Pengecut! Kalau tidak bisa mengakui perbuatan yang diperbuat, sebaiknya tidak melakukannya. Mereka bersikap seolah tanpa ada bukti, mereka bisa terus berpura-pura tidak tahu. Pada saat masih di SMU, aku kadang-kadang melakukan kenakalan juga. Tetapi apabila ditanya siapa yang melakukan kenakalan, belum pernah aku bersikap pengecut dengan tidak mengakuinya. Berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab." -hlm.65

Akhirnya, kalau mau jujur, kemarahan dan kesinisan si Botchan ini tentang sifat-sifat manusia di sekitarnya memang adalah kenyataan pahit. Betapa sering ketidak-adilan terjadi di sekitar. Selepas baca buku ini, aku juga jadi ikut-ikutan merasa marah dalam hati. Karena kenyataannya, yah... apa boleh buat, orang jujur seringkali tersingkirkan. Ironisnya, setting novel ini adalah institusi pendidikan bernama sekolah. Tapi tetap saja hukum politik yang negatif berlaku di sini. Di sini terasa sekali aura "yang berkuasalah yang menang", tak peduli benar atau salah. Yah, dimana-mana kasus begini hal yang lumrah, mirisnya... :(
"...  mana ada ketidak-adilan seperti ini? Mereka membuat peraturan seenaknya, lalu menganggap itu layak. Berani betul mereka bersikap tidak tahu malu seperti itu. Aku benar-benar merasa diperlakukan tidak adil, tetapi menurut si Landak, betapapun kita mengungkapkan ketidakpuasan, bila itu dilakukan sendirian, takkan berhasil. Meskipun hanya satu atau dua orang yang protes, apabila itu sesuatu yang benar, mestinya bisa berhasil." -hlm.56
...
*tamat dalam keadaan marah ><"




View all my reviews

Komentar

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

Happy Yummy Journey, Perjalanan Traveler Perempuan Korea Pecinta Durian Mencari Tempat-tempat Membahagiakan