Kamus Khazar


My rating: 3 of 5 stars
Huff... Selesai juga akhirnya. Seperti kata salah satu endorsmentnya, baca buku ini seperti layaknya berlatih aerobik otak. Lumayan lelah, apalagi di awal-awal baca karena belum terbiasa dengan alur dan gaya tutur novel leksikon ini. Tetapi seperti halnya berolah raga, meski lelah namun jika tetap dijalani (dilatih) dengan sabar, akhirnya tubuh menjadi lebih teradaptasi dan menjalaninya dengan tekanan kelelahan yang semakin berkurang, bahkan mendapati adanya penyegaran. Begitulah pengalaman membaca buku ini yang saya rasakan.

Awalnya pusing-pusing baca buku ini karena narasinya sulit dicerna otakku yang juga masih kebingungan kemana dan bagaimana potongan-potongan cerita yang dipecah-pecah menurut susunan lema dalam kamus tentang bangsa Khazar ini bakal tergabung pada akhirnya menjalin suatu cerita novel yang utuh. Namun lambat laun, seperti susunan sebuah puzzle besar yang rumit, semakin terus dibaca semakin banyak pula potongan kecil puzzle menampakkan diri sehingga puzzle tersebut mulai mengambil sebuah bentuk konkrit yang tadinya seolah berupa potongan-potongan gambar abstrak. Mengenang kesulitan di awal itu aku jadi menyadari betapa kompleksnya buku ini. Memang benar, buku ini adalah sebuah puzzle sastrawi. Tak mudah ditebak gambar apa yang akan muncul pada akhirnya, sebelum kita benar-benar membaca keseluruhan potongan puzzle itu.

Dan karena ini puzzle sastrawi, narasinya juga tak mudah ditangkap maksudnya (setidaknya oleh saya) karena kalimat-kalimatnya jarang yang telanjang, bahkan banyak juga yang memakai jubah berlapis-lapis sehingga makna aslinya tidak akan kelihatan hanya dengan membacanya sekilas di permukaan. Apalagi di dalamnya memuat banyak mitos dan legenda terkait bangsa Khazar (abad 7 - 10) yang punah tanpa jejak, legendanya aneh-aneh pula. Tersusun atas 3 bagian dengan titik sentral yang sama, yakni tema besar tentang Polemik Khazar, 3 bagian tersebut memuat rujukan dari 3 versi sumber: Kristen (buku merah), Islam (buku hijau), dan Yahudi (buku kuning). Secara garis besar Polemik Khazar adalah suatu episode bangsa Khazar dimana Kaghan Khazar mengundang 3 ahli perwakilan dari Yunani (Kristen), Islam, dan Yahudi untuk menjelaskan mimpi Sang Khagan dan keyakinan agama masing-masing. Perdebatan ini yang akan menentukan perpindahan agama bangsa Khazar ke salah satu dari 3 agama tersebut. Menariknya, 3 versi sumber itu masing-masing mengklaim bahwa perwakilan agamanyalah yang menang dalam Polemik Khazar. Sepintas seolah-olah ketiga versi itu punya kisah yang berdiri sendiri. Namun, meski beda versi, jika kita membaca keseluruhan akan ada benang merah yang menjembatani ketiga buku itu. Antar tokoh-tokoh dari masing-masing sumber Kristen, Islam, dan Yahudi tersebut bahkan ternyata saling terhubung satu sama lain menjalin cerita yang sama.

Begitulah, ini buku yang kompleks menurutku. Di awal, ratingnya 2 bintang karena buku ini membuatku pusing. Seiring lembar demi lembar berlanjut, mulai buku hijau dan seterusnya, ratingnya naik jadi 3 bintang karena aku mulai tertarik dan penasaran. Akhirnya, tamat baca dan ternyata menarik juga (terutama tentang konsep spiritual para Pemburu Mimpi dan tentang penyusunan Kamus Khazar itu sendiri), serta atas kompleksitasnya itu, ratingnya antara 3 dan 4 bintang. Untuk sekarang ini, kurasa masih 3.5 bintang, pembulatan ke bawah karena masih ada kebingungan tersisa dan aku belum sepenuhnya paham lapis-lapis makna yang termuat di buku ini. Lagi pula aku agak tergesa membacanya, sedangkan buku ini sepertinya lebih cocok kalau dibaca dengan tenang agar ada ruang buat lebih menerawang makna-makna yang tersembunyikan dalam deretan kata-katanya. Someday mungkin, jika berkesempatan baca ulang kemungkinan besar ratingku untuk buku ini bisa jadi bertambah.


Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh