Javid Namah

Javid Namah: Kitab KeabadianJavid Namah: Kitab Keabadian by Muhammad Iqbal

My rating: 5 of 5 stars


Sebuah karya klasik yang keuren sekali... Javid Namah (Kitab Keabadian), karya yang dianggap sebagai "magnum opus" M. Iqbal ini merupakan yang ketiga dari trilogi tentang "The Self", Sang Diri, setelah Asrar-i Khudi (Rahasia Diri) dan Rumuz-i Bekhudi (Misteri Kediarian). Mengambil bentuk poetic drama, bertutur tentang perjalanan seorang penyair dari Bumi menziarahi daerah Bulan, Mercurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan "Di Luar Segala Daerah" hingga kemudian mencapai hadirat Ilahi. Sebuah karya yang lahir dari keprihatinan akan situasi umat Islam yang terpuruk dan tergerus arus modern Barat. Disini Iqbal menyerukan kebangkitan harga diri bangsa Timur lewat regenerasi pribadi-pribadi Muslim yang diawali dari kesadaran tentang hakikat diri insani (human ego). Melalui perenungan dan semangat membangkitkan kesadaran ruhani ini setap pribadi insan membuka potensi yang dianugerahkan dalam dirinya, melampaui batas-batas fisik, melejitkan diri ke tingkatan mulia yang hakiki, dimana sekat-sekat keterbatasan runtuh sama sekali. Mengambil inspirasi dari peristiwa Mi'raj, dengan Nabi Muhammad sebagai representasi insan yang telah mencapai tingkat spiritual tertinggi itu, yang menyinggahi ketujuh lapis langit dipandu Jibril, bertemu di tiap lapisnya dengan nabi-nabi terdahulu hingga akhirnya mencapai kebahagiaan tertinggi: perjumpaan dengan Hadirat-Nya. Disini tokoh penyair dari Bumi dinamai Zinda Rud yang bermakna Arus yang Hidup, menggambarkan pribadi yang penuh semangat pencarian filosofis dan perenungan. Dalam ziarahnya ke langit Zinda Rud dipandu oleh tokoh sufi terkenal, Jalaluddin Rumi, dan di tiap daerah planet yang disinggahinya ditemuinya tokoh-tokoh sufi, penyair, negarawan dari Timur, ruh dan dewa-dewa berhala kuno, dan sebagainya.

Dibuka dengan Prelude di Langit yang menggambarkan cacian Langit pada Bumi di hari pertama penciptaannya, seperti mengingatkan riuhnya makhluk-makhluk langit mempertanyakan "kemampuan" manusia pada awal penciptaannya, yang tak lain terdiri atas tanah dari bumi yang rendah. Lalu pada Prelude di Bumi, Rumi muncul menerangkan rahasia Mi'raj kepada Zinda Rud. Bahwa hakikat insan tak hanya sekadar lahir dari tanah lempung (yang bersifat ragawi), melainkan mensyaratkan sebuah kelahiran yang lain lagi, yakni pembebasan jiwa ke tingkatan yang lebih. Demikianlah kemudian Zinda Rud ditemani Rumi menziarahi planet demi planet, menembus batas-batas angkasa. Sebelumnya, pada bagian Doa, Iqbal sudah menyinggung-nginggung peranan insan yang diberi kepercayaan menjadi khalifah di bumi. Dari sini saja sudah membayang ayat-ayat Al-Quran yang merangkum perihal manusia dan tujuan penciptaannya, berikut hubungannya dengan Sang Pencipta itu sendiri. Pada perlawatan Zinda Rud di planet Mercurius, dibahas gamblang perihal pilihan kiblat ideologi Al-Quran yang unggul ketimbang komunisme dan kapitalisme. Disana bahkan ada penerangan tersendiri tentang Dasar-Dasar Dunia Quran: sebuah prinsip Qurani dimana kedudukan insan sebagai khalifah, posisi Bumi yang dikelolanya, sistem pemerintahan dan hikmah keilmuan dipertegas lagi.

Dan memang, disamping spirit yang diserukan Iqbal memanglah kebangkitan dengan kembali pada pedoman Al-Quran, pada bait-bait yang digubah dalam Javid Namah ini banyak pula Iqbal memakai diksi-diksi yang merujuk pada ayat Al-Quran, selain juga pada beberapa bait Masnawi-nya Rumi dan hadits Nabi. Selain itu, kerap pula diksi-diksinya mengambil nama, peristiwa, atau benda yang merujuk pada arti historis maupun simbolis, kadang mengambil pula dari kisah legenda kuno Timur. Ini menarik, menambah pesona kedalaman bait-bait puisinya yang beraroma sufistik ini.  

Membaca Javid Namah ini membangkitkan juga keterpukauan pada pesona AlQuran: jadi pengen belajar tafsir yang belum kesampaian. Dan juga membangkitkan "keinginbacaan" 2 karya terdahulu dari triloginya sebelum Javid Namah ini...

*Uhm, rasanya terlalu dangkal reviewku buat menggambarkan kedalaman Javid Namah ini.
Seperti yang dikatakan Ghalib, "Sulit untuk menjelaskan kepelikan ini dengan kata-kata". (hal.131)



View all my reviews

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung