Pekarangan

Seperti dedaunan yang melambai di pohon seberang jendela
rumah kita (atau yang begitu dulunya)
Kita menggantung kenang-kenangan di pekarangan
bersama tanam-tanaman sayur mayur pelengkap dapur
pepohon jambu, mangga dan pohon-pohon yang tak sempat punya nama
Kian hari kian rimbun daunnya
Begitu pun rumput-rumput buat kambing kita

Suatu hari, di musim yang membingungkan
Suara kambing tak terdengar lagi dari kandangnya
pohon jambu tinggal satu, pohon mangga tinggal dua
tanaman sayur entah kemana, (mungkin mati kekeringan)
Ketegaran yang tersisa hanya rerumputan
Kita pun saling menjauh dari pekarangan...

Lalu lembar-lembar tahun sungguhan melemparkan kita
pada wacana, rindu dan tanya,
hal-hal yang hilang di pekarangan
tempat tinggal angan-angan melukiskan bayangan
rimbun pepohonan kita yang tak punya nama
Seperti dedaunan, helai-helai usia berguguran
memeluk tanah pekarangan kita
Menjadi selimut waktu buat bertumpuk kenang-kenangan
yang masih jua
menggigil sembunyi di sudut-lekuk memori kita

Kadang, selubung itu sedikit tersingkap oleh rintik hujan
Kau tahu apa yang sering kutemukan?
Senyuman.
Keheningan.
dan permainan!
Itulah kau, rindu yang merangkum semua yang menghilang
Dan pekarangan kita, mungkin, tinggal menunggu waktu
menyulapnya jadi kepingan kenangan juga
Lalu tinggal rindu... (lagi!)

Sebab kita tahu pasti
yang menghilang tak kembali lagi


*Bandung, 9 September 2012




Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh