Gadis Jeruk

Gadis Jeruk: Sebuah Dongeng Tentang KehidupanGadis Jeruk: Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan by Jostein Gaarder

My rating: 4 of 5 stars


Ini buku ke-enam Jostein Gaarder yang kubaca. Masih ciri khas Gaarder, tokohnya anak lelaki berumur 15 bernama Georg Roed, dan melibatkan cerita dalam surat. Georg menerima sebuah surat yang ditulis ayahnya sebelum meninggal dari 11 tahun yang lalu. Dalam surat itulah ayahnya bercerita tentang Gadis Jeruk. Masih (atau memang selalu?) bertema filosofis, kali ini isu yang dikemukakan agak meremangkan bulu kuduk, sebenarnya. Mengenai sebuah pilihan berat, dan kesadaran bahwa kita di dunia ini, dalam dongeng yang menakjubkan ini, suatu saat akan tercerabut dari dalamnya, berhenti memainkan peran di dalamnya, dan berpisah dari tokoh-tokoh lainnya yang kita sayangi dan cintai.

Ada begitu banyak cara melihat keagungan kehidupan ini. Di antaranya, bisa lewat jalur filosofis, ketika segala yang ada tak diabaikan tanpa pemaknaan mendalam; bisa lewat celah sains, ketika pengetahuan membuka rahasia kecanggihan alam yang menakjubkan; atau bisa juga lewat kacamata polos anak kecil melihat dunia. Begitulah karya-karya Gaarder bercerita. Dunia Sophie dan Misteri Soliter bercerita dengan cara filosofis, Cecilia dan Malaikat Ariel melihat keajaiban hidup lewat tanya polos kekanakan, dan Maya bercerita dengan menggandeng perbincangan sains evolusioner. Gadis Jeruk bercerita, di sela-sela dongeng Gadis Jeruk, tentang keagungan kehidupan lewat teropong Teleskop Hubble yang disumbangkan sains untuk melihat alam raya di luar planet ini.

Secara keseluruhan, Gadis Jeruk bercerita dengan gaya lebih ringan dibanding Dunia Sophie, Misteri Soliter, dan Maya. Tapi muatan tersiratnya tidak bisa dibilang ringan juga. Eh, kenapa aku jadi senang membandingkan karya-karya Gaarder satu sama lain? Mungkin karena keunikannya yang 'serupa tapi tak sama': sama-sama filosofis dan bergaya cerita khas dan serupa, tapi masing-masing ceritanya unik dan berbeda. Membacanya aku bahagia :) 

Aku ingin mengutip narasi favoritku dari halaman 78 buku ini.

"Aku tidak ada keberatan apa pun soal make-up mata dan lipstik. Akan tetapi, kenyataannya kita ini hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekadar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan barangkali ada anak-anak laki yang matanya tak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola. Mungkin ada jurang yang lebar antara sebuah kaca rias kecil dan kaca teleskop biasa! Kupikir itulah yang disebut orang sebagai "masalah perspektif". Barangkali itu pun bisa disebut sebagai sebuah "pencerahan pandangan". Tidak pernah terlalu terlambat untuk mengalami "pencerahan pandangan". Tapi banyak orang menjalani seluruh hidup mereka tanpa menyadari bahwa mereka mengapung di dalam ruang hampa. Terlalu banyak hal yang terjadi di bawah sini. Memikirkan penampilan saja sudah cukup sulit."
....
"Aku hanya berpendapat itu tidak menghalangi kita untuk mencoba melihat sedikit melampaui ujung hidung kita".

Itu kata Georg, seorang siswa yang tertarik dengan alam semesta :)
***

Dan ngomong-ngomong, sekarang jika aku sedang memandangi bintang di langit malam, atau memandangi pemandangan alam, aku jadi teringat dengan salah satu narasi dari surat ayah Georg itu (hlm.192),
"Lihatlah dunia ini, Georg, lihatlah dunia ini ketika engkau belum menjejali dirimu dengan terlalu banyak fisika dan kimia."
Bukan berarti skeptis dengan perkembangan sains, karena sains membantu kita memahami lebih jauh tentang alam semesta. Namun, tidak ada alasan untuk menjadi sombong karena pencapaian sains sekarang. Sains memang ajaib, tapi apa yang diungkapkannya (alam semesta) sendiri jauh lebih ajaib. (Kau boleh meneruskan ke pernyataan lebih lanjut :))
Kalimat itu mengesankanku. Maknanya dalam, kurasa.


View all my reviews

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh