Gentle Madness: Sebuah Tulisan Kacau

Ada yang tercermati dari sebuah pertemuan kecil. Pertemuan spontan yang lantas kita rayakan tanpa perencanaan. Ah, rencana ya? Mendengar kata itu aku jadi ingin bertanya pada diri sendiri, "Hey, kau sebenarnya orang macam apa sih?". Bukankah di pertemuan itu salah satu dari kalian berkata, "Kalau kita sudah ngumpul begini, yang udah jarang-jarang banget bahkan langka bisa begini, mau jalan kemana kek, ga usah banyak mikir... Kita cabut aja, ga usah pake banyak rencana, langsung go jadi aja." Itu karena kita sedang bicara ngalor-ngidul tentang kenangan lama, sewaktu kita masih sering main bareng di satu komunitas, lalu ada momen-momen memeberadakan diri kita di tempat istimewa: alam terbuka. Dan mencipta kenangan bersama di sana. Lalu di sinilah kita hari ini, tahun-tahun telah berganti, kita mendapati diri kita bahkan sudah langka untuk saling bertatap-muka. Masing-masing punya kesibukan dan jalan sendiri-sendiri.

Aku jadi tergelitik oleh ide spontanitas yang menggoda itu. Akhir-akhir ini, tidak, sudah lama... terlampau sering aku menemukan kata "rencana", "perencanaan", "planning", apapun namanya... Mulai dari organisasi, pekerjaan, bahkan mimpi dan kehidupan pribadi konon semua perlu rencana. Lebih baik bikin rencana lalu gagal daripada gagal bikin rencana. Begitu katanya. Sekarang, kenapa aku jadi merasa kata "rencana" menjadi agak membosankan yah? Organisasi, pekerjaan, memang betul perlu rencana. Di luar itu, ada orang-orang yang kerap bertanya soal rencana pribadi di masa depan, juga rencana agenda akhir pekan. Oh, betul, tak bisa dipungkiri anjuran para penulis buku motivasi itu memang benar. Hal-hal kecil juga perlu direncanakan dalam rangka pencapaian hal-hal besar. Tapi, mendadak untuk lingkup pribadi, kata "rencana" jadi terdengar membosankan. Sebaliknya, spontanitas menjadi begitu menarik. Oh, apakah sekarang para psikolog akan menilaiku "punya kecenderungan disorientasi"? :P
Wartegg Test
Kuharap para psikolog tidaklah sekejam itu. Ngomong-ngomong, beberapa waktu lalu aku sempat curi-curi baca di Gramedia. Sebuah buku tentang penilaian tugas menggambar yang kerap jadi bagian dari psikotes. Soalnya aku penasaran kenapa ada saja tugas menggambar macam itu di setiap psikotes, dan dengan perintah yang sama, stimulus yang sama. Apa yang dapat mereka interpretasikan dari "lukisan" karya kita? Eh, ternyata sekilas-kilas baca, loncat-loncat halaman ada sekitar 30 menit, tetap saja aku ga bisa ngerti bagaimana kita bisa dinilai dari gambar yang kita buat. yah, mungkin aku memang ga bakat jadi psikolog aja kali, hehe... terlalu rumit buatku. Habis, beberapa penafsiran terkesan begitu kejam. Setidaknya sejauh yang bisa dipahami oleh pikiran awamku ini (Entah mungkin persepsiku salah, harus tanya sama ahlinya inimah). Misalnya, garis lengkung dimaksudkan untuk menstimulus agar kita menggambar sesuatu yang dinamis, bergerak, hidup, natural... Sebaliknya, garis lurus menstimulus agar kita menggambar benda mati, sesuatu yang mekanis, benda-benda macam gedung atau peralatan buatan manusia. Kalau kita menggambar kebalikan dari yang dimaksudkan oleh stimulus itu, kemungkinan ada "yang tak beres" dari diri kita... halah. tidak, tak sesederhana itu juga sih, penilaiannya kombinasi dari berbagai aspek, yang tetap saja tak bisa kumengerti, hehe... Tadinya kupikir, kalau suruh menggambar sih, itu sudah urusan seni, kreativitas. Dalam seni, semakin nyeleneh dan bersifat paradoks suatu karya dimunculkan, semakin menarik. Setidaknya menurutku. Walah, kalau aku berpikir sopolos itu saat ngerjain psikotes, bisa dianggap "punya kecenderungan penyimpangan mental" tuh... :P. Lagipula, aku ingat di antara beberapa psikotes yang pernah aku kerjakan, ada saja aku menggambar kebalikan dari yang dimaksudkan stimulus. Otakku error? tolong periksa lagi dengan seksama. Barangkali aku hanya memendam seorang seniman dalam diriku. Hahaha... :D
http://www.goodreads.com/book/show/791098.A_Gentle_Madness
Ngomong-ngomong, sebenarnya aku sedang ingin menulis apa sih? Kok ngelantur begini ya. Maka dari itu judulnya Gentle Madness. Bukankah orang gila biasa ngelantur? Tapi tak semua yang ngelantur itu gila :). A Gentle Madness, adalah judul sebuah buku karya Nicholas A. Basbanes, konon tentang Bibliophile, Bibliomania, para penggila buku. Entahlah, aku juga belum baca. Bukankah para pecinta buku seringkali disebut "gila buku"? Para shopaholic, workaholic, disebut "gila belanja", "gila kerja"? Mereka tak harus orang gila untuk disebut gila. Tapi mereka memang kurang waras saat berbelanja atau bekerja, hehe :D.

Baiklah, semakin ngelantur. Sekarang jadi bicara tentang kegilaan, padahal tadinya tak bermaksud begitu. Lihat saja paragraf awal dan kedua, ga nyambung sungguh. Benar-benar penulis yang buruk. Tak heran, ini akibat kelamaan vakum nulis. Dan terlalu lama jauh dari para juragan tulisan. Nggak apa-apa deh. Daripada ga nulis sama sekali. Ih, tapi mau diterusin juga sudah terlanjur kacau begini. Jadi malu. (Ye... malunya belakangan aja lah). Jadi, kesimpulannya kita perlu menghibur diri sendiri dengan satu-dua- atau banyak juga boleh, spontanitas yang mengasyikkan di tengah-tengah perencanaan yang serius-serius. Bah, nyambung lagi. Disambung-sambungin. Selain itu, kita perlu juga menghibur diri sendiri bahwa kalau kita dianggap gila, kita tidaklah sendirian... hehehe...

Kacau.


*Dorongan nulis yang aneh, 8 April 2012.

Komentar

  1. salam kenal dari hamparan kata, saya lupa gooling saat memilih nama ini :)ternyata sudah ada, dan nama saya muis, kebetulan juga :)

    BalasHapus
  2. Maaf keduluan kalau begitu :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]