Habibie: Kecil tapi Otak Semua

Habibie: Kecil Tapi Otak SemuaHabibie: Kecil Tapi Otak Semua by Andi Makmur Makka

My rating: 4 of 5 stars


Really like it.

Sejak awal, buku ini memang memaparkan potongan-potongan pengalaman menarik BJH yang diambil dari rentang masa yang cukup panjang, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, ketika menjadi mahasiswa dan bekerja di Jerman, hingga ketika masa pengabdian beliau di tanah air, saat menjabat sebagai menristek dan memerintah sebagai presiden ke-3 RI. Tidak disusun secara kronologis, melainkan dikategorikan berdasarkan tema yang berkaitan. Meski demikian, karena kategori tema pertama memuat tentang Masa Kecil, Mahasiswa, dan Dirantau, awalnya aku sedikit greget karena begitu sedikit informasi mengenai kisah hidup BJH pada masa tersebut yang terceritakan. Kenyataannya, aku ingin tahu lebih banyak. Aku merasa, penggalan-penggalan cerita yang disajikan di bagian awal-awal itu biasa saja, tak terlalu mengesankan. Yah, aku terlanjur tertarik dengan pribadi tokoh negara yang satu ini. Lain kali aku harus membaca biografi lengkap beliau. Lagi pula, buku ini kan hanya menyajikan kilasan-kilasan...

Namun, kesan biasa saja itu mulai memudar ketika tema kedua mulai kulahap, mengenai Kebijakan dan Gagasan. Bagian ini mulai menghidupkan keantusiasanku lebih jauh. Menyimak bagaimana cara pandang BJH terhadap pembangunan bangsa, bagaimana ide dan gagasan yang beliau kemukakan dan terapkan, menyedot perhatianku semakin dalam terhadap buku ini. Sesudahnya, aku bahkan tak henti membaca dan terus membaca hingga halaman terakhir buku ini. Satu tancap gas untuk sekitar 250 lebih halaman, ngebut :D.

Kuakui, aku tak begitu mengenal BJH dan belum baca satu pun buku tentangnya sebelumnya. Aku hanya mengenalnya sebagai seorang tokoh negara, dengan kejeniusan yang pengecualian, dengan prestasi internasional beliau yang membanggakan. Bukunya, "Detik-detik yang Menentukan", pernah nangkring di komputerku dalam bentuk ebook saat aku masih mahasiswa, dan tak pernah sempat kubaca, turut raib bersama PC yang digondol maling saat itu. Jauh sebelum itu, saat beliau menjabat dalam anggota kabinet pembangunan, sampai akhirnya diamanahi menggantikan Presiden Soeharto pada jaman reformasi 1998 itu, aku hanya seorang bocah SD yang mengenal Pak Habibie dari seringnya muncul di televisi. Tahun-tahun setelahnya, aku tak pernah punya passion berlebih terhadap topik politik. Tak tahu siapa beliau, namun anehnya entah kenapa ada perasaan respek terhadap tokoh yang satu itu. Ini jarang terjadi, mengingat dunia politik, plus orang-orangnya (meski tentu hanya oknum tertentu), sering bikin muak dan karenanya tak mudah untuk merasa respek terhadap tokoh-tokoh politik tanpa mengenalnya dengan baik. Membaca bagaimana gagasan dan pandangan serta pengabdian yang ditunjukkan BJH semasa pengabdiannya terhadap negara mengaminkan rasa respek yang kini lebih beralasan, dan menaikkannya menjadi "ngefans", haha.

Gagasannya mengenai falsafah pembangunan adalah sebuah konsep pembangunan yang didasarkan pada nilai tambah (added value). Karenanya, BJH memandang pembangunan SDM sebagai prioritas. Beliau ingin membangun ekonomi bangsa dengan memajukan iptek, dan caranya adalah dengan mendidik SDM kita sendiri dengan pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan. Ini berkaitan dengan sebuah visi jangka panjang masa depan bangsa yang masih berkembang. Butuh investasi yang besar untuk tujuan yang besar, dan butuh waktu untuk membuahkan outcome yang dihasilkan. Rupanya strategi pembangunan kompetitif inilah, yang pada masa BJH mengemban proyek Industri Strategis yang ditugaskan Pak Harto pada jamannya, yang seringkali jadi sasaran empuk kritikan dan tudingan para ekonom yang lebih cenderung pada pembangunan komparatif. Itu juga yang membuatnya dijuluki Mr. Big Spender...

Kejeniusannya dalam bidang engineering sih sudah menjadi rahasia umum. Tetapi yang mencengangkan, perhitungan dan prediksinya mengenai isu ekonomi juga terbukti jitu. Krismon pada 1998 adalah konsekuensi dari (salah satunya) kebijakan pembangunan ekonomi komparatif tanpa dipadukan dengan pembangunan kompetitif yang tampaknya sudah terprediksikan oleh analisis pemikiran BJH. BJH memang jenius sejati. Otaknya adalah kombinasi canggih keahlian matematis otak kiri sekaligus kreativitas otak kanan. Tak hanya punya gagasan, tapi juga mampu mewujudkannya ke dalam produk nyata. Kawan-kawannya di Jerman menjulukinya Mr. Crack karena ahli dalam bidang crack propagation pada struktur pesawat. Lalu di tanah air beliau dijuluki pula Mr. Cracker karena mampu menyeldiakan solusi atas masalah-masalah pembangunan yang diembankan kepadanya. Yah, seperti kata covernya, badannya sih kecil, tapi otak semua...

Anyway, kenapa jadi kepanjangan dengan topik yang serius? Buku ini menyajikan berbagai penggalan kisah dengan santai kok. Kebanyakan diantaranya malah kisah yang mengundang senyum. Di buku ini diceritakan tak hanya soal prinsip yang dipegang BJH, melainkan juga tentang pengalaman unik dan lucu, kehidupan sehari-harinya, kebiasaannya, kegokilannya, bahkan tentang meja kerjanya yang terkenal dan fenomenal (dipenuhi miniatur berbagai jenis pesawat). Semacam kumpulan mozaik kehidupan BJH yang di dalamnya ada nilai-nilai yang bisa kita ambil. Inspirasikah, hikmah, ibrah, atau apalah...

Mr. Crack, Mr. Cracker... apa pun namanya... I really like your style, Sir... :D



View all my reviews

Komentar

  1. Bagus sinobsisnya...
    Salah satu ciri orang jenius, suka menyendiri.

    BalasHapus
  2. Salah satu ciri orang jenius, suka menyendiri.

    Begitukah?

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon