Berhenti Sejenak di Dunia Anak-anak

Suatu hari di bulan januari.

Aku tengah mengalami saat-saat ketika lingkunganku sekali lagi mencoba mengubahku menjadi orang lain. Aku pernah mengalami ini sebelumnya di sebuah lingkungan lain. Kala itu, ketika kurasa diriku sudah cukup terlalu banyak "diubah" --yah, mungkin tepatnya belum diubah, tapi sudah cukup membuat diriku tak tahan dengan gejala perubahan yang semakin jelas-- aku sampai pada pemikiran bahwa aku harus segera melangkah, menjauh, pergi dari situ. Itu karena jelas-jelas aku tak berhasil melindungi diriku sendiri dari pengaruh luar yang menyerang. Tetap tinggal disana hanya akan semakin menguatkan perubahanku menjadi orang lain. Jika sudah begitu, aku khawatir aku takkan bisa mengenali diriku sendiri dan membuatku menjadi lebih asing lagi.

Ketika sekali lagi kualami ini, aku tengah demikian lelah. Lelah dan merasa rapuh. Emosi menguasai diriku. Bukan sebaliknya. Aku mulai melihat diriku yang asing. Ini gejala seperti yang kualami dulu. Sebuah pemikiran mulai menggodaku: haruskah aku menjauh lagi seperti dulu? Apakah sudah saatnya aku pergi?
Hingga kini pemikiran itu masih tersimpan. Aku tak tahu apakah ia tersimpan di wadah kaca, yang sewaktu-waktu bisa saja pecah jika sesuatu menyerangnya lagi? Aku tak tahu.

Suatu penghujung minggu di bulan januari.
Ketika hari-hari hanya berputar dalam rutinitas yang serasa tiada akhir. Ketika rutinitas demikian melelahkanku. Ketika sebuah pemikiran terperangkap dalam wadah kaca. Sebuah kesempatan menawarkanku untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang tiada akhir itu.

Setelah beberapa waktu tanpa kabar, aku menyambung kontak dengan seorang kerabat. Rupanya weekend itu sekolah tempatnya mengajar anak-anak PAUD hendak mengadakan acara di kebun binatang. Seorang kerabat lain dan puteri kecilnya akan turut serta, katanya. Jadi ia mengajakku untuk bertemu disana. Yah, kenapa tidak? Ini akan jadi mediaku keluar sejenak dari kelelahan yang menghajarku habis-habisan akhir-akhir ini. Ide bagus.

Dan ternyata itu ide yang memang benar-benar bagus. Aku bukannya tak mencoba untuk menghapus kelelahan dan emosi yang membayangiku di setiap ujung hari. Aku mencoba, dan aku semakin lelah karena ternyata aku tak pernah berhasil. Ide itu, terbukti dapat menghapuskan sejenak diriku dari ingatan rutinitas dan segala kelelahan itu...

Suatu penghujung minggu dan puncak kelelahan di bulan januari. 
Sabtu pagi, berbekal roti dan air, tak lupa ID card kantor yang mengantarku memasuki gerbang tanpa biaya, aku melenggang menyusuri anak-anak tangga menuju area kebun binatang. Kucari dimana gerangan rombongan kerabatku, namun selama beberapa waktu belum juga ketemu. Sambil mencari, kulewati beberapa spesies unggas seraya mengagumi keanekaragaman dan keunikannya. Mengunjungi kebun binatang tak pernah membosankan, kukira. Ada saja informasi dan kekaguman baru tiap kali mengunjunginya. Meski jenis-jenis binatang yang ada persis sama dengan terakhir kali aku berkunjung kesini, aku mengamati dan melewatinya dengan ketertarikan yang tidak berkurang seolah-olah aku baru melihatnya untuk pertama kali. Mungkin sebagian disebabkan karena spesies-spesies itu tak setiap hari dapat dilihat di sekitar. Sebagian lagi disebabkan juga karena aku kurang pandai menghafal. Jika hari ini aku melihat dan mendapat informasi apa nama dan jenis spesies-spesies itu, besoknya, bahkan beberapa jam kemudian aku sudah lupa lagi dan takkan mampu menyebutkan spesies apakah itu. Payah, tapi tak apa. Kelemahan macam ini dapat juga membuat dunia ini tampak senantiasa misterius dan luar biasa, bukan? Excuse macam apa tuh, hahaha. Yah, setidaknya dunia takkan semembosankan kalau kita tahu segala hal dan hafal semua hal yang pernah kita tahu :D.

Ah, kenapa jadi membicarakan spesies? yah, tak apa, kita kan sedang bertualang di kebun binatang. Tetapi sebenarnya, bukan binatang yang hendak aku bicarakan dan amati disini. Aku justru mengamati para pengunjungnya...

Perlu beberapa waktu untuk bertemu rombongan kerabatku. Jadi aku mencari sambil berjalan kesana-kemari, sesekali menggigit bekal roti yang kubawa dengan perasaan bebas. Disini, sekarang ini akhirnya aku mampu menghapuskan kelelahan dan mengucapkan selamat tinggal pada rutinitas meski hanya sementara. Lalu akhirnya aku bertemu dengan kerabatku dan rombongan murid PAUD beserta para orang tuanya.

Sementara menunggu kerabatku menunaikan tugasnya sebagai guru di acara sekolah itu, aku menemani kerabatku yang lain dengan puteri kecilnya yang baru sebelas bulan berkeliling. Usia sebelas bulan masih kurang asyik untuk diajak keliling kebun binatang sebenarnya. Tetapi aku mengamati si kecil ini begitu antusias ketika melihat-lihat kera dan anaknya. Dia tertawa-tawa dan mata beningnya berbinar-binar. Melihat hewan lain tak seantusias itu, bahkan gajah yang besar sekalipun. Aku hanya bisa menebak-nebak apa yang dipikirkannya lewat mata beningnya yang polos.

Acara sekolah itu cukup lama juga. Jadi kami memutuskan untuk mengajak si kecil memasuki area bermain. Area bermain yang sangat sederhana, berisi permainan yang biasa ada di sekolah-sekolah TK. Masuknya hanya 2000 rupiah. Ada ayunan kecil dan besar, perosotan, kursi-kursi berputar, kuda-kudaan goyang, jungkat-jungkit, dan panjat-panjatan. Kebanyakan catnya sudah mengelupas, ada juga yang karatan dan sudah tak berfungsi. Kami mencoba menghibur si kecil dengan naik ayunan, kuda-kudaan goyang, dan terakhir jungkat-jungkit yang cukup antri penggunanya. Lama juga kami disana. Si kecil tampak senang dengan permainan-permainan itu dan tertawa-tawa. Aku juga senang naik permainan-permainan itu, hehe. Aku mengamati banyak juga pengunjung yang masuk area permainan yang 'sangat biasa' ini.

Kebanyakan 'customer'nya berusia sekitar PAUD dan TK, dengan para orang tua mereka yang mengantar. Anak-anak usia TK yang aktif main-main sendiri dengan teman-temannya. Anak-anak yang lebih kecil mencoba aneka permainan didampingi orang tua mereka. Para pengunjung bergembira. Aku juga gembira. Yang paling menghibur adalah pasangan muda suami-istri dengan puteri kecil mereka. Mereka main jungkat-jungkit dengan gembira, dengan puterinya di pangkuan. Aku senang melihat mereka seperti anak-anak, gembira dengan permainan-permainan 'biasa banget' yang biasanya bagi orang dewasa ga menarik dan bosan. Aku juga membayangkan pikiran anak-anak ketika bermain-main disini. Semuanya menyenangkan. Permainan-permainan yang karatan ini membawakan kebahagiaan sederhana khas anak-anak yang alami. Tanpa campur-tangan kemewahan dan semacamnya.

Detik-detik terakhir kami berjalan-jalan sedikit lebih jauh. Dari tadi kami hanya berjalan-jalan tak begitu jauh dari area acara sekolah. Lagi pula kerabatku kecapaian karena sambil menggendong. Kami menemukan lagi area-area bermain yang lain yang secara fisik terlihat lebih menarik (dan tiketnya lebih mahal tentunya). Ada balon air dan semacamnya, kereta-keretaan, dan akhirnya ketemu komidi putar. Kerabatku tampak antusias dengan komidi putar ini. Menurutnya, si kecilnya pernah naik komidi putar dan begitu senang. Lagi pula disini murah, hanya 2000 perak dan cukup kenyang berkali-kali putaran. Jadi begitulah, sekali lagi aku membayangkan pikiran anak-anak, dan naik komidi putar dengan tunggangan macam-macam bentuk hewan yang menarik. Aku naik kuda nil, si kecil naik ayam, lalu whuzzz... kita terbang ke negeri awan... hehehe... Imajinasi anak-anak yang tak terbatas itu...

Aku ingat samar-samar pernah naik komidi putar waktu TK. Dan ngomong-ngomong, melihat antusiasme pengunjung dan anak-anaknya melihat-lihat aneka binatang disini aku jadi ikut senang. Mengamati para pengunjung memunculkan tebak-tebakan atau dugaan seperti: Para orang tua itu tentunya menyempatkan waktu di weekend begini di sela-sela kesibukan bekerja untuk menyenangkan anak-anak mereka. Anak-anak begitu antusias melihat-lihat binatang, lagipula bagus untuk menambah wawasan mereka. Ada juga para remaja yang tampaknya memang berkunjung untuk kepentingan tugas sekolah. Mereka sih, kurang menarik buatku :D. Adapun para orang tua sebagian ada yang terlihat sama antusiasnya melihat-lihat binatang, ada juga yang terlihat gembira karena melihat anaknya gembira. Suasana ini sungguh menyegarkan. Sebagian orang dewasa bahkan terlihat memunculkan kembali jiwa kanak-kanak mereka... Kukira aku takkan keberatan, bahkan dengan senang hati menjadi anak-anak tiap kali berkunjung kesini. Lagipula aku tak ingat pernah kesini saat usiaku masih beneran anak-anak...

Acara sekolah usai, makan siang di atas tikar dengan lingkungan alami seperti ini... Refreshing yang benar-benar ok. Mengamati anak-anak di sekitar ada yang menangis karena terjatuh, ada yang hiperaktif manjat-manjat pagar kolam, lari kesana-kemari... Oh, anak-anak ini menyenangkan, tapi aku tak bisa bayangkan pekerjaan guru TK atau PAUD seperti itu. Aku suka dunia anak-anak, tapi canggung bergaul dengan mereka :P. Hanya di benakku saja aku demikian mengagumi dunia kanak-kanak. Dunia yang polos itu. Murni tanpa kontaminasi. Alami. Manis sekali. Jiwa kanak-kanak adalah cermin yang baik untuk refleksi diri. Seperti itulah diri kita yang murni. Kita pernah, di suatu fase kehidupan ini, sama manisnya dengan mereka. Sama bebasnya dengan mereka. Suatu masa ketika belenggu-belenggu belum menguasai diri kita...

Semua ini mengabulkan keinginanku untuk sejenak berhenti dari pikiran-pikiran lelah akan rutinitas. Terima kasih para pengunjung kebun binatang. Terima kasih anak-anak. Perhentian sejenak ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga membantuku untuk menemukan diriku sendiri.      

Komentar

  1. Wow… keren sekali blognya..sangat menarik dan bermanfaat!
    Salam kenal, saya kak zepe
    Saya juga punya sebuah blog yang banyak membahas tentang langkanya lagu anak di Negara kita.
    Saya juga mempublikasikan karya2 saya lewat blog tersebut.
    Sudah ada 80an lagu anak.
    Mari berkunjung ke http://lagu2anak.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Terima kasih, Kak Zepe. Salam kenal.

    Senang mendengar ada yang begitu peduli terhadap kelangkaan lagu-lagu anak jaman sekarang. Akau akan berkunjung ke blognya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung