Petualangan Gila-tapi-keren Green Canyon

 Satu-dua-tiga hari pasca petualangan ini, aku dan teman-teman masih excited membicarakan  petualangan yang cukup gila ini di sela-sela pekerjaan kantor. Mungkin bagi sebagian orang yang sudah berpengalaman, petualangan di Green Canyon bisa jadi tidaklah "segila" itu. Tetapi mengingat aku, yang tak berpengalaman apapun dalam hal petualangan air, mendadak ikut nyemplung ke dalam derasnya arus Green Canyon, dengan kedalamannya yang belakangan kalau dipikir lagi "aku pastilah gila melakukannya!"... Belum lagi batu-batu karang yang berbahaya bagi yang belum tahu medan, serta bahaya lain yang "mengintai" di bagian air yang tenang. Masalahnya, kami semua, aku dan teman-teman, baru diberi tahu mengenai "hal-hal seram" itu setelah kami semua selesai bermain-main dengan tantangan yang ada, yang ternyata jauh lebih "seram" daripada yang kita kira... :P

Sebelumnya, pada Oktober selang 2 bulan lalu aku ikut perjalanan teman-teman Goodreads berpetualang ke situs megalith Gunung Padang, Cianjur. Tantangan yang harus ditempuh yaitu perjalanan melelahkan berjam-jam menuju lokasi yang mendaki plus kondisi jalan yang berbahaya. Setelah itu, kita masih harus mendaki 300-an anak tangga sebelum dapat menyaksikan situs peninggalan jaman megalitikum yang terletak di atas bukit. Kali ini, tantangan yang sama sekali lain aku temui ketika seminggu lalu mengunjungi Pangandaran bersama rekan-rekan sekantor dalam rangka Family Gathering. Tidak semua karyawan ikut, namun berhubung keluarga juga ikut serta (bagi yang sudah berkeluarga), total 20 bus disiapkan untuk transportasi. Berangkat tanggal 16 Desember pukul 11 malam lewat (kurasa pukul 00.00 bus baru berangkat), tersiksa oleh hawa dingin dan pegal-pegal, aku memaksakan diri untuk tidur selama perjalanan. Belakangan hal ini malah jadi bahan ledekan sengit buatku: "bisa-bisanya tidur dari awal hingga akhir dalam situasi seperti itu?" :P. Pagi tanggal 17 baru sampai. Aku dan 3 orang teman menempati satu kamar di hotel Pantai Indah Barat (we are the only girl participants in our company gathering :p). Pagi itu ngantuuukk banget (ngantuk lagi!), tidur awal-hingga-akhir di bus malah membuat sakit kepala, ditambah ga berkesempatan minum kopi, lengkap sudah ledekan buatku :D. Agak beranjak siang, kami diberi tahu teman-teman yang lain untuk bersama-sama pergi ke Green Canyon. Kami berkumpul di sebuah rumah makan, menunggu bus yang akan mengantar kesana. Kami menunggu disana sampai bosan dan kepanasan, bus tak kunjung datang. Sampai akhirnya kami kembali ke kamar hotel yang sejuk, dan zuhur terlebih dahulu. Setelah zuhur, kami diberi tahu untuk segera berkumpul lagi, rencana ke Green Canyon akhirnya jadi, dengan nyarter 2 buah angkot. Total 20 orang yang ikut (3 perempuan termasuk aku diantaranya), padahal tadinya ada lebih banyak yang ingin ikut, tapi gara-gara insiden nunggu bus itu akhirnya ada yang tak jadi.

Kekonyolan di dalam angkot tak usah disebutkan (haha :p), singkat cerita kami sampai di Green Canyon sekitar pukul setengah tiga. Kami memutuskan untuk menyewa 4 buah perahu (1 perahu max. 6 orang). Masing-masing berlima segera memilih perahu. Kelompokku ingin pelampung yang berwarna merah, jadi kami memilih perahu bercat merah bertulisan "GHAIRAH", begitupun dengan tulisan dipunggung pelampungnya, hahaha. Oh iya, sebelum sampai disana, kami semua mendapat wejangan dari bapak sopir angkot untuk tidak berkata "sompral", tidak menepuk-nepuk air selama di perahu, dan diberitahu hal-hal berbau mistik yang masih melekat di area Green Canyon.

Perahu mulai bergerak, dan berangsur-angsur kami mendapati tebing-tebing dan pepohonan yang mengelilingi sungai. Di perjalanan, Bapak Pemandu menawarkan untuk berenang begitu sampai di Green Canyon, hanya perlu membayar waktu tunggu perahu untuk satu jam. Deal, kami sepakat untuk menerima tawaran itu. Rasanya ga asyik kan kalau cuma berperahu saja, itupun perahu hanya bisa mengantar sampai karang pertama. Begitulah petualangan gila itu dimulai.

Perahu mengantar sampai karang pertama. Kami beranjak turun dari perahu menuju karang. Tetesan hujan masih lumayan sehingga membuatku kerepotan mengambil gambar pemandangan sekitar yang dikelilingi tebing menjulang. Sejak awal tak terpikirkan olehku untuk berenang dimanapun (meski ini liburan di pangandaran, yang notabene wisata air), dengan alasan tak bawa banyak bekal baju ganti dan, terutama, karena aku tak yakin bisa berenang, hehe... Kapan aku berenang dimanapun? Tak pernah! :D. Namun, kedua orang temanku yang perempuan menyatakan ikut berenang, mungkin tergiur oleh pesona petualangan di depan mata. Lagi pula, apa serunya cuma berperahu sampai sini, begitu saja? Sementara teman-teman yang lain pada seru bermain air? Dan aku? Mendengar itu kedalamannya 4 meter, spontan aku menolak ikut. Bagiku yang tak pernah berenang, itu terdengar menakutkan. Satu per satu teman-teman turun ke air, kusaksikan mereka semua dipandu oleh dua orang instruktur. Ada tali yang direntangkan dari lokasi karang ini ke karang berikutnya, dan mereka merayap dalam air berpegangan pada tali tersebut. Ketika semua orang telah turun ke air, Bapak instruktur "mengusir"ku dan seorang teman yang tak ikut berenang untuk kembali ke perahu. Begitulah peraturannya. Saat itu aku bimbang, hanya menunggu di perahu? Gak seru! Lalu, kalau pakai pelampung dan menyusuri tali, mungkin aku bisa melakukannya. Bapak instruktur mendesakku kembali ke perahu. Lalu kubilang, "tapi aku ingin ikut... susah gak Pak?" Si bapak hanya bilang, "kalau tidak yakin, sebaiknya jangan." Saat itulah aku harus segera ambil keputusan, karena si Bapak harus segera menyusul yang lain untuk lanjut mengarahkan mereka. "Baik, aku ikut... titip kamera." Kataku akhirnya. Aku sadar ini seperti keputusan gila semacam yang sering kubaca di buku atau artikel-artikel motivasi, hehe... "Kamu harus yakin dengan diri sendiri, fokus... konsentrasi mencapai tujuan, karena tantangan yang sedang diarungi ini benar-benar antara hidup dan mati". Lebay? Nggak juga... ini memang antara hidup dan mati kan? Kalau aku tak bisa menguasai diri dan hanyut, bagaimana? Kalau terbentur karang, bagaimana? Kalau tiba-tiba pelampung yang kupakai terlepas dan tenggelam, bagaimana? Ugh... benar-benar pikiran yang menyeramkan, jadi aku segera meyakinkan diri sendiri dan fokus menyusul teman-teman...


Ini pertama kalinya aku melakukan ini, berenang di kedalaman yang "katanya" 4 meter (belakangan, baru tahu bahwa ini tak sekadar 4 meter :p). Meski pakai pelampung dan menyusuri tali, aku tak tahu caranya berenang dan menyeimbangkan badan, hehe... Aku diberi instruksi seperti anak kecil yang baru belajar berenang oleh Bpk instruktur yang tampak geli... huhu, payah :p. Begitu sampai di karang selanjutnya, aku mendapat kejutan alias tantangan lain: tali berakhir disini! Padahal, untuk mencapai tempat teman-teman berkumpul di karang di depan, masih ada jarak yang harus ditempuh dengan berenang, dan arusnya juga menakutkanku. Tapi tak ada tempat untuk rasa takut (cieee...), sudah setengah jalan begini tak ada pilihan untuk kembali kecuali menyelesaikan semuanya sampai akhir. Jadi, kembali meyakinkan diri, dibantu Bapak instruktur, aku mulai bergerak meski kesulitan karena selain belum mahir, arus air senantiasa mencoba menghanyutkanku dan menggoyahkan keseimbanganku (setelahnya pun aku sering kesulitan melawan arus, konsekuensi berpostur kecil: dibilang aku bukan berenang, tapi melayang :p). Meski alon asal klakon, akhirnya aku sampai juga ke karang tempat teman-teman menunggu, disambut sorak-sorai pula, halah.

Dari sini petualangan dilanjutkan. Kadang pakai tali, kadang tidak. Kadang berenang, kadang menyusuri tebing-tebing karang di pinggir. Semuanya patuh mengikuti arahan instruktur, mengingat betapa berbahayanya medan (dilarang sok jago disini! Meski pandai berenang, tapi kau tak tahu posisi karang ada dimana). Bagiku sendiri, semuanya terasa lebih mudah (mudah?) setelah bergabung bersama teman-teman. Bukan medannya yang lebih mudah, mungkin lebih ke arah mudah secara emosional kali ya, mengingat kali ini aku melakukannya bersama-sama dengan yang lain dan tinggal mengikuti, plus sudah menjadi lebih terbiasa dengan medan dibanding pertama kali. Ada saat ketika kami harus menyusuri pinggiran tebing, ini terasa seperti sedang panjat tebing, tak begitu mudah juga medannya. Benar-benar harus berhati-hati, pegangan erat dan menapak pada ceruk-ceruk tebing. Kadang, karang yang kita panjatpun agak runcing, lumayan ga nyaman di kaki :D. 

Klimaksnya, kami sampai di area berarus lebih deras daripada sebelumnya, sementara kami berada dipinggirannya di atas tonjolan tebing. Dari sini, kami akan menyudahi petualangan dan kembali ke karang pertama tempat semula perahu menunggu. Caranya adalah dengan menghanyutkan diri dibawa arus yang mengalir ke arah tempat kita semula datang. Di sini ada yang memilih untuk terjun dari tempat yang lebih tinggi ke dalam arus, ada juga yang cukup loncat saja dari tebing terendah seperti kami yang perempuan, ada juga yang bertugas mengawal kami hanyut.

Sampai ke tempat perahu menunggu, kami foto-foto terlebih dahulu (cuma bisa foto diarea ini :'(, tak mungkin membawa kamera sambil berpetualang seperti tadi :p). Itupun, hasilnya tak ada yang bagus. Entah kenapa, foto-foto yang diambil di area ini selalu hasilnya buram (membandingkan dari beberapa kamera), wajah-wajah sebagian besar terdistorsi, tak jelas, minimal matanya menyala (mata kucing). Yah, ini masih misterius, tapi siapa tahu ada penjelasan ilmiahnya? Padahal foto-foto sebelum mencapai area inimah baik-baik saja. Di sini, instruktur masih menawarkan apakah hendak lanjut berenang sampai jarak tertentu sekeluarnya dari Green Canyon? Aku sudah kedinginan dan lelah, jadi naik perahu saja. Sebagian ada juga yang masih mau berenang sebelum akhirnya dijemput perahu. 

Guess what? Setelah itu semua, Bapak instruktur baru memberi tahu bahwa di air yang tenang itu, area yang diarungi perahu, adalah tempat yang dihuni buaya. Walaahhh... Kalau tahu begitu, kukira ga ada satupun yang akan mau lanjut berenang sekeluarnya dari Green Canyon :P. Bapak instrukturnya juga ngapain pake nawarin lanjut berenang segala kalau tahu ada buayanya? weleh-weleh... Buaya, itu juga yang menjadi alasan kenapa kita tak boleh menepuk-nepuk air selama berperahu, karena buaya tertarik pada getaran vertikal...

Begitulah petualangan gila nan seru di Green Canyon alias Cukang Taneuh yang ada di daerah Cijulang. Kalau tak nyarter angkot, angkot dari Pangandaran ke sana hanya sampai Terminal Cijulang, setelah itu naik ojek untuk sampai kesana. Kira-kira 1-2 jam perjalanan. Kala itu, air sedang naik. Aku tak tahu pasti berapa kedalaman yang sebenarnya, yang jelas ada yang mendengar saat kami bermain-main disitu, kedalamannya sekitar 7-8 meter... gedubrak! Bukan 4 meter ya rupanya :P. Benar-benar gila. Ada lagi informasi lain yang baru kami dengar dari instruktur setelah selesai berpetualang: Kenapa berenang disana harus dipandu instruktur? Karena banyak yang meninggal disana! Misalnya karena jatuh dari tebing atau membentur karang. Ada yang sok jago, tapi berakhir tragis juga karena tak tahu posisi karang, misalnya. Wah, seram benar... Ketika ditanya kenapa tak memberitahu ini semua sebelumnya, instruktur hanya menjawab, "Kalau dikasih tahu sejak awal, nanti pada ga mau berenang..." Halah...

Pokoknya aku sangat bersyukur dapat mencicipi petualangan seru ini, serta Alhamdulillah dapat melalui semuanya dengan selamat. Aku hanya mendapat pegal-pegal setelahnya dan bekas biru-ungu di lutut, mungkin didapat saat terpeleset ketika menuruni tebing, atau tak sadar terbentur karang? Entahlah, tak bisa bilang. Terlepas dari berbagai keseraman itu, wisata di Green Canyon ini benar-benar memuaskan, meskipun kami tak sampai terus ke guanya. Biaya 60 ribu/orang sudah puas banget mencakup semuanya (carter angkot, perahu, & berenang lebih dari 1 jam kenyataannya, hehe, dipandu pula). Tentu saja ini memerlukan juru tawar-menawar yang lihai :D. Wisata di Green Canyon paling mengesankan kukira, meski sebenarnya memang tak banyak tempat yang kukunjungi kali ini. Setelah makan malam di acara gathering malam harinya, aku menyusuri pertokoan berburu oleh-oleh. Esoknya baru main ke Pasir Putih. Waktu yang singkat, siangnya sudah perjalanan pulang lagi ke Bandung...

Komentar

  1. T'Euis, menantang ya menyusuri semuanya. Terbayang lelahnya terbayang karena asyiknya ke Green Canyon. Temen-temen FLP Jabar juga kesana, kita ngga diajak. Hehe :)

    BalasHapus
  2. iya Sri, cukup menantang :D.

    Wah, FLP Jabar kok ga ngajak-ngajak ya...

    BalasHapus
  3. aku udah pernah ke green canyon nyobain body rafting padahal akunya gak bisa berenang sama sekali
    modal nekat aja. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh... Sama dong, aku juga blm bisa berenang, tapi memberanikan diri nyemplung dlm petualangan air ini. Nekat... :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Hehe... Sepertinya nama yg mirip2 Grand Canyon itu malah lebih populer daripada nama aslinya yg sunda sekali... :D

      Hapus
  5. Jangan-jangan waktu terapung di atas air bisa tertidur juga.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mana bisa? Pingsan kali itumah :p

      Hapus
  6. Baru baca aja udah seru & deg-degan. apalagi kalo nyoba ya ngemplung ke green canyon, makin teras tuh serunya & deg-degannya.

    Salam kenal ya teh, punten teh ikut baca posting'y. Saya lagi nyari2 rekomendasi tentang green canyon. rencana'y pertengahan bulan Agustus sy mau kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca. Selamat berlibur ke Green Canyon ya... Semoga berkesan. Salam :)

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis