Sajak Melankolis


Malam meredam keramaian. Di antara dinding-dinding waktu
kusaksikan pagi menghapus malam.
Siang mengganti pagi. Siang menua
terpanggang senja. Senja menghangus dilalap tahta gulita.
Waktu berkejaran.
Di gerbang bulan sunyi mengintai.

Gelap dan terang. Tersisip kelabu juga.
Bayangan dirimu dibalik tirai jendela.
Kadang angin membisik bahwa kamu seperti hari yang sempurna
agar aku bisa menyerahkanmu pada waktu, apa adanya.
Karenanya aku bisa tersenyum, dan marah, dan kecewa,
dan menertawai kekonyolanmu pada saat yang sama.

Tetapi waktu tak bisa berhenti. Terus berganti-ganti.
Dan aku tak bisa protes pada bayangan.
Hitam - putih - kelabu - berwarna-warna.
Aku tak bisa menganggapmu pagi. Menjadikanmu siang,
atau senja, bahkan malam.
Kata angin, biarkan saja dirimu waktu.
Aku hampir setuju,

...

Kuputuskan dirimu batu.
Tak adil menamaimu waktu.
Sebab aku ruang, terlalu letih untuk menampung bayang-bayang.
Biarkan waktu berlalu-lalang.
berkejar-kejaran.
Di tiap persinggahan, sunyi mengintai
Bertirai bulan.

*kamar kost, 23092011; 0:14 
(Lagi nonton Friends)
 

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan