Omar Khayyam

Omar Khayyam (Hati Yang Tertawan Cinta dan Kebijaksanaan)Omar Khayyam by Harold Lamb

My rating: 3 of 5 stars


Hampir mengira bahwa novel (setengah) biografi ini terlalu fiktif, terutama di bagian tentang para pengikut Hasan Ibn Sabah (Kaum Assasin) dan benteng Alamut, sarang para pembunuh itu, di mana Omar Khayyam pernah terperangkap di dalamnya dan berhasil meloloskan diri. Sebenarnya kisah lika-liku kehidupan Omar Khayyam yang tidak biasa ini menarik. Kisah hidup tokoh termasyhur yang ahli astronomi, matematika, filsuf, sekaligus sufi ini demikian berliku. Tak hanya karena gagasan-gagasannya yang baru menurut jamannya dan aktivitasnya mempelajari ilmu duniawi karya para ilmuwan Yunani membuatnya dianggap kafir oleh para mullah (pemuka agama) yang ortodoks, di sisi lain dipercaya Sultan Maliksyah karena dianggap menguasai rahasia langit dan dapat meramal masa depan, serta dianggap masyarakat umum sebagai seorang yang menguasai ilmu gaib karena kemampuannya mengungkap sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang-orang. Semua itu dibingkai pula dengan pernak-pernik latar politik istana dan masa kemunculan sekte Kaum Tujuh (kaum Assasin) yang mengerikan yang dipimpin Hasan ibn Sabah.

Sayangnya novel ini hanya menceritakan sepenggal saja fase hidup Omar Kayyam, pada masa ia menjalani gaya hidup hedonis dan memuja erotisme sebelum ia menyelami kehidupan sufistik. Serasa nanggung jadinya, ingin tahu kisah fase kehidupannya selanjutnya. Ini mendorongku untuk mengintip sejenak sinopsis bukunya Amin Maalouf, "Misteri Rubaiyat Omar Khayyam", yang aku yakin tentunya akan sangat berbeda gaya bertuturnya. Di sinopsis buku itu, yang tampaknya bakal lebih banyak bercerita soal karya Rubaiyatnya, ada disebut-sebut pula tentang benteng Alamut, markas Kaum Pembunuh itu. Hmm, jadi ternyata cerita Alamut itu tak fiktif-fiktif amat ya :D.

Hanya kuberi 3 bintang, yah sebenarnya plus beberapa angka di belakang koma :D. Itu karena tata letak paragraf di buku edisi ini tidak teratur, membuatnya tak terlalu enak dibaca. Satu bagian ke bagian lain yang berbeda seringkali bercampur, paragrafnya tak diberi spasi :(. Juga karena ekspektasiku terlalu banyak terpaku pada cerita bagaimana Omar Khayyam menemukan gagasan-gagasannya dalam astronomi dan matematika. Kenyataannya, alur cerita buku ini terasa lambat buatku, dan butuh sampai tengah buku untuk sampai pada cerita pekerjaannya sebagai ahli bintang raja di Observatorium. Penemuan-penemuan yang sedikit terceritakan antara lain tentang pengukuran waktu, di mana Omar akhirnya berhasil menciptakan kalender baru yang lebih akurat berdasarkan peta bintang Ptolomeus. Ada sedikit pula tentang Al-Jabar (orang-orang pada masa itu menyebutnya angka-angka ajaib, dan tentang angka-angka gaib di sebelah 'sifr' (zero; kekosongan) alias angka-angka negatif: 'Omar mengatakan, "Angka-angka hantu itu ada. Kalau ia mengambil satu angka dari sebelah kekosongan, maka ia telah mengambil angka yang sama dari angka-angka positif sebelah 'sifr' itu."' -(hlm.125). Yang terakhir terceritakan yaitu tentang gagasannya yang mengguncang para mullah dan masyarakat: bahwa bumi berputar, tidak diam. Sebaliknya, matahari dan bintang-bintang tidaklah bergerak mengelilingi bumi. Yah, plus timing gagasan itu dikemukakan setelah Sultan Maliksyah, pelindungnya, wafat, Omar akhirnya diadili. Akhirnya Observatorium dan kitab-kitabnya hancur dibakar... (Dan aku ingin tahu petualangan hidup Omar pada fase setelahnya....)



View all my reviews

Komentar

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon