Hatta: Hikayat Cinta dan Kemerdekaan

Hatta, Hikayat Cinta & KemerdekaanHatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan by Dedi Ahimsa Riyadi
My rating: 3 of 5 stars

"Selalu begitu. Setiap kali berkunjung atau menetap di tempat baru, toko pertama yang menjadi tempat belanjanya adalah toko buku." -hlm.147

"Peti-peti itulah satu-satunya kekayaan Hatta yang paling berharga. Peti-peti itu berisi ribuan judul buku yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan, baik ketika sekolah di Jakarta maupun di Rotterdam. (....) Enam belas peti itu terus menemani perjalanannya mulai dari Rotterdam, Belanda, ke Jakarta, hingga akhirnya ia tiba di Tanah Merah--neraka ciptaan Belanda bagi para tokoh pergerakan nasional." -hlm.235

"Buku merupakan sahabat sejatiku yang paling damai... selama memiliki buku, aku bisa hidup di mana pun..." ... "Filosofi hidupku:'terus berjuang selama hidup bebas; ketika seseorang mengikat sayapku, teruslah berjuang untuk meraih pengetahuan.'" -hlm.253

"Tetapi aku mengaguminya. Aku benar-benar mengaguminya. Aku yakin, tak ada orang yang dapat mencintai dan melindungiku lebih baik dibanding dia. Sepertinya, aku akan bisa mencintainya karena ia senantiasa memegang teguh prinsipnya. Ia sangat mencintai Indonesia sehingga berjanji tak hendak beristri sebelum Indonesia merdeka. Itulah janjinya, dan ia memenuhinya. Aku yakin, sepanjang hidupmu, kau tak akan pernah menjumpai seorang pencinta seperti dia." -hlm.273 (Rahmi kepada adiknya saat memutuskan untuk menerima pinangan Bung Hatta.)

"Salah satu harta berharga yang Hatta berikan sebagai hadiah pernikahannya untuk isterinya adalah berupa buku yang ditulisnya di Tanah Merah: 'Alam Pikiran Yunani', sebuah buku yang menggambarkan ideal Hatta tentang negara dan demokrasi. Rahmi menerima hadiah perkawinan dengan penuh kehormatan. Sejak awal ia sudah menyadari, ia akan menjadi isteri keempat Hatta setelah Indonesia, rakyat Indonesia, dan buku-bukunya." -hlm.278

*
Sebagai sebuah novel, kupikir buku ini terlalu kering. Mungkin lebih cocok dikatakan sebagai biografi singkat saja. Dikatakan sebagai novel biografi, rasanya banyak aspek-aspek dari sebuah karya novel yang tidak tergarap dengan baik (tetapi aku sedang tak ingin membikin ulasan. Singkatnya, sebagai seorang pembaca novel, aku kurang begitu menikmati alur yang disuguhkan buku ini. Ekspektasi untuk sebuah karya "novel biografi" tak terpenuhi di buku ini). Beberapa bagian episode kehidupan Bung Hatta dikisahkan dengan cukup indah, tapi banyak pula bagian-bagian yang terlalu kering, seperti tak ada bedanya dengan membaca buku sejarah biasa. Tetapi anyway, itu tidak menghilangkan apresiasiku terhadap buku ini. Membaca buku ini membuatku ingin bersegera baca Memoir Bung Hatta yang sudah lama nangkring di kardus bukuku... (maklum, ga punya rak buku :D)

*Ah, Bung Hatta. Bung yang satu ini sungguh mempesonakanku. Seorang pecinta sejati, yang memiliki cinta yang dalam dan sunyi. Yang begitu gigih dan teguh memegang prinsip. Yang perjuangannya tak kenal henti, di mana pun, yang bersenjata pena dan beramunisikan buku-buku... Indonesia sungguh bangga memilikimu...

View all my reviews

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh