Misteri Soliter

Misteri SoliterMisteri Soliter by Jostein Gaarder

My rating: 5 of 5 stars


Ini buku ketiga Jostein Gaarder yang kubaca. Dan aku semakin penasaran dengan karya-karya Gaarder lainnya. Kupikir karya Gaarder ini brilian. Setelah novel filsafatnya yang terkenal, Dunia Sophie, Misteri Soliter ini juga sempat membuatku terkagum-kagum pada cara dan kepiawaian Gaarder meramu kisah novel yang bicara soal tema filsafat. Jika Dunia Sophie bicara filsafat dari A-Z (maksudku, novel ini cocok bagiku sebagai buku perkenalan filsafat, di mana aku seolah Sophie sendiri, yang baru kali itu mendapat "kuliah filsafat" dari surat-surat misterius yang saban hari mendatanginya), Misteri Soliter bicara filsafat dengan suatu topik yang lebih spesifik. Kerennya, kisah dalam Misteri Soliter berupa ramuan antara fantasi, dongeng, mitos, dan filsafat, dengan kartu-kartu dalam permainan soliter sebagai simbol dan analogi yang unik dan mengesankan.

Siapa sangka kisah pulau ajaib, kurcaci-kurcaci aneh berseragam bergambar kartu remi, kue kismis berisi buku mungil, soda bianglala, dan ikan mas berwarna-warni, semua yang di awal tampak seperti cerita aneh banget, pada akhirnya saling berhubungan dan mengungkap sebuah rahasia besar, hingga bergenerasi-generasi... Rahasia itu tak hanya tentang takdir keluarga Hans Thomas, bocah lelaki yang mulai belajar menjadi filsuf dari ayahnya yang pemabuk. Di perjalanan jauh menuju Athena, mencari ibunya yang telah 8 tahun pergi untuk menemukan jati dirinya dan tersesat di dunia mode itu, teka-teki kisah pulau ajaib itu mulai menghampiri Hans Thomas. Tetapi pada akhirnya, teka-teki permainan soliter di pulau ajaib itu menyadarkan Hans Thomas (dan barangkali kita, para pembaca) akan suatu teka-teki yang jauh lebih besar: teka-teki kehidupan. Dunia ini adalah suatu permainan Soliter Agung, demikian kata buku ini. Dan Joker adalah satu-satunya yang tak tertipu oleh angan-angan.

Hal yang mengesankan dari buku ini adalah cara Gaarder membawakan suatu tema besar dengan cara yang ringan (ringan?) dan unik. Maksudku, tema yang demikian besar dapat dikemas dalam bentuk kisah berbau dongeng dengan tokoh sentral seorang bocah. Dan analogi dengan simbol kartu remi dalam permainan soliter itu sungguh menarik. Bahwa para kurcaci di pulau ajaib sesungguhnya khayalan yang menjelma dari kartu remi usang, lalu pertanyaan "mungkinkah mereka muncul begitu saja dari tiada menjadi ada", mustahilkah?

Semua yang ada di pulau ajaib memang ajaib, misterius dan menakjubkan, akan tetapi para kurcaci itu tak pernah berpikir atau bertanya, dari mana sesungguhnya mereka berasal? Tak ada yang bertanya kecuali joker. Mereka tak pernah bertanya tentang diri mereka --yang sesungguhnya misterius dan ajaib--, karena telah demikian terbiasa dengan diri mereka dan alam sekitar. Tak ada bedanya dengan manusia. Saat dewasa, orang-orang tak lagi banyak bertanya kendati kehidupan ini adalah sebuah misteri besar nan ajaib, karena mereka telah menjadi terbiasa dengannya.

Joker dalam kartu remi itu langka, demikian pula joker di kalangan manusia. Para filsuf adalah joker, yang berbeda dari kebanyakan. Joker tak termasuk kelompok sekop, keriting, hati, maupun wajik, tapi ia mampu masuk ke semuanya. Joker digambarkan sebagai kurcaci berpakaian badut yang ribut dengan lonceng-loncengnya, cerewet, selalu ingin tahu, curiga, bertanya ini-itu. Ia juga sering disebut 'si tolol" atau "si bodoh", padahal sesungguhnya ia satu-satunya yang tak bodoh di antara kurcaci-kurcaci lainnya. Joker justru "tahu terlalu banyak dan terlalu dalam". Seperti halnya filsuf --orang yang mencari kebijakan-- senantiasa mempertanyakan banyak hal. Sementara khalayak kebanyakan merasa tahu banyak hal padahal tak tahu apa-apa, seorang filsuf seperti Socrates mengaku dengan lantang bahwa dirinya hanya tahu satu hal: bahwa ia tak tahu apa-apa.

Lalu sistem kalender di pulau ajaib yang berdasarkan jumlah kartu remi pula, 52 dengan 4 kelompok (sekop, keriting, wajik, hati): 1 tahun = 52 minggu, 52 x 7 hari = 364 hari, plus 1 hari joker. 1 tahun dengan 13 bulan (dinamai dari As sampai Raja), dan seterusnya... Wah! Kartu-kartu permainan soliter dalam buku ini sungguh menjadi simbol yang multi-fungsi. Itulah mengapa kubilang ramuan Gaarder ini begitu keren dan mengesankan.

Dan ngomong-ngomong, pada awal-awal membaca kisah ini ada semacam gumaman di benak, "apaan sih? ceritanya aneh banget..." lalu tambah ke tengah, "hmm... tambah aneh". Lanjut lagi, lalu "wow... hm...". Lalu terus... dan, "wooowww... begitu ya... ternyata..." Hehe... Well, aku suka cara Gaarder "mendakwahkan" filsafat dengan cara tersirat seperti ini :).

***
*Beberapa narasi menarik tentang renungan filosofis yang kutemui di bab 8 Wajik ada disini.
*Next Gaarder’s book to read: Maya ^^.



View all my reviews

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung