Membicarakan Paradoks


Semalam saya menyimak sebuah pembicaraan menarik yang diangkat oleh klub studi ECF (Extended Course Filsafat) fakultas filsafat Unpar. Awalnya saya belum tahu apa topik yang akan dibahas. Namun, mendengar bahwa pembicara yang akan hadir adalah seorang Putu Wijaya, seniman terkemuka itu, saya langsung tertarik untuk hadir. Dan demikianlah, di tengah kepusingan yang sedang melanda saya akhir-akhir ini, saya sempat berseloroh kepada seorang rekan, “Habis ini saya mau datang ke kursus filsafat ah, refreshing… Refreshing dengan filsafat…” Ujar saya sambil nyengir. Rekan saya mengerutkan kening, “Malam ini? Refreshing kok sama filsafat…”. Dia tahu saya sedang sangat pusing dengan tugas-tugas saya. Dan dia, seperti kebanyakan orang pada umumnya, tentu menganggap filsafat sebagai sebuah subjek yang kurang cocok untuk dijadikan bahan “refreshing”. Lagi pula saya setengah bercanda, sebab saya sendiri tak tahu banyak tentang filsafat dan tak ada ide apa yang akan dibicarakan Putu Wijaya nantinya… :D

Intermezo
Ini adalah pertama kalinya saya datang ke forum ini. Belakangan saya jadi tahu bahwa ECF ke-16 ini sedang mengangkat tema besar “Manusia Indonesia Hari ini: Dilema dan Peluangnya”. Para pembicara yang diundang hadir pada sesi ini adalah dari kalangan seniman. Nantinya, setelah Bambang Sugiharto dan Putu Wijaya, seniman yang diundang di minggu-minggu berikutnya yaitu Acep Zam-zam Noor, Miroto, Goenawan Mohammad, Sujiwo Tejo, Ayu Utami, Ulil Abshar Abdalla, Bre Redana, dan Emha Ainun Najib. Wah… top markotop nih.. hehe…
Sub tema yang dibicarakan Putu Wijaya sendiri semalam tadi adalah “Paradoks Unik Manusia Indonesia”. Bicara tentang paradoks, Putu Wijaya lebih banyak mencontohkan dengan cerita, entah itu cerita orang lain ataukah anekdot maupun cerita pengalamannya sendiri. Beliau sendiri lebih suka menyebut ini sebagai pembicaraan tentang kehidupan tinimbang bicara tentang filsafat. Apa yang saya tulis disini hanyalah beberapa poin yang sempat saya catat dari apa yang beliau coba gulirkan.

Keunikan Paradoks

Membicarakan tentang paradoks memang unik. Dalam paradoks, kita akan menemukan banyak hal yang demikian kompleks, aneh, membingungkan. Misalkan kita pergi ke super market, didalamnya menawarkan banyak pilihan yang sama-sama menarik. Terlalu banyak pilihan malah membuat kita bingung, semuanya ingin dibeli. Akhirnya malah kita keluar super market tak jadi beli apa-apa. Contoh lain, di Indonesia kini banyak sekali peristiwa tak terduga. Setiap hari berita di televisi melaporkan peristiwa-peristiwa “unik” tentang banyak hal: politik, hukum, bencana, dan lain-lain. Kesemuanya unik, banyak yang tidak wajar, dan terlalu banyak yang unik itu malah membuatnya menjadi biasa. Hal-hal seperti:
-terlalu banyak pilihan  menjadi tidak ada pilihan
-terlalu banyak yang unik  menjadi tidak ada yang unik
adalah contoh paradoks yang banyak kita jumpai dalam kehidupan.

Sebuah lagu hit di tahun 70-an yang dinyanyikan Diana Nasution, “Benci tapi Rindu”, mewakili contoh paradoks. Lagu romantis dan emosional itu dinyanyikan kembali dengan sedikit bercanda oleh pelawak Darto Helm. Kini, lagu itu diangkat kembali oleh Titi DJ dengan nuansa agak berbeda. Kalau melihat liriknya, Benci tapi Rindu itu adalah sebuah paradoks. Suatu tema yang demikian berat diangkat oleh filsafat ternyata juga bisa dengan mudah diangkat dengan ringan, malah juga main-main. Itu juga paradoks.
Poin pentingnya adalah:
Setiap peristiwa adalah paradoks (jika kita berani melihatnya).
Dalam 1 peristiwa akan ada multi-interpretasi. Dalam kehidupan kita sering menjumpai paradoks seperti:
-keramaian yang sunyi/kesunyian yang ramai
-penderitaan yang membahagiakan/kebahagiaan yang tak bisa dinikmati
-penyembuhan dengan “menikmati” rasa sakit.
Dalam paradoks kita banyak menjumpai distorsi. Distorsi itu sendiri penting dalam kehidupan. Dalam seni, distorsi malah bisa menimbulkan efek estetis. Distorsi dalam rutinitas kehidupan menimbulkan kejutan, energi, upaya, perubahan.

Paradoks: antara Budaya Timur dan Barat
Akar budaya barat mengedepankan rasio (akal), sementara budaya timur mengedepankan rasa (emosi). Keduanya bertemu menjadi paradoks. Sebagai contoh, dalam budaya barat tragedi dan komedi adalah 2 hal yang bertentangan. Tapi dalam budaya timur, senyum berarti banyak hal. Dalam budaya kita, senyum tak selalu berarti komedi. Senyum tak selalu berarti senang, tetapi ada banyak kemungkinan arti di baliknya. Ada senyum tak senang, senyum menertawakan, senyum tanda mengerti, senyum menyadari kebodohan diri sendiri, dan seterusnya.
Ada lagi contoh paradoks dalam 1 peristiwa. Seorang anak minta dibelikan motor. Orang tuanya tidak mampu, namun karena sayangnya terhadap anak, mereka menabung. Setelah 10 tahun menabung, si anak mendapatkan motor impiannya. Namun apa yang terjadi? Dalam 2 jam pergi dengan motornya, Si Anak pulang melaporkan motornya hancur ditabrak truk. Sementara asuransi belum sempat dibuat. Ketika bapaknya pulang, ibu anak itu melapor, “Pak, motornya hancur ditabrak truk, tapi syukur anak kita tidak apa-apa”. Mendengarnya, bapaknya langsung naik darah, “Gila apa, tabungan 10 tahun lenyap dalam 2 jam!”
Dalam 1 peristiwa itu ada 2 interpretasi berbeda. Si Bapak, dengan hitungan matematis yang logis dan sikap yang realistis. Si Ibu, dengan perhitungan perasaan sayang terhadap anak dan sikap emosional. Apabila diukur dengan kacamata logika saja, sikap Si Ibu ini akan menjadi hal yang terasa ganjil.

Paradoks dalam Kata-kata
Kata-kata mewakili contoh bagus paradoks. Banyak kata yang kini artinya mendua, dan bisa saling bertentangan. Jawaban “ya” tak selalu berarti ya, tapi juga bisa berarti tidak. Ya, barangkali artinya ya, sudah mendengar, tapi niatnya tidak akan melakukan.
Perkembangan kata kini juga semakin liar. Satu kata bisa berarti lain sekali maknanya dengan arti asalnya dalam kamus. Arti kata tak lagi pasti, tapi terkait dengan apa yang disebut kearifan lokal Bali: “desa-kalas-patra” (tempat-waktu-keadaan). Seperti contoh kata menarik yang pernah dilontarkan SBY suatu ketika: kekuasaan yang ramping. Kata “ramping” di sini tak lagi bermakna langsing/singset/tidak gendut :D.
Kata-kata, seperti halnya paradoks, punya kekuatan sendiri. Kata-kata bisa hidup sendiri, mampu menimbulkan imajinasi yang jauh lebih hebat daripada apa yang sesungguhnya terjadi. Suatu peristiwa hebat yang jelas-jelas terjadi malah bisa menjadi terasa biasa, karena hal-hal yang jelas terlihat menjadi terbatas. Sementara imajinasi yang ditimbulkan dari kata-kata tidak terbatas. Seringkali 1-2 kalimat mewakili cerita tersembunyi yang justru tak dikatakan. Apa yang tidak dikatakan malah terkatakan, atau sebaliknya, apa yang dikatakan malah menjadi tak terkatakan. Begitulah paradoksnya.

Paradoks dan Kearifan Lokal Manusia Indonesia
Berbagai keganjilan paradoks dalam diri manusia Indonesia bisa dilihat sebagai kekurangan atau kelebihan. Menjadi cacat kalau ukurannya kepastian. Sebaliknya, ketidakpastian dalam kearifan lokal kita yang didasarkan pada perhitungan akan berbagai kemungkinan perkembangan memberi ruang bagi paradoks itu untuk dipertahankan. Ketidakpastian kearifan lokal itu malah memberi kita suatu jeda yang memungkinkan kita untuk mengevaluasi diri, bisa lebih tenang/sabar menghadapi ketidaksempurnaan untuk kemudian bangkit dan survive.
Seperti halnya kata-kata yang mendua bukanlah tanda kemiskinan, melainkan kelebihan, kekuatan, dan peluang (malah menjadi miskin kalau kita sudah terecoki dogma kepastian: bahwa satu kata satu arti), begitu pula paradoks. Apa yang coba ditawarkan di sini adalah:
-Paradoks: segala peristiwa bersifat mendua (yin dan yang) dan hal yang bertentangan itu selalu ada di semua hal, menyatu padu, tak bisa dipisahkan.
-Paradoks ada karena kebenaran yang sudah diketahui baru 10%. 90%nya kebenaran yang mesti kita cari. Bagaimana mungkin semua bisa dipastikan kalau kebenarannya masih belum kita tahu?
-Karenanya, paradoks jangan dilenyapkan sama sekali, melainkan dapat menjadi alternatif pemikiran untuk terus mencari kebenaran. Konsekuensinya, kebingungan menjadi wajar.
-Paradoks bukanlah cacat. Tetapi untuk dicari apa sebab di baliknya.
-Paradoks adalah kekuatan kalau kita mau dan mampu mempergunakannya.
-Paradoks tidak sama dengan dilema. Menjadi dilema kalau didilemakan. Kita juga tak bisa menjadikannya sebagai peluang, sebab paradoks itu sendiri sudah merupakan peluang… (kalau kita mampu memanfaatkannya).
-Apa yang bisa diambil dari paradoks  energi (yang timbul setelah ada proses pencarian dan evaluasi diri)
***

Wah, anyway niatnya merangkum kok malah jadi panjang banget tulisannya… :P. Yah, itu sedikit share saja dari apa yang dibicarakan Putu Wijaya semalam. Sesungguhnya, ada lebih banyak cerita yang beliau sampaikan ^^.
Oh iya, ternyata candaan saya di awal itu memang terbukti. Menyimak inspirasi dari Putu Wijaya memang terbukti refreshing… Saya yang tadinya datang dalam keadaan capek, dengan pikiran tugas-tugas yang memberati kepala, menjadi terlarut dalam pembicaraannya, dan tahu-tahu kepala ini sudah menjadi lebih ringan. Dan buntutnya, saya jadi ada bahan untuk dishare, meski tulisannya jadi kepanjangan… :D.
Anyway, saya juga sedang berada dalam keadaan paradoks khusus: lagi pusing banget, kepusingan yang sudah terprediksikan. Tapi saya senang mndapat kesempatan mencicipi tantangan yang memusingkan ini… Beuh… Paradoks memang aneh ya.

Komentar

  1. Waaah, Mba... Tulisan ini cerdas banget... Saya sampai larut dalam paradoks, membacanya... Salam kenal, yaaa... ^^

    BalasHapus
  2. Salam kenal :).

    Iya, Putu Wijaya emang keren. Tulisan ini rekaman dari apa yang beliau bincangkan :D

    BalasHapus
  3. Lagi nyari tentang paradoks dalam filsafat. Eh, ditarik masuk ke laman ini dong, teh. hohoho. Jodoh memang tak ke mana. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Nurul mau bikin novel bertema filsafat? Hehe... syukurlah berjodh tuk singgah di sini :D

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

Nenek (Ibu), Patriot Kehidupanku