Tentang Aku, Pohon Rindang, & Ilalang



"Aku, Pohon Rindang, & Ilalang"

Rasa jenuh terkadang menerpa
Hadapi hari seperti biasa
Dunia yang semakin tak bersahabat
Ingin kutinggalkan walau sesaat

Jauh, trus jauh sendiri kupergi
Dari keramaian
Sementara lepaskan semua beban tuk merasakan kebebasan

Di sepohon rindang, di padang ilalang
Sepoi angin meneduhkan keresahan
Di hamparan bumi, langit memayungi
Bersimpuh kusyukuri segala indah ini...
Hijaumu bangkitkan semangat di hati
Jalani hari-hari...

- Lagu "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang", Faliq feat. Haris Isa -

Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh dalam hidupnya. Itu tentu saja sebuah hal yang manusiawi. Jenuh oleh rutinitas, misalnya, atau mungkin jenuh oleh hiruk-pikuk duniawi di lingkungan sekitar yang makin hingar-bingar diterpa dinamika zaman yang makin edan. Lagu "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang" adalah sebuah lagu yang bercerita tentang rasa jenuh itu. Siapapun yang tengah dilanda jenuh dan mendengarkan lagu ini, saya kira dia tentu akan merasa terwakili olehnya. Ya, simak saja lirik lagunya, "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang" bisa dikatakan sebagai lagu curhat seseorang kala terbentur rasa jenuh itu.

Secara subjektif, saya suka lagu-lagu "curhat" alias lagu-lagu yang mewakili curahan hati seorang insan terkait sifat insaniahnya, sepanjang lagu itu bukan lagu "cengeng" ^^' dan mencerahkan. "Aku, Pohon Rindang, & Ilalang" adalah salah satunya. Lagu ini sungguh mewakili perasaan saya tatkala dilanda jenuh. Lagipula, jarang-jarang ada lagu bertema seperti ini. Bait-bait liriknya sederhana dan universal, mengingatkan saya pada saat dimana saya ingin pergi jauh... jauh dari keramaian... Berlari... di sebuah bukit dimana pemandangan sekitar menghampar hijau membentang dan tenang... Lalu berteriak sekencang-kencangnya, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa....." Hehe, imaji seperti itu, saya yakin, kerap hinggap juga di kepala banyak orang lainnya.

Lagu ini, lewat kesederhanaan liriknya, bercerita banyak hal tentang perasaan seorang manusia terkait fitrahnya. Perasaan jenuh akan rutinitas... jenuh akan polah "dunia yang makin tak bersahabat"... Hal ini mengingatkan kita bahwa, di zaman yang serba cepat dengan banyaknya pergeseran-pergeseran terkait simbol-simbol modernitas --terutama di lingkungan perkotaan, jiwa kita sebagai manusia sesungguhnya tak akan lepas dari kerinduan akan "back to nature". Di tengah hiruk-pikuk keramaian zaman itu kita merindukan kealamiahan, termasuk "ketenangan yang alami". Ketenangan yang hanya mampu dipersembahkan oleh kebersahajaan alam ciptaan Tuhan. Kebersahajaan yang memukau, keindahan yang lahir dan wujud dalam bentuk asli.

Poin pencerahan dalam lirik lagu ini selanjutnya mengemuka di bait-bait akhir, ketika perasaan hati sudah tercurahkan, lalu kerinduan pada ketenangan alami itu bersambut... Lantas merasakan alam... Meraba tiap jengkal misteri ketenangannya yang menyejukkan. Sepoi angin, hamparan bumi, payung langit... pohon rindang... padang ilalang... semua itu tak sekadar dipandang sebagai momen "refreshing", melainkan diresapi dalam makna "tadabbur". Kita tercerahkan setelahnya oleh pesona keindahan mahakarya Tuhan itu, membuat kita lantas dipenuhi gemuruh rasa syukur, yang darinya pula kemudian semangat kita bangkit kembali untuk menjalani hari-hari.

Itu semua tentang lirik lagu ini. Adapun tentang musiknya, saya kurang tahu banyak mengenai musik. Namun yang saya rasakan sebagai penikmat musik, alunan musik yang mengiringi lagu nasyid ini cukup unik dan lucu ^^. Suara seruling yang khas kerap terdengar di lagu ini, membuat lagu ini seperti agak berwarna sunda. Dan memang menjadi sunda sekali setelah terdengar vokal lagu yang dibawakan diberi aksen cengkok ala lagu-lagu sundaan ^^. Nuansa musik kesunda-sundaan itu memang klop dengan liriknya. Dengan lirik bercerita tentang suasana alami pohon rindang & ilalang itu, iringan seruling membuat kita yang mendengarkan menjadi membayangkan imaji tentang pemandangan tatar sunda ^^. Jadi waas, asa inget lembur... heuheu...

Ah, sudahlah. Aku tak terlalu pandai bercerita soal musiknya. Yang penting, spirit yang dimunculkan di bait-bait terakhir lirik lagu itu mengingatkan kita, siapapun yang dilanda jenuh, untuk lantas tidak berhenti pada titik jenuh itu semata. Refreshing itu memang perlu, ya. Tapi juga jangan sampai maknanya hanya dangkal sebatas itu, melainkan buatlah momen refreshing mengakrabi alam itu sebagai sebuah ruang perenungan untuk menemukan makna yang lebih dalam, agar setelahnya jiwa kita benar-benar segar kembali. Tak cukup hanya curhat tentang jenuh, tapi juga carilah penyegaran yang mencerahkan yang mampu membuat semangat baru tumbuh kembali. Ya, tak cukup hanya mengeluh.


*Bandung, 3 januari 2009
- Sebuah tulisan yang pada awalnya dimaksudkan untuk memenuhi request seorang teman ;) -

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung