Membaca TRttE: Belajar dari Kisah Heroisme Mongolia

The Road to the Empire The Road to the Empire by Sinta Yudisia


My rating: 4 of 5 stars
Cool... It Charged up our spirit and reminded us to recheck our own life vision and destination. For what we live our life right now? Have we been right on the track? Have we made our best struggle to achieve it?

This is My review:

Sekali lagi penulis produktif jebolan FLP, Sinta Yudisia, menyumbangkan buah karyanya bagi dunia literasi Indonesia. The Road to the Empire, novel setebal 586 halaman ini hadir menyemarakkan khazanah novel Indonesia dengan mengusung kisah heroisme Mongolia pasca Jenghiz Khan. Sebuah fenomena menggembirakan setiap kali gebrakan kreativitas penulis kita mewarnai kanvas wahana penerbitan buku di negeri ini dengan warna kreatifnya sendiri. Sebab, keberagaman ‘warna’ di industri kreatif apapun, termasuk penerbitan buku, menjadi semacam ‘nyawa’ penanda kreativitas yang benar-benar hidup. Sebaliknya, fenomena keseragaman ‘warna’ justru membuat kehidupan kreativitas tersebut patut dipertanyakan. Sejatinya setiap karya haruslah menyumbangkan kekhasannya tersendiri, agar dari sisi yang membuatnya berbeda itu keragaman warna tercipta dan memperkaya isi galeri literasi kita. Kali ini, dengan hadirnya The Road to the Empire, Sinta Yudisia turut memperkaya genre novel berbasis sejarah dengan memulaskan kombinasi warna heroisme Mongolia dengan warna heroisme Islam.

Dituturkan dengan bahasa yang mengalir dan padat, The Road to the Empire mengangkat kisah perjuangan Takudar Muhammad khan, pangeran muslim pewaris Mongol menuju tahta kekaisaran. Takudar adalah putera sulung Kaisar Tuqluq Timur Khan, seorang Kaisar Mongol keturunan Jenghiz Khan yang memiliki wibawa dan kharisma sejati seorang pemimpin di mata rakyatnya. Namun, Kaisar dan Permaisuri Ilkhata dibunuh atas pengkhianatan oknum pemerintahan yang tak senang atas kedekatan Kaisar dengan orang-orang Muslim. Takudar tak punya pilihan selain melarikan diri mengemban sebuah janji rahasia yang dipercayakan Ayahandanya kepadanya. Ditemani pelayannya yang setia, Uchatadara, gadis pemberani dari suku Tar Muleng, Takudar berjuang hidup dalam pelarian. Sementara Pangeran Pertama menghilang, Arghun Khan, Pangeran Kedua menjadi Kaisar yang ambisius dalam bayang-bayang jendral kepercayaannya, Albuqa Khan. Obsesi terhadap kekuasaan menjadikan agenda penaklukan dan perluasan wilayah menjadi kepentingan nomor satu pemerintahan. Dengan kekuatan militernya, Arghun berambisi meneruskan jejak leluhurnya, Jenghiz Khan, bahkan melampauinya hingga menaklukan Jerusalem. Adapun Pangeran Ketiga, Buzun, tetap mengabdi di Istana sembari tetap memendam rindu dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan kakak sulungnya.

Konspirasi, intrik politik, hingga taktik licik khas oknum-oknum lingkungan kekaisaran membumbui kisah novel ini. Demikian pula taktik dan strategi perang berikut medan dengan setting tempat-tempatnya yang klasik, serta tak ketinggalan pula bumbu romantisme yang diramu dengan cantik melengkapi kisah The Road to the Empire. Didukung dengan banyak tokoh dengan berbagai karakter khasnya masing-masing, novel ini menyajikan sebuah kisah memikat yang sarat pesan-pesan moral dan heroisme. Tak heran ada yang mengatakan membaca novel ini seperti sedang menonton film kolosal. Dialog-dilaognya tersusun apik, narasinya powerful, kalimat-kalimatnya bernas, dan konflik-konflik psikologis yang dimunculkan dari penokohan yang manusiawi membuat kisahnya mampu menggugah emosi pembaca. Dan satu lagi, pilihan penggalan sajak Muhammad Iqbal yang membuka setiap babnya sungguh membuat novel ini tambah mantap!
Dari kisah perjuangan Takudar ini kita dapat belajar banyak hal tentang kehidupan. Kita diingatkan kembali untuk bertanya pada diri sendiri: apa tujuan hidup kita? Bagaimana kita memperjuangkannya? Dan meresapi kembali apa itu arti perjuangan, pengorbanan, kesetiaan?

Ah, rupanya cukup sulit juga mengungkapkan kesan-kesanku membaca novel ini... terlalu banyak! Yang jelas, aku sempat dibuat merinding, dadaku bergemuruh, hatiku merenung, dan semangatku tergugah!

View all my reviews >>

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung