Membaca Makna dari Kisah “All Those Things We Never Said”

All Those Things We Never Said All Those Things We Never Said by Marc Lévy


My rating: 3 of 5 stars
Bayangkan bagaimana rasanya jika kita dikejutkan dengan sebuah paket besar berisi seseorang yang kita tahu betul dia baru saja meninggal. “Orang” itu bukan hantu, melainkan semacam robot manusia yang sengaja diciptakan untuk memberi “kesempatan waktu kebersamaan” sedikit lebih lama dengan orang terdekat yang ditinggalkannya. Hm, tak terbayang, bukan? Tapi, ide nyeleneh itu tampaknya hinggap juga di imajinasi penulis “All Those Things We Never Said”, Marc Levy. Bagi seorang penulis fiksi, hal-hal semacam itu selalu menjadi mungkin. Dan melalui itu, penulis leluasa menyampaikan “hal-hal yang ingin disampaikan” kepada pembaca.

Dalam All Those Things We Never Said, situasi Julia Walsh bahkan lebih kompleks daripada sekedar dikejutkan oleh paket berisi manusia android yang berupa sosok ayahnya, Anthony Walsh. Julia bahkan ragu apakah dia menginginkan ”sedikit waktu tambahan” bersama ayahnya. Semua yang bisa dipikirkan Julia selain kaget dan tak percaya ialah bahwa ia begitu benci terhadap ayahnya, ayahnya sungguh keterlaluan. Julia sudah cukup benci terhadap ayahnya atas perlakuannya ketika masih hidup. Ayahnya tak pernah mempedulikan dirinya. Julia di masa kecilnya harus merasakan kerinduan akan ayahnya, yang kemudian mengecewakannya. Anthony terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan ketika Julia kecil harus merawat ibunya yang sakit dan kehilangan ingatan, lalu meninggal. Julia tumbuh menjadi seorang wanita mandiri yang lepas dari ayahnya. Sejak kabur dari rumahnya yang penuh kenangan, Julia hidup atas jerih payahnya sendiri. Bagi Julia, terlalu banyak daftar kesalahan ayahnya yang tampaknya selalu menghancurkan kebahagiaannya. Kini, setelah Julia dewasa hidup di dunianya sendiri, lagi-lagi ayahnya membuat kekacauan. Tepat 3 hari sebelum pernikahannya dengan Adam, tiba-tiba ayahnya meninggal. Julia tak habis pikir, bahkan saat meninggalpun ayahnya terus saja mengacaukan hidupnya. Ditambah lagi tak lama setelah itu ia dikejutkan dengan paket berisi manusia android yang amat mirip dengan ayahnya itu... Anthony sungguh membuatnya benar-benar stress...

Situasi Julia setelahnya bahkan lebih rumit lagi. Ia harus menyembunyikan keberadaan ”ayahnya” di apartemennya itu. Apa kemauan ayahnya? Menurut ”ayahnya” alias manusia android itu, ia sengaja diciptakan untuk menyampaikan banyak hal yang harus diketahui oleh Julia. Untuk itu Julia harus mau melakukan perjalanan jauh ke berbagai tempat bersama ”ayahnya” itu. ”Ayahnya” itu hanya punya waktu 6 hari.

Ide cerita novel ini memang menarik. Pembaca dibuat menyelami perasaan Julia yang marah, kesal, juga bingung gara-gara ayahnya. Menyimak novel ini kita dibuat sama herannya dengan Julia, semua tampak seolah-olah apa yang dialami Julia memang terjadi atas skenario ayahnya. Akan tetapi, untuk sampai pada terkuaknya ”maksud” ayah Julia, pembaca harus bersabar menelusuri alur novel ini. Sebab, diantara kehebohan perjalanan Julia dan ayahnya, kita diajak flash-back menyimak masa lalu Julia saat mengadakan perjalanan ke Jerman dan bertemu dengan cinta pertamanya. Masa lalu itu diceritakan cukup panjang beserta detil-detil setting masa robohnya tembok Berlin. Lagi-lagi, flash-back itupun tampaknya memang bagian dari rencana Anthony yang belakangan ternyata memang sengaja mendekatkan Julia dengan cerita cinta masa lalunya, yang juga kacau dan menyisakan kenangan pahit gara-gara ulah ayahnya.

Meski alurnya terasa agak lambat, berkat ide ceritanya yang unik novel ini sukses mempertahankan ’misteri’nya hingga akhir. Pada akhirnya, setelah tuntas membaca novel ini hingga akhir, tak peduli meski ada sedikit bagian yang menimbulkan ’tanda tanya’ menggantung di benak, kita dapat memetik makna dari skenario unik seorang ayah atas kehidupan putrinya ini. Seperti tersirat dari judulnya, ”All Those Things We Never Said”, kita seolah teringatkan akan hal-hal yang tak pernah kita katakan (padahal perlu kita ungkapkan) kepada orang-orang yang kita sayangi.

Yang menarik dari All Those Things We Never Said, pesan moralnya lebih dari itu. Melalui perjalanan ayah-anak yang agak ganjil itu, kita akhirnya menemukan sebuah ungkapan rasa sayang seorang ayah yang meski tak dikatakan, namun begitu nyata diungkapkan dalam bentuk tindakan. Lebih jauh lagi, kita teringatkan akan suatu kenyataan paradoks yang tersirat dari kisah Julia dan ayahnya ini: selama bertahun-tahun Anthony membiarkan anaknya berpikir bahwa dia tak ingin melihatnya bahagia. Selama itu tak ada tindakan apapun untuk memperbaiki hubungan itu. Lalu, baru setelah tersisa sedikit waktu untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, Anthony baru menunjukkan besarnya kasih sayang yang terpendam itu. Anthony masih beruntung memiliki ”kesempatan kedua”. Bagaimana jika kesempatan itu tak ada?

Hal menarik lainnya adalah ide ”kesempatan kedua” seperti yang diceritakan oleh manusia android replika Anthony Walsh di awal. Menurutnya, dirinya adalah produk berteknologi tinggi yang sengaja dirancang dan diciptakan untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukan oleh seseorang pada ”kesempatan kedua”. Jadi, setelah orang itu meninggal, keluarganya mendapat kesempatan tambahan beberapa hari untuk menghabiskan waktu bersama manusia duplikat almarhum. Dan almarhum sendiri telah merancang hal-hal yang ingin dikatakan ataupun dilakukan oleh replika dirinya itu bagi orang-orang terdekatnya. Betapapun juga, dengan alasan etika kemanusiaan, masa aktif baterai produk itu hanya beberapa hari. Orang tak bisa terus-menerus hidup bersama bayangan masa lalu; orang harus tetap menghadapi kenyataan yang sebenarnya... Hm, ide yang gila... Pernyataan tersebut seolah menguatkan pesan moral yang tersirat dari judul “All Those Things We Never Said” itu sendiri: ide gila itu seakan memunculkan pertanyaan dari akal sehat kita, ”Kenapa begitu repot, kenapa tak pergunakan saja kesempatan kita selagi hidup untuk melakukan dan mengatakan hal-hal yang perlu diungkapkan itu?”

So, ungkapkanlah selagi ada kesempatan... 

View all my reviews >>

---
Renungan yang bagus bagi orang-orang seperti aku, tipikal orang yang agak sulit mengungkapkan hal-hal yang semestinya diungkapkan kepada orang-orang yang disayangi ^^’.

Komentar

  1. bagus..menyentuh..tapi aku g suka.

    BalasHapus
  2. Makasih komentarnya.
    Ga suka dengan tulisannya apa ga suka dengan bukunya, Pak?

    BalasHapus
  3. Aku suka dg tulisannya, bagus. tapi aku g suka dg isi ceritanya. Banyak menulis ya?

    BalasHapus
  4. Oh...
    Saya memang suka nulis, sambil belajar :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis