Don’t Wanna Say Goodbye to Those Things

Tibalah saat (untuk kesekian kalinya) pindahan kost. Buku dan kertas-kertas adalah agenda pertama packing yang kulakukan terlebih dahulu. Pertama, buku-buku dan kertas-kertas kuliah yang begitu menumpuk. Selalu saja dilema, harus kuapakan? Dibuang ogah, disimpan pun berabe, berat dibawa pindah-pindah dan aku belum punya gudang. Tapi seperti biasa, berat rasanya membuang ”ilmu” begitu saja. Jadi, kukemas semuanya tak hanya buku-buku tebal dan supertebal, tapi juga semua kertas bahan-bahan belajarku selama kuliah yang bejibun itu. Ternyata, meski tersadar dengan konsekuensi repotnya mengangkuti semua itu, aku masih saja tak tega mengucap selamat tinggal terhadap mereka. Aku hanya tega membuang bereksemplar-eksemplar skripsi mentahku sembari mengingat betapa mahalnya biaya menghasilkan ”sampah-sampah” itu.

Kedua, tiba giliran packing buku lain-lain diluar buku kuliah. Untuk yang ini tidak ada dilema sama sekali, seperti sudah terpatri di benakku, semua buku yang kubeli adalah harta yang selanjutnya akan selalu kumiliki. Meski mungkin harus seperti ini, kerepotan mengangkutnya saat pindah, sampai nanti kubawa pulang dan pada saatnya kusimpan mereka dengan lega di sebuah perpustakaan impian. Tanpa harus pilih-pilih, packing buku-buku segera selesai.



Ketiga, aku punya setumpuk koran yang kubeli tiap weekend. Teman mengusulkanku menukarkan semuanya bersama kertas-kertas lain ke tukang rongsok. Oh, aku tak secepat itu menyetujuinya. Tapi, lebih repot lagi jika tumpukan koran itu harus masuk daftar packing barang yang harus diangkut juga. Uhhh... ada alasan kenapa aku menyimpan mereka dengan rapi setelah selesai dibaca. Terlebih lagi adalah alasan kenapa aku membelinya rutin tiap minggu. Jadi kuputuskan jalan tengah, aku pilah-pilah dulu rubrik-rubrik tertentu yang sayang untuk kubuang dan akan tetap kusimpan, baru kemudian sisanya kurelakan. Dan aku benar-benar melakukannya! Selama dua hari ini kamarku bergelimpang koran. Dengan sabar (dan niat banget ^^) kupilah tulisan-tulisan yang ku tak tega ucapkan selamat tinggal padanya, dan mengumpulkannya dengan rapi untuk kukemas nantinya. Saat melakukan ini, aku terlibat dalam sebuah suasana yang membuatku berdialog diri, dan semua ini memaksaku melihat kedalam benakku bahwa akhir-akhir ini aku tengah menjauh dari hal-hal yang selama ini senantiasa membuatku ”lebih hidup”.

Dan apa hal-hal yang membuat orang lebih ”hidup”? Tentu setiap orang memiliki selera dan minat tersendiri akan hal-hal yang memang dunianya, yang ketika ada didalamnya dia merasa senang dan lebih bersemangat. Yang jelas orang akan merasa lebih hidup ketika dia berkarya dalam bidang yang disenanginya dan bermanfaat. Dalam konteks yang lebih sederhana, orang merasa lebih hidup ketika ia tahu apa yang ia mau dan menjadi dirinya sendiri, belajar dan berkarya di dunia yang diminatinya.

Situasiku simpel saja. Aku tengah menjauh dari hal-hal simpel yang bermanfaat dalam keseharianku. Terkait packing koran itu, aku teringatkan bahwa akhir-akhir ini tak ada aktivitas baca buku, tak ada aktivitas menulis lagi, dan aku selalu absen di kajian dan diskusi komunitasku. Padahal kutahu hari-hariku akan lebih baik dengan semua itu, meski mungkin bagi sebagian orang hal-hal yang kusebutkan itu adalah hal-hal remeh-temeh. Setelah kuingat-ingat, akhir-akhir ini porsiku membaca jauh kalah ketimbang porsi nonton film. Waduh... Meski film juga bisa positif, tapi baca-tulis lebih utama bagiku. Dan aku bahkan tak membaca koran-koran minggu seperti biasanya. Tak juga ebook yang kemarin-kemarin intens kubaca dan pelajari.

Jadi begitulah, melalui suasana kamar penuh koran itu, sambil dengan rajinnya memilah tulisan ditemani musik, aku sampai pada hal-hal yang ternyata benar-benar minatku. Aku menemukan bahwa aku dengan sigap menyelamatkan tulisan dengan topik-topik tertentu. Cerpen dan puisi, tentu aku selamatkan karena untuk itulah aku rajin beli koran minggu. Dari Kompas kusisihkan rubrik seni. Cerpen, puisi, dan tulisan bertema seni ada di dalamnya. Dari Pikiran Rakyat aku selamatkan lembar Khazanah, didalamnya ada cerpen, puisi, dan esai-esai sastra dan budaya. Dari Tempo aku selamatkan rubrik sastra (cerpen dan puisi). Selain itu, dari Tempo aku juga menyisihkan lembar Ruang Baca, didalamnya banyak esai tentang dunia perbukuan dan literasi. Aku juga menyelamatkan rubrik Ide yang berisi esai opini dengan tema beragam, serta rubrik review buku, namun tidak semuanya. Aku mendapati bahwa aku hanya tak tega membuang review buku dan esai opini bertema sastra, pengetahuan, sains dan teknologi, serta sebagian tema agama dan filsafat. Di luar itu, ternyata aku merelakan tema-tema lain, termasuk ekonomi dan politik ^^. Jadi begitu rupanya. Di tema-tema itulah minatku berada. Dan aku tak mau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.

Komentar

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon