Virus Gila dari Sebuah Benda Mewah yang Wah

“Kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan itu lebih besar daripada makan dan minum. Orang membutuhkan makan dan minum sehari hanya sekali sampai 3x, sementara kebutuhan terhadap ilmu sebanyak bilangan tarikan nafasnya.”
-- Imam Ahmad --

Aku begitu terpesona dengan kalimat Imam Ahmad yang kutemukan di hal. 82 buku “Bikin Kamu Tergila-gila Membaca” ini. Waduh, ngapa juga ya aku baca buku provokatif semacam itu? Bukannya tanpa mengkonsumsi asupan buku seperti itu pun aku memang sudah cukup gila? Ya… aku pun tidak bermaksud untuk meningkatkan kadar kegilaanku dengan baca buku ini kok. Tapi harus kuakui, aku melirik buku ini dengan suatu misi terselubung: Menularkan virus gila ini kepada orang lain. Jahat banget… bahasanya doang. Yang jelas ini virus kan bukan virus mematikan, justru menghidupkan.

Ini erat kaitannya dengan suatu mimpi yang sampai kini sudah mulai dicicil sedikit-sedikit cikal bakal realisasinya. Dan ini erat pula kaitannya dengan perkataan Imam Ahmad tadi. Dengan tingkat kepentingan selevel tarikan nafas, apa jadinya jika kesadaran suatu masyarakat terhadap kepentingan menggali ilmu itu masih minim? Itu adalah sebuah kegelisahan tersendiri ketika aku merasakan bahwa itulah yang terjadi pada masyarakat sekitar di kampung halamanku, terutama generasi mudanya.

Aku mendapati disana bahwa buku adalah sebuah benda yang masih asing untuk dijadikan teman. Tentu saja yang dimaksud asing dalam hal ini yaitu konteks status bukunya sebagai teman yang mencerdaskan dan kerap memberi pencerahan, bukan status benda fisik bukunya itu sendiri. Ternyata secara fisik pun buku masih cenderung dipandang eksklusif. Semua orang tahu ia adalah sebuah benda yang baik, kantungnya ilmu pengetahuan dan wawasan. Tapi, persoalan siapa yang ‘memegang’ dan menjadi teman buku itu juga terbatas untuk segelintir orang tertentu. Jadinya buku terlihat seperti barang mewah yang hanya untuk kalangan tertentu saja. Hanya saja, bukan permasalahan kelas ekonomi yang membedakan kalangan ini. Katakanlah buku itu hanya untuk kalangan scholar atau akademis (guru/ustadz, pemuda & anak-anak yang tengah sekolah). Sisanya, di luar kebutuhan formal pendidikan, mungkin hanyalah segelintir kalangan lain-lain yang ‘kurang kerjaan’ yang mau-maunya membuka diri untuk memasuki sebuah ruang sunyi untuk bertapa mengeja deretan kata-kata yang panjangnya sampai berlembar-lembar (hehe… skeptis sekali kalimatnya).

Padahal, untuk mengatakan bahwa buku hanya untuk kalangan scholar juga kurang tepat adanya. Buku itu kan umum sekali, ragamnya begitu banyak tak terbatas pada bahan bidang-bidang kajian pendidikan. Tapi begitulah pandangan umum masyarakat terhadap buku. Kalau melihat ada orang (di luar status scholar) sedang asyik dengan sebuah buku tebal sedikit saja mereka pastilah maklum bahwa dia pastilah seorang rajin sekali yang memang berkepentingan terhadap bahan yang sedang dibacanya. Atau mungkin dia hanyalah orang yang kurang kerjaan itu tadi, atau mungkin dia memang dasarnya punya kecenderungan aneh yang serba ingin tahu. Kemungkinan yang disebut terakhir inilah yang sebetulnya diharapkan, namun sayangnya masih langka. Orang yang serba ingin tahu sih banyak, ingin tahu seputar gosip-gosip tetangga maksudnya, hehe… Memang rasa ingin tahu yang besarlah yang paling efektif menuntun orang untuk berkenalan dengan berbagai jenis buku, tak peduli isinya nyambung apa tidak dengan profesi, status sosial, atau apapun yang berhubungan dengan dirinya itu. Secara otomatis hal-hal yang memang ia perlukan entah itu untuk alasan akademis atau yang lainnya pun akan dibaca dengan bumbu rasa ingin tahu pula. Rasa ingin tahu ini yang mendorong orang untuk mencari. Rasa ini sesungguhnya adalah salah satu dimensi positif dari sifat tawadhu (rendah hati), ketika seseorang merasa begitu miskin akan ilmu, sehingga mencarinya adalah sebuah tuntutan tersendiri.

Memang betul, mencari ilmu itu tidak terbatas pada sebuah buku. Di lingkungan masyarakat sana sekolah, pesantren, TPA, majelis pengajian ibu-ibu, dsb memang eksis. Tapi toh, itu saja apa cukup? Lagi pula, berapa persen yang benar-benar peduli akan kepentingan menggali ilmu disana itu? Sedang kebutuhan akan ilmu itu tak hanya di jam-jam sekolah atau mengaji saja, tapi sebanyak tarikan nafas alias saking tingginya kebutuhan itu, ditambah sedemikian luasnya samudera ilmu Allah, apalagi ilmu itu meliputi seluruh kehidupan ini, seluruh aktivitas sehari-hari, dan tiap amalan juga harus tahu ilmunya, benar-benar kita tak boleh pasif saja untuk mencari dan menggali ilmu itu. Dan disinilah peran buku kembali beraksi. Kapan pun dia ada untuk menjadi teman sekaligus guru.

Yah… itu hanyalah sekeping cerita tentang sebuah kegelisahan. Pada akhirnya, semua kegilaan akan buku itu bermuara pula pada sebuah tujuan berbagi. Kelak, buku “Bikin Kamu Tergila-gila Membaca” ini, seperti juga buku-buku lainnya akan bermigrasi untuk menetap entah di tanah yang manapun di kampung halaman sana, dan siap menumbuhkan virus gila yang menghidupkan itu. Mereka akan eksis meski sejarah disana telah mencatat nasib toko-toko buku yang lenyap dan perpustakaan yang lengang. Mereka akan siap menjadi pesaing mainan digital dan televisi yang sudah kadung mencuri hati para generasi muda sana.


Bandung, Februari-Maret 2009


Ps: Ehm… Btw judulnya aneh ya…

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh