Slumdog Millionaire



Saya pernah membaca cerpen yang berkisah tentang orang kere yang ketiban durian runtuh. Dan saya kira ada banyak kisah semacam itu, yang memang selalu menyisakan celah yang menarik untuk dijadikan media bagi penulisnya menyampaikan gagasan tertentu kepada pembaca. Ada yang kemudian mengarahkan kisah semacam itu untuk menjadi gerbang pemaparan fakta sosial, kemanusiaan, atau bahkan menjadi gerbong pengantar diskusi filosofis humaniora, materialisme, relijiusitas, dan lain-lain.

Slumdog Millionaire adalah sebuah kisah semacam itu, yakni tentang seorang pemuda kumuh miskin (Jamal Malik) yang lantas menjadi jutawan karena memenangkan hadiah tertinggi kuis Who Wants to be a Millionaire. Yang menarik dari segi pengemasan ceritanya adalah bagaimana setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuis itu menjadi gerbang flash back yang melemparkan Jamal pada lika-liku masa kecilnya sebagai anak jalanan yang dipermainkan kehidupan kota yang keras. Bagaimana seorang slumdog buta huruf seperti dia mampu menjawab seluruh pertanyaan kuis dengan tepat adalah hoki yang dimunculkan bukan tanpa logika. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa Jamal temukan jawabannya dalam pengalaman hidupnya sendiri. Dengan plot maju-mundur dan alur cepat, film Slumdog Millionaire yang telah mendapatkan banyak penghargaan ini memang menarik untuk disimak.

Film yang diangkat dari novel berjudul “Q and A” karya Vikash Swarup ini begitu detail menyajikan potret kehidupan sosial kawasan kumuh Mumbai, India, yang bisa dibilang adalah cermin bagi Jakarta. Film yang disutradarai Danny Boyle ini begitu gamblang memaparkan realitas kemiskinan masyarakat terpinggirkan di sudut-sudut kota besar. Pemukiman kumuh dengan rumah-rumah semerawutnya yang sempit dan rapat berdempetan, lalat, sampah, kolam multifungsi, sampai WC umum yang berupa jamban seadanya, dan tentu saja anak-anak jalanan (yang dieksploitasi habis-habisan), sungguh tak ada bedanya seperti menyaksikan sepotong realitas sosial di negeri sendiri.

Dari sekadar balutan romantisme kisah cinta muda-mudi antara Jamal dan Latika, film ini berbicara banyak hal dan realitas. Lewat kisah masa kecil Jamal dan kakaknya, Salim, kita diajak menulusuri kerasnya kehidupan anak-anak jalanan. Sejak lingkungan tempat tinggalnya yang muslim diamuk sekelompok massa Hindu mayoritas, Jamal & Salim harus bertahan hidup sebagai anak jalanan yatim piatu. Ibunya tewas pada insiden itu, sedang mereka harus lari menyelamatkan diri. Sejak itu kehidupan Jamal dan Salim kecil diwarnai aksi lari dan lari. Ketika itulah pertama kalinya persahabatan Jamal dengan Latika terjalin.

Setelah terdampar di tempat pembuangan akhir sampah, mereka dibawa ke tempat penampungan anak jalanan oleh seorang yang mereka kira dewa penolong. Tak hanya diberi makan dan tempat tinggal, masing-masing disuruh menunjukkan kemampuan menyanyi. Anak-anak yang polos itu berusaha menyanyi sebaik mungkin seolah akan ditawari rekaman. Kenyataannya, mereka ditampung untuk dieksploitasi, mengejar setoran dengan meminta-minta atau menjadi pengamen. Salim yang sejak awal sudah terlihat berkarakter seperti bajingan kecil segera diangkat menjadi pemimpin pasukan kecil itu. Karena kedudukannya itu dia akhirnya menyaksikan salah seorang anak yang bisa menyanyi dengan baik ternyata dibuat buta matanya. Pendapatan pengamen buta tentu berkali lipat. Setelah menyaksikan itu Salim disuruh memanggil Jamal yang tiba gilirannya menyanyi. Sejahat apapun dia, Salim ternyata tak tega jika adiknya sendiri yang akan dibuat buta. Karena ini mereka harus melarikan diri lagi. Saat itu Latika tertangkap sehingga mereka terpisah. Selanjutnya Jamal dan Salim terus berupaya bertahan hidup dengan berjualan di kereta, mencuri, hingga menipu para wisatawan di kawasan Taj Mahal.

Selama itu Jamal tak pernah melupakan Latika, dan terus berupaya untuk bertemu dengannya. Selama itu pula, Salim yang memang benar-benar beranjak tumbuh menjadi bajingan muda menjadi penghalang diantara mereka. Jamal sendiri telah berpisah cukup lama dengan Salim ketika ia mengikuti kuis yang mengantarnya menjadi jutawan itu. Motivasi sesungguhnya menjadi peserta kuis televisi itu juga adalah sebagai bentuk upaya lain harapannya untuk bertemu dengan Latika, yang ia tahu menyukai acara itu. Ia berharap Latika menontonnya di suatu tempat dan mau kembali padanya.
***

Omong-omong, begitu mendengar cerita film ini aku seperti familiar dengan suatu buku. Aku pernah mendengar tentang buku itu sekilas. Ternyata benar, film ini diangkat dari novel Q and A. Tampaknya bukunya sendiri ga begitu populer. Jadi ingin mencarinya…

Komentar

Popular Posts

25 Coffee & Kitchen, Cafe Asyik di Arcamanik, Bandung Timur

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ada Surga di Rumahmu