The Secret of Your Spiritual DNA

The Secret of Your Spiritual DNA The Secret of Your Spiritual DNA by Musa Kazhim


My review


rating: 4 of 5 stars



View all my reviews.
Membaca The Secret of Your Spiritual DNA mengingatkan saya pada konten ceramah tarawih seorang ustadz di suatu bulan Ramadhan di tahun 2005. Beliau menyampaikan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan performance yang berbeda-beda, akan tetapi terdapat satu kesamaan, yaitu performance spiritual atau ruhiahnya, yakni fitrahnya. Hanya selanjutnya kualitas spiritual ini akan berbeda-beda. Persoalan inilah yang dibahas secara deskriptif dalam bukunya Musa Kazhim ini.

Buku yang dikemas dengan cukup menarik ini bertutur tentang persoalan yang paling mendasar dalam diri manusia. Tak lain dan tak bukan adalah fitrah. Seperti halnya molekul DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) merupakan materi genetik yang membawa seluruh informasi yang diperlukan bagi sel makhluk hidup untuk melangsungkan seluruh aktivitasnya, fitrah merupakan DNA spiritual pembawa watak dasar yang mengarahkan seluruh aktivitas kehidupan manusia. Jika molekul DNA adalah the blue-print of life, maka fitrah adalah DNA jiwa yang merupakan cetak-biru penentu yang mengatur seluruh gerak dalam jiwa. Maka jika manusia tidak mau mengenal DNA jiwanya sendiri, bagaimana ia akan menjalani kehidupannya dengan arah yang jelas dan benar?

Yang jelas fitrah adalah DNA jiwa manusia yang tak mungkin berubah sampai kapan pun. Sebenarnya fitrah juga memancar jelas dalam setiap jiwa, jelas sekali malah. Di buku ini disebutkan, saking jelasnya pancaran itu justru kerap membuat fitrah tak ubahnya seperti matahari yang terus bergerak mendekat ke mata hingga mata tak mampu lagi melihat (Hal.14).

Bila manusia tidak mengenal fitrahnya, maka ia tidak bisa mengenali kecenderungan dasar DNA psikis yang tak mungkin dicegahnya. Jika kecenderungan dasar ini tidak dikenali dan tidak dimanifestasikan pada penyaluran yang tepat, maka jiwa akan mengalami kerusakan. Tanpa mengenal fitrah, manusia tidak dapat mengenal dimensi, potensi, penyelewengan, dan penyakit dalam dirinya (Hal.xi-xii). Barangkali saya dapat membahasakannya begini: DNA spiritual kita tanpa diketahui dan disadari dibiarkan mengalami banyak mutasi sebagai imbas dari terpaan mutagen-mutagen dari lingkungan sekitar diri. Mutasi yang dimaksud adalah mutasi-mutasi yang mengakibatkan penyakit dalam diri. Oleh sebab itu dalam pengantar buku ini penulis menjelaskan mengapa tindakan membahas, merenung, menelisik, dan mengetahui fitrah menjadi tugas dan tanggung jawab abadi setiap insan.

Sebaliknya, DNA spiritual orang yang sudah di-recode (yakni, dikembalikan pada fitrahnya) hanya akan terpusat pada niat luhur, pikiran positif, dan merdeka dari angan-angan kosong dunia. Kita dapat menemukan contoh-contoh kilasan kisah hidup figur-figur baik yang DNA spiritualnya sudah di-recode maupun yang justru dibiarkan termutasi di sepanjang buku ini.

Secara kronologis buku ini terbagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama bercerita soal seluk-beluk fitrah dan karakteristiknya. Setelah diajak mengenal karakteristik fitrah, kita perlu mengetahui metode yang tepat untuk menyalurkan pelampiasan kecenderungan dasar tersebut. Jihad Akbar, itulah pertempuran terbesar dalam jiwa manusia (Jihad An-Nafs) yang dibahas dalam bagian kedua. Pada bagian ketiga dipaparkan mengenai seluk-beluk takwa. Mengapa takwa? Karena menurut Murthadha Muthahhari takwa adalah istilah generik untuk keadaan fitrah sesudah berjihad melawan segenap keburukan sifat dan kebusukan dirinya (Hal.103). Masing-masing bagian ini dibahas dengan menyertakan deskripsi melalui kisah-kisah teladan yang relevan dengan bahan yang dibahas.

Secara keseluruhan buku ini cukup menarik dari segi konten dan pengemasannya. Dengan format yang enak dibaca, buku ini tak hanya menampilkan ilustrasi tetapi juga memasang kutipan ”kalimat ajaib” yang diambil dari materi di setiap bahasan sehingga memudahkan pembaca mengingat kembali poin penting dari setiap bahan bahasan yang dibaca. Selain itu di beberapa bagian disematkan pula box berisi petikan kisah hikmah tokoh-tokoh dan kisah dari kitab tertentu yang mendukung bahan yang sedang dibahas. Meski sebenarnya dalam bahasan utama pun bertebaran kisah-kisah seperti itu. Saya menduga meski sama-sama mendukung bahasan, mungkin konten box ini dibuat terpisah karena tidak secara langsung dibahas bersama alur buku. Tapi cukup merepotkan juga karena pembaca harus bolak-balik halaman saat kembali pada bacaan utama. Ini karena beberapa konten box itu ada yang menghabiskan beberapa lembar halaman. Tak masalah sebenarnya asal sedia pembatas buku. Sayangnya buku ini sendiri tidak disertai bonus pembatas buku.

Dari segi pengemasan bahasa dan kalimatnya, buku ini memang menarik. Penulis kerap menggunakan kalimat atau frasa yang menarik yang juga digunakan pada penamaan tiap judul dan subjudulnya. Bahasa yang fresh ini membuat teks tidak terasa membosankan saat dibaca. Analogi yang kerap digunakan juga menarik dan mudah dipahami, misalnya pada penggambaran pecinta harta yang dianalogikan dengan penderita diabetes: ”Dalam ilmu kesehatan, kerusakan pankreas otomatis melipatgandakan kadar gula dalam darah penderita diabetes. Lacurnya, semakin tinggi tingkat kerusakan pankreasnya, semakin besar pula dahaga penderita diabetes pada gula dan segala asupan yang manis. Pencinta harta juga seperti itu. Bila pankreas spiritual gagal mengatur kadar cinta harta secara tepat, hasrat kita pada harta justru akan semakin menjadi-jadi. ’Seperti orang yang mencoba meredakan kehausannya dengan menenggak air laut,’ kata Nabi Muhammad Saw.” (Hal.20-21). Contoh lainnya pada pembahasan takwa dikatakan bahwa jiwa bagai mata manusia dalam melihat realitas dan takwa adalah selaput yang menjaganya dari segala debu dan polusi, sehingga mata spiritual orang yang bertakwa daya visinya senantiasa tajam dan terang (Hal.123). Atau pada bahasan ”Vaksin Ilahi”: Takwa itu berfungsi bak vaksin atau antibiotik yang menjaga manusia dari segenap kejelekan (Hal.112).

Hanya saja, dengan tajuk The Secret of Your Spiritual DNA, buku ini serasa belum tuntas mengupas rahasia dibalik DNA spiritual ini. Seperti komentar Edwin Arifin dalam reviewnya terhadap buku ini, Musa justru terlalu larut dalam kisah-kisah deskriptif dan naratif yang dituturkannya di sepanjang buku. Mengingat subjudul bukunya ”Mengelola Fitrah untuk Kesuksesan dan Kemuliaan Hidup” sehingga mengesankan berupa buku motivasi praktis, kisah-kisah yang sejatinya hanya merupakan pendamping bahasan justru terkesan mengambil alih posisi central dalam buku ini. Persoalan bagaimana cara me-recode DNA spiritual justru kurang ditegaskan Musa secara lebih praktis. Pula, Musa seolah “lupa” mengupas sisi perawatan DNA spiritual ini. Bagaimanapun juga, mutagen-mutagen berbahaya di sekitar kita tentu terus ada dan senantiasa mengancam bahkan DNA spiritual yang sudah di-recode sekalipun bukan? Tentunya orang yang telah mencapai takwa pun masih pula akan menghadapi banyak ujian, bukan? Bahkan dalam buku inipun disinggung lewat perkataan Ja’far Ash-Shadiq bahwa ”orang mukmin pasti mengalami cobaan sesuai kadar amal baiknya. Orang yang agamanya dan amalnya baik akan lebih berat cobaannya.” dan ”Sesungguhnya cobaan itu menimpa orang beriman dan bertakwa lebih cepat daripada air hujan turun ke dasar bumi” (Hal.125). Mengutip kalimatnya Edwin Arifin, ”Bak seorang dokter, Musa telah memberikan diagnosis, mengetahui obatnya, dan sudah pula mengilustrasikan penyakit sang pasien ke dalam bahasa awam yang dipahaminya. Sayangnya, Musa tak ingat memberikan langkah-langkah yang mesti dilakukan si pasien guna menuju kesembuhan dan lupa pula menuliskan resep untuk dibawa ke apotik”.

But overall, kelebihan yang dimiliki buku ini patut diberikan apresiasi tinggi. Ia meramaikan khazanah buku motivasi sekaligus islami dengan pendekatan yang unik. Cara Musa dalam memilih kisah kehidupan yang tepat dan membuatnya sinkron dengan bahasannya patut diacungi jempol. Apalagi kisah-kisah tersebut menambah wawasan pembaca mengenai tokoh-tokoh atau peristiwa yang dihadirkannya. Dengan menggandeng sederet kisah kehidupan tokoh semacam Edoardo Agnelli --anak juragan Fiat yang memilih spiritualisme diatas materialisme, Khomeini sang imam revolusioner Iran, Murthadha Muthahhari ulama-cum-filosof Iran, atau membidik peristiwa tragis Karbala, sampai kisah tragis semacam Seung Hui Cho --mahasiswa Virginia Tech yang menembak dirinya sendiri setelah menembaki 32 korban, buku ini memberikan deskripsi yang begitu memikat tentang kualitas performance spiritual yang berbeda-beda seperti yang disinggung di awal. Perbedaan ini jelas disebabkan oleh perbedaan manifestasi fitrah manusia yang pada hakikat awalnya sama.

Jadi memang serasi sekali bukan, dengan konten ceramah tarawih yang saya simak di tahun 2005 itu? Bedanya, kebalikan dengan buku ini, penyampaian tantang fitrah pada ceramah sang ustadz justru hanya sebagai prolog saja untuk mengantarkan pada bahasan perawatan spiritual yang justru menjadi bidikan utama. Perawatan spiritual ini meliputi perawatan harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Itu pun sebenarnya masih berupa kendaraan yang ditumpangi sang ustadz untuk sampai pada bahasan fungsi puasa Ramadhan yang merupakan perawatan spiritual jangka tahunan.


Ps. Btw jadi pengen baca karya2 Musa Kazhim yang lain nih...

Komentar

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon