Tentang Gunung, Buku, dan Imajinasi

Judul Tulisan: Gunung, Buku, dan Imajinasi

Penulis: Qaris Tajudin

Sumber: Rubrik Kolom Koran Tempo Edisi 55, 30 Nov 2008


Tulisan yang menarik ini dapat dibaca di koran Tempo minggu, 30 November 2008. Tulisan ini cukup menggelitik karena mengangkat 'wacana lama' soal minimnya sastra di sekolah yang kait-mengait dengan persoalan membangkitkan minat baca di kalangan masyarakat, khususnya anak sekolah. Berangkat dari sebuah pertanyaan mengenai mengapa kemampuan mengarang anak-anak sekolah begitu rendah? Dari sini penulis mencoba menerka penyebabnya terkait dengan ketiadaan ruang bagi siswa untuk berimajinasi. Sistem pendidikan kita selama ini cenderung memberikan pelajaran yang kesemuanya berupa jawaban pasti yang harus dihapal, tak terkecuali pelajaran seni yang memerlukan imajinasi. Contohnya menggambar. Menggelitik sekali ketika pertanyaan penulis pada sebuah forum: jika anak SD dari Sabang sampai Merauke diminta menggambar bebas, apa yang akan mereka gambar? Semua orang sepakat dengan jawaban: 2 gunung yang mengapit matahari terbit, dengan jalan yang diapit sawah didepannya. (saya akui, saya pun dulu sering menggambar seperti itu-itu juga, ^^'). Itu adalah sebuah deskripsi yang menohok sekali tentang sempitnya ruang imajinasi siswa.

Mengarang, kita tahu adalah sebuah aktivitas yang memerlukan kreativitas imajinasi. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sastra hanya mendapat jatah 20%, itupun kita lebih banyak disuruh menghapal nama-nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dsb, bukannya disuruh membaca bukunya. Dengan demikian kita hanya mendapat transfer data, bukan pengalaman atau rasa dari karya sastra itu. Lebih lanjut penulis membuat perbandingan dengan Malaysia yang telah mewajibkan membaca buku sastra Melayu di SD-SMA. Malaysia memang lebih makmur dari Indonesia sehingga mampu mengadakan buku tersebut. Dengan perbandingan ini, masalahnya bisa dianggap sebagai persoalan ekonomi. Tapi, bandingkan pula dengan Mesir yang memiliki GNP dibawah Indonesia.

Mesir menjalankan program tahunan yang digelar setiap musim panas, yakni saat liburan sekolah. Program ini berupa penyebaran buku-buku keseluruh negeri, termasuk karya-karya sastra dunia yang sudah diterjemahkan, yang tidak semuanya gratis, namun dijual dengan harga murah. Strateginya, buku-buku itu memang dicetak dengan kualitas kertas yang jelek agar bisa murah. Tak masalah soal lusuhnya, yang penting anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah mampu membelinya. Versi buku berkualitas bagusnya sendiri tetap bisa diperoleh di toko-toko buku. Buku-buku yang dirasa terlalu tebalpun disiasati dengan menerbitkannya dalam beberapa jilid. Strategi lainnya, ada kebijakan bagi setiap penerbit dari pemerintah untuk membebaskan hak cipta beberapa judul bukunya selama setahun untuk program ini. Ini tidak merugikan penerbit dan toko buku, karena dapat dianggap sebagai sampling dalam pemasaran (pembagian produk secara gratis untuk menumbuhkan minat masyarakat pada produk tsb). Jadi program ini semacam stimulus untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga 'pengorbanan' itu nantinya tertebus di periode selanjutnya dengan peningkatan pelanggan. Menggelitik sekali pernyataan yang sebaliknya: menjauhkan orang dari buku dengan alasan apapun termasuk kertas mahal, malah justru membuat orang semakin tak peduli pada buku. Saat minat baca sudah tumbuh, apresiasi masyarakat dapat terlihat dari contoh pengalaman penulis ketika di Kairo melihat dan berbincang dengan seorang anak SD kumal yang ternyata sedang membaca karya peraih nobel sastra Naguib Mahfouz. Jelas, bukan lagi persoalan ekonomi, tapi soal kemauan.

Di Indonesia, penulis menyayangkan tentang ketiadaan taman bacaan di kota atau desa yang kini kalah oleh oleh bisnis penyewaan mainan digital. Soal pentingnya anak-anak membaca buku, terutama sastra, terkait dengan imajinasi. Membaca karya sastra beda dengan menonton film. Deskripsi pengarang tentang suatu hal bisa menimbulkan imajinasi berbeda-beda bagi tiap pembaca. Deskripsi tokoh cantik, misalnya. Setiap pembaca tidak akan mengimajinasikan wajah yang sama. Kalau film, kata penulis, seperti melihat benda-benda dalam museum yang dijelaskan dengan detil oleh pemandu. Semua orang akan melihat dan mengalami hal yang sama.

Apa pentingnya mendidik orang untuk berimajinasi? jawaban penulis mengingatkan saya pada kalimat Einstein, "Imagination is more important than knowledge". Bahkan ilmu pengetahuan tak akan maju tanpa imajinasi dan fiksi. Tak percaya? Lihatlah bagaimana pencapaian teknologi saat ini yang ternyata dulunya banyak yang berawal dari imajinasi seorang pengarang cerita sains-fiksi (sci-fi). Yang jelas, kalau semua anak SD sudah membaca novel fiksi, penulis yakin sekali mereka tak lagi cuma menggambar gunung dan matahari yang malu-malu di tengahnya!

Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon