Membaca: mengapa harus tidak suka terhadap aktivitas yang bermanfaat?*


Fenomena rendahnya minat baca di sebagian besar masyarakat kita menarik untuk dikaji karena membaca merupakan aktivitas yang sangat besar manfaatnya dalam membuka cakrawala ilmu. Kegiatan membaca seharusnya menjadi budaya di kalangan masyarakat, karena kegiatan yang tampaknya remeh ini ternyata dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang melek ilmu. Antusiasme masyarakat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dapat menjadi satu langkah menuju bangsa yang cerdas. Ini tidak berlebihan, karena suatu pencapaian yang besar dapat bermula dari kesadaran untuk memulai pencapaian skala kecil.

Masih rendahnya minat baca masyarakat menjadi suatu hal yang patut diberikan perhatian khusus. Betapa tidak, membaca sebenarnya bukanlah suatu aktivitas ‘berat’, sebaliknya dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan jika antusiasme terhadap pengetahuan yang disediakan oleh sumber bacaan tersebut telah tumbuh. Lihat saja bagaimana orang-orang yang gemar membaca bisa ‘tenggelam’ dalam bacaannya. Barangkali soal perbedaan selera atau kecenderungan personal yang tidak suka kegiatan semacam membaca menjadi salah satu alasan munculnya fenomena ini. Dengan demikian persoalan yang sangat penting untuk dikaji yaitu bagaimana menumbuhkan minat atau antusiasme masyarakat untuk melirik berbagai bahan bacaan itu sendiri.

Fenomena rendahnya minat baca menjadi sebuah paradoks tersendiri bahkan jika dilihat dari aspek yang sangat sederhana: bahwa membaca adalah kegiatan yang bermanfaat. Mengapa harus tidak suka terhadap hal yang bermanfaat? Sementara masih banyak juga yang ternyata sebagian besar waktu luangnya hanya diisi dengan kegiatan yang tidak banyak manfaatnya. Contoh misalkan remaja yang lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain atau menonton tv (kasus yang sering terjadi).

Manfaat membaca besar sekali bagi perkembangan daya pikir. Membaca sama halnya dengan melatih dan mengolahragakan pikiran. Kegiatan membaca dapat menumbuhkan pikiran yang kritis. Oleh karena itu, budaya baca yang baik diperlukan untuk menumbuhkan masyarakat yang kritis dan peka. Dengan manfaat yang sedemikian besarnya, seharusnya membaca menjadi budaya dalam masyarakat kita. Dan mengapa kita tidak berusaha memulainya dari skala kecil?

Solusi

Bagi masyarakat kota seperti Bandung, sebenarnya upaya-upaya menumbuhkan minat baca sudah cukup banyak terakomodasi dengan tersedianya akses yang mudah terhadap berbagai jenis buku. Selain toko-toko buku dan taman-taman bacaan serta perpustakaan yang bertebaran, kegiatan-kegiatan semacam bedah buku dan bincang literasi pun tersedia bagi masyarakat. Selain itu, kemudahan mengakses sumber informasi dan pengetahuan melalui internet juga menjadikan fasilitas untuk kegiatan membaca semakin terbuka luas. Jadi, solusi untuk masyarakat kota seperti ini lebih ditekankan pada bagaimana mengoptimalkan sarana atau fasilitas yang telah ada tersebut untuk mencapai target tumbuhnya kesadaran membaca masyarakat.

Di sisi lain, bagi masyarakat pedesaan, akses terhadap fasilitas dan media baca tidak semudah masyarakat kota. Masih banyak desa-desa yang tingkat ketersediaan sumber bacaannya sangat rendah. Di daerah tempat tinggal saya misalnya, perpustakaan yang ada hanya terdapat di sekolah. Dengan demikian, buku-buku yang tersedia juga terbatas ragamnya pada buku-buku pelajaran saja. Perpustakaan desa sendiri bahkan masih sebatas pada target jangka panjang untuk siap dibuka. Jangankan taman bacaan, toko buku saja sulit mencarinya. Mungkin karena memang prospek pasar yang tidak bagus menjadi salah satu faktor penyebabnya. Akses internet juga masih sangat terbatas dan belum memasyarakat. Jadi, solusi untuk menumbuhkan minat baca masyarakat desa semacam ini adalah sebagai berikut:
- Menghimpun orang-orang yang memiliki koleksi buku untuk bekerjasama mendirikan taman baca atau perpustakaan yang terbuka untuk umum. Selain itu bisa juga organisasi pemuda seperti karang taruna mengupayakan pembentukan perpustakaan atau taman baca tersebut bekerjasama dengan pihak desa untuk mengajukan proposal kepada donatur buku dan dana. Sosialisasi perpustakaan atau taman baca yang terbentuk diupayakan disosialisasikan secara efektif. Target publikasi mencakup seluruh elemen masyarakat mulai dari siswa-siswa sekolah, anak-anak, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak. Dengan demikian pengadaan koleksi buku diupayakan beragam untuk semua target tersebut.
- Mengadakan program atau acara berkala yang dapat menarik masyarakat berkaitan dengan aktivitas baca. Misalnya, mengadakan forum diskusi buku yang menarik disesuaikan dengan target elemen masyarakat yang dituju. Pengadaan program ini dilakukan dengan kerjasama yang intens dengan pihak sekolah, taman kanak-kanak, forum pengajian, maupun pemerintah desa. Acara yang diadakan dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Menyediakan topik diskusi atau bahan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat menjadi kunci penting untuk menumbuhkan ketertarikan mengorek informasi melalui bahan bacaan.

Adapun solusi-solusi yang lebih umum antara lain sebagai berikut:
- Membentuk komunitas-komunitas baca atau forum-forum literasi dan/atau mensosialisasikannya dengan lebih gencar agar sampai kepada masyarakat secara efektif. Menjadi bagian dari komunitas baca dapat menumbuhkan semangat baca yang tinggi. Strategi konkritnya yaitu dengan mensosialisasikan komunitas atau forum tersebut ke kampus-kampus, sekolahan, yayasan, organisasi, dan masyarakat umum. Di dunia maya sendiri kini telah ada komunitas buku yang sudah berkembang besar misalnya seperti goodreads.com. Komunitas dunia maya seperti itu juga dapat menjadi media sosialisasi yang efektif .
- Mengefektifkan publikasi event-event yang berkaitan dengan dunia buku dan literasi. Di kota seperti Bandung, event-event ini sudah banyak dan sering diadakan, namun seringkali yang menjadi masalah adalah tidak tersampaikannya publikasi tersebut kepada masyarakat luas.
- Mengadakan diskusi buku atau bedah buku dengan tema yang update dan menarik. Untuk menarik minat masyarakat, diskusi tersebut diisi oleh penulis yang pakar di bidangnya, serta bisa juga mengundang penulis dan tokoh yang populer. Untuk menarik kalangan remaja misalnya, bisa juga acara tersebut disertai acara hiburan band populer.
- Banyak cerita novel yang bagus yang diangkat ke layar lebar. Contohnya Laskar Pelangi. Hal ini merupakan fenomena yang menggembirakan karena media film juga dapat menjadi sarana yang efektif dalam menumbuhkan minat baca. Seringkali film yang sukses diangkat dari sebuah buku mampu menularkan ketertarikan masyarakat penonton film tersebut untuk masuk pula pada dunia baca. Berawal dari satu novel, bisa saja novel tersebut menjadi ‘sapa perkenalan’ dunia baca terhadap orang-orang yang sebelumnya enggan memasukinya. Hal yang sama dapat juga berlaku bagi buku-buku pengetahuan yang diadaptasi menjadi media audio visual. Pemutaran film atau video semacam ini yang diikuti dengan bahasan dan diskusi tentang film tersebut dapat menjadi alternatif untuk menarik minat baca masyarakat.
- Dari kalangan industri penerbitan sendiri upaya untuk memperkaya konten dan tampilan bahan bacaan sudah cukup bagus. Belakangan ini buku-buku pelajaran udah banyak yang dikemas dalam bentuk yang tidak monoton dengan menampilkan ilustrasi yang menarik, misalnya, dan bahasa yang mudah dicerna. Contoh lain bahkan sudah ada pula upaya mengemas buku pelajaran matematika SD dalam bentuk komik. Bagaimana membuat bahan bacaan menjadi menarik menjadi suatu solusi tersendiri yang datang dari pihak penerbitan dan penulis.
- Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan per individu yaitu seperti sharing bahan bacaan dengan teman atau keluarga. Selain itu menjadikan buku sebagai hadiah ulang tahun bagi orang lain, misalnya. Membiasakan membicarakan bahan bacaan sebagai topik obrolan santai juga dapat menjadi bentuk promosi untuk menularkan minat baca kepada teman atau keluarga.



*Kerjaan tugas kuliah, sekalian ngeluarin unek-unek

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis