Dear Professor Einstein

Dear Professor Einstein: Albert Einstein's Letters to and from Children Dear Professor Einstein: Albert Einstein's Letters to and from Children by Evelyn Einstein


My review


rating: 4 of 5 stars
Sudah bukan rahasia kalau Einstein memang seorang ilmuwan besar dan jenius. Sebagian besar orang yang pernah menyimak perjalanan karir Einstein barangkali juga telah tahu bahwa selain dalam bidang ilmu pengetahuan, Einstein juga menaruh perhatian besar terhadap masalah kemanusiaan dan perdamaian dunia. Nah, kalau sikap dan hubungannya dengan anak-anak, kira-kira seperti apa ya?

Jika pada buku The World As I see It kita dapat menyimak koleksi esai, korespondensi, artikel dan pidato Einstein tentang pandangannya terhadapa masalah-masalah global dunia, maka pada buku ini kita dapat menemukan berbagai dokumentasi Einstein yang berhubungan dengan anak-anak.

Lewat buku kecil ini kita sedikitnya dapat memperoleh gambaran sisi lain pribadi seorang Einstein berkenaan dengan hal tersebut. Ilmuwan nyentrik yang rendah hati dan bersahaja ini ternyata sangat mencintai dan menunjukkan sikap bersahabat dengan anak-anak. Simak saja bagaimana korespondensi antara Einstein dan anak-anak dari berbagai negara yang dimuat dalam buku ini.

Lebih dari 60 surat dari arsip Einstein dihimpunkan Alice Calaprice dalam buku ini. Tentu menarik sekali membaca surat-surat anak-anak yang lucu dan polos kepada ilmuwan terkenal yang satu ini. Dan tak kalah menariknya mengetahui bagaimana Einstein membalas surat mereka. Meski, mengingat Einstein sangat sibuk, hanya sebagian kecil saja anak-anak yang beruntung mendapatkan balasan suratnya.

Pertanyaan anak-anak seringkali tak terduga, konyol, dan mengejutkan. Kepolosan anak-anak sering juga membuat kita tersenyum atau tertawa geli. Tak terkecuali dengan surat-surat anak-anak terhadap Einstein ini. Ada yang menyarankan Einstein supaya potong rambut, ada yang ingin memastikan bahwa Einstein bukan tokoh kartun, menanyakan apakah Einstein merasa jenius, bahkan ada yang bertanya apakah Einstein akan jadi gila --karena menurut , orang jenius nantinya akan gila =D. Banyak diantara surat-surat itu yang isinya minta tanda tangan dan foto, berupa ucapan selamat ulang tahun, serta banyak juga yang mengutarakan keingintahuan dan ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan alam.
Bagaimana Einstein menjawab surat-surat itu mencerminkan kearifan lain yang dimiliki pribadi Einstein. Einstein mampu berkomunikasi dengan anak-anak dengan bahasa yang menyenangkan dan lucu. Atas beberapa pertanyaan mengenai alam semesta, Einstein menyampaikan jawaban dengan bahasa yang sederhana.

Selain memuat korespondensi Einstein dengan anak-anak, buku ini dilengkapi dengan pengantar dari cucu Einstein (Evelyn Einstein), kronologi sejarah hidup dan biografi singkat Einstein, esai Robert Schullmann tentang pendidikan Einstein, serta foto-foto Einstein dari berbagai tahun. Kompilasi yang memuat berbagai dokumentasi ini membuat buku ini sangat menarik. Beberapa gambar surat asli tulisan tangan anak-anak bahkan ada yang ditampilkan juga dalam buku ini.

Buku kecil ini menyampaikan kearifan dan motivasi tersendiri bagi siapa saja yang membacanya. Cocok untuk orang tua maupun muda karena bahasanya yang ringan. Para pengagum Einstein pastinya senang sekali dengan adanya buku seperti ini.






View all my reviews.

Saya pribadi sangat menyukai buku ini. Lucu juga membayangkan Einstein menggambar bebek kecil untuk menghibur anak keduanya, Eduard, yang sedang sakit-sakitan. Selera humor Einstein bagus juga, contohnya pada suratnya terhadap Elisabeth Ley yang sedih karena tak sempat bertemu Einstein (hal.123)

...Tetapi pamanmu yangs atu ini tidak punya kaki yang bengkok atau kutil, dan karena itu kelihatan sangat ganteng; dan tangannya tidak berbulu seperti orang-orang yang bertampang jelek. Jadi memang kasihan juga ya, kamu tidak sempat bertemu dengan saya.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutipkan kalimat terakhir jawaban Einstein atas pertanyaan seorang anak dari New York dalam suratnya tentang religiusitas para ilmuwan. Terlepas dari interpretasi yang bisa saja berbeda-beda, saya terkesan dengan kalimat tersebut.

...Dengan cara seperti itulah, ketekunan bergelut dengan ilmu pengetahuan bisa menimbulkan perasaan religius tertentu, yang sangat berbeda dengan religiusitas orang-orang kebanyakan.



Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Sajak Melankolis