Menjenguk kembali kilasan perjalanan teori atom [Cerita Atom Part 1: Model Democritus & Aristoteles]


History of the world is the biography of the great man.
And I said: The great man always act like a thunder.
He storms the skies, while others are waiting to be stormed.
---Thomas Carlyle (1795 - 1885)

Membaca sejarah adalah membaca nama-nama. Bacalah sejarah tentang apapun, maka disana kita pasti akan menemukan nama-nama. Karena pada hakikatnya sejarah tersusun atas rangkaian peristiwa penting yang tak lepas dari tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya: merekalah para pengukir sejarah. Nama-nama mereka terukir dalam prasasti sejarah. Kemunculan nama-nama ini tentunya atas dasar arti penting mereka dalam berkontribusi "melecut langit" seperti yang dikatakan Carlyle.

Demikian pula halnya dengan teori atom. Menyimak perjalanan sejarah teori atom seperti membaca karya -atau lebih menarik lagi- seperti mencoba menyelami isi kepala para ilmuwan besar pada masanya yang memberikan kontribusi penting dalam mewarnai perkembangan pemahaman mengenai atom dari masa ke masa. Ya, menyenangkan rasanya mencoba sejenak berpura-pura memahami isi hati, eh, isi batok kepala orang-orang nyentrik berambut acak-acakan (hehe... tidak semua sih...) dengan jalan pikiran yang selangkah atau beberapa langkah mendahului pemikiran kebanyakan orang pada masanya. Meski, ya... entah apakah benar-benar terselami ataukah hanya sampai permukaan saja, setidaknya kita dapat mencoba mendapatkan pemahaman berdasarkan runutan buah pemikiran mereka. Percaya deh, there's so much things we can learn from this. Kita akan melihat, betapa bijaksananya Tuhan menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada manusia secara bertahap. Seandainya ilmu pengetahuan itu diterima langsung sepaket utuh, waduh... manusia bisa gila karenanya.

Bayangkan kita sedang mematahkan sebatang kapur menjadi 2 bagian. Kemudian 2 bagian tersebut kita patahkan lagi menjadi 4 bagian. Lalu masing-masing bagian tersebut kita patahkan lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi, demikian seterusnya. Lelah? Ok, berhenti patahkan kapur, sekarang apa yang kau pikirkan?

Mematahkan-matahkan kapur, semua orang bisa melakukannya.Akan tetapi, berapa banyak orang yang berpikir, bilakah suatu saat kapur tersebut sudah tidak dapat dibagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil tanpa mengubah sifatnya... artinya sampai pada partikel terkecil penyusun materi yang terdapat di alam ini.

Disinilah cara berpikir yang perlu dimiliki seorang ilmuwan yang dirujuk Albert von zent Gorgyi :
melihat apa yang orang lain lihat dan berpikir apa yang tidak orang lain pikirkan memainkan peran. Seperti halnya melihat apel jatuh dari pohon, semua orang juga melihatnya. Akan tetapi Newton mampu menghubungkannya dengan gaya gravitasi dan menyusunnya dalam suatu teori besar.

Jauh sebelum Dalton, pemikiran mengenai partikel penyusun materi alam semesta telah ada. Menurut filsuf Yunani Democritus (470 - 380 BC), ada saat ketika pembagian suatu materi terus-menerus tak dapat lagi dilakukan tanpa menghilangkan sifat materi tersebut. Saat inilah materi tersebut berupa suatu elemen kecil yang disebut atom (atomos --> indivisible). ukuran, bentuk, dan perbandingan dari atom-atom ini menentukan sifat-sifat materi. Sayangnya, pada saat itu Democritus tidak menemukan metoda untuk membuktikan teorinya. Teori yang lebih diterima pada masa itu adalah yang diyakini Empedocles dan Aristoteles (384 - 322 BC), bahwa material bumi dibentuk dari materi (matter) dan saripati (essence). Materi utama terbagi dalam 4 kategori secara sifat quality: bumi (solidity), udara (volatility), api (energy) dan air (liquidity).


Hmmm... jadi ingat Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder yang sampai sekarang belum aku tuntaskan bacanya... jadi ingin baca lagi deh...


Bersambung... (next: Model Atom Dalton)

Link bagus
: The journey from matter to atom

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]