The Thief of Baghdad, Kisah Cinta Sejati Sang Pangeran Pencuri

Judul Buku : The Thief of Baghdad: Cinta Sejati Sang Pangeran Pencuri
Penulis : Alexander Romanoff
Penerjemah : Bima Sudiarto
Penerbit : Dastan Books, Jakarta 2005

Inilah kisah klasik Timur Tengah tentang petualangan Ahmad, Si Pencuri dari Baghdad. Buah karya Alexander Romanoff (Achmed Abdullah), penulis cerpen dan novelis Inggris kelahiran Rusia ini begitu legendaris. Perpaduan kisah romantisme dengan keajaiban dongeng klasik Seribu Satu Malam yang sarat dengan eksotisme Timur Tengah ini adalah karya Achmed yang paling populer. Setelah pertama kali diterbitkan pada tahun 1924, kisah The Thief of Baghdad telah empat kali diangkat ke layar lebar dalam film Hollywood pada tahun 1924, 1940, 1961 (dengan judul yang sama, The Thief of Baghdad) dan 1979 (dengan judul Arabian Adventure).

Ahmad dikisahkan sebagai seorang pemuda pencuri yang licin. Keprofesionalannya sebagai pencuri tak usah diragukan lagi. Tabiatnya periang, usil, jenaka dan sombong. Ia amat membanggakan dirinya sendiri, tak percaya kepada Allah, karena menurutnya ia hidup semata atas kecerdikan dan kekuatannya sendiri.
Adalah pertemuannya dengan Zubaidah, puteri Sang Khalifah yang jelita yang membuat semuanya mendadak berubah. Jatuh cinta membuat Ahmad sama sekali melupakan proyek pencurian di istana yang telah direncanakannya dengan sahabat setianya, si Burung Jahat. Tak cukup sampai disitu, jatuh cinta membuat segalanya tampak tak berarti di mata Ahmad. Tidak harta curian, tidak juga hidupnya sendiri yang selama ini amat dinikmatinya, semua tak berarti tanpa Zubaidah yang dirindukannya. Ahmad depresi, apalah arti dirinya, seorang pencuri rendah dibandingkan dengan puteri Sang Khalifah? Mendadak kesombongan Ahmad runtuh sama sekali.

Pada saat itu Zubaidah kedatangan 3 pangeran yang hendak meminangnya. Masing-masing mengunggulkan atribut-atribut mewah yang disandangnya: gelar, kekuasaan, keturunan dan kekayaan yang wah. Ketiga pangeran itu berasal dari Persia, India dan Mongol. Diantara ketiganya, Pangeran Mongol yang paling berbahaya. Dia menyimpan suatu maksud politis tersendiri dalam rangka memperluas kekuasaannya.
Tak disangka, muncul pangeran keempat yang nyentrik dengan segala atribut gelar yang aneh dan unik. Siapa lagi kalau bukan Ahmad, si pencuri yang nekat menyamar menjadi pangeran? Dan justru pangeran inilah yang berkesan di hati Zubaidah!
Tapi tentu saja kemenangan Ahmad dalam memperebutkan cinta Sang Puteri tidaklah semulus itu. Disamping kedengkian ketiga pangeran saingan, hatinya sendiri menolak jika cintanya diliputi kepalsuan. Ia tak ingin membohongi Zubaidah. Maka nekat ia mengaku di hadapan Zubaidah tentang siapa sebenarnya dirinya. Tapi Zubaidah juga telah jatuh cinta padanya. Sementara itu identitas Ahmad diketahui Pangeran Mongol. Sang Khalifah murka dan memerintahkan Ahmad ditangkap. Sebelum tertangkap Zubaidah memberi kepercayaan bagi Ahmad untuk berubah. Dia akan menunggu hingga Ahmad kembali sebagai seorang yang mencapai kebaikan.

Dapat diduga, setelah tertangkap Ahmad lolos atas bantuan Zubaidah. Dan di saat itulah petualangan Ahmad dalam menemukan kesejatian jiwanya dimulai. Atas petunjuk seorang ulama, Ahmad hendak menempuh perjalanan menuju kebahagiaan melalui berbagai rintangan dan penderitaan yang hanya dapat dilalui dengan kesabaran dan keberanian. Melalui perjalanan melelahkan ini ia ingin membersihkan diri dari dosa-dosanya dengan bekal kesabaran, keberanian, kejujuran, amal ibadah serta iman kepada Allah dan kerendahan hati. Seluruh sifat yang sama sekali kebalikan dari tabiat Ahmad sebelumnya.

Sementara itu dalam rangka memenuhi titah ayahandanya dalam memilih pinangan para pangeran (dan untuk mengulur waktu), Zubaidah mengadakan sayembara. Orang yang akan dipilih Zubaidah adalah ia yang sanggup membawakan baginya benda yang paling langka di dunia. Inilah saat dimana karpet terbang, kristal ajaib, dan buah kehidupan beraksi. Dalam rangka menemukan benda-benda langka tersebut ketiga pangeran menempuh perjalanan dan petualangan tersendiri.

Dalam petualangan Ahmad sendiri ia harus menyusuri Lembah 7 Godaan yang dihuni arwah-arwah menyeramkan, mendaki Bukit Api Abadi atau Bukit Kesombongan dengan lahar panas dan kobaran api, Lembah monster dan Taman Pohon Ajaib. Kesemuanya itu mengandung ujian dan godaan yang berat yang hanya dapat ditaklukan dengan kebersihan jiwa dari berbagai sifat buruk dan kepasrahan akan pertolongan Allah SWT. Tapi jika semua itu berhasil dilalui, dengan hati yang telah bersih dari dosa, Ahmad akan menemukan sebuah peti harta karun berisi kegaiban terbesar di dunia.

Sampai di ujung periode sayembara, Zubaidah tengah sekarat akibat racun sebagaimana rencana Pangeran Mongol. Sayangnya, buah kehidupan Pangeran Mongol bukanlah satu-satunya benda langka yang menyelamatkan Zubaidah. Karpet terbang Pangeran Persia dan kristal ajaib Pangeran India pun turut andil. Ketiga pangeran kembali berseteru, dan keputusan kembali ditangguhkan.
Justru saat itulah Pangeran Mongol menjalankan plan B-nya. Malam itu juga Baghdad diserang. Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol. Zubaidah dan Khalifah sendiri tertawan. Dapat ditebak, sebagai cerita dongeng yang happy ending, tentu saja dalam kekacauan tersebut Ahmad datang sebagai pahlawan.

Sebagai cerita klasik, The Thief of Baghdad dituturkan dengan gaya khas dongeng yang lumayan bertele-tele. Tapi terkadang embel-embel yang memperlambat cerita itu menambah kelucuan tersendiri. Beberapa deskripsi yang berlebih-lebihan juga menambah rasa humor ketika membaca cerita ini. Bagaimanapun juga, novel ini tidak dapat disamakan dengan novel thriller yang cenderung dituturkan dengan gaya ringkas dan padat, bukan?
Yang aku sayangkan dari kisah ini terutama deskripsi mengenai petualangan besar Ahmad dalam menemukan jiwanya sendiri. Sebagai petualangan yang dahsyat dalam menaklukan diri sendiri, rasanya akan lebih menarik kalau adegan pertarungan Ahmad dalam setiap ujian dieksplorasi lebih dalam. Rasanya pengisahannya kurang ‘nonjok’ aja gitu.
Overall, membaca novel ini mengingatkan kita akan seberapa dahsyat kekuatan cinta sejati yang sebenarnya. Kekuatan cinta dan kepercayaan yang sanggup mendorong seorang Ahmad untuk rela memperjuangkan kejujuran dan mencapai kebaikan, bahkan dengan bermacam ujian yang berat. “Cinta” dan “kepercayaan”, dua kata yang pada jaman sekarang sering menjadi kabur akan makna dan kejujurannya. 
***
Link film The Thief of Baghdad:

Komentar

  1. wow keren.....
    kamu penulis novel juga yah....
    baru baca kalimat pertama dari postingan kamu.....
    bikin pengen terus baca...
    kamu nulis novel juga kan...?

    BalasHapus
  2. makasih komennya ^^...

    Wah, menjadi penulis novel masih menjadi cita2 yg belum kesampaian... doakan yah :).

    BalasHapus
  3. Pengen baca jadinya....bukunya masih ada dijual di Gramed gak Sis?

    BalasHapus
  4. Kalau sekarang sih kurang tahu, Mbak Sofia. Ini novel sudah lama. Tapi beberapa waktu lalu (sudah agak lama sih, lupa kapan) masih suka lihat novel ini. Pernah lihat di Gramed, sama di obralan Mizan kalau tak salah...

    BalasHapus
  5. ada ngak ya Film nya, perasaan ku dulu nya ada filmnya, kalau ada kasih Link nya ya

    BalasHapus
  6. Tentunya ada, sudah diangkat beberapa kali ke layar lebar. Tapi sayangnya aku gak tahu link-nya. Filmnya jadul... Aku jg lupa apa pernah nonton filmnya belum ya? Hehe

    BalasHapus
  7. Pengen banget baca novel ini plus memiliki movelx....waktu itu sempet pegang novelx di gramed..cuma nggak ada dwit mau beli..huhuhu

    BalasHapus
  8. Duh, jangan sedih. Seoga kesampaian dapet bukunya. Karena udh jadul banget, kadang suka liat buku ini di obralan kalo ada pameran buku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]

Pulang & Tanda Tanya Besar